Bisikan Hutan dan Jalur yang Terlupakan

1215 Kata
Lonceng tua di kejauhan, yang berdentang tiga kali dengan nada kusam, mengirimkan riak tak terlihat ke seluruh penjuru kota. Bagi sebagian besar penduduk, itu hanyalah penanda waktu, namun bagi mereka yang melangkah di antara tirai alam nyata dan astral, dentang itu adalah lonceng peringatan, sebuah proklamasi tanpa suara bahwa keseimbangan telah goyah, dan takdir-takdir besar akan segera bertabrakan. Reyshard dan Ansel, berdiri di tengah ruang tamu yang kini terasa seperti pusat badai yang akan datang, merasakan setiap getaran itu menembus ke dalam tulang mereka. "Pusat Denyut Dimensi," bisik Ansel, matanya terpaku pada titik yang ditandai di peta kuno. Jari-jarinya menelusuri garis-garis samar yang menggambarkan jalur menuju pedalaman Kalimantan. "Itu bukan sekadar lokasi geografis. Ini adalah simpul energi, tempat di mana batas antara alam kita dan alam lain paling tipis." Reyshard mengangguk, sorot mata keperakannya yang baru kini memancarkan pemahaman yang lebih dalam. "Itu artinya, energi di sana sangat kuat, dan itu juga berarti bahaya yang sama besarnya. Nayaka mungkin sudah tahu tentang tempat itu, atau sedang dalam perjalanan ke sana." Theo, yang selama ini mendengarkan dengan seksama, mengamati ekspresi serius kedua sahabatnya. Ia mungkin tidak memiliki kemampuan spiritual seperti Reyshard dan Ansel, namun naluri tajamnya sebagai pemimpin mafia memberitahunya bahwa ini adalah taruhan yang sangat besar, jauh melampaui kekuasaan wilayah atau bisnis ilegal. "Kita butuh rencana. Kalimantan itu bukan cuma hutan biasa. Banyak mata yang mengawasi. Dan aku yakin, mata-mata Nayaka juga ada di sana." Ansel melangkah ke meja, membuka kitab tua milik ibu Reyshard. Aroma kertas usang dan dupa kering menyeruak, membawa jejak sejarah yang panjang. "Kitab ini... ini bukan hanya silsilah atau mantra. Ini adalah panduan. Petunjuk yang ditinggalkan oleh Arkava. Ada simbol-simbol yang menunjukkan cara mendekati Pusat Denyut Dimensi, dan bagaimana mengenali jebakan-jebakan yang mungkin tersembunyi." "Jebakan?" tanya Reyshard, alisnya berkerut. "Setiap titik energi besar selalu memiliki penjaganya," jelas Ansel, jarinya menelusuri diagram rumit di halaman kitab. "Kadang penjaga itu adalah entitas alami, kadang... mereka adalah entitas yang diikat oleh ritual kuno. Dan Nayaka, dengan perjanjiannya, mungkin sudah mengendalikan beberapa dari mereka." Reyshard memejamkan mata sejenak, membiarkan informasi itu meresap. Visi tentang Reyshard di masa depan yang tanpa emosi, berdiri di tengah reruntuhan, kembali berkelebat di benaknya. Sosok itu adalah peringatan, bayangan dari kemungkinan yang bisa terjadi jika ia salah langkah. Kekuatan baru yang mengalir dalam nadinya terasa seperti sungai yang meluap, menjanjikan potensi tak terbatas namun juga ancaman kehancuran jika tidak terkendali. "Kita tidak bisa pergi sendirian," kata Reyshard, membuka matanya. "Aku butuh akses ke jaringan transportasi dan logistik yang tidak menarik perhatian. Dan kita butuh tim yang bisa melindungi kita dari ancaman fisik, sementara Ansel mengurus yang tak kasat mata." Theo menyeringai tipis. "Itu bagianku. Aku akan menyiapkan segalanya. Pesawat pribadi yang tak terlacak, tim pengawal terbaik, dan jalur aman. Tapi ingat, di sana... itu hutan. Wilayah yang tidak bisa dikuasai hanya dengan uang dan senjata." Ansel mengangguk setuju. "Kita juga harus mempersiapkan diri secara spiritual. Mantra pelindung tingkat tinggi, ramuan penguat aura, dan mungkin... mencari artefak-artefak kecil yang ditinggalkan Arkava di sekitar kota. Mereka mungkin memiliki kekuatan sisa yang bisa membantu kita di sana." Keputusan telah dibuat. Perjalanan menuju Pusat Denyut Dimensi di Kalimantan akan menjadi babak baru dalam perjuangan mereka. Ini bukan sekadar misi untuk menghentikan Nayaka, melainkan sebuah ziarah untuk memahami warisan Reyshard, dan untuk menguji batas-batas kekuatan yang kini bersemayam dalam dirinya. Beberapa hari berikutnya dihabiskan dengan persiapan intens. Reyshard menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang ritual, mempelajari kitab ibunya di bawah bimbingan Ansel. Ia mulai memahami bahasa Kawi kuno, mantra-mantra yang meliuk-liuk seperti ular, dan simbol-simbol yang kini terasa akrab di benaknya. Aura keperakannya semakin kuat, memancar seperti medan energi yang tak terlihat, kadang-kadang memicu lampu-lampu di sekitarnya berkedip atau benda-benda kecil bergetar. Ansel mengamati perkembangan ini dengan campuran kekaguman dan kewaspadaan. Reyshard adalah seorang murid yang cepat, namun kekuatannya masih mentah, liar, dan belum sepenuhnya terkendali. Ia juga merasakan bisikan-bisikan dari alam astral yang semakin sering, seperti angin yang membawa pesan dari kejauhan. Beberapa di antaranya adalah pesan peringatan, sementara yang lain adalah jeritan dari entitas yang merasakan kekacauan akan datang. Salah satu malam, saat Reyshard sedang bermeditasi di ruang tamu, ia tiba-tiba melihat sesosok bayangan melintas di balik tirai. Kali ini, bukan bayangan yang menakutkan, melainkan familiar. Arwah wanita dari Ruang VIP nomor 3. Wajahnya tidak lagi hangus, melainkan samar, transparan, dan ada ekspresi cemas di matanya yang bolong. "Panas... dia datang... mencari kunci lain..." bisik arwah itu, suaranya kini tidak lagi lirih, melainkan sedikit lebih jelas, bercampur dengan desisan yang tak menyenangkan. "Kunci lain?" Reyshard bertanya, matanya terbuka, namun tubuhnya tetap dalam posisi meditasi. Arwah itu melayang mendekat, tangannya menunjuk ke arah potret kuno di dinding—potret ayah Reyshard. "Dia... dulu... pernah memegang kuncinya. Bukan yang seperti kau. Tapi... kunci lain." Sebelum Reyshard bisa bertanya lebih jauh, arwah itu melayang ke arah jendela, menunjuk ke luar, ke arah kota. "Dia... mencari..." Lalu, arwah itu menghilang, meninggalkan jejak dingin yang cepat memudar. Reyshard membuka matanya, napasnya sedikit memberat. Ayahnya? Kunci lain? Apa maksudnya? Ia bangkit, berjalan ke potret ayahnya. Pria yang dingin, yang memaksanya menjadi kuat, yang terlibat dalam kematian ibunya. Reyshard tak pernah menyangka ayahnya memiliki rahasia spiritual seperti ini. Apakah keterlibatan ayahnya dengan "kunci lain" ini yang memicu perjanjian Nayaka? Sementara itu, Theo sedang sibuk mengurus persiapan perjalanan. Ia menghubungi jaringan lamanya di dunia bawah tanah, mengatur jalur aman dan logistik yang tidak mencurigakan. Ini bukan pekerjaan mudah. Bisnis gelap keluarga Mahendra memang luas, namun melintasi batas provinsi dengan tim bersenjata tanpa menarik perhatian adalah tantangan tersendiri. Suatu sore, Theo mendapat telepon dari salah satu informannya. "Boss, ada yang aneh. Beberapa anggota dari klan Ravana terlihat bergerak. Mereka biasanya tidak pernah keluar dari wilayah mereka di selatan." Klan Ravana. Salah satu keluarga mafia paling kejam dan misterius di Indonesia, dikenal karena menggunakan ritual gelap dan memiliki kontak dengan entitas gaib. Mereka adalah musuh lama keluarga Mahendra, namun selama ini lebih memilih bersembunyi. "Apa yang mereka cari?" tanya Theo, suaranya tegang. "Informasi bilang... mereka mencari seseorang yang 'membawa cahaya'." Theo tahu itu Reyshard. Klan Ravana mungkin telah merasakan bangkitnya kekuatan Reyshard, dan mereka ingin memanfaatkannya, atau bahkan menghancurkannya. Ia segera memberitahu Reyshard dan Ansel. "Klan Ravana?" ulang Ansel, alisnya berkerut. "Itu tidak bagus. Mereka adalah sekte yang menggunakan ilmu hitam kuno. Koneksi mereka dengan dunia astral sangat dalam, dan mereka tidak segan menggunakan tumbal manusia." Reyshard mengepalkan tinju. "Nayaka pasti yang memicu mereka. Dia tahu aku sudah bangkit, dan dia ingin mengujiku." "Atau, lebih buruk lagi," sahut Ansel. "Dia ingin mereka menangkapmu. Kunci yang hidup jauh lebih berharga daripada kunci yang sudah mati." Ketiganya saling pandang. Jaring intrik dan bahaya semakin meluas. Perjalanan ke Pusat Denyut Dimensi di Kalimantan tidak lagi hanya tentang menemukan jawaban, tapi juga tentang bertahan hidup dari dua sisi: intrik mafia yang kejam dan ancaman spiritual yang mematikan. "Kita berangkat malam ini," putus Reyshard, matanya menyala dengan tekad. "Sebelum mereka bisa melacak kita lebih jauh." Ansel mengangguk, mulai mempersiapkan peralatan spiritualnya dengan cepat. Theo segera menelepon timnya, memberikan instruksi terakhir untuk keberangkatan. Malam itu, di bawah langit yang pekat, sebuah pesawat pribadi kecil diam-diam lepas landas dari landasan tersembunyi, membawa tiga jiwa yang ditakdirkan untuk menghadapi garis takdir yang retak, menuju ke jantung kegelapan yang menanti di hutan belantara Kalimantan. Bisikan-bisikan dari alam lain kini tak lagi samar, melainkan gema yang jelas dari pertempuran yang tak terhindarkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN