Aira pov
Sudah beberpa hari ini pak Azfer tak berangkat ke kantor. Kata papanya yaitu pak Dani dia mengatakan kalau pak Azfer sedang sakit jadi dia butuh untuk istirahat. Tapi tak tahu mengapa apa hanya perasaanku saja, aku mersa bersalah apa dia sakit karena jawabanku padanya atau dia menghindar dan marah padaku.
“ Ai masih pagi masa udah ngalamun sih.” Ujar mba Dewi yang baru saja datang.
“ Eh mba Dewi, ada apa mba kaget saya.” Tanyanya
“ Mba disuruh manggil kamu sama pak Dani, sekarang kamu ditunggu diruangannya.” Kata mba Dewi, aku hanya mengeryitkan dahi karena bingung.
“ Ada apa mba, kenapa saya dipanggil pak Dani apa ada masalah dengan proyeknya.” Aku langsung berfikir yang ngga-ngga karena takut membuat kesalahan.
“ Mba juga ngga tau Ai, udah ayo kesana aja Insyaallah ngga lah Ai positif thinking aja” Aku dan mba Dewi langsung ke ruangan pak Dani.
“ Mba Aira masuk dulu ya.” Mba Dewi hanya mengangguk dan aku langsung memberi salam sambil mengetuk pintu. “ Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam, masuk Ai.” Jwaba pak Dani, aku pun langsung masuk.
“ Selamat pagi pak, ada apa ya pak, bapak panggil saya kesini.” Tanyaku dengan ragu yang sekarang sudah berdiri dihadapan pak Dani.
“ Tenang aja Ai ngga perlu tegang begitu, saya ngga akan ngomelin kamu. Cuma hari ini ada yang ingin bertemu dengan kamu.” Kata pak Dani.
Aku pun langsung menengok ke kanan dan kekiri tapi taka da orang diruangan pak Dani. “ Siapa ya pak yang mau bertemu dengan saya pak, kan disini hanya ada saya dan bapak.” Tanyaku
“ Dia ada didalam Ai.” Ucap pak Dani sambil menunjuk ruangan khusus. “ Kamu masuk aja kedalam, tapi maaf saya ngga bisa menemani kamu karena saya ada meeting dulu, dari pada yang ada didalam pegel nungguin kamu sebaiknya kamu masuk sekarang.” Suruh pak Dani.
“ Sebenarnya siapa sih pak yang mau bertemu dengan saya kok saya jadi deg-degan ya pak.” Ucapku membuat pak Dani menertawakanku.
“ Kamu lucu tau ngga Ai, nanti kamu juga tau sendiri Ai, kalau begitu saya tinggal dulu ya. Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.” Balasku dan aku beranikan diri langsung masuk ke dalam ruangan khusus yang ada diruangan pak Dani.
“Assallamualaikum.” Salamku dan langsung masuk keruangan itu.
“ Waalaikumsalam.” Jawabnya dan ternyata ada ibu Risti isteri pak Dani. “ Sini Ai.” Dia melambaikan tangan dan menyuruhku mendekatinya dan aku pun mengangguk terus berjalan mendekatinya.
“ Saya kira siapa tante yang mau bertemu dengan saya, eh ternyata tante Risti.” Ucapku sambil menyalaminya dan memeluknya.
“ Iya Ai tante kangen sama kamu jadi tante datang kesini, kenapa sayag kamu ngga suka ya bertemu dengan tante.” Ujar tante Risti.
“ Ngga kok tante, Ai justru bahagia banget tante mau meluangkan waktu tante yang sibuk untuk bertemu dengan Aira.” Jawabku.
“ Makasih ya Ai, kamu memang ngangenin banget.” Katanya dengan mengelus pipiku membuat aku merasa dia sama seperti ibuku.
“ Ai sayang sebenarnya tante datang kesini ada tujuannya nak.” Ungkap tante Risti membuat aku jadi deg-degan, apa ini masalah tentang pak Azfer.
“ Tante ngga perlu sungkan sama Ai, tante bilang aja ke Aira memangnya ada tujuan apa tante bertemu dengan Ai.” Tanyaku.
“ Ini tentang Azfer Ai.” …. “Deg” benar dugaanku ini ada sangkut pautnya dengan pak Azfer.
“ Ada apa dengan pak Azfer tante, oh iya Ai lupa Aira juga mau tanya memangnya pak Azfer sakit apa beberapa hari ini dia ngga masuk tante.” Tanyaku.
“ Dia sakit biasa kok Ai, Azfer memang seperti itu dari dulu kalau dia kecapean dan sedang bayak fikiran ngga lama kemudian jatuh sakit. Pernah dia sakit sampai seminggu lebih karena waktu dulu mau ujian sekolah dan ditambah dia kehilangan nenek yang sangat menyayanginya jadi dia memang seperti itu kalau lagi banyak yang difikirkan.” Ucapan tante Risti pun membuat aku jadi merasa bersalah.
“ Maaf ya tante, pasti gara-gara Ai pak Azfer jadi seperti ini.” Jawabku dengan reflek.
“ Ngga kok Ai ini bukan kesalahan kamu, Azfer memang seperti itu anaknya.” Ungkap tante Risti. “ Ai kedatangan tante kesini bukan untuk membujuk kamu atau membuat kamu bimbang sayang, tapi tante akan mengatakan sesuatu yang selama ini tante liat nak, Tante benar-benar bahagia saat Azfer mengatakan pada tante bahwa dia menyukai kamu dan ingin meminang kamu.”
“ Maaf tante kalau Ai mengecewakan tante.” Sesalku merasa tak enak hati melihat tante Risti.
“ Ngga Ai kamu sama sekali ngga mengecewakan tante justru tante yang berterimakasih ke kamu, karena kamu tante melihat anak tante kembali Ai.” Ungkapan tante Risti membuatku bingung.
“ Apa maksud tante Ai ngga paham” Tanyaku
“ Dulu Azfer adalah anak yang sangat baik dan jarang membangkang selalu perhatian pada keluarga, tapi setelah dia bergaul dengan teman-teman yang menurut tante kurang baik sikapnya berubah. Dia jarang pulang, sampai tante tak tau kelakuan dia di luar bagaimana, sering bantah dan tak pernah sholat. Tapi semenjak dia mengenal kamu dia kembali lagi menjadi anak tante yang seperti dulu Ai. Tante sangat bahagia akhirnya Azfer kembali lagi pada tante dan sikap dia jauh lebih baik, apalagi saat dia ingin menikah dengan kamu keluarga tante sangat senang mendengarnya. Tapi tante menghargai keputusan kamu sayang jika itu keinginan kamu, tapi tante mohon fikirkan lagi jawaban kamu Ai.” Pinta tante Risti.
“ Sebelumnya Aira minta maaf sekali tante karena sudah menyakiti tante dan keluarga, Aira sudah menganggap tante seperti ibu Ai sendiri maka dari itu Aira mau jujur sama tante. Pertama kali Aira mendengar ungkapan hati pak Azfer pada Aira sungguh Aira terkejut dan bingung tante karena bagi Aira ini terlalu mendadak. Memang Ai sangat menginginkan untuk bisa mencapai apa yang Ai cita-citakan dari dulu dan setelah ayah meninggal Ai ngliat ibu besarin Ai dan kakak Ai dengan penuh perjuangan Ai pingin bisa bahagiain dia tante, Ai fikir dengan kesuksesan Ai bisa bahagiain dia tapi ternyata apa yang Ai fikirkan itu salah. Kebahagiaan ibu Ai ternyata sangat sederhana karena dia bahagia saat melihat Ai bahagia.” Ungkapku
“ Begitulah seorang ibu Ai, siapapun ibu didunia ini akan bahagia jika melihat anaknya bahagia.”
“ Bismillah semoga jawaban Ai sekarang adalah jawaban yang terbaik. Tante Ai minta maaf karena jawaban Ai kemarin mungkin sudah mengecewakan semua orang dan terlalu tergesa-gesa. Ai mengambil keputusan ini karena Allah sudah memberikan jawaban atas kebimbangan dan doa Ai, Jika tante dan keluarga bersedia dan jika pak Azfer memang serius mau meminang Ai, maka Ai zinkan dia untuk melamar Ai secara resmi pada keluarga Ai tante.” Tante Risti langsung memelukku dengan sangat erat dan meneteskan air matanya.
“ Makasih Ai, makasih sayang tante benar-benar sangat bahagia mendengar jawaban Ai ini, ok malam ini kita akan datang ke rumah Ai.” Ucap tante dan aku langsung menunduk malu.
“ Malam ini tante.” Aku terkejut.
“ Iya Ai malam ini kenapa apa Ai ngga bisa.” Aku langsung menggeleng.
“ Bukan begitu tante maksud Ai apa ngga terlalu cepat tante.” Tanyaku.
“ Ngga sayang kalau memang hal baik ngga perlu ditunda-tunda dong.” Jawab tante Risti. “ Dan satu lagi kamu kan bakalan jadi menantu tante jadi jangan panggil tante lagi mulai sekarang kamu harus membiasakan manggil mama seperti anak mama yang lain.” Aku hanya mengangguk dengan ragu.
“ Iya tan…. Eh maksud Ai iya mama.” Ucapku dengan malu.
“ Kalau begitu mama pulang dulu ya sayang, mama mau nyiapin semuanya buat nanti malam dan mau memberikan kabar gembira ini sama Azfer, pasti nanti dia langsung sembuh.” Ledek mama Risti sambil pamit padaku. “ Assallamualaikum sayang.”
“ Waalaikumsalam mama.” Jawabku dan aku mengikutinya untuk keluar dari ruangan pak Dani juga. Aku juga akan memberi kabar pada keluargaku tentang acara nanti malam.
***
Azfer saat ini masih meringkuk di ranjangnya dengan wajah pucatnya. Tapi tak lama kemudian pintu kamarnya langsung terbuka dengan keras membuatnya terbangun karena terkejut.
“ Azfer…. Azfer bangun sayang ada yang mau mama kasih tahu ke kamu, ini penting nak pasti setelah dapat kabar berita ini kamu bakalan langsung sembuh.” Azfer yang tadinya malas bangun menjadi penasaran dengan berita apa yang akan mamanya katakana itu. Karena melihat antusiasnya sang mama pasti bukan berita kecil.
“ Berita apaan sih ma, Azfer masih lemes banget tau ngga.” Ungkapnya, dan tiba-tiba adiknya Kemal dan Kayla yang baru pulang sekolah ikut mendatangi kamar mamanya karena heran melihat mamanya yang tergesa-gesa menuju kamar sang kakak.
“ Iya ma, emang ada berita apaan sih jadi ikutan kepo deh.” Tanya Kayla
“ Azfer anak mama dengerin baik-baik apa yang akan mama bilang ke kamu ya karena mama ngga mau mengulangi kata-kata mama lagi, nanti malam Aira mengizinkan kita untuk datang kerumahnya dan di setuju untuk kamu lamar menjadi isteri kamu.” Bukannya menjawab pertanyaan mamanya Azfer malah terbengong tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“ Mama beneran ma, kak Aira mau menerima lamaran kak Azfer.” Tanya Kayla.
“ Tapi ma bukannya kemarin dia menolak lamarannya kakak kenapa sekarang dia berbalik menerima kakak plin plan banget.” Ucap Kemal membuat Azfer kesal karena adik laki-lakinya yang asal bicara dan dia langsung mejitak kepala Kemal. “ Awww sakit kak kenapa kamu malah mukul aku.”
“ Diem aja kamu.” Jawab Azfer membuat Kemal menggerutu kesal. “ Ma, mama ngga lagi bercanda kan, mama ngga cuma lagi ngehibur Azfer kan, mama serius kan ma.” Tanya Azfer sambil menggoyang-goyang tubuh mamanya.
“ Bener fer mama ngga lagi bohong, mama ngga bercanda buat apa mama tipu kamu untuk masalah seserius ini nak.” Jawab mama Azfer.
“ Kenapa Aira bisa berubah fikiran ma, apa yang membuat dia menerima pinangan Azfer.” Tanya Azfer yang sangat penasaran.
“ Karena waktu Aira menjawab kemarin dia tergesa-gesa tanpa berfikir kedepannya, dan setelah dia meminta petunjuk dari Allah Aira mendapat jawabannya, dan jawabannya adalah tante jika memang pak Azfer serius mau melamar Aira maka Aira izinkan dia untuk melamar Aira secara resmi lewat keluarga Aira Itu jawaban dia pada mama.” Mama Azfer mengikuti ucapan Aira tadi.
“kak Azfer jadi nikah dong ma.” Tanya Kayla dan mamanya membalas dengan anggukan. “ Alhamdulillah akhirnya Kayla punya kakak cewek, terus ma kapan kita mau kerumah kak Aira.” Tanya Kayla.
“ Malam ini.”
“ Mama serius malam ini ma.” Tanya Azfer dan mamanya hanya mengangguk. “ Tapi kita kan belum persiapan apapun ma.”
“ Azfer dengerin baik-baik, kamu ngga mau kan keduluan yang lain.” Azfer hanya menggeleng.” Maka dari itu pernikahan adalah hal baik jadi kenapa harus ditunda-tunda, kalau masalah persiapan Azfer tenang aja mama tadi udah mampir untuk mempersiapkan semuanya termasuk cincin yang buat melamar Aira.” Ucap Mama Azfer sambil mengeluarkan kotak cincin di dalam tasnya. “ Gimana menurut kamu fer.”
Tadinya Azfer akan melihat cincinnta tapi terburu diambil oleh adiknya Kayra. “ Ya Allah ma cantik banget cincinnya.” Kayra mencoba cincin untuklamaran Azfer sedangkan Azfer langsung menarik tangan adiknya. “ Ya ampun kak sakit pelan-pelan dong.” Rengek Kayla.
“ Ini itu bukan buat kamu, enak aja kamu pakai, Aira aja calon kakak belum makai malah udah di pakai kamu. Ma masa Aira pakai bekasnya Kay sih.” Kesal Azfer.
“ Ya Allah kak makai sebentar doang segitunya kalau marah, tenang aja kak jari Kay bersih ngga ada kumannya, eh tunggu bukannya tadi kakak lag sakit kenapa sekarang udah seperti orang sehat lagi.” Ledek Kayla.
“ Ya iyalah udah sehat orang sakit karena kemarin ditolak cintanya, sekarang udah diterima ya jadi semangat lagi apalagi nanti malam lamaran” Kemal ikut meledek Azfer.
“ Kalian disini cuma ngrecokin ya, udah sana keluar.” Azfer langsung mendorong kedua adiknya untuk keluar.
“ Udah-udah gitu aja dipermasalahkan fer.” Lerai sang mama. Setelah kedua adiknya keluar Azfer langsung memeluk mamanya.
“ Makasih ya ma, Azfer benar-benar bahagia akhirnya Aira mau menerima Azfer, tapi ma apa dia ngga terpaksa menerima Azfer.” Azfer ragu dengan jawaban Aira.
“ Azfer mama tau gadis seperti apa Aira itu, dan mama melihat ketulusan dari matanya, mama tahu kalau Aira pun merasakan perasaan yang sama seperti kamu, jadi mama harap Azfer kelak bisa menjadi suami yang bertanggung jawab dunia akhirat pada Aira, Insyaallah Aira adalah isteri solehah yang akan selalu mendampingi kamu. Karena menjalani sebuah pernikahan adalah ibadah yang indah.” Ucap mama Azfer.
“ Insyaallah ma, Azfer akan menjadi suami yang bertanggung jawab pada Aira, dan Azfer pun yakin pilihan mama adalah yang terbaik, Azfer pun yakin Aira bisa menjadi pendamping yang terbaik untuk Azfer.” Jawab Azfer sambil kembali memeluk mamanya.
“ Akhirnya langkah pertamaku berhasil, lanjut ke rencana selanjutnya.” Ucap Azfer dalam hati saat kembali memeluk mamanya sambil menyeringai dengan senyuman yang sulit diartikan