5. Kutunggu Kembalimu

1938 Kata
Aira benar-benar dibuat kesal oleh Azfer karena memberi nama diponselnya dengan nama My Husband. Aira tak paham mengapa Azfer melakukan ini dan apa maksud dia sebenarnya. “ Kenapa bapak memberi nama diponsel saya dengan nama my husband.” “ Ya karena saya suami kamu.” Jawab Azfer dengan santai membuat Aira semakin geram. “ Apa bapak bilang suami, kapan saya menikah dengan bapak, bapak kalau bicara jangan sembarangan ya, jangan mentang-mentang bapak bos saya jadi seenaknya begini pada saya.” Ucap Aira dengan penuh amarah.sedangkan Azfer hanya manggut-manggut menanggapi kemarahan Aira. “ Dengarkan saya baik-baik ya kata papa saya kamu adalah pegawai yang profesioanal, jadi saya akan percaya jika  kamu professional bila kamu menganggap saya sebagai suami kamu.” Jawab Azfer “ Bapak gila ya jelas-jelas bapak itu bos saya terus untuk apa saya menganggap abapak sebagai suami saya, ngga ada sangkut pautnya pak.” Jawab Aira lagi dengan lantang. “ Jelas ada, karena tugas sekertaris melaksanakan perintah atasannya, memenuhi kebutuhan atasannya dan siap kapanpun saat atasannya membutuhkannya, sama halnya dengan menjaga seorang suami. Jadi kapanpun dan dimanapun kamu harus siap jika aku butuhkan. Maka dari itu aku memberi nama diponselmu itu my husband biar kamu ngga lupa tugas kamu sebagai sekertarisku.” Ucapan Azfer membuat Aira terperanga tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “ Hei kamu paham apa ngga kok malah bengong sih.” “ Aduh ucapan bapak buat saya makin pusing tau ngga. Saya keluar dulu dari pada saya makin pusing disini.” Aira langsung beranjak  keluar.  Sepeninggalan Aira, didalam ruangan Azfer tertawa-tawa sendiri merasa puas dengan apa yang dia lakukan barusan. “ Akan aku pastikan kamu menjadi milikku dan tak akan pernah aku biarkan kamu merusak semua rencanaku.” Ucapnya lirih sambil menyeringai. *** Azfer menyuruh Aira untuk terus  menemaninya lembur karena Azfer harus mempelajari proyek-proyek yang akan diambil alih olehnya. Aira menjelaskan proyek yang sedang berjalan pada Azfer apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dikerjakan oleh pak Dani semuanya Aira paparkan tanpa ada yang tertinggal satupun. Hal itu membuat Azfer puas dengan kerja Aira hari ini. Seperti malam ini genap satu minggu Aira menjadi sekertaris Azfer dan genap satu minggu pula ia lembur. “ Pak semua sudah selesai kan, jadi saya sudah boleh pulang kan.” Tanya Aira “ Ok semuanya sudah selesai, jadi kamu boleh pulang.” Kata Azfer “ Kalau begitu saya pulang dulu pak, Assallamualaikum.” Pamitnya tapi baru mau melangkah Azfer memanggilnya membuatnya mengurungkan untuk melangkah. “ Saya akan antarkan kamu pulang.” Ajakan Azfer membuat Aira terkejut. “ Bapak ngajak saya pulang bareng, ngga perlu pak saya kan bawa motor sendiri.” Tolaknya. “ Ini bukan suatu ajakan tapi ini sebuah perintah yang harus dilaksanakan.” Ucap Azfer membuat Aira geram karena selam ini, tak pernah satu pun perintah dari Azfer yang ia bantah selalu ia jalankan, walaupun ia sudah pulang kerumah dan harus balik ke kantor dimalam harinya karena perintah bosnya itu. Aira masih diam seperti patung tak mengikuti Azfer keluar membuat Azfer kembali memanggilnya. “ Kenapa kamu masih disitu, apa kamu mau tidur disini.” Aira menghela nafas dengan berat dan dia pasrah, karena semakin bosnya dibantah maka tingkahnya akan semakin menjadi. Sesampainya diparkiran Aira bingung lagi ia khawatir montornya akan hilang, karena ini pertama kalinya ia meninggalkan motor malam hari di kantor. Dan Aira juga merasa tak enak hati diantarkan malam-malam oleh seorang pria ya walaupun itu bosnya sendiri. “ Kamu kenapa malah bengong aja sih, ayo masuk.” Suruh Azfer membuat Aira terkejut dan akhirnya dia masuk ke mobil dengan ragu-ragu. “ Emmm pak saya khawatir montor saya hilang, karena ini pertama kali saya nnggalin montor di kantor, pak sebaiknya saya naik montor aja ya.” Pinta Aira membuat Azfer jadi geram sendiri. “ Dengerin baik-baik perusahaan kita ini bukan sembarangan perusahaan Ai, di kantor ada cctv dan ada petugas yang jaga malam, aku jamin montor kamu bakalan aman jadi ngga usah banyak alasan.” Azfer menegaskan kekhawatiran Aira. Selama diperjalanan Aira justrus tertidur dan tingkahnya saat tidur membuat Azfer senyum-senyum sendiri karena Aira yang tidur dalam keadaan kepalanya terbentur kaca mobil tapi itu semua tak membuat Aira terbangun. Saat hampir sampai didepan rumah Aira, Azfer sengaja mengerem mendadak untuk membangunkan Aira, Dan benar saja Aira terbangun karena terkejut dan kepalanya terbentur dashboard mobil. “ Ya Allah sakitnya, pak Azfer bisa ngga sih kalau ngerem jangan mendadak.” Ucap Aira dengan kesal sambil memegangi dahinya yang terasa sakit. “ Siapa suruh dari tadi tidur terus, turun udah sampai rumah kamu.” Ujar Azfer membuat Aira terkejut “ Hah udah sampai rumah,” Ucapnya sambil melihat kearah luar mobil benar saja sudah sampai didepan rumahnya. “ Saya kan belum pernah kasih tau alamat rumah saya sama bapak, kok bapak bisa tahu rumah saya.” Tanyanya. “ Itu hal yang paling mudah untuk saya tahu.” Ucap Azfer sambil tersenyum. Tiba-tiba ada yang mengetok kaca jendela mobil membuat Aira dan Azfer terkejut. “ Tok…tok…tokk.” “ Kak Riqza.” Panggil Aira membuat Azfer manatap Aira. “ Kamu kenal sama dia.” Tanya Azfer “ Dia kakak saya pak.” Jawab Aira kemudian Azfer dan Aira un keluar dari mobil. Tak  henti-hentinya kak Riqza menatap Azfer dari atas sampai bawah membuat Azfer yang dipandangi seperti itu merasa risih dan akhirnya memperkenalkan diri pada kakak Aira. “ Kenalkan saya Azfer, atasan Aira.” Azfer dengan ramah dan sopan menyalami Riqza dan dibalas tapi bukannya menjawab Riqza menatap Aira dan Aira pun mengangguk. “ Iya kak ini bosnya Aira, dia nganterin Aira pulang karena udah larut malam, kak Riqza habis dari mana.” Tanya Aira mengalihkan pandangan kakaknya. “ Kakak habis dari rumah pak RT tadi ada tasyakuran, kalau begitu sebaiknya ajak masuk bos kamu, kasihan dia pasti kecapean habis nyetir biar istirahat dulu sebelum pulang.” Aira melototi kakaknya apa maksud dengan mengajak bosnya untuk masuk. “ Oh ngga perlu kak, pasti pak Azfer udah mau pulang dia pasti kecapean, iya kan pak.” Jawab Aira sebelum Azfer membalas ajakan Riqza. “ Ngga kok saya ngga kecapean, kenapa saya harus menolak kalau ada yang mau mengajak saya berbuat baik untuk bersilaturahmi.” Kata Azfer membuat Aira mengerutkan dahi sedangkan Azfer tersenyum menang. “ Ya udah kalau gitu kita masuk.” Ajak Riqza Lagi diikuti oleh Azfer dan Aira. Dibelakang Azfer Aira mengomel sendiri sebal kenapa bosnya ini mau aja diajak masuk kerumahnya. “Assallamualaikum.”  Salam ketiganya “ Waalaikumsalam.” Ibu Aira membukakan pintu. “ Kok kalian bisa barengan, mama ngga denger suara motor kamu Ai, jadi mama kira kamu belum pulang.” Tanya ibu. “ Iya bu Ai pulangnya ngga pakai montor, dianterin pak Azfer atasan Ai.” Ucap Aira dan ibu Aira langsung menatap Azfer. “ Perkenalkan tante saya Azfer atasannya Aira.” Ucap Azfer sambil menautkan kedua tangannya didada. “ Owh jadi ini bos ganteng yang Aira ceritain ke ibu yang …...” Ucapan Ibu Aira terpotong karena membuat Aira malu dan langsung menutup mulut ibunya. Sedangkan Azfer dan Riqza senyum-senyum sendiri mendengar ucapan ibu Aira. “ Ibu apa-apaan sih jangan bikin malu Ai dong.” Bisik Aira yang sudah melepaskan tangannya di mulut ibunya dan ibunya hanya tersenyum “ Ya udah kok malah diluar terus, ayo nak Azfer masuk.” Ajak mamanya. Sedangkan Aira langsung pamit ke kamarnya untuk membersihkan dirinya dan membiarkan Azfer bersama dengan keluarganya. Tak selang beberapa lama sekitar setengah jam Aira pun turun ke bawah dikiranya Azfer sudah pulang tapi ternyata bosnya itu masih ada disana. Aira melihat Azfer terlihat sangat akrab saat sedang mengobrol bersama kakak dan ibunya, Aira melihat mba Salsa sedang didapur langsung mendekat. “ Mba Salsa lagi ngapain.” Tanya Aira “ Ini Ai mba lagi manasin makanan dan  nyiapain makan buat kamu sama bos kamu.” Jawab Salsa “ Hah, maksud mba Salsa pak Azfer mau makan disini.” Tanya Aira lagi dan hanya dibalas anggukan oleh Salsa. “ Kok bisa.” “ Ya bisa lah Ai, dia belum makan malam terus tadi ibu nyuruh dia buat makan malam disini, tapi ya Ai bos kamu itu ganteng banget ya, andai anak kakak besok gantengnya kaya dia.” Ucap Salsa sambil mengelus perutnya. “ Ganteng sih ganteng tapi tigkahnya amit-amit deh, jangan sampai ponakan aku kaya dia.” Aira langsung bergidik ngeri membuat Salsa mencubitnya. “ Aww sakit mba, kenapa aku malah dicubit.” “ Ya kamu bilang sembarangan, orang baik gitu orangnya kok, dari tadi dia asyik tahu diajak ngobrol, pas tuh Ai kalau dijadikan suami, udah ganteng, pinter, baik…” Ucap Salsa. “ Udah ah mba Salsa tambah ngawur bicaranya, udah siap apa belum Ai laper banget ini.” Tanya Aira. “ Udah kok sekarang kamu pagiil sana bos kamu.” Suruh  Salsa dan Ai langsung menggeleng tak mau. “ Udah ngga usah nolak panggil sana.” Salsa langsung mendorong Aira untuk memanggil bosnya, Sesampainya diruang tamu Aira melihat pemandangan yang membuat hatinya tiba-tiba bahagia dengan pemandangan yang ada didepannya dan dia pun membatin. “ Ya Allah kenapa ini orang beda banget kalau dikantor, disini dia kelihatan seperti manusia normal, jadi membuat ketampanannya bertambah, ternyata dia bisa seramah ini dengan orang yang lebih tua dan bisa tersenyum ramah seperti saat ini. ” Kemudian panggilan kakaknya membuyarkan lamunannya. “ Ai… Aira kok malah ngalamun sih.” “ Siapa juga yang ngalamun, Ai Cuma ngga mau ganggu kalian yang lagi asyik ngobrol aja.” Dustanya. “ Alah keliatan tuh boongnya.” Ledek Riqza lagi. “ Apaan sih kakak, oh ya Aira cuma disuruh mba Salsa buat ngasih tahu kalau makanannya udah siap.” Ucapnya dengan salah tingkah. “ Owh bilang dong dari tadi, ya udah kalau gitu ayo nak Azfer.” Ajak ibu Aira. Semua berkumpul di meja makan walau hanya Aira, Azfer dan Riqza yang sedang makan. Aira merasa canggung makan bersama dengan Azfer dan keluarganya. Apalagi pandangan kakaknya kepadanya, membuat Aira risih karena menggoda dengan ekspresi wajah. Kemudian Aira menginjak kaki Riqza tapi ternyata yang  dia injak adalah kaki Azfer. “ Aww sakitnya.” Teriakan kesakitan Azfer membuat semua orang terkejut termasuk Aira batin Aira dia kan menginjak kaki kakaknya kenapa malah Azer yang teriak, jangan-jangan dia salah menginjak kaki Azfer. Dan Aira langsung malu. “ Kenapa nak Azfer.” Tanya ibu Aira. “ Ini tante ada yang nginjek kaki Azfer.” Ucap Azfer membuat semua orang menatap Aira. “ Kok pada ngliatin Aira gitu sih, Aira ngga sengaja kok, maaf ya pak.” Sesal Aira “ Ai… Ai… terang-terangan banget sih, kalau mau…” belum selesai Riqza menggoda Aira langsung distop Aira. “ Apaan sih kak Riqza orang ngga sengaja.” Ucapnya dengan kesal karena kakanya terus menggodanya. Selesai makan Azfer berpamitan pada keluarga Aira dan berterimakasih sudah menerimanya dengan sangat baik. Ibu Aira menyuruh Aira mengantarkan Azfer sampai depan. Setibanya didepan bukannya langsung pergi Azfer justru menatap Aira, sampai membuat Aira risih tak nyaman dan malu. “ Kenapa bapak ngliat saya seperti itu, emang ada yang salah sama saya.” Tanyanya. “ Ngga ada yang salah kok, cuma saya ngga nyangka kalau keluarga kamu asyik juga ya dan membuat aku merasa nyaman.” Jwabnyanya “ Memang mereka baik kok beda sama…” Ucapan Aira menggantung membuat Azfer langsung menlotot. “ Beda sama siapa maksud kamu, pasti mau bilang saya kan.” Jawabnya dan Aira hanya menggedikkan bahu. “ Tapi saya senang bisa dekat dengan keluarga kamu, karena itu akan memudahkan saya untuk bisa dekat dengan anaknya.” Ucapan Azfer membuat Aira bingung. “ Maksud bapak apa.” Tanyanya Tapi bukannya menjawab pertanyaan Aira, dia langsung masuk mobil dan didalam mobil ia berkata. “ Kamu akan tahu nanti apa yang aku maksudkan.” Ucapnya dan langsung melajukan mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN