Di kediaman rumah Aira sedikit ramai karena ibunya yang sedang sibuk menyiapkan jamuan untuk acara lamaran nanti malam. Sedangkan Aira yang baru tiba dirumah terlihat senyam-senyum sendiri karena melihat ibunya yang sangat antusias menyambut keluarga Azfer.
“ Ai kenapa jam segini baru pulang sih, bukannya izin pulang lebih awal buat bantuin ibu.” Omel sang ibu tapi bukannya menjawab justru Aira mendekati ibunya yang sedang di dapur kemudian Aira memeluk ibunya dari belakang.
“ Ibu… ibu jangan marah-marah nanti cepet tua lho.” Ledek Aira membuat ibunya langsung mencubit pipi putri bungsunya itu. “ Bu, Aira sayang banget sama ibu Ai ngga mau jauh dari ibu. Kalau nanti Ai…” Ucapnya sambil sesegukan
“ Ibu pun sayang Ai, walau nanti Ai sudah menikah dan ikut suami tapi ibu akan selalu ada di hati dan fikiran Ai, jadi ibu ngga akan pergi kemana-mana sayang.” Jawab sang ibu membuat Ai kembali mengeratkan pelukanya.
Ternyata Riqza yang baru pulang kerja melihat adik dan ibunya sedang berpelukan seperti itu membuatnya langsung meledek Aira. “ Ya ampun anak gadis yang udah mau nikah masih aja manja.” Ledek Riqza.
Aira pun langsung melepaskan pelukannya, beralih menatap kakaknya yang duduk di ruang tengah. “ Biarin aja emangnya ngga boleh manja sama ibu sendiri mau Ai udah nikah ataupun belum sampai kapanpun Ai akan tetap manja sama ibu. Apalagi sama…” Ucapan Ai belum selesai ia langsung memeluk kakanya dari belakang “ Apalagi sama kakak.”
“ Ya Allah Ai ngaggetin aja deh kamu.”Kaget Riqza.
“ Sampai kapanpun Aira akan tetap manja sama kakak. Karena kakak pernah janji ke Aira kan, kalau kakak akan selalu berdiri didepan sendiri untuk membela dan melindungi Ai.” Rengeknya sambil sesegukan. “ Nanti walaupun Ai udah nikah kak Riqza harus selalu inget kalau Ai adalah putri kecilnya kakak.”
“ Kakak ngga akan pernah lupa itu de, kamu akan selalu masuk dalam prioritas kakak, karena sampai kapanpun kamu akan menjadi putri kecil kak Riqza.” Ucapan kakaknya membuat Aira mempererat pelukannya.
Sedangkan ibu dan mba Salsa yang melihat adegan adik dan kakak itu sampai terharu, dan akhirnya Salsa memeluk ibu mertuamya karena ikut merasakan kebahagiaan yang akan dirasakan adik iparnya itu.
***
Malamnya Azfer beserta keluarganya tiba dikediaman Aira. Pertama kalinya mama dan papa Azfer bertemu dengan ibu Aira. Tapi mereka sudah sangat akrab apalagi melihat ibu Aira dan mama Azfer, mereka terlihat sangat akrab.
“ Airanya kemana kok belum keluar juga.” Tanya mama Azfer
“ Iya kenapa Aira lama banget ya, Salsa coba kamu panggil Ai buat turun ya kasihan nak Azfer udah nungguin lama udah ngga sabar pingin liat calon isterinya.” Ledek ibu Aira membuat gelak tawa dan Azfer pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Azfer pov
Tak selang beberapa menit akhirnya Aira keluar dari kamarnya, tak tau kenapa hatiku sedikit berdebar saat aku melihatnya. Aku akui malam ini Aira terlihat berbeda dia terlihat cantik dari hari-hari biasa.
“ Fer… Azfer eh kok malah bengong.” Aku pun tersadar karena mama mengejutkanku saat aku terpesona dengan penampilan Aira malam ini.
“ Kakak terpesona tuh ma sama kak Aira yang cantik banget.” Ledek Kayla
“ Mama ngga salah milih kan fer, Aira memang cantik sekali.” Tambah mama dan aku hanya mengangguk.
Ibu Aira menyuruh Aira untuk duduk di sampingnya. “ Sini Ai.”
“ Baik karena semua sudah berkumpul disini bagaimana kalau acaranya kita mulai saja” Ucap Papa dan mendapat persetujuan dari semuanya. “ Bismillahhirohmannirohim, Kedatangan keluarga kami kesini ada niat yang baik pada keluarga ibu Linda yaitu kami ingin melamar anak bungsu ibu yang bernama Aira Nabila Tanisha untuk putra sulung kami yaitu Muhammad Azfer Rafif bagaimana apa lamaran kami diterima.”
“ Alhamdulillah, kami sekeluarga sangat menghargai niat baik dari keluarga bapak Dani, dan saya sebagai wali dari Aira sangat senang mendengarnya, tapi karena ini hal yang penting dan serius maka kami sebagai wali dari Aira tak bisa memutuskan sendiri. Kami harus bertanya langsung pada yang bersangkutan apalagi Aira yang akan menjalaninya. Bagaimana Ai apa kamu menerima lamaran dari Azfer.”
Wajah Aira terlihat merona karena malu dan ia bersiap menjawab. “ Sebelum Ai menjawabnya izinkan Ai bicara sebentar dengan pak Azfer.” Ucap Ai dan langsung mendapat pandangan dari semua orang.
“ Sebenarnya saya pun ingin berbicara dulu dengan Aira sebelum Ai menjawabnya.” Jawabku.
“ Baik kalau begitu kita akan memberikan waktu untuk kalian mengobrol dulu.” Ucap papa. Kemudian aku dan Aira langsung berdiri untuk menyingkir dari ruang tamu, Lalu Aira membawaku ke halaman samping rumahnya. Kami pun duduk berdampingan dengan malu-malu.
“ Silahkan Ai apa yang mau kamu bicarakan denganku.” Aku pun memulainya.
“ Sebelumnya Ai mau minta maaf karena Ai pak Azfer jadi sakit.” Ungkapnya membuatku mengerutkan dahi.
“ Tenang aja Ai aku sakit bukan karena kamu kok, aku memang orangnya begitu kalau lagi banyak yang difikirkan pasti sakit. Pasti mama kan yang cerita ke kamu.” Tanyaku dan dia hanya mengangguk.
“ Pak sebelum saya resmi menjawab lamaran bapak ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan.” Katanya
“ Silahkan Ai, Insyaallah kalau saya bisa menjawabnya akan saya jawab.” Ujarku.
“ Apa nanti jika Aira menerima bapak dan jika kita menikah bapak akan tetap mengizinkan Aira untuk meraih apa yang Ai ingin gapai.” Tanyanya.
“ Jelas Ai aku ngga akan menjadi suami yang menghambat apa yang akan menjadi cita-citamu dari dulu. Justru aku akan mendukungmu sepenuhnya, karena aku tau walaupun kamu mengejar mimpimu kamu tak akan melalaikan tugasmu menjadi seorang isteri.” Ungkapku.
“ Makasih pak, adalagi yang mau Ai tanyakan, sebenarnya pak Ai ngga pandai dalam berbagai hal apalagi tentang memasak, Ai anak yang manja dan dan juga tak pandai melakukan pekerjaan rumah dan masih banyak kekurangan yang Ai miliki apa pak Azfer bisa menerimanya.” Ucapan Aira membuat aku ingin tertawa.
“ Ai aku mencari pendamping hidup dan seorang isteri bukan mencari asisten rumah tangga, pertanyaamu tadi seolah-olah kamu menawarkan diri kamu menjadi ART ku bukan isteriku. Justru aku ingin menjadikan kamu menjadi ratu dalam istanaku kelak. Dan untuk menerima kamu apa adanya pasti aku akan menerimanya Ai,aku pun bukan laki-laki yang baik, ya seperti yang kamu ketahui sikapku di kantor yang sangat buruk, justru aku takut kamu yang terpaksa menerimaku dan aku bukan calon imam yang baik aku takk pintar dalam masaah agama malah nantinya mungkin aku yang akan lebih banyak belajar dari kamu Ai.” Ungkapku.
“ Pak Azfer tenang saja, Aira yakin dengan jawaban dari Allah dan Aira yakin dengan hati ini Aira ikhlas menerima pak Azfer, Aira tak mencari sosok imam yang memiliki banyak kelebihan justru Aira akan lebih bahagia jika nantinya kita sama-sama mau belajar pasti akan jauh lebih menyenangkan kita menjalani proses memperbaiki dirinya bersama-sama.”
“ Jadi kamu menerimaku Ai.” Tanyaku membuat Aira langsung menundukkan kepalanya.
“ Apaan sih pak, udah yuk kita masuk kasihan yang didalam udah lama nunggunya.” Ajaknya langsung masuk ke dalam.
Setibanya di ruang tamu papa langsung meledekku dan Aira. “ Lama banget ngobrolnya, inget fer belum halal, tunggu bentar lagi.”
“ Apaan sih pa.” Jawabku
“ Ok Karena Aira dan Azfer sudah kembali maka sekarang giliran Aira memberitahu kita semua jawabannya, karena kita semua disini sudah sangat penasaran.” Ungkap papa.
“ Iya mama juga udah ngga sabar nih pingin menyematkan cincin di jari Aira.” Ledek mama juga.
“ Bismillahirrohmannirrohim, Aira menerima lamaran pak Azfer.” Jawab Aira membuat semua orang bahagia dan mengucapkan syukur
“ ALHAMDULILLAH.” Ucap semua yang hadir.
Kemudian mama langsung mendekati Aira dan memasangkan cincin di jari manis Aira dilanjut memeluknya. Begitu pula dengan Kayla karena dia sangat senang akhirnya bisa mendapatkan seorang kakak perempuan.
“ Terimakasih Ai karena sudah mau menerima anak mama ini, dan mulai sekarang jangan panggil tante lagi panggil mama sama papa, oh satu lagi yang paling penting karena mama dari tadi dengernya ngga enak banget masa udah mau menikah manggilnya masih pak Azfer sih.” Ucapan mama membuat Aira mengangguk malu-malu. Dan benar juga karena dari tadi dia memanggilku dengan sebutan pak.
Setelah acara menyematkan cincin, antara orang tua tinggal menentuka tanggal dan akhirnya mereka memutuskan tanggal pernikahan kita seminggu setelah acara wisuda Aira yang berarti tinggal dua bulan lagi. Akhirnya apa yang aku harapkan akan segera terjadi.
***
Keesokan harinya semua sudah kembali keaktivitas biasa lagi termasuk Azfer dia sudah kembali ke kantor. Setibanya di kantor banyak yang memberikan selamat padanya, awalnya dia bingung bagaimana para karyawan tahu tentang hubungannya dengan Aira padahal dia belum mengumumkannya, tapi Azfer langsung berfikir pasti ini mamanya yang menyebarkan berita baik ini. Diruangan Aira pun ia dikerubungi oleh para teman kerjanya.. Termasuk Riana sahabatnya merasa kesal dengan Aira karena tak memberi tahu tentang kabar lamarannya dengan Azfer.
“ Kamu tega sama aku Ai, kamu anggap aku apa Ai.” Rengeknya
“ Maaf Ri, aku pun terkejut karena acaranya bener-bener mendadak sampai ngga ada keluarga ibu ataupun ayah yang diundang. Maaf ya ri.” Sesal Aira.
“ Tapi Ai kita salut ke kamu tau, kamu bisa menaklukkan hati si bos manusia es.” Ucap salah satu karyawan yang tak sadar ternyata sudah ada Azfer dibelakang mereka.
“ Ada apa ini kenapa pada ngumpul disini semua bukannya kerja.” Ucap Azfer dengan tegas membuat semua karyawan bubar dari tempat Aira termasuk juga Riana.
“ Pokoknya aku butuh penjelasan dari kamu Ai.” Bisik Riana sebelum pergi dan langsung dibalas anggukan oleh Aira.
Setelah semuanya pergi dan tinggal menyisakkan Aira diruanggannya membuat Azfer merubah raut wajahnya yang tadinya menyeramkan dan tegas berubah menjadi wajah ceria sambil tersenyum kearah Aira.
“ Pagi sayang…” Ucapnya dengan lembut tapi tetap dengan gayanya yang cool membuat Aira salah tingkah.
“ Ih pak ini kan kantor ngga enak tau kalau ada yang denger, toh kita juga belum halal ngga baik tau manggil begituan.” Tolak Aira. “ Udah sana masuk.” Suruh Aira membuat Azfer pasrah dan langsung masuk ruangannya.
“ Oh ya nanti siang kita makan siang bareng ya.” Ajak Azfer yang kembali keluar ruangannya.
“ Saya ngga bisa pak, justru saya nanti siang mau minta izin karena ada acara di kampus buat acara amal yang bentar lagi.” Ucapan Aira membuat Azfer langsung mendekati meja Aira.
“ Kalau kamu ada acara di kampus berarti kamu ketemu dong sama laki-laki itu.” Pertanyaan Azfer membuat Aira bingung.
“ Laki-laki itu siapa maksud bapak.” Aira pun langsung berfikir. “ Oh maksud pak Azfer temen saya Fabian.”
“ Terserah aku ngga peduli siapa namanya.” Kesal Azfer.
“ Ya iyalah pak dia kan ketua panitianya, kenapa sih, jangan bilang bapak masih cemburu sama dia.” Azfer pun langsung mengalihkan pandangannya. “ Ya Allah pak saya kan udah bilang kalau dia cuma temen saya, dan bapak adalah calon suami saya untuk apa sih bapak cemburu lagi kalau saya memang sudah jelas-jelas memilih bapak, toh disana juga banyak temen-temen yang lain kok.”
“ Tapi Ai tetep aja dong aku harus waspada, kalau memang nanti kamu mau ke kampus biar aku nganterin kamu kesana.” Suruh Azfer.
“ Tapi kan saya berangkat sama Riana naik mntor.” Tolak Aira
“ Nanti biar aku suruh staff nganterin montor kamu pulang, Riana juga bisa ikut kita pokoknya nanti aku yang nganterin kamu, ngga ada penolakan lagi.” Ucap Azfer langsung kembali keruangannya dan Aira hanya pasrah.
***
Aira pov
Aku dan Riana sudah menunggu di lobi karena pak Azfer yang menyuruh kita. Sebenarnya aku malu sekali karena hari ini aku sudah menjadi pusat perhatian orang-orang dikantor karena berita lamaranku yang sudah tersebar luas. Tak lama kemudian mobil pak Azfer berhenti didepan kami.
“ Ai aku naik taksi aja ya aku ngga enak sama pak Azfer.” Rengek Riana padaku.
“ Please ri kamu ikut sama aku ya, aku yang kurang nyaman pergi cuma berdua, aku belum terbiasa ri, please kamu bareng sama aku.” Bujukku dan akhirnya Riana pasrah.
“ TIIIIIIIN.” Bunyi klakson mobil pak Azfer mengejutkan aku dan Riana. Karena kita tak segera masuk kedalam mobil tapi malah mengobrol. Saat kaca mobil dibuka aku melihat raut wajah pak Azfer yang kesal. “ lama banget sih ngga masuk-masuk malah ngobrol di luar.”
“ Sabar dong pak.” Aku dan Riana langsung duduk di kursi belakang.
“ Ai gimana sih kamu.” Ucapnya membuatku bingung.
“ Gimana apanya sih pak, memangnya ada yang salah sama saya.” Tanyaku.
“ Kenapa kamu duduk dibelakang, aku ini calon suami kamu bukannya supir kamu Ai, ya seharusnya kamu duduk disampingku dong.” Ucapannya membuatku salah tingkah dan malu dia mengatakan seperti itu didepan Riana. Dan Riana langsung mengedipkan mata serta menyenggolku menyuruhku untuk pindah duduk di depan.
“ Ya maaf, pak saya lupa dan belum terbiasa.” Jawabku dan langsung keluar untuk berganti tempat duduk. Setelah aku pindah didepan, aku masih melihat situasi yang menegangkan saat menatap wajah pak Azfer. “ Kenapa lagi sih pak, apa masih ada yang salah.”
“ Jelaslah kamu salah, mau sampai kapan kamu manggil aku pak Azfer terus.” Protesnya padaku membuat aku jadi malu sendiri dan Riana yang mendengarnya pun ikut tersenyum.
“ Ya Allah, Ai kirain apaan, ini kan masih dikantor pak ngga enak dong kalau manggilnya ngga sopan.” Jawabku
“ Maka dari itu dibiasakan dong Ai, nanti kalau manggilnya pak takutnya kalau kita udah nikah tetap manggil begitu, aku ngga masalah kok kalau dikantor kamu manggil aku mas ataupun sayang.” Aku langsung melototinya membuatnya marah tersenyum senang karena berhasil meledekku.
“ Udah deh jangan bercanda terus nanti kita telat mas.” Reflek panggilku dan langsung menutup mulutku karena malu sedangkan mas Azfer dengan bangganya berhasil membuatku memanggilnya mas. Dan akhirnya mas Azfer melajukan mobilnya.