Pesawat jet pribadi itu meluncur mulus di atas awan, menembus lapisan-lapisan kegelapan malam yang perlahan memudar digantikan samar-samar cahaya fajar. Di dalam kabin yang senyap, hanya suara mesin yang berbisik monoton, sebuah irama yang kontras dengan gejolak batin ketiga penumpangnya. Reyshard duduk di samping jendela, matanya yang keperakan memantau bentangan hutan yang semakin luas di bawah sana, hamparan hijau tak berujung yang diselimuti kabut purba. Ia bisa merasakan tarikan energi yang semakin kuat, denyutan tak kasat mata yang berasal dari jantung Kalimantan, tempat Pusat Denyut Dimensi bersemayam.
Di seberangnya, Ansel dengan tenang membersihkan dan memeriksa perkakas spiritualnya: sebilah pisau ritual berukir simbol kuno, kantung-kantung kecil berisi ramuan herbal yang diyakini dapat menolak entitas jahat, dan sebuah cermin obsidian yang memantulkan kegelapan tanpa batas. Di sampingnya, Theo tertidur lelap, pistol di pinggangnya terlihat jelas di balik jaket kulitnya yang kusut. Ia adalah jangkar mereka di dunia nyata, seorang pria yang pragmatis namun berani menghadapi ancaman yang melampaui logika.
Reyshard memejamkan mata, membiarkan energi yang baru bangkit dalam dirinya mengalir bebas. Ia melihat hutan itu bukan hanya sebagai kumpulan pepohonan dan lumut, melainkan sebagai organisme raksasa yang bernapas, setiap akarnya adalah jalur energi, setiap kanopinya adalah kubah yang menaungi bisikan-bisikan kuno. Ia merasakan kehadiran-kehadiran samar di antara pepohonan, entitas-entitas penjaga yang telah bersemayam di sana selama berabad-abad, mengawasi dengan mata yang tak terlihat. Beberapa terasa netral, beberapa lainnya penuh dengan rasa ingin tahu yang dingin, dan ada satu atau dua yang memancarkan aura permusuhan yang samar, mungkin telah terkontaminasi oleh pengaruh Klan Ravana.
Visi masa lalu berkelebat dalam benaknya—wajah ibunya, Sri Ardana, yang kini terasa begitu nyata dan dekat. Ia melihatnya di sebuah pelataran batu, melafalkan mantra yang sama yang kini ia pelajari, tangannya terulur ke arah sebuah menhir yang memancarkan cahaya keperakan. Ibunya bukan hanya seorang wanita yang terbunuh dalam intrik mafia; ia adalah Pendeta Agung Arkava, penjaga keseimbangan, pewaris pengetahuan kuno yang kini harus Reyshard lanjutkan. Beban itu terasa berat, namun juga memberikan tujuan yang jelas.
"Kau merasakan sesuatu?" tanya Ansel, memecah keheningan, matanya terbuka dan menatap Reyshard.
Reyshard membuka matanya. "Ya. Hutan itu... hidup. Dan ia mengawasi." Ia menunjuk ke arah pandangannya. "Aku juga merasakan jejak Ravana. Mereka sudah di sini. Mungkin telah menyiapkan jebakan."
Ansel mengangguk. "Bukan hal yang mengejutkan. Klan Ravana telah lama berambisi menguasai simpul-simpul energi kuno di Indonesia. Mereka percaya bahwa dengan mengendalikan simpul-simpul itu, mereka dapat menarik kekuatan dari dimensi lain untuk memperkuat kekuasaan mereka di dunia manusia."
"Mereka menggunakan ilmu hitam, bukan?"
"Ya. Dan mereka tidak ragu mengorbankan apa pun untuk mencapai tujuan mereka. Manusia, roh, bahkan alam itu sendiri. Perjanjian gelap mereka dengan entitas-entitas level rendah memungkinkan mereka mendapatkan kekuatan yang instan, namun dengan harga yang mahal bagi jiwa mereka sendiri."
Pesawat mulai menurunkan ketinggian. Di bawah mereka, hutan belantara Kalimantan terlihat semakin padat, tak tersentuh peradaban modern. Sungai-sungai berkelok seperti urat nadi raksasa, dan kanopi pohon-pohon menjulang tinggi seolah menyentuh langit. Tak ada tanda-tanda permukiman manusia dalam radius puluhan kilometer.
Pilot memberikan sinyal. "Kita akan mendarat di landasan darurat. Hanya beberapa menit lagi, Tuan Reyshard."
Landasan darurat itu hanyalah sepetak tanah datar yang nyaris tak terlihat dari udara, disamarkan dengan sempurna di antara rimbunnya pepohonan. Ini adalah salah satu fasilitas rahasia Theo, digunakan untuk operasi yang membutuhkan kerahasiaan absolut. Beberapa pengawal bersenjata berat sudah menunggu di sana, wajah mereka kaku dan waspada.
Saat pesawat berhenti, udara hutan langsung menyergap mereka—lembap, kaya akan aroma tanah basah, dedaunan, dan bau lumut purba. Ansel menarik napas dalam, merasakan energi elemental yang murni, namun juga mendeteksi lapisan-lapisan aura yang lebih gelap, seperti noda tinta di atas kanvas yang indah.
"Bau yang familier," bisik Ansel, matanya menyipit. "Daratan ini telah melihat banyak ritual."
Reyshard melangkah keluar, diikuti oleh Theo yang sudah terbangun dan siap beraksi. Para pengawal memberikan hormat singkat. Mereka adalah prajurit yang loyal, terlatih untuk menghadapi ancaman fisik, namun Reyshard tahu, pertempuran yang akan datang melampaui kemampuan mereka.
"Jalur menuju Pusat Denyut Dimensi tidak tertera di peta biasa," kata Ansel, membuka gulungan peta kuno yang lebih kecil. "Kita harus mengikuti jejak-jejak energi. Dan ini adalah hutan yang tak ramah bagi orang awam."
Mereka memulai perjalanan. Hutan itu segera menyelimuti mereka dengan kerimbunannya. Cahaya matahari nyaris tak bisa menembus kanopi dedaunan yang lebat, menciptakan suasana temaram yang abadi. Udara terasa pengap, namun dipenuhi suara-suara alam yang eksotis—kokokan burung, desisan serangga, dan bisikan angin yang meliuk-liuk di antara pepohonan.
Reyshard memimpin. Matanya yang keperakan kini bisa "melihat" untaian energi yang samar, seperti benang-benang cahaya yang membimbing mereka melalui labirin pepohonan. Ia mengikuti jalur-jalur tak terlihat itu, mengabaikan jejak kaki binatang buas atau semak belukar yang berduri. Kekuatannya telah membimbingnya, seolah ada insting purba yang kini bangkit dalam dirinya.
Ansel berjalan di sampingnya, matanya terus memindai sekeliling, sesekali melempar ramuan ke udara yang menimbulkan asap berbau aneh, mengusir entitas-entitas kecil yang berani mendekat. Ia juga menunjuk ke arah-arah tertentu, memperingatkan Reyshard tentang perangkap spiritual—simpul-simpul energi yang telah disihir, dirancang untuk menguras aura atau menjebak mereka yang tidak berhati-hati.
Theo dan para pengawal mengikuti di belakang, waspada terhadap ancaman fisik yang mungkin muncul. Mereka adalah perisai manusia Reyshard, namun mereka juga merasakan atmosfer yang aneh. Bulu kuduk mereka meremang tanpa alasan yang jelas, dan bisikan-bisikan samar kadang-kadang terdengar di antara dedaunan, meskipun tidak ada angin yang cukup kuat untuk menciptakan suara seperti itu.
Setelah berjam-jam berjalan, mereka tiba di sebuah area di mana pepohonan tumbuh melingkar, membentuk celah alami yang menyerupai gerbang. Di tengahnya, berdiri sebuah batu menhir kuno yang diselimuti lumut. Energi di sana terasa begitu pekat, begitu tua, seolah waktu berhenti di tempat itu.
"Ini adalah gerbang luar," bisik Ansel, suaranya sedikit tercekat. "Ini bukan Pusat Denyut Dimensi yang sebenarnya. Ini adalah pintu masuk ke jantungnya."
Reyshard mendekati menhir. Ia merasakan tarikan yang kuat, sebuah dorongan yang hampir tak tertahankan untuk menyentuh batu itu. Ia melihat ukiran-ukiran samar yang nyaris tak terlihat, simbol-simbol yang sama dengan yang ada di kitab ibunya.
Tiba-tiba, dari balik pepohonan yang menjulang tinggi, terdengar suara gemerisik daun yang terlalu keras untuk sekadar angin. Lalu, munculah mereka. Sekelompok pria berjubah hitam dengan tato aneh di wajah, mata mereka memancarkan kekejaman yang dingin. Mereka adalah pemimpin Klan Ravana, disertai oleh beberapa entitas samar yang melayang di samping mereka, wujudnya seperti bayangan berkedip-kedip, namun kehadirannya terasa begitu nyata dan mengancam.
"Selamat datang, Reyshard Mahendra," suara salah satu pria berjubah itu, suaranya serak dan berat, seolah berasal dari tenggorokan yang jarang digunakan. "Kami sudah menunggumu. Kami merasakan bangkitnya kekuatanmu, kunci yang telah lama kami cari."
Reyshard melangkah maju, berdiri di depan menhir, melindungi Ansel dan Theo di belakangnya. Mata keperakannya menyala penuh tekad. "Aku tahu siapa kalian. Dan aku tidak akan membiarkan kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan."
Pemimpin Klan Ravana tertawa dingin. "Kau naif. Kekuatanmu memang mengesankan, bocah. Tapi kau baru saja bangun. Kami telah melayani kekuatan ini selama berabad-abad. Kau adalah mainan baru yang menarik, namun kau akan segera tunduk pada kehendak kami. Atau mati."
Entitas-entitas samar di samping mereka mulai menggeram, auranya memancarkan hawa dingin yang mematikan. Para pengawal Reyshard mengangkat senjata, namun mereka tahu, ini bukan pertempuran yang bisa dimenangkan hanya dengan peluru.
Ansel melangkah sedikit ke samping Reyshard, menggenggam erat pisau ritualnya. "Mereka akan mencoba menguras energimu, Rey. Jangan biarkan mereka menyentuhmu."
Reyshard mengangguk. Ia merasakan darahnya berdesir, kekuatan yang baru bangkit dalam dirinya kini beriak-riak, siap dilepaskan. Ini adalah ujian pertama baginya, pertempuran nyata pertama di garis depan perang antara dua dunia. Pertarungan untuk Pusat Denyut Dimensi telah dimulai.