Saat mobil yang dikendarai Azfer untuk mengantar Ai tiba, lagsung menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang melihat mobil mewah memasuki ingkungan kampus. Sedangkan Aira yang ada didalam sebenarnya mau sekali, padahal dia sudah menyuruh Azfer untuk berhenti di depan kampus dan melarangnya untuk ikut masuk karena inilah yang dia khawatirkan.
“ Tuh kan bener kataku, Ai kan udah bilang berhenti di depan aja tadi ngga perlu ikut masuk segala. Liat anak-anak pada ngliatin kesini, Ai kan jadi malu mas.” Rengek Aira pada Azfer membuat Riana yang melihatnya merasa lucu dengan sikap Aira pada Azfer.
“ Jadi kamu malu aku anterin Ai.” Tanya Azfer dengan raut tak menyenangkan.
“ Ya bukannya ngga suka mas cuma Ai ngga suka jadi pusat perhatian seperti ini, dan Ai minta mas ngga perlu turun, Ai ngga suka ngliat cara mahasiswi-mahasiswi ngliatin mas.” Ungkapnya membuat Azfer senyum-senyum sendiri. “ Kok malah ngetawain aku sih.”
“ Kamu tenang aja Ai, pilihanku jatuh padamu aku ngga akan melirik yang lain, kamu tunggu disini.” Jawaban Azfer membuat Ai bahagia. Azfer pun langsung keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk Aira, sikap Azfer yang cool dan sangat sweet membuat Aira tambah terpesona dan hatinya semakin berdebar. Riana yang keluar dari mobil Azfer pun ikut senang melihat sahabatnya terlihat sangat bahagia seperti saat ini.
“ Sebenarnya kamu ngga perlu nglakuin ini mas, aku jadi malu liat tuh anak-anak pasti lagi ngomongin kita.” Protes Aira.
“ Biarin aja, itu tandanya mereka iri sama kita.” Setelah mengucapkan seperti itu, tiba-tiba ada yang mendekatinya yaitu Fabian dan Cika.
“ Aira, Riana jadi kalian yang keluar dari mobil keren ini, kok bisa sih.” Ucap Cika dengan lantang sambil memegangi mobil Azfer tanpa sadar ada pemiliknya. “ Jawab Ai kok bisa sih kamu naik mobil keren seperti ini.” Sedangkan Riana langsung membungkam mulut Cika dengan tangannya, tapi Cika meronta-ronta.
“ Assallamualaikum, Ai.” Salam Fabian membuat Azfer memalingkan muka karena tak suka dengan sikap ramah Fabian kepada calon isterinya.
“ Waalaikumsalam.” Balas Aira
“ Disini kan bukan cuma ada Aira kenapa yang disapa cuma dia.” Balas Azfer dengan ketus membuat semua memandang kearahnya, begitu juga dengan Aira dia khawatir Azfer akan membuat masalah karena Aira tahu kalau Azfer tak suka pada Fabian.
“ Oh maaf, perkenalkan saya Fabian teman Aira.” Ucap Fabian sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak Azfer bersalaman, sedangkan Azfer memandangnya dengan pandangan sinis tapi akhirnya Azfer membalas uluran tangan Fabia.
“ Perkenalkan saya Azfer, CALON SUAMI AIRA.” Ucapnya dengan penuh penekanan membuat tangan Fabian melemah dan melepaskannya sambil memandang kearah Aira seolah-olah meminta penjelasan dari Aira. Tapi tatapannya langsung mengarah pada jemari Aira dan disana benar dia melihat cincin sudah tersemat di jarinya.
“ Apa tadi dia bilang calon suami Aira.” Tanya Cika yang ikut terkejut dan lemas. “ Ai apa maksud laki-laki ini.”
Akhirnya Aira membuka suara. “ Perkenalkan Fab, Cik dia mas Azfer calon suamiku.” Cika langsung luruh kelantai, membuat Riana dan Aira langsung membantu Cika untuk berdiri.
Sedangkan Azfer akan langsung pamit dengan wajah yang merasa puas dan menang dengan melihat raut wajah Fabian yang menjadi sangat pucat. “ Sayang kalau begitu aku balik ke kator lagi ya, nanti kalau kamu udah selesai kabari aja aku pasti jemput.” Pamitnya pada Aira membuat Aira mengangguk dengan malu-malu. “ Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.” Balas Aira
Fabian langsung masuk tanpa pamit pada Aira an yang lainnya. Aira tak memperdulikan Fabian saat ini dia dan Riana masih fokus pada Cika yang masih syok mendengar penuturan dari sahabatnya.
Selama rapat dimulai Aira melihat perubahan dari Fabian. Dia terlihat menghindar dari Aira. Namun berbeda dengan Cika dari tadi dia menyenggol Aira karena walaupun sudah dijelaskan semuanya oleh Aira, Cika masih tak percaya bahwa sahabatnya ini bisa menaklukan hati lelaki tampan dan tajir melintir seperti Azfer. Tapi Aira tak memperdulikannya dia tetap fokus, walaupun dalam hatinya merasa tak enak hati terhadap Fabian. Aira ingin menjelaskan semuanya pada Fabian setelah acara ini selesai.
Dua jam kemudian acara rapat pun selesai Aira melihat Fabian yang keluar dari ruangan langsung ikut keluar mengejarnya.
“ Fab… Fabian tunggu.” Panggilnya dan Fabian yang merasa dipanggil pun berhenti sambil menoleh kebelakang.
“ Ada apa Ai.” Tanyanya dengan datar.
“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu.” Jawabnya.
“ Bukannya tadi udah jelas ya diacara rapat.” Balasnya.
“ Bukan masalah itu Fab, ini masalah lain.” Ucap Aira dan Fabian seperti langsung paham saat melihat wajah Aira yang terlihat bersalah.
“ Tapi aku rasa ngga ada yang perlu dibicarakan kok Ai, karena memang diantara kita ngga ada apa-apa, jadi kamu ngga perlu merasa ngga enak hati sama aku Ai, kamu ngga salah sama sekali, Cuma aku butuh waktu untuk menata hatiku Ai. Dan aku ucapkan selamat atas lamaran kamu, aku akan berusaha ikhlas Ai, kalau begitu aku pamit duluan ya, Assallamualaikum.” Pamitnya yang berusaha terlihat tegar.
“ Waalaikumsalam.” balasAira.
***
Hari-hari yang Aira jalani akhir-akhir ini lebih sibuk dari biasanya. Karena dia harus membagi waktunya antara menyelesaikan skripsi dan mempersiapkan pernikahannya bersama Azfer. Untung saja dia sudah berhenti bekerja di perusahaan Azfer karena memang masa magangnya sudah selesai. Awalnya Azfer berat karena Aira keluar dari perusahaan, sebab Aira yang sudah menjadi sekertarisnya selama ini dan Azfer akui cara kerja Aira sangat bagus dan professional sehingga akan sulit mencari pengganti seperti Aira. Seperti hari ini Aira dan Azfer baru selesai fitting baju pengantin mereka dan Azfer sengaja mengajak Aira untuk mampir makan.
Sambil menunggu pesanan mereka Azfer bingung harus dari mana memulai berbicara pada Aira tentang keinginannya untuk kuliah lagi di luar negeri.
“ Ai sebenarnya ada yang mau aku bicarakan serius padamu.” Ucapnya dengan ragu sedangkan Aira mengerutkan dahinya karena melihat raut wajah Azfer yang berubah cemas.
“ Ada apa mas kok kamu keliatan cemas gitu, bilang aja sama Aira siapa tahu Ai bisa bantu kalau mas Azfer ada masalah.” Tanya Aira.
“ Begini Ai aku mau jujur sama kamu, tapi aku mohon kamu jangan salah paham ke aku kamu harus dengerin penjelasanku dari awal sampai akhir.” Ucapnya dan Aira mengangguk mengerti. “ Sebenarnya setelah kita menikah nanti aku akan melanjutkan kuliah S2 ku di luar negeri.” Mendengar penuturan Azfer barusan membuat Aira seperti tersambar pettir. matanya mulai memanas dan berkaca-kaca.
“ Apa maksud mas Azfer, Aira ngga paham.” Tayanya lagi.
“ Jauh sebelum aku bertemu dengan kamu aku sudah memantapkan hatiku untuk kuliah diluar negeri Ai, tapi saat aku izin ke mama dan papa dia langsung menolaknya. Aku pun bisa saja memberontak mereka tapi aku bukan anak yang seperti itu Ai aku masih punya hati, sejahat-jahatnya aku Ai tak akan aku tega melakukan itu pada mereka yang sudah mencurahkan semuanya kasih sayangnya padaku. Akhirnya mama memberikan syarat padaku jika aku tetap ingin berkuliah di luar negeri. Maka syarat yang mama berikan adalah menikah.” Ucapan Azfer membuat hati Aira terasa perih.
“ Jadi mas menikah dengan Ai karena persyaratan yang mama berikan.” Tanya Ai yang lemas mendengar kenyataan ini.
“ Tuh kan aku udah bilang ke kamu Ai, denegrin dulu semuanya, aku tadinya tak setuju dengan syarat yang mama berikan aku menolaknya karena bagiku itu persyaratan yang sangat konyol dan pernikahan bukan hal yang main-main. Tapi mama langsung memberikan pengertian padaku sampai aku akhirnya paham dengan niatan mama menginginkan aku menikah terlebih dahulu saat akan berkuliah lagi nantinya. Itu semua untuk membuatku tak jauh dari Allah dan ingat batasan-batasannya, karena dulu aku akui aku pernah salah pergaulan, apalagi nantinya ada isteri yang menungguku disini jadi itu semua bisa menjadi pengingatku. Aku pun akhirnya menerimanya, sampai papa menunjukkan fotomu padaku. Saat aku bertemu denganmu aku langsung terpesona dan berfikir tak mungkin pilihan mama dan papa akan buruk pasti mereka memilihkan yang terbaik untukku. Apalagi saat aku sudah mengenalmu selama ini aku semakin kagum dan jatuh hati padamu Ai, aku sangat bersyukur Allah menjodohkanku denganmu. Aku tulus mengatakannya Ai aku mencintai kamu.” Penjelasan Azfer membuat Aira tak bisa lagi menahan air matanya yang ingin keluar. Dia merasa terharu dengan penuturan Afer dan menghargai kejujuran calon suaminya itu.
“ Tapi kenapa baru sekarang kamu kasih tau ke aku mas kenapa ngga dari awal.” Potes Aira yang masih sesegukan, sampai Azfer yang melihatnya tak tega.
“ Maafin aku Ai, aku takut kalau kamu tau ini dari awal kamu ngga akan setuju menikah sama aku.” Jawab Azfer.
“ Aku merasa dibohongi mas, aku seperti dimanfaatkan disini.” Protes Aira lagi.
“ Ngga Ai sama sekali aku ngga ada niatan buat bohongin kamu aku serius Ai aku cinta sama kamu, dan aku pun nantinya disana ngga akan lama cuma dua tahun. Aku akan selalu ngabarin kamu aku janji Ai, kalau ngga kamu bisa ikut aku juga. Kita bisa kuliah sama-sama disana.” Ucap Azfer yang terus memberikan pengertian pada Aira.
“ Ngga mas, Ai ngga mau ikut mas Azfer kesana Ai punya keinginan sendiri disini mas. Mungkin memang berat nantinya buat Ai, tapi Ai akan coba karena itu semua pun sudah cita-cita mas dari dulu Aira ngga bisa menghalanginya.” Jawab Aira dengan berat hati.
“ Jadi kamu izinin aku Ai.” Tanya Azfer mendapat anggukan dari Aira. “ Makasih ya yang, makasih banget kamu buat aku semakin sayang ke kamu, aku semakin yakin kamu memang calon isteri terbaikku, aku ngga salah memilih kamu.” Azfer langsung berpindah dan akan memeluk Aira tapi langsung Aira dorong.
“ Eh… mas Azfer apa-apaan sih kita kan belum halal ngga enak tau diliatin banyak orang, Ai malu tau mas.” Tolak Aira.
“ Maaf Ai mas reflek sayang, karena saking senengnya mas sampai lupa kalau kita belum halal.” Jawab Azfer sambil garuk kepala dan kembali ketempat duduknnya.
“ Tapi mas Azfer harus janji pada Aira, kalau mas Azfer akan terus ngabarin Aira, disana mas ngga boleh ngelirik cewek lain, harus tetap jaga kesehatan, jaga diri dan selalu ingat sama Allah.” Nasehat Aira sedangkan Azfer hanya mengangguk anggukan kepalanya.
“ Iya Aira sayang mas janji ngga akan melirik wanita manapun selain isteri mas yang cantik ini, mas akan selalu ngabarin kamu, mas akan jaga diri disana. Eh iya tapi kamu juga harus janji sama mas disini kamu juga ngga boleh deket-deket sama cowok manapun kamu harus inget ada suami kamu yang ganteng disana sednng mengawasimu, mas akan selalu tahu gerak-gerikmu walaupun kita berjauhan karena mas punya Allah yang ngga akan pernah tidur.” Nasehat Azfer juga membuat Aira senyum-senyum sendiri.
“ Iya mas Ai tahu, Ai akan selalu menjaga kehormatan mas Azfer yang nantinya akan menjadi suami Aira. Ai ngga akan mungkin berani macam-macam sama cowok lain kecuali sama kamu mas.” Jawab Aira.
“ Sekali lagi makasih ya Ai, aku bahagia banget karena aku adalah laki-laki paling beruntung yang bisa memiliki wanita sebaik dan sehebat kamu dalam hidupku.” Aira kembali luluh dengan kata-kata yang Azfer utarakan, dia hanya tersenyum menanggapinya. “ Ya udah kita makan dulu ya, aku liat kamu akhir-akhir ini keliatan pucat Ai, aku ngga mau ngliat kamu sakit, karena itu hal yang membuatku sedih.”
“ Iya mas kamu tenang aja, walaupun Ai banyak kegiatan ngurusin sana sini Ai akan tetap jaga kesehatan.” Balasnya. Dan akhirnya mereka menikmati makanan yang sudah tersaji di meja. Sambil berbincang-bincang mengenai persiapan acara pernikahan mereka, sesekali Azfer menggoda Aira membuat Aira terpesona malu.
“ Kamu memang wanita yang baik sampai apapun yang aku katakana dengan kata-kata tulus kamu langsung percaya padaku tanpa tahu apa yang sudah aku rencanakan dari awal.” Batin Azfer saat memandangi wajah Aira yang sedang menikmati makanannya.