Aira pov
Dari semalam sampai aku sampai dikantor pun aku tak bisa melupakan obrolan kemarin antara aku, Riana dan Cika. Mereka memang sahabat yang menyenangkan maupun menyebalkan. Bagaimana tak membuatku kesal mereka terus memojokkan aku yang tak memiliki hubungan apapun dengan pak Azfer.
Flasback on
Aku, Riana dan Cika akhirnya berkumpul lagi disebuah café setelah tragedi memalukan yang dilakukan Cika dikampus tadi.
“ Ai kamu beneran pacaran sama bos kamu, kok kamu ngga cerita-cerita sih ke aku.” Tanya Cika yang sangat penasaran.
“ Ya Allah ngga lah Cik kamu jangan percaya dong sama omongan Riana dia ngaco tau.” Jawab Aira dengan tegas.
“ Siapa juga yang ngaco sih Ai, aku sama sekali ngga ngaco ya aku sering banget liat pak Azfer tuh ngliatin dan memperhatikan kamu diam-diam kamu aja yang pura-pura ngga tau.” Kata Riana membuatku jadi tersedak.
“ Tuh kan Ai, kalau kaya gitu berarti tuh orang beneran suka sama kamu Ai. Aku yakin tuh, laki-laki mana coba yang ngga terpesona sama aura kamu.” Ledek Cika membuatku kesal.
“ Ya Allah kalian berdua apa-apaan sih, udah dong jangan ngledekin aku kaya gitu,.” Kesalku.
“ Ai aku perhatikan kamu juga keliatannya ada perasaan deh sama pak Azfer, ayo dong Ai cerita ke kita kamu kan sahabat kita.” Tanya Riana
“ Aku tegasin sekali lagi ke kalian ya, aku ngga ada hubungan aapun sama pak Azfer untuk sekarang Cuma ada atasan dan bawahan ngga lebih dari itu.” Jawabku.
“ Ok kamu bilang untuk sekarang dan kita pun ngga ada yang tahu apa yang akan Allah takdirkan untuk hubungan kamu kedepannya dengan pak Azfer. Dan kita doain yang terbaik iya kan cik.” Ucap Riana dengan mengenggam tanganku.
“ Iya Ai bener tuh yang dibilang Riana, tapi ya Ai,ri aku sebenarnya penasaran anget kaya apa sih yang namanya Azfer itu sampai membuat Aira keplek-keplek.” Ledek Cika membuatku melototinya karena kembali kesal. Dan akhirnya Riana menunjukan i********: pak Azfer pada Cika. Dan setelah melihat i********: pak Azfer Cika langsung menatapku.
“ Ya Allah Ai aku akan mendukung kalau kamu beneran sama bos kamu ini, tapi kalau kamu ngga mau aku siap kok Ai menampungnya.” Ucap Ai dengan wajah yang berbinar-binar. “ Ai kalau sampai dia suka sama kamu dan kamu bener-bener mulai merasakan getaran-getaran cinta aku sarankan kamu terima dia Ai, karena laki-laki seperti ini masuk dalam limited edition.” Aku dan Riana kembali tertawa karena perumpamaan yang Cika pakai.
“ Bener yang dikatakan Cika Ai, aku kira pak Azfer laki-laki yang pantas untuk seorang Aira Nabila Tanisha, dia laki-laki yang bertanggung jawab kalau dilihat dari cara kerjanya, dia soleh, dan yang jelas dia tampan.”
“ Aduh udah deh bisa nggasih kita ngga ngomongin dia yang jelas-jelas bukan siapa-siapa aku. Sekarang kita fokus aja makan.” Ujarku danakhirnya mereka diam sekejap tapi Cika masih terus melihat-lihat i********: Pak Azfer dan terus mengaggumi ketampanan bosku itu.
Flashback off
Lamunanku buyar ketika pak Azfer baru datang dan langsung masuk setelah memberikan salam.
“ Assallamualaikum.” Salamnya.
“ Waalaikumsalam.” Balasku.
“ Kok tumben pak Azfer ngga berhenti dulu didepan mejaku, senyum ke aku, dan tanya jadwal ke aku, ada apa sama dia kok cuek banget sih.” Ujarku sendiri saat pak Azfer sudah ada diruangannya
Aku pun langsung masuk untuk memberikan jadwal kegiatannya hari ini.
“ Permisi pak.” Aku masuk dengan hati-hati dan dia hanya menatapku sebentar kemudian kembali menatap laptopnya. “ Ini pak saya mau memberitahu jadwal bapak hari ini.” Dan dia hanya mengangguk.
“Apa sebenarnya yang terjadi padanya aa dia sedang dalam masalah.” batinku
“ Katanya mau ngasih tau jadwal saya kenapa malah diam.” Ucapnya membuatku terkejut
“ Oh iya pak pukul Sembilan nanti bapak ada jadwal pertemuan dengan pak Anto dan setelah itu bapak free.” Jawabku dan dia tak menyahuti ucapanku. “ Kalau begitu saya permisi dulu pak.” Aku langsungpamit keluar dan dia kembali tak bersuara.
“ Apa aku berbuat salah kenapa dia diam aja gitu sih, ngga seperti biasanya. Wajahnya kembali menakutkan deh.” Batinku lagi didepan ruangan pak Azfer.
Pukul 09.00 aku dan pak Azfer langsung ke ruang pertemuan untuk meeting bersama pak Anto untuk membahas proyek baru yang akan dijalankan. Dan keadaan pun masih sama sikap pak Azfer masih sama seperti tadi pagi dia terlihat seolah-olah mendiamiku, membuatku semakin bingung. Sekarang tinggal aku dan pak Azfer yang ada diruangan ini, aku berniat memberanikan diri bertanya padanya aku takut jika aku membuat kesalahan dan membuatnya mendiamiku seperti ini.
“ Emmm pak ada yang mau saya tanyakan.” Ucapku dengan ragu-ragu.
“ Silahkan.” Jawabnya yang masih fokus menatap laptop.
“ Apa saya membuat kesalahan pak.” Pertanyaanku mem buatnya berhenti mengetik dilaptop dan beralih memandangku kemudian aku langsung menunduk.
“ Apa maksud pertanyaan kamu saya ngga paham.” tanyanya balik.
“ Saya taku kalau saya membuat kesalahan dan membuat bapak marah, kalau memang iya sebaiknya bapak beritahu saya pasti akan saya benarkan jangan diamkan saya seperti ini.” Jawabku dan dia malah tersenyum
“ Ok kamu benar kali ini kamu sudah benar-benar membuat kesalahan dengan berbohong pada saya.” Aku langsung melotot apa maksudnya dengan aku berbohong padanya perasaan aku tak perah bohong padanya.
“ Saya berbohong apa ya pak.” Tanyaku yang bingung.
“ Sekarang jawab pertanyaan saya dengan sejujur-jujurnya dan tak boleh ada yang ditutup-tutupi.” Suruhnya dan aku hanya mengangguk. “ Ok pertanyaan pertama kemana kamu kemarin.” Aku langsung mengerutkan dahi.
“ Kan saya sudah izin ke bapak kalau saya kemarin izin ke kampus karena ada acara di kampus.” Jawabku
“ Bener kamu ngga bohong.” Tanyanya seakan-akan sedang mengintrogasiku. “ Terus sama siapa kamu ke kampus.”
“ Sama Riana dan teman-teman saya yang lain pak, ada apa sih pak sebenarnya kenapa bapak tanya-tanya seperti itu.” Tanyaku balik. Tapi bukannya menjawab dia malah bertanya lagi.
“ Beneran kamu pergi sama teman-teman terus temen kamu laki-laki apa perempuan.” Aku menghela nafas karena pertanyaannya.
“ Dua-duanya pak, ada apa sih pak.” Tanyaku lagi.
“ Ok pertanyaan terakhir saya kemarin yang bukakin kamu pintu mobil dia siapa kamu.” Tanyanya lagi dan aku langsung berfikir apa yang dia maksudkan itu Fabian karena kemarin dia yang bukakin pintu buat aku.
“ Maksud bapak Fabian.” Ucapku dan pak Azfer hanya menaikkan bahunya. “ Dia temen saya pak, memangnya kenapa ya pak.”
“ Saya ngga suka aja sama sikap dia yang sok baik.” Ucapan pak Azfer membuatku bingung
“ Dia bukannya sok baik pak memang dia orangnya baik kok.” Jawabku.
“ Ya pokoknya saya ngga suka aja kalau kamu deket-deket sama dia.” Balasnya lagi.
“ Bapak ngga boleh dong melarang saya berteman dengan siapa pun itu hak saya, dan ngga ada hubungannya sama bapak.” Balasku dengan tegas.
“ Kamu jadi perempuan emang ngga peka banget, kalau aku bilang aku ngga suka ya ngga suka.” Bantahnya lagi membuatku semakin kesal.
“ Ya kalau memang bapak ngga suka sama dia kasih alasannya kenapa dong saya kan ngga tau.” Balasku lagi.
“ Saya cemburu Ai, saya suka sama kamu.” Jawabnya dengan tegas dan membuat pernyataannya barusan seolah-olah membuat jantungku berhenti berdetak, tubuhku langsung keluar keringat dingin dan aku terbengong sambil menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Aku pun tersadar dan siap untuk keluar dari ruang rapat karena mukaku yang sudah seperti kepiting rebus, karena malu dan salah tingkah. “ Saya permisi dulu pak.”pamitku. Tapi belum sempat aku keluar pak Azfer sudah ada dihadapanku.
“ Tunggu Ai.” Dia berdiri didepan pintu dan aku ada dihadapannya, saat mata kami bertemu perasaanku sungguh tak karuan dan aku langsung menundukan kepalaku. “ Kenapa kamu pergi gitu aja apa kamu marah sama perkataanku barusan.” Aku hanya menggeleng. “ Terus kenapa kamu tiba-tiba lari.” Aku bingung harus menjawab apa. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.
“ Saya ngga tau pak.” Jawabku dengan masih menunduk.
“ Maksudnya.” Tanyanya.
“ Maksudnya saya ngga tau pak saya bingung harus bilang apa.” Ucapku dengan lirih.
“ Kamu saat ini ngga perlu jawab apapun Ai, aku Cuma mau kamu dengerin semua apa yang aku rasakan sekarang.” Ucapnya membuatku mendongakkan wajah padanya dan mengerutkan dahi sedangkan pak Azfer hanya mengarahkan tangannya pada tempat duduk rapat agar aku mengikutinya.
“ Tapi pak ngga baik kalau Cuma berdua, saya ngga enak apa nanti kata karyawan lain.” Tolakku.
“ Cuma sebentar Ai, toh ini juga masalah kita, aku jamin ngga akan ada gosip yang kurang nyaman yang akan kamu denger.” Ucapnya dan akhirnya aku pun mengikutinya.
Beberapa saat kami hanya berdiam dan akhirya tak lama kemudian pak Azfer membuka suara.
“ Sebelumnya aku mau minta maaf kalau kata-kataku tadi membuat kamu ngga nyaman, tapi kalau aku boleh jujur Ai itu semua memang benar aku ngga suka ngliat kamu dengan lelaki lain, aku ngga tau dari kapan perasaan ini muncul tapi aku benar-benar tulus Ai, aku sayang sama kamu.” Tanganku benar-benar gemetar aku terkejut dengan penuturan dari pak Azfer. “ Aku tahu kamu pasti sangat terkejut dan mungkin mengira kalau aku hanya bercanda tapi aku benar-benar serius Ai.”
Sebelum menanggapi ucapannya tersebut aku menghela nafas. “ Sebenarnya saya memang sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja bapak ucapkan tersebut, saya pun bingung bagaimana menanggapinya, tapi saya benar-benar minta maaf pak untuk saat ini saya tak memikirkan masalah itu saya benar-benar sedang memikirkan masa depan untuk meraih cita-cita saya dan menyelesaikan kuliah saya yang sebentar lagi selesai. Sekali lagi saya minta maaf pak bukannya saya tak menghargai apa yang bapak rasakan pada saya tapi untuk masalah seperti itu benar-benar belum saya fikirkan. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ucapku langsung berdiri dan akan berjalan keluar tapi baru beberapa langkah pak Azfer kembali membuka suara.
“ Bagaimana kalau saya adalah masa depan yang akan datang terlebih dahulu dibandingkan dengan cita-citamu, aku tau kamu masih ragu kepadaku Ai tapi aku benar-benar serius aku tak main-main kalau aku ingin mengikatmu dan menghalalkanmu. Akan aku buktikan keseriusanku padamu Ai.” Aku kembali meliriknya tapi kemudian aku langsung keluar. Aku benar-benar tak sanggup menahan gejolak yang ada dalam hatiku, sebenarnya tak kupungkiri hatiku benar-benar bahagia , bahwa saat ini ada seorang lelaki yang akan memperjuangkanku dan menghalalkanku. Aku pun menyadari bahwa ada sedikit rasa cinta yang aku miliki untuk pak Azfer, aku menyadarinya walau dihadapan sahabatku aku masih mmungkirinya tapi setelah kejadian barusan aku pun tahu kalau perasaanku pun sama.
“ Apa yang dikatakan pak Azfer barusan itu kenyataan apa aku ngga mimpi, Ya Allah jika jodohku didatangkan lebih cepat dari apa yang aku rencanakan buatlah semuanya dipermudah, dan jangan kau persulit. Aku pasrahkan dan aku terima semua kehendakmu dengan Ikhlas.” Batinku tanpa menyadari ternyata aku menubruk pak Dani.
“ Astagfirullah.” Ucapku sambil memegangi dahiku kemudian aku mendongak. “ Pak Dani, Ya Allah pak saya minta maaf saya ngga sengaja.” Sesalku.
“ Ngga papa Aira, saya juga salah kok karena jalan sambil liat ponsel, tapi kalau kamu sampai nubruk saya yang besarnya begini berarti kamu lagi ngga fokus ya.” Ucapnnya membuatku mengerutkan dahi takut pak Dani berfikir yang tidak-tidak tentangku.
“ Ngga kok pak saya ngga lagi memikirkan apapun, mungkin saya ngantuk pak jadi jalannya ngga fokus.” Dustaku
“ Oh ya kamu liat Azfer apa ngga ya Ai, karena saya cari diruangannya ngga ketemu.” Tanyanya tapi belum sempat aku jawab ternyata pak Azfer sudah ada dibelakangku dan menjawabnya.
“ Ada apa papa nyari aku.” Ucapnya dan aku langsung menundukkan kepala sambil meremas buku yang aku bawa. Aduh kenapa jantungku tiba-tiba berdegup sangat cepat.
“ Ngga ada apa-apa kok fer cuma mau tanya gimana tadi meetingnya lancar.” Pak Azfer hanya mengangguk menanggapi pertanyaan dari papanya, kemudian pak Dani beralih memandangku dengan pandangan curiga. “ Kamu kenapa Ai kok muka kamu pucat gitu kamu sakit.” Tanyanya dan aku langsung mendongakkan wajahku tapi saat itu mataku dan mata pak Azfer bertemu membuatku menundukkan lagi kepalaku karena malu.
“ N…ngga kok pak, saya cuma….Cuma cape aja, klau begitu saya permisi dulu ya pak.” Aku langsung berlari untuk menghindari pak Azfer untuk saat ini aku belum berani untuk berhadapan langsung dengannya setelah ia mengungkapkan perasaanya padaku.