4. Kutunggu Kembalimu

2184 Kata
Mama dan papa Azfer benar-benar masih syok tak percaya mendengar pernyataan dari anak sulungnya itu sampai mamanya mencubit Azfer. “ Awww sakit ma, kenapa mama nyubit aku sih emang apa salah Azfer sih ma.” Tanya Azfer yang bingung. “ Mama cuma lagi mastiin fer kalau kali ini mama ngga lagi mimpi kan.” Mama balik bertanya. “ Ma, mama sekarang lagi ngga tidur mana mungkin mama mimpi, Azfer serius ma Azfer ngga main-main.” Jawab Azfer meyakinkan oang tuanya. “ Kamu beneran lagi ngga bercanda kan fer, ini persoalan serius fer papa ngga mau kamu terpaksa melakukan persyaratan ini, karena pernikahan bukan persoalan main-main.” Tanya sang papa dengan penuh penekanan sedangkan mamanya ikut mengangguk setuju dengan pertanyaan sang suami “ Memang Azfer akui awalnya Azfer terpaksa tapi setelah berfikir lagi, apa salahnya Azfer mencoba kenalan dulu dengan dengan wanita pilihan mama dan papa karena Azfer yakin papa dan mama ngga akan memilih sesuatu yang buruk untuk Azfer. Dan siapa tahu wanita itu jodoh Azfer.” Ucapan Azfer membuat mamanya meneteskan air mata. “ Kenapa mama malah nangis.” “ Mama terharu fer, mama bahagia dengan jawaban kamu , mama dan papa yakin kalau pilihan kita ngga akan salah dia wanita yang sangat baik dan juga cantik.” Jawab sang mama langsung memeluk anak sulungnya itu. “ Berarti bentar lagi Kayla punya kakak ipar dong, aduh senengnya akhirnya Kayla bakalan punya kakak cewek, ma calonnya kak Azfer cantik apa ngga.” Goda Kayla langsung mendapat jitakan dari Azfer. “ Aww sakit kak.’ “ Papa dan mama ngga bakalan milihin cewek yang sembarangan dong untuk anak yang paling tampan ini, dan tadi mama juga baru ketemu dia, Masyaallah dia baik banget orangnya fer kamu pasti bakalan suka  sama dia namanya Aira.” Ucap mamanya “ Emangnya papa sama mama udah bilang ke kak Aira itu kalau bakalan dikenalin ke kakak.” Tanya Kemal dan dibalas gelengan oleh sang mama. “ Kita memang ngga bilang apapun ke Aira tentang kita akan mengenalkanmu padanya tapi mama dan papa sudah mengkonfirmasi kalau dia belum punya pasangan masih jomblo. Untuk masalah dia bersedia atau ngganya itu tergantung nanti bagaimana usaha kamu untuk meraih hati Aira.” Ucapan sang paa membuat Azfer terkejut. “ Jadi maksud papa sama mama jadi Azfer harus menaklukkan Aira terlebih dahulu.” Orang tuanya pun mengangguk. “ Ya Allah ma, pa Azfer kira kalian udah bilang ke dia dan Aira sudah bersedia, kalau begini lebih lama lagi dong Azfer bakalan berangkat ke Londonnya.” “ Fer, dengerin baik-baik kita ngga mau memaksa kamu ataupun Aira nanti karena pernikahan yang dilakukan karena terpaksa nanti kita takutnya ngga akan langgeng, jadi kita mau kamu kenalan dulu sama Aira dan hati kalian akan saling mencintai dengan sendirinya.” Terang sang mama “ Ok Azfer akan mencoba untuk meraihnya sendiri, tapi gimana Azfer bisa deket sama Aira itu ma kalau Azfer tetap berada di Bandung.” Mama langsung menatap sang suami. “ Kalau begitu papa akan kirim kamu untuk ikut mengurus perusahaan disini, tapi papa minta kamu tetap memantau yang cabang walaupun sudah ada Andika.” Azfer hanya mengangguk setuju. “ Azfer ikut aja apa kata papa, Kalau gitu Azfer istirahat dulu ya ma, pa.” Pamit Azfer yang langsung beranjak ke kamar. Sepeninggalan Azfer ke kamar kedua adiknya yang begitu penasaran dengan calon kakak iparnya pun langsung menyuruh mamanya menceritakan tentang pertemuannya tadi dengan Aira. Mama Azfer pun sangat antusias dan bahagia menceritakan pertemuan tadi. *** Aira pov Keesokannya di kantor sudah sangat ramai para karyawan yang hadir, tapi sikap mereka membuat aku  yang baru datang merasa bingung sebab para karyawan terlihat sangat sibuk membenarkan penampilan mereka apalagi para karyawati membuat aku dan temanku Riana merasa heran. “ Ada apa sih Ai, kenapa semua orang terlihat tampil beda sih, kaya mau kedatangan anak presiden aja.” Tanya Riana “ Bener kamu na aku juga ngga tahu.” Jawabku yang juga bingung. “ Masa kamu sekertaris bos ngga tau sih.” Tanyanya lagi. “ Bener na aku ngga tau sama sekali, kita tanya aja dari pada penasaran.” Ajakku dan aku langsung mendekati meja salah satu karyawan disana. “ Mba Dewi kenapa sih kok pada sibuk sendiri-sendiri, dan tumben juga mba Dewi keliatan cantik banget pagi ini.” Tanyaku membuat mba Dewi malah melototiku. “ Emang biasanya mba ngga cantik apa Ai.” Dia tersinggung dengan ucapanku dan aku pun langsung menanggapinya untuk membuat suasana hatinya berubah baik lagi. “ Bukan begitu maksud Ai mba Dewi , ya tumben aja mba Dewi pakai lipstick beda hari ini, karena lipstick yang sekarang lebih cocok buat mba jadi terlihat semakin mempesona, begitu lho maksud Ai.” Jawabku dengan sangat terpaksa walau tak sesuai dengan kenyataan, tapi taka pa membuat orang bahagia kan dapat pahala. “ Owh bilang dong kalau begitu, oh ya emang pak Dani ngga ngasih tau kamu apapun.” Tanyanya dan akupun menggeleng karena tak tahu apapun. “ Kirain kamu udah tahu, kalau hari ini anak sulung pak Dani yang namanya Azfer yang gantengnya mengalahkan artis korea itu bakalan kembali kerja disini lagi.” “ Owh tapi kok pak Dani ngga ngasih tau apapun ya ke aku, emangnya selama ini dia dimana mba.” Tanyaku penasaran “ Dia tadinya memimpin perusahaan cabang yang ada di Bandung tapi sekarang dia akan membantu pak Dani disini. Makannya semua karyawan disini pada berpenampilan sebagus mungkin karena pak Azfer itu orangnya perfeksionis banget dan juga orangnya ganteng banget membuat para wanita yang melihatnya jadi meleleh.” Ucapnya dengan penuh perasaan sampai membuatku dan Riana bergidik ngeri. “ Udah lah Ai aku mau langsung ke ruanganku aja.” Riana langsung pergi ke departemennya begitu pula denganku aku langsung masuk ke ruanganku, tapi belum sampai aku keruanganku ponselku pun bordering dan menampilkan nama pak Dani di layar ponsel langsung aku angkat. “ Assallamualaikum, pak…” Salamku dan dibalas olehnya aku hanya mendengarkan perintahnya dan langsung kututup setelah paham dengan apa yang saat ini akan aku kerjakan. Pak Dani menyuruhku untuk menyiapkan ruang rapat untuk pukul 10.00, karena akan diadakan perkenalan wakil presdir  yang tak lain adalah putranya sendiri yang bernama Azfer, sebenarnya aku penasaran seperti apa wajah laki-laki yang dibilang gantengnya melebihi artis korea itu. Semua ruangan sudah siap aku dibantu oleh OB dan OG di perusahaan ini makannya cepat selesai, dan  sebentar lagi pukul sepuluh, tapi saat aku akan kembali turun ke bawah  sambil menunggu kedatangan pak Dani beserta anaknya itu aku melihat para karyawan sudah berdiri rapi untuk menyambut. “ Seperti mau nyambut presiden aja.” Batinku sambil ketawa-tawa sendiri . Sampai aku tak menyadari ternyata aku berjalan ditengah-tengah para karyawan yang sedang menyambut, saat aku akan minggir karena malu dilihat para karyawan yang menyuruhku untuk minggir tak sengaja aku menubruk sesuatu dan membuatku terjatuh. “ Aduh sakitnya.” Rengekku. “ Siapa sih yang jalan ngga liat-liat.” Aku langsung mendongakkan wajahku keatas dan menampakkan wajah seorang laki-laki yang berdiri tegap dengan tangannya yang dimasukkan kedalam saku celana dengan gayanya seperti itu  membuatnya semakin mempesona, sampai suara pak Dani menyadarkanku. “ Kamu ngga papa Ai,” Tanyanya dan aku langsung berdiri sambil membenarkan pakaian dan kerudungku. “ Saya ngga papa kok pak,” Jawabku sedangkan laki-laki yang menabrakku tadi yang saat ini sedang berdiri disamping pak Dani hanya diam dengan gayanya yang terlihat sangat songong apalagi dia tak meminta maaf karena telah menabrakku. “ Ya sudah kalau begitu kita langsung saja keruang rapat.” Ajak pak Dani diikuti laki-laki itu dan aku yang ada dibelakangnya. Selama berjalan menuju ruangan rapat, aku merasa sangat risih karena para karywan tak henti-hentinya menatap ke laki-laki yang ada didepanku ini dengan pandangan takjub dan genit. “ Ya Allah laki-laki seperti ini yang mereka bilang tampan, padahal sombongnya minta ampun, kalau muka emang ganteng tapi sikapnya nyebelin banget songong harusnya mereka ngga cuma liat dari wajahnya aja tapi juga hatinya,Asatgfirullah kenapa aku jadi menggibah orang,” Batinku sambil mengepal tanganku kearahnya dari belakang karena kesal melihat gaya laki-laki seperti dia ini. Dan langsung kuturunkan saat kepalanya menoleh kebelakang. Aku mengikuti rapat perkenalan Wakil presdir  di perusahaan ini, dan ternyata namanya Muhammad Azfer Rafif. Aku sebenarnya salut dengan berbagai prestasi yang ia raih dalam memajukan perusahaan dengan usianya yang masih muda, tapi tak tahu mengapa orang ini terlihat sangat dingin membuatku malas berurusan dengannya. Selesai rapat pak Dani menyuruhku untuk ikut ke ruangannya karena ada yang perlu dibicarakan denganku. Kalau dilihat dari raut wajah pak Dani seperti hal yang sangat serius, membuatku jadi tambah deg-degan. “ Assallamualaikum, pak.” Salamku saat masuk ke ruangan pak Dani dan disana ternyata ada pak Azfer dan mba Dewi, ada apa sebenarnya ini kenapa perasaanku tak enak. “ Waallaikumsalam.” Jawab semua yang ada didalam sambil menoleh memandangku. “ Silahkan duduk Ai.” Suruh pak Dani dan aku langsung duduk didekat mba Dewi dan berhadapan dengan pak Azfer. “ Begini Ai ada yang perlu saya bicarakan ke kamu ini penting.” “ Silahkan pak.” “ Begini karena anak saya baru pindah kesini lagi jadi saya minta maaf padamu, kamu ngga akan menjadi sekertaris saya lagi.” DEG ucapan pak Dani menyayat hatiku, kenapa rasanya sakit dan sedih. “ Memang kenapa pak, apa saya membuat kesalahan yang sangat fatal sampai saya harus diberhentikan sebagai sekertaris sementara bapak, terus kalau saya diberhentikan saya ditempatkan dimana pak, terus bagaimana dengan penelitian saya pak.” Ucapku sambil menangis karena sedih aku tak jadi sekertaris pak Dani lagi, tapi mengapa semua orang yang ada diruangan justru tertawa apa ucapanku ada yang lucu padahal aku sangat sedih mendapat kabar ini mereka tertawa diatas penderitaanku. “ Ai kamu ngga pernah membuat kesalahan saya sangat senang dengan kinerja kamu, walaupun kamu disini hanya magang tapi cara kerja kamu sudah sangat professional, dan bukannya saya memberhentikan kamu justru saya akan menempatkan kamu di bagian yang sama seperti sekarang tapi bukan menjadi sekertaris saya lagi melainkan menjadi sekertaris wakil presdir yaitu Azfer putra saya.” Kata pak Dani. “ APA jadi sekertaris pak Azfer.” Ucapku yang tanpa kusadari sangat keras sampai aku malu sendiri dan langsung menutup mulutku. “ tapi kenapa harus saya pak padahal saya kan hanya magang disini, masih banyak yang lebih professional dibandingkan saya contohnya seperti mba Dewi atau yang lain pak dan saya disini kan juga sementara pak.” Tolakku “ Saya memilih kamu karena walaupun kamu baru disini tapi kamu sudah tahu kegiatan apa saja dan proyek apa saja yang saat ini sedang dikerjakan oleh perusahaan kita. Sedangkan saya akan menyerahkan proyek-proyek besar ini pada Azfer saya ingin kamu membantunya karena kamu yang tahu segalanya Ai, nanti biar Dewi yang akan menjadi sekertaris saya untuk sementara ini, bagaimana apa kamu bersedia.” Pertanyaan pak Dani membuatku sangat bingung, sebenarnya aku tak ingin menerima tawaran ini tapi aku juga tak tahu bagaimana harus menolaknya aku tak enak pada pak Danu. “ Begini pak sebenarnya saya ngga…..” Ucapanku berhenti dan menggantung karena aku melihat pak Azfer langsung berdiri. “ Karena kamu sudah ditunjuk menjadi sekertaris saya, jadi sekarang ikut saya ke ruangan saya.” Dia menyuruhku dengan seenaknya padahal aku belum menjawab apapaun. “ Tapi saya kan belum menjawab tawaran ini pak.”Jawabku “ Ini bukan masalah tawar menawar tapi ini perintah yang harus kamu kerjakan, yaitu menjadi sekertaris saya, dan ngga usah banyak bicara sekarang kamu ikut ke ruangan saya.” Pak Azfer pun langsung beranjak pergi, aku jadi bingung sendiri apa yang harus aku lakukan sekarang, kemudian aku memandang kearah mba Dewi dan dia memberiku kode untuk mengikuti pak Azfer begitu pula dengan pak Dani dia memberi isyarat yang sama. Aku pun akhirnya pasrah dan berakhir untuk mengikutinya. Aku mengetuk pintu ruangan pak Azfer, tapi tak  ada sahutan dari dalam ruangan, akhirnya apku langsung masuk dan ternyata dia sedang berdiri dipinggir jendela sambil menatap ke luar. “ Apa ada yang bisa saya bantu pak.” Tanyaku dengan ragu-ragu takut mengganggu dan dia tak menyahut-nyahut jadi aku putuskan untuk beranjak keluar dari ruangan ini. Tapi saat aku baru berbalik dia memanggilku. “ Aira Nabila Tanisha.” Dia memanggil nama lengkapku membuatku jadi takut sendiri. “ Ya pak ada apa.” Tanyaku dengan penuh ketakutan karena dia mendekat kearahku dengan memutariku membuat aku semakin taku karena dia melihatku dari atas sampai bawah dan dari depan kebelakang.. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan kenapa membuatku jadi parno sendiri begini sih. “ Kamu tahu tugas kamu.” Tanyanya dengan duduk diatas meja dan berada didepanku. Aku langsung memberanikan diri menatapnya. “ Sekarang saya adalah sekertaris bapak.” Jawabku “ Yupz, benar kamu adalah sekertaris saya jadi apapun yang saya perintahkan padamu kamu harus laksanakan dan kerjakan tanpa bantahan ataupun penolakan, karena saya paling tidak suka dengan suatu penolakan. Ingat itu baik-baik.” Ucapnya dengan penuh penekanan membuatku semakin tegang. “ Sekarang berikan ponselmu padaku.” “ Untuk apa pak.” Tanyaku. “ Ngga usah banyak tanya kemarikan ponsel kamu.” Jawabnya dan aku pun langsung memberikan ponselku padanya. Aku mengintip apa yang sedang dia lakukan pada ponselku kenapa tiba-tiba meminta ponselku. Dan tak lama kemudian dia memerikan lagi ponselku. Tak lama kemudian ponselku pun bordering. Menampilkan nama penelfon dan betapa terkejutnya aku saat melihat nama pemanggilnya yaitu tertera nama “MY HUSBAND”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN