Cermin Retak Masa Lalu

884 Kata
Udara malam menyusup melalui celah-celah jendela tua yang hampir runtuh di sudut bangunan Reyshard. Hujan turun rintik-rintik sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Aroma tanah basah, kayu lapuk, dan abu dupa masih melekat di dalam ruangan. Ansel berdiri mematung di hadapan sebuah cermin tua yang menggantung di dinding ruangan ritual itu. Pantulannya aneh—seolah bukan hanya menampilkan bayangan dirinya, tapi menembus ke dimensi lain. Seperti menatap langsung ke mata masa lalu. "Cermin ini... bukan sembarang artefak. Ini penyimpan kenangan," gumam Ansel, jari-jarinya menyentuh permukaan kaca yang terasa hangat, bertolak belakang dari suhu dingin di sekeliling. Reyshard, yang duduk di sudut ruangan dengan bahu dibalut perban, mengangkat kepalanya pelan. Wajahnya pucat, tapi matanya masih menyala dengan keteguhan dan amarah yang belum selesai. “Itu milik ayahku. Dia pernah bilang, jika seseorang menatapnya cukup lama, maka cermin itu akan memperlihatkan kebenaran yang bahkan ingatan pun tak sanggup simpan.” Ansel menoleh, “Kenapa kau menyimpannya di sini?” Reyshard menghela napas panjang, lalu berdiri perlahan. Ia berjalan mendekat, dan berdiri di samping Ansel. “Karena kebenaran kadang terlalu menyakitkan untuk dihadapi sendirian.” Dan saat itulah—pantulan dalam cermin mulai berubah. Gambar mereka berdua mengabur, tergantikan oleh sosok seorang lelaki muda dengan setelan jas hitam dan rambut klimis, berdiri di tengah lorong gelap, wajahnya tegang dan kaku. Di belakangnya, sesosok anak kecil—Reyshard kecil—menatap dengan mata yang penuh ketakutan. Lelaki itu mencabut pistol dari balik jasnya, dan melepaskan tembakan ke dalam kegelapan. Seketika ruangan dalam pantulan dipenuhi darah, suara jeritan, dan cahaya merah yang melengkung seperti petir dari neraka. Ansel terkejut dan mundur, “Itu… siapa?” Reyshard menutup matanya, “Ayahku. Dan malam saat ibuku dibunuh karena pengkhianatan keluarga mafia yang sama... yang kini mengincarku.” Cermin itu bukan sekadar benda magis. Ia menyimpan dendam. Dendam yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan Ansel kini sadar, kekuatan spiritual yang ia miliki mungkin tidak cukup untuk menghadapi gelombang kelam yang akan datang. Ini bukan hanya soal roh, ini soal darah, kekuasaan, dan masa lalu yang tidak pernah benar-benar mati. Di luar, petir menyambar dan menggetarkan dinding. Angin masuk dengan keras, seolah memperingatkan mereka bahwa waktu tak lagi banyak. Ansel mengambil buku tua dari meja, membuka halaman yang ditandai dengan daun kering. Di sana tertulis satu mantra pemanggilan—berbahaya, tapi satu-satunya cara untuk mengungkap siapa roh pengintai yang selalu muncul dalam mimpinya akhir-akhir ini. “Kita akan mengadakan pemanggilan malam ini,” ucap Ansel. “Aku butuh tahu siapa roh yang terus membisikkan kata ‘Nayara’ saat aku tidur. Nama itu muncul berkali-kali, dan aku yakin dia terhubung denganmu.” Reyshard menegang. “Nayara... adalah nama ibuku.” Darah Ansel berdesir. “Berarti dia mencoba menghubungimu. Tapi kenapa lewat aku?” Reyshard menatapnya tajam. “Karena kau adalah jembatan. Antara dunia ini dan yang di balik tirai.” Mereka menyiapkan lingkaran pemanggilan. Lilin dinyalakan satu per satu, dupa dibakar dengan campuran rempah dan tanah kuburan yang dibawa Ansel dari pemakaman tua. Ruangan gelap itu berubah menjadi pusat getaran energi, udara menjadi lebih berat, dan waktu seakan berjalan lambat. Mantra dibacakan. Suara Ansel perlahan berubah, seolah bukan dia yang berbicara. Bahasa kuno mengalir dari mulutnya, dan tubuhnya sedikit melayang beberapa inci dari lantai. Reyshard menggenggam liontin ibunya, memejamkan mata, memanggil dalam hati—"Ibu, jika kau masih di antara batas, tunjukkan dirimu. Bimbing aku keluar dari kegelapan ini." Lalu... sosok itu muncul. Samar, perlahan, seperti kabut yang membentuk rupa. Seorang wanita berpakaian hitam panjang, rambutnya mengambang dan matanya kosong. Tapi aura yang terpancar darinya hangat. Dia melayang ke arah Reyshard dan meletakkan tangannya di atas d**a anaknya. “Rey...” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Mereka tidak hanya membunuhku. Mereka mengutukmu... sejak lahir.” Reyshard terpana. “Apa maksudmu? Siapa yang—” “Nayaka. Adik ayahmu. Dia membuat perjanjian dengan makhluk penjaga batas dimensi. Untuk kekuasaan, mereka mengorbankan darahku... dan menjual takdirmu.” Ansel hampir kehilangan keseimbangan. Nafasnya tersengal saat getaran energi di sekeliling ruangan meningkat tajam. Ruang terasa seperti runtuh perlahan, dimensi mereka menggeser, dan aura gelap menyusup dari balik dinding. Tiba-tiba, roh Nayara menoleh ke Ansel. “Lindungi dia. Hanya kau yang bisa mengikat ulang segel yang telah rusak. Tapi ingat... saat segel ditutup, salah satu dari kalian harus tetap tinggal di batas.” “Batas?” tanya Ansel dengan suara gemetar. “Maksudmu... dunia roh?” Roh itu mengangguk. “Tak bisa dua jiwa yang terhubung kembali tanpa tumbal. Salah satu harus jadi penjaga. Selamanya.” Petir menyambar lagi, dan roh itu lenyap seketika, meninggalkan wewangian melati yang membekas di udara. Ansel jatuh terduduk. Reyshard terdiam. Mereka tak hanya sedang menyusun strategi melawan mafia. Mereka sedang bermain-main dengan takdir dan dunia setelah kematian. Sunyi merayap. “Jika harus ada yang tinggal di batas, aku akan melakukannya,” ucap Reyshard pelan. Ansel menoleh tajam. “Jangan bodoh.” “Tapi kau tak tahu seperti apa hidupku. Dunia ini sudah mengambil segalanya dariku. Kalau aku bisa menutup pintunya dan menyelamatkanmu, aku akan lakukan.” Ansel menatap mata Reyshard, ada perasaan yang tak bisa ia ungkap. Bukan hanya karena ancaman mistis, bukan hanya karena keturunan mafia berdarah. Tapi karena ia mulai... peduli. Lebih dari seharusnya. --- (Bab 7 akan mengungkap siapa Nayaka sebenarnya, rahasia perjanjian gelap, dan keputusan Reyshard–Ansel yang akan mengubah hidup mereka selamanya.)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN