Hujan belum juga reda ketika fajar perlahan menyibak langit gelap. Cahaya matahari belum sepenuhnya muncul, seolah takut menembus kabut kelabu yang menyelimuti rumah tua itu. Ansel duduk di sudut kamar, tubuhnya dibalut selimut wol tebal, sementara matanya tak lepas dari buku mantra yang sejak tadi malam belum ia tutup. Di hadapannya, secangkir teh jahe hangat mengepulkan aroma yang menenangkan, namun pikirannya tetap bergejolak.
Reyshard berdiri membelakangi jendela, menatap rintik hujan yang menari di kaca. Tubuhnya kaku, tapi ada sesuatu dalam posturnya yang tampak rapuh. Bayang-bayang dari semalam masih menggantung di udara—roh Nayara, pesan tentang kutukan, dan nama Nayaka yang kini kembali menghantui masa depannya.
"Rey..." suara Ansel lirih, seperti ingin melanggar keheningan tapi ragu.
Reyshard menoleh perlahan, tatapannya kosong namun tajam. “Kutukan itu... bukan hanya tentang aku, kan?”
Ansel menarik napas panjang. “Tidak. Aku sudah membaca tanda-tandanya sejak beberapa minggu lalu. Energi gelap itu bukan cuma menyatu dengan darahmu... tapi tersebar. Menular. Mengikat siapa pun yang terlalu dekat.”
“Aku... orang berbahaya buatmu.”
“Bukan berbahaya,” Ansel membalas cepat. “Tapi berat. Dan aku memilih untuk tetap di sini.”
Hening kembali menyelimuti mereka. Reyshard menatap Ansel cukup lama, lalu melangkah pelan ke arah meja kayu tua di sudut ruangan. Di atasnya tergeletak selembar foto lama yang agak usang. Foto keluarganya. Ayahnya, ibunya, dan dia sendiri—masih kecil dan ceria, tak tahu bahwa suatu hari dunia akan menjadi begitu kejam.
“Ayahku selalu bilang aku tak boleh menangis. Tapi semalam... saat aku melihat ibu...” suaranya tercekat. “Rasanya semua topeng yang kupakai selama ini runtuh.”
Ansel bangkit dari duduknya dan mendekat. Ia berdiri di belakang Reyshard, nyaris menyentuh, namun menahan diri. “Menangis itu bukan kelemahan. Apalagi buat seseorang yang memanggil roh dan hidup dengan kutukan.”
Reyshard tertawa pendek, getir. “Lucu ya. Aku keturunan mafia, tapi malah dilatih jadi semacam medium roh. Ayahku ingin aku jadi penguasa, tapi takdir ingin aku jadi korban.”
Ansel akhirnya menyentuh bahunya pelan. “Atau... mungkin takdir sedang membentukmu jadi penentu. Kau bisa membalikkan kutukan ini.”
Reyshard memejamkan mata. Dalam diamnya, ia mendengar suara ibunya semalam. Kata-kata samar yang kini bergema kembali di pikirannya.
> *"Hanya darah dan sumpah yang bisa menutup celah antara dunia..."*
“Ansel,” ucapnya pelan. “Aku ingin mencoba menyegel ulang gerbang itu. Tapi bukan dengan ritual biasa. Aku ingin gunakan darahku. Sumpahku. Seperti yang dilakukan para leluhurku dulu.”
Ansel menatapnya, terkejut. “Itu berbahaya. Ritual darah bisa mengikat jiwamu ke batas. Dan jika kau gagal—”
“Aku tak peduli gagal atau berhasil. Kalau ini bisa menghentikan semua ini... aku akan melakukannya.”
Suasana kamar berubah. Udara menjadi lebih berat, lebih padat. Seakan dinding-dinding rumah itu pun mendengar tekad Reyshard.
---
Malam harinya, mereka turun ke ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik lemari tua. Tempat itu penuh dengan lambang kuno, simbol segel, dan jejak darah lama yang sudah mengering. Dulu tempat ini dipakai para leluhur Reyshard untuk menyimpan barang terkutuk—dan juga melakukan ritual pengikat dunia.
Reyshard menggambar lingkaran segel di lantai batu dengan darah dari jarinya sendiri. Setiap garis ditarik dengan penuh fokus, sambil membisikkan doa dalam bahasa leluhur. Ansel duduk di pinggir, membaca mantra penguat pelindung untuk tubuh Reyshard.
"Jika ada yang salah, aku akan masuk ke dalam gerbang itu dan tarik kau keluar," kata Ansel tegas.
Reyshard tersenyum miris. “Dan jika kau tidak bisa?”
“Maka kita berdua akan tinggal di sana. Setidaknya, aku takkan biarkan kau sendiri.”
Reyshard menunduk, matanya bergetar. “Kenapa kau begitu peduli padaku, Ansel?”
Pertanyaan itu menggantung lama. Ansel menatap Reyshard dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia menjawab tanpa mengelak.
“Karena kau membuatku merasa... seperti manusia. Aku yang biasa hanya membaca aura dan mendengar bisikan roh, kini bisa merasakan hal yang lebih nyata. Aku takut kehilanganmu, Rey.”
Seketika, simbol di lantai menyala merah terang. Lingkaran segel mulai bergetar. Angin kencang datang dari segala arah, meski ruangan itu tertutup rapat. Reyshard duduk di tengah segel, matanya terpejam, dan tubuhnya mulai melayang perlahan.
“Roh penjaga batas, dengarkan sumpahku. Dengan darahku, aku kembalikan kekuasaan yang bukan milik kami. Dengan jiwaku, aku tutup gerbang antara dunia. Jangan ganggu bumi kami lagi!”
Teriakan Reyshard menggema hingga dinding-dinding berderak. Cahaya merah menyilaukan, dan tubuh Reyshard tampak seperti menyatu dengan segel.
Ansel berlari ke lingkaran, mencoba menyentuh Reyshard, tapi tak bisa masuk. Ada semacam dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka. Ia menjerit, “Rey! Reyshard, dengarkan aku!”
Dari tengah cahaya itu, Reyshard membuka matanya—mata yang kini berubah. Warna keperakan, bercahaya, seolah bukan milik manusia biasa. Dia tersenyum kecil, lalu berkata, “Jaga dunia ini... jaga aku.”
Lalu, seketika, semua cahaya padam.
Reyshard jatuh ke lantai, tubuhnya lemas dan napasnya tersengal. Ansel segera meraihnya, memeluknya erat, dan tubuh Reyshard mulai menangis tanpa suara. Air mata itu bukan hanya karena rasa sakit—tapi karena ia akhirnya tahu, ia tidak sendiri.
Di luar, hujan berhenti. Dan untuk pertama kalinya, langit terlihat sedikit lebih terang.
---
(Bab 8 akan membahas efek setelah ritual darah itu: apakah segel benar-benar tertutup, atau justru membuka sesuatu yang lebih besar dari yang mereka duga...)