Azfer mengajak papanya untuk ke ruangannya membicarakan masalah proyek baru yang akan dikerjakan lagi. Azfer terlihat salah tingkah saat papanya menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
“ Papa perlu penjelasan dari kamu fer.” Ucapnya sambil berjalan dengan memegangi pundak Azfer sedangkan Azfer hanya tersenyum malu-malu.
Setibanya diruangan bukannya menanyakan tentang pekerjaan papa Azfer justru ingin mengetahui apa yang terjadi diantara anaknya dengan Aira.
“ Sebenarnya apa yang terjadi padamu dengan Aira mengapa papa lihat sikap kalian sangat aneh tadi. Apa ada yang papa ngga tau fer.” Tanya sang papa, sedangkan Azfer hanya diam sambil senyum-senyum. “ Papa tanya fer kenapa malah diem aja.”
“ Memang Azfer yang udah buat Aira jadi aneh begitu pa.” Ucapnya dan papa hanya mengerutkan dahinya. “ Azfer udah mengungkapkan perasaan Azfer ke Aira pa.” Kata-kata Azfer membuat papanya sangat terkejut.
“ APA fer kamu serius kamu ngga lagi bercanda kan, jadi kamu beneran suka sama Aira.” Pertanyaan papanya hanya dibalas anggukan malu-malu dari Azfer. “ Alhamdulillah papa seneng banget dengernya, terus bagaimana dengan Aira.” Tanya papa Azfer.
Sebelum menjawab Azfer menghela nafas. “ Tapi dia nolak Azfer pa.” Jawabnya dengan lemas.
“ Kenapa…. Kenapa Aira nolak kamu apa dia ngga suka sama kamu.” Tanya sang papa.
Azfer hanya mengangkat bahunya. “ Azfer ngga tau kalau masalah itu, cuma alasan Aira dia menolak Azfer karena dia mau fokus sama pendidikannya dulu pa, terus dia pingin mencapai cita-citanya.”
“ Terus mendengar jawaban Aira seperti itu apa kamu patah semangat.” Tanya sang papa lagi.
“ Ngga tau lah pa, Azfer pun ngga bisa memaksa Aira. Azfer pun harus menghargai keputusan yang dia ambil.” Jawabnya.
“ Berarti kamu pun menyerah dengan kuliah di luar negeri, dong.” Pernyataan sang papa membuat Azfer terkejut.
“ Ngga dong pa Azfer tetap akan berjuang untuk bisa mendapat restu papa dan mama buat kuliah di Luar Negeri. Apapaun itu akan Azfer lakukan.”
“ Nah itu maksud papa fer, kamu aja semangat banget buat tetap mendapat restu buat kuliah di Luar Negeri, masa Cuma dapat jawaban gitung dari Aira kamu mau nyerah sih.” Ujar sang papa membuatnya mengerti dengan maksud papanya.
“ Iya pa Azfer ngga akan nyerah buat dapetin Aira, apapun itu sekarang Azfer paham maksud papa.” Jawabnya dengan senyam-senyum sendiri seolah mendapat rencana baru untuk membuat Aira mau menerimanya.
Setelah membicarakan masalah yang terjadi pada Azfer, mereka pun akhirnya membicarakan tentang pekerjaan. Papa Azfer kembali melihat semangat sang anak yang tadinya sudah redup karena penolakan dari seorang wanita.
***
Azfer pov.
.Aku sengaja untuk pulang lebih awal supaya aku bisa menjalankan rencanaku. Aku pun sudah sampai ditujuanku. Kulihat ibu Aira sedang ada dihalaman rumah bersama mba Salsa aku langsung menghampiri mereka.
“ Assallamualaikum tante, mba.” Salamku
“ Waalaikumsalam.” Balas ibu Aira dan mba Salsa dengan raut wjah terkejut melihatku. “ Nak Azfer, tumben datang kerumah.” Tanyanya sambil melihat kearah mobilku mungkin ibu Aira mengira aku pulang bersama Aira.
“ Iya tante tadi lewat sini jadi sekalian mampir pingin ketemu tante dan yang lainnya.” Jawabku.
“ Tante kira kamu pulang bareng sama Aira.” Tebaknya
“ Ngga tante tadi Aira masih dikantor” jawabku
“ Masuk kedalam aja bu kasihan Azfernya berdiri terus.” Ledek mba Salsa.
“ Oh iya, ayo nak Azfer masuk.” Ajak ibu Aira dan aku langsung mengikutinya dari belakang.
“ Kak Riqza belum pulang tante.” Tanyaku.
“ Udah kok mungkin lagi bersih-bersih.” Jawab ibu Aira. “ Ibu seneng banget nak Azfer mau main ke rumah ibu.”
“ Iya tante Azfer juga seneng bisa silaturahmi lagi dengan tante dan yang lain.” Jawabku.
“ Aduh manggilnya jangan tante nak, panggil aja ibu seperti anak ibu yang lain, kalau dipanggil tante rasanya ibu malah ngga nyama.” Ucapnya.
“ Oh iya tan… eh iya bu.” Jawabku dan tak lama kemudian mba Salsa datang membawa minuman dibelakanyanya ada kak Riqza yang baru turun dari tangga.
“ Eh ada tamu rupanya, gimana kabarnya fer.” Tanya kak Riqza dan aku langsung bangun sambil menyalaminya.
“ Alhamdulillah kak baik.” Jawabku
“ Terus Airanya mana.” Tanya kak Riqza.
“ Aku ngga sama Aira kak, aku sendiri tadi sih waktu aku keluar dari kantor Aira masih di ruangannya, dan aku memang tadi pulang lebih awal. Karena sengaja mau datang kesini karena ada yang mau Azfer bicarakan sama ibu dan kak Riqza.” Ucpanku membuat ibu Aira dan kak Riqza saling pandang.
“ Memang ada apa fer kok keliatannya penting banget.” Ledek kak Riqza.
Sebelum aku mengutarakan semuanya kuteguk minuman yang sudah disajikan. “ Bismillah, begini bu, kak niat awal Azfer datang kesini memang ingin bertemu dengan kalian, karena Azfer datang kesini karena ingin meminta izin pada ibu dan kak Riqza untuk meminang Aira.” Kata-kataku membuat ibu dan kak Riqza sangat terkejut dan bingung dengan penuturanku barusan.
“ Kamu serius fer mau meminang Aira.” Tanya kak Riqza.
“ Aku serius kak, sebenarnya aku sudah mengungkapkan perasaanku pada Aira, tapi dia menolakku dengan alasan ingin menggapai cita-citanya terlebih dahulu dan belum memikirkan masalah ini, aku hanya ingin menjadi laki-laki yang halal baginya dan aku pun tak akan mencegah dia untuk meraih cita-citanya justru aku akan terus mendukungnya. Tapi aku pun tak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Aira terhadapku karena dia tak memberitahuku, maka dari itu aku mencoba datang kesini meminta izin pada ibu dan kak Riqza mungkin saja kalian bisa memberikan kesempatan untuk aku, serta mambantu aku untuk membujuk Aira .” Ungkapku.
“ Kita memang tau Aira memiliki keinginan seperti itu fer, ibu tak bisa mencegahnya tapi jika memang nak Azfer serius dengan perkataannya barusan. Ibu dan Riqza akan membicarakan terlebih dahulu dengan Aira mungkin saja nanti bisa dipertimbangkan.” Jawab ibu Aira
“ Bener yang dikatakan ibu fer, aku pun ngga bisa memaksakan, mungkin aku memang wali bagi Aira, tapi ngga semua keputusan bisa kita ambil tanpa persetujuan dari Aira karena dia yang akan menjalani kehidupannya kelak, aku sangat menghargai keberanian dan ketulusanmu yang datang kemari untuk meminang Aira. Aku tahu kamu orang yang bertanggung jawab dan baik. Kita akan coba bicarakan nanti dengan Aira dulu.” Aku mengangguk menanggapi penjelasan dari kak Riqza.
“ Makasih bu, kak apapun nanti keputusan dari kalian dan Aira akan Azfer terima dengan lapang hati. Tapi ibu, kak Riqza dan mba Salsa ngga perlu khawatir jika kelak jawaban Aira tetap sama Azfer akan tetap menjalin silaturahmi ini dengan baik.” Ucapku. Dan tak lama kemudian kita didalam rumah mendengar suara montor berhenti dan aku pastikan ituadalah Aira. Aku langsung berniat pamit. “ Kalau begitu Azfer pamit aja dulu ya bu, kak ngga enak ada Aira karena kejadian tadi di kantor.”
“ Ya sudah ngga papa, hati-hati nak.” Jawab ibu Aira.
“ Ya bu Assalamualaikum.” Pamitku dan saat didepan pintu aku hampir saja menabrak Aira.
“ Astagfirullah.” Terkejutnya dia dan langsung jongkok saat hampir menabrakku. “ Pak Azfer.” Panggilnya dengan keras.
“ Aira, kenapa keras banget manggilnya, ngga enak dideger tetangga.” Tegur ibu Aira dan aku hanya seyum-senyum sendiri.
“ Gimana Aira ngga kaget bu, kenapa dia maksudnya kenapa pak Azfer ada disini.” Tanyanya sambil menujuk kearahku.
“ Tadi kebetulan aku lewat rumah kamu jadi aku sekalian mampir.” Ucapku dengan berbohong.
“ kan rumah bapak ngga lewat sini, pasti bapak bohong kan, sekarang jujur sama saya apa tujuan bapak datang kerumah saya.” Desaknya tapi sebelum aku menjawabnya kak Riqza langsung menyambungnya.
“ Ai udah sore nih biar Azfer pulang kasihan dia pasti udah cape.” Ucap kak Riqza membelaku. “ Udah fer pulang aja jangan didengerin omongan Aira nanti ngga selesai-selesai.” Aku hanya mengangguk dan langsung pergi.
“ Tunggu pak Azfer kan belum jawab pertanyaan Aira kenapa pergi gitu aja.” Aira berniat mengejarku namun langsung dicegah oleh ibunya.
“ Udah Ai kasihan nak Azfer dia kan baru pulang kerja.” Ucap ibu Aira dan Aira pun langsung masuk kedalam dengan raut wajah kesalnya.
***
Malamnya Aira tak turun saat dipanggil untuk makan malam, akhirnya ibunya pun menemuinya ke kamarnya.
“ Assallamualaikum, kok anak umi yang cantik ini dipanggil buat makan malam bilangnya masih kenyang sih, emangnya tadi makan apa sih sampai ngga mau makan masakan ibu yang katanya masakan paling enak.” Ucap ibu Aira mendekati Aira yang sedang duduk termenung di tempat tidur.
“ Waalaikumsalam bu, Aira emang masih kenyang kok bu, jadi Aira ngga turun buat makan. Maaf ya bu.” Jwab Aira.
“ Ngga papa sayang, tapi ibu liat kok Aira keliatan beda hari ini ngga ceria seperti biasanya.” Tanya ibu Aira.
“ Ngga kenapa-napa kok bu cuma kecapean aja, tadi di kantor lagi banyak kerjaan.” Bohong Aira yang sedang menutupi kebimbangan dalam hatinya.
“ Aira tahu ngga kalau ibu itu siapa.” Pertanyaan ibu Aira membuat Aira mengerutkan dahi.
“ Ya ibu Aira dong bu, yang paling Aira sayang dan ngga ada duanya.” Ucap Aira sambil bermanja-manja dengan memeluk sang ibu, dan tanpa terasa air matanya pun keluar.
“ Kalau memang ibu adalah ibu Aira terus kenapa Aira bohongin ibu dan bilang ngga ada apa-apa padahal Aira sedang menghadapi masallah sayang.” Akhirnya tangisan Aira pun keluar dengan deras dan ia memeluk ibunya setelah mendengar ucapan ibunya tersebut.
“ Bu Aira ngga tau kenapa Aira jadi seperti ini, Aira bingung bu.” Aira bicara dengan sesegukan.
“ Kenapa sayang ada apa cerita sama ibu, siapa tahu ibu bisa bantu Aira menyelesaikan masalahnya sayang.” Tanya sang ibu.
“ Aira mau cerita tapi, eh tunggu dulu Aira yang harus tanya dulu ke ibu tadi kenapa pak Azfer datang kesini apa yang dia bicarakan sama ibu.” Tanya balik Aira.
“ Nak Azfer cuma mampir Ai.” Ucap ibu Aira tapi Aira tak percaya.
“ Ibu ngga lagi bohongin Ai kan bu.” Tanya balik Aira lagi dan dibalas dengan helaan nafas dari ibunya.
“ Begini sayang, sebenarnya tadi pak Azfer datang kesini memang ada yang dia bicarakan.” Akhirnya ibu Aira menjawab dengan jujur.
“ Tuh kan bener apa yang Aira fikirkan, dia bilang apa aja ke ibu.” Tanya Aira.
“ Dia sudah bilang semuanya ke ibu tentang dia mengungkapkan perasaannya dan tentang kamu menolaknya.” Jawab ibunya.
“ Aira terkejut bu karena pak Azfer tiba-tiba mengutarakan perasaannya, Aira ngga tau harus gimana.” Ucap Aira.
“ Sayang sekarang ibu tanya ke Aira apa yang kamu rasakan pada nak Azfer.” Tanya ibu Aira yang langsung mendapat pelukan lagi dari putrinya.
“ Sebenarnya Aira pun ragu dengan perasaan yang saat ini Ai rasakan pada pak Azfer bu, Aira takut semua ini hanya perasaan sesaat. Aira pun ngga tau kapan perasaan suka padanya ini muncul.” Jawab Aira
“Kamu ngga salah kalau memang kamu sayang sama nak Azfer semua rasa cinta itu datangnya dari Allah Ai, jika memang kamu benar-benar bimbang dengan semua ini minta petunjuk sama Allah sayang, coba sholat istikharah, minta jawaban dari-Nya.” Nasehat ibu.
“ Tapi jalan Ai masih panjang bu, Ai masih ingin menggapai cita-cita dan Ai juga belum bisa bahagiaan ibu.” Jawab Ai.
“ Sayang menikah itu bukannya untuk menghambat apa yang ingin kita capai, kamu masih bisa melakukannya tapi tetap pada batasannya dan mendapat izin dari suami. Untuk masalah membahagiakan ibu jangan kamu khawatirkan jika melihat Aira bahagia itulah kebahagian ibu Ai.” Jawab ibu Aira
“ Makasih bu, ibu selalu ada buat Aira dan selalu bisa membuat Aira jauh lebih tenang.” Ucap Aira.
“ Ai kamu tahu ngga tadi, saat nak Azfer mengutarakan perasaannya ke kamu pada ibu, benar-benar membuat ibu terharu dan bahagia. Padahal waktu pertama kali nak Azfer datang kesini ibu pernah berdoa dalam hati semoga Aira bakalan dapat lelaki baik dan soleh seperti nak Azfer ini, eh teryata dia beneran suka sama kamu, gimana coba perasaan ibu ngga bahagia.” Ledek ibu Aira membuat Aira jadi malu sendiri. “ Dan ibu bener-bener melihat ketulusan dia dalam mengutarakan perasaannya tadi, dan ibu minta Aira benar-benar minta petunjuk sama Allah, nanti apapun jawaban Aira ibu akan terus mendukunya karena ibu tahu Aira sudah besar dan ngga mengambil keputusan dengan gegabah lagi.”
“ Iya bu, Aira akan coba minta petunjuk sama Allah.” Uja Aira.
“ Terus sekarang anak ibu ini mau makan apa ngga, ibu sengaja lho nungguin kamu biar makan bareng.” Ucap ibunya.
“ Jadi ibu juga belum makan, ibu nungguin Aira.” Ibunya hanya mengangguk. “ Maaafin Ai ya bu, sebenarnya Aira juga laper sih bu, Aira tadi bohong kalau udah kenyang padahal Aira ngga makan dari siang karena pusing mikirin tentang pak Azfer.” Jawabnya sambil cengengesan membuat ibunya mencubit pipinya dan menggandeng Aira untuk turun makan.