Desa Talang Air merupakan tempat tujuan dimana kegiatan bakti sosial akan dilaksanakan. Desa tersebut merupakan Desa terpencil yang jauh dari keramaian Kota. Di Desa Talang Air itu, tampak semua Mahasiswa yang telah tiba lebih awal tengah sibuk mendirikan tenda dan melaksanakan tugas mereka sesuai dengan petunjuk dari panitia pelaksana kegiatan.
Bus yang membawa Dita dan rombongan terakhir kegiatan bakti sosial akhirnya tiba di Desa Talang Air. Anak-anak pun satu persatu bergegas keluar dari dalam bus itu. Setelah hampir semua anak-anak keluar dari dalam bus, Reza pun beranjak bangun dari tempat duduknya. Dan di saat itu pula Reza melihat Dita sedang tertidur pulas di bahu Fiko.
“Dita..! Dasar ceroboh! Kenapa bisa tertidur di bahu Fiko? Mana boleh Dia seceroboh ini. Fiko adalah orang yang baru Dia kenal. Seharusnya Dia lebih menjaga jarak. Bukannya dari tadi Dia berusaha enggak tidur, tapi kenapa sekarang Dia malah tidur. Mana boleh Dita kayak ini” guman Reza dalam hati karena kesal.
Saat itu sebenarnya Reza tidak ingin meninggalkan Dita sendirian bersama Fiko di dalam bus. Dia tidak rela jika Dita harus tinggal berduaan dengan Fiko di dalam bus itu. Tapi Reza juga tidak berani membangunkan Dita, karena Reza takut Dita akan salah paham terhadap perlakuannya. Sebelum beranjak dari hadapan Dita dan Fiko yang masih tertidur, sambil berjalan Reza dengan sengaja menendang tempat duduk Dita, setelah itu Reza segera berlalu pergi dan keluar dari bus tersebut. Dita pun sontak terkejut dan langsung membuka matanya. Namun saat itu Dita masih belum menyadari bahwa Dia telah tertidur di bahu Fiko. Karena ketidaktahuannya itu, untuk beberapa saat Dita tetap membiarkan kepalanya bersandar di bahu Fiko.
“Huuaaamm...” Dita Menguap sambil meluruskan kedua tangannya ke arah depan. Dan di saat itu pula Dita perlahan melirik ke arah sampingnya.
“Haaa... !” mulut Dita ternganga dengan nafas yang sedikit tertahan saat menyadari bahwa kepalanya tengah bersandar di bahu Fiko.
“Apa...? Kenapa Aku sampai ketiduran..! Kenapa harus di bahu Fiko..!” guman Dita dalam hati.
Secara perlahan-perlahan Dita berusaha mengangkat kepalanya dari bahu Fiko, Dia tidak ingin Fiko sampai terbangun dan sampai mengetahui hal yang telah terjadi.
“Gimana tidurnya? Enak?” ujar Fiko dengan nada yang datar sambil terus memejamkan matanya seperti orang yang masih tidur.
Mendengar ucapan Fiko itu, Dita dengan segera menegakkan kepalanya dan segera menoleh ke arah Fiko. Tapi di saat itu Dita melihat Fiko masih tetap memejamkan matanya.
Dita merasa malu, kesal, marah dan berbagai rasa bercampur di hatinya. Dita kemudian segera berdiri dan memperhatikan suasana di dalam bus. Tampak olehnya suasana di dalam bus saat itu sudah sangat sepi, di dalam bus itu tidak ada orang lain lagi selain dirinya dan Fiko. Dita pun bergegas melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam bus tersebut dan meninggalkan Fiko yang masih duduk bermalas-malasan. Dita kemudian berjalan menuju bagasi belakang bus yang masih terbuka. Dita kemudian segera mencari koper dan beberapa barang yang dibawanya untuk kegiatan tersebut. Setelah beberapa saat Dita mencari, Dita tidak juga menemukan koper miliknya itu. Dita pun akhirnya memutuskan untuk mencari koper miliknya itu disetiap tenda yang dilewatinya. Dita yakin pasti ada seseorang atau panitia yang telah membawa koper miliknya itu.
Dita berjalan dengan langkah yang cukup cepat menuju lokasi perkemahan sambil memperhatikan tenda-tenda yang dilaluinya. Satu-persatu tenda yang ada di hadapannya itu dihampiri oleh Dita, Dita kemudian melongokkan kepalanya ke arah dalam tenda untuk melihat bagian dalam tenda tersebut. Dita pun sangat berharap akan segera menemukan koper miliknya.
“Anak-anak yang satu kelompok sama Aku mana ya? Kok enggak ada yang keliatan. Apa mungkin… mereka yang membawa koper Aku? Zian juga, kenapa tadi Dia enggak ngebangunin Aku. Aku kan anggota kelompoknya, masa Dia ngebiarin Aku tinggal sendirian. Aduh…! Tenda sebanyak ini.. masa aku harus liatin satu-satu” oceh Dita sepanjang perjalanan.
Dita terus berjalan untuk mencari tenda kelompoknya sambil terus mencari kopernya. Tak lama kemudian Dita melihat ada sebuah tenda yang berbeda dari tenda-tenda yang lain. Tenda itu tampak sangat besar bila dibandingkan dengan tenda-tenda di sekitarnya. Dita pun kemudian segera berjalan mendekati tenda tersebut.
“Wah…! Tendanya besar banget, beda sama yang lain. Kelompok siapa ya… yang menghuni tenda ini? Aku jadi penasaran, liat ah… siapa tahu di dalam tenda ini ada koper Aku” ujar Dita yang penasaran.
Dita segera membuka pintu tenda tersebut, dan dengan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam tenda yang besar itu.
“Hai Dita…” Sapa seorang senior kepada Dita. Tepat di saat Dita melangkahkan kakinya ke dalam tenda.
“Mau ngapain Dita?” tanya senior itu.
“Ada perlu ya...? Masuk aja!” ujar senior itu lagi.
“Hai Dita… Dita nyari siapa?” tanya beberapa orang senior secara bergantian sambil menggoda Dita dan dilanjutkan dengan tawa senior-senior yang lain.
“Maaf…! Maaf…! Permisi!” ujar Dita gugup karena terkejut. Lalu Dita segera membalikkan tubuhnya dan segera melangkahkan kakinya keluar dari tenda besar itu.
Di dalam tenda yang besar itu Dita melihat para seniornya itu sedang berkumpul dan tampak sedang berdiskusi. Di sana Dita juga sempat melihat Fiko tertawa lepas menertawakan dirinya. Dita merasa sangat menyesal telah masuk ke dalam tenda besar itu. Saat itu Dita merasa dirinya benar-benar tampak konyol. Dita menjadi sangat kesal karena berkali-kali Fiko berhasil menertawakan dirinya. Dengan perasaan kesal, Dita pun melanjutkan perjalanannya. Tak berapa lama Dita mulai berjalan, dari kejauhan tampaklah Zian sedang berdiri di depan sebuah tenda.
“Zian…! Zian...!” panggil Dita sedikit berteriak, Dita pun segera berlari menghampiri Zian.
“Mana tenda kita? Yang ini ya?” tanya Dita setelah berada di dekat Zian. Dita kemudian memperhatikan tenda yang berada di hadapannya itu.
“Dari mana aja kamu? Kok baru nyampe? Baru bangun tidur ya? Enak tidurnya?” tanya Zian bertubi-tubi dengan nada yang sedikit kesal.
“Kamu tau enggak! Barang-barang bawaan Kamu tu berat. Badanku jadi pegel-pegel semua.. Nih..! Liat ni… sampai gores-gores kayak gini!” ujar Zian lagi sambil memperlihatkan kedua tanganya yang ada luka gores di hadapan Dita.
“Oh... jadi Kamu yang ngebawain semua barang-barang dan koper Aku. Makasih ya…! Zian baik deh!” ujar Dita sambil tersenyum senang dan sambil mengangkat dan menyatukan kedua telapak tangannya sebagai tanda terimakasih.
“Tadi itu Aku lama nyari barang-barang sama koper Aku. Aku kira… ada kelompok lain yang salah ambil koper, trus Aku putusin untuk nyari di setiap tenda yang Aku lewatin. Mangkanya Aku jadi lama..” ujar Dita memberikan penjelasan kepada Zian.
Sementara Dita tengah berusaha menjelaskan kejadian yang dialaminya kepada Zian, Zian malah pergi meninggalkannya. Zian pergi berjalan mengelilingi tenda yang ada di hadapannya itu dan tampak sibuk seolah mengecek bangunan tenda tersebut .
“Maaf ya Zian..! Aku udah ngerepotin Kamu. Tapi Kamu juga sih... tadi kenapa kamu enggak bangunin Aku. Kamu tahu enggak, tadi.. hanya tinggal Aku sama manusia arogan itu aja di dalam bus. Mana peke acara Dia nyindir Aku, uuggh… sebel banget! Kalau Kamu bangunin Aku tadi, pasti ini semua enggak bakal terjadi” tambah Dita sambil mengikuti Zian yang terus mengelilingi tenda.
Dengan semua ocehan Dita itu, Zian tampak tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Zian terus saja tidak memperdulikan Dita. Zian kemudian membereskan tali-tali yang berserakan di sekitar tenda. Melihat perlakuan Zian terhadap dirinya, Dita mulai berpikir bahwa Zian benar-benar marah terhadap dirinya. Dita kemudian kembali meminta maaf kepada Zian.
“Zian..! kamu marah ya?” tanya Dita sedikit ragu-ragu dengan wajah memelas sambil menarik-narik baju Zian.
“Zian... maaf…! Please! maafin Aku. Aku janji deh… nanti kalau kamu butuh pertolongan atau apapun, Aku pasti akan bantu. Aku janji…! Zian jangan marah lagi dong..!” ujar Dita dengan kembali memasang ekpresi wajah mengiba.
Dita benar-benar takut zian marah kepadanya. Dita terus mengiba meminta maaf kepada Zian. Tiba-tiba zian menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di hadapan Dita. Zian menatap Dita dengan tajam, Zian tampak sangat marah. Melihat Zian yang terus melotot, Dita terdiam dan segera menundukkan kepalanya sambil memain-mainkan jari-jari tangannya. Suasana sejenak menjadi hening, tapi beberapa saat kemudian terdengar tawa Zian begitu kencang.
“Hahaha... Hahaha… hahaha…” Zian tertawa lepas terpingkal-pingkal.
“Dita… Dita, Aku cuma becanda… hahaha...” ujar Zian sambil terus terawa.
“Wajah Kamu lucu… banget, kalau lagi takut dan panik. kamu lucu banget Dit, lucu… banget. Hahaha... tadi... Kamu mau nangis ya…?” ujar Zian lagi.
Zian kemudian menarik nafasnya dalam-dalam berusaha untuk menghentikan tawanya.
Mendengar tawa Zian itu Dita segera mengangkat kepalanya dan memandangi Zian yang tengah tertawa terpingkal-pingkal. Dita benar-benar tidak percaya melihat kelakuan sahabatnya itu. Zian ternyata hanya menjahilinya saja.
“Zian…! Kamu…!” ujar Dita geram sambil mengepalkan tangannya untuk memukul sahabatnya itu.
“Eit… eit... tunggu dulu!” ujar Zian menghentikan Dita yang tampak ingin memukulnya.
“Aku mau mastiin bahwa omongan Kamu yang tadi itu bener. Tadi Kamu bilang mau bantu Aku kalau Aku butuh sesuatu, iya kan?” ujar Zian untuk memastikan perkataan Dita yang sebelumnya.
“Itu janji lo Dit, pepatah mengatakan… janji adalah hutang. Hehehe… inget..! Tadi Kamu udah janji… hhmmmm... itu artinya Kamu punya utang sama Aku” ujar Zian sambil memamerkan senyumnya untuk menggoda Dita.
“Zian…! Awas Kamu ya…!” teriak Dita.
Dita segera mengejar Zian yang telah berlari menjauh darinya.
Zian terus berlari dan tampak bahagia, sesekali Zian berhenti untuk menggoda Dita yang tampak kesal. Dita dan Zian akhirnya hanyut dalam senda gurau mereka.
Dita tidak menyadari bahwa sejak Dia pergi dari tenda besar itu, Reza terus mengikutinya. Saat itu Reza khawatir Dita akan terus mencari koper miliknya. Reza berniat memberitahukan kepada Dita bahwa Zian telah membawa barang-barangnya itu. Reza merasa lega saat melihat Dita telah bertemu dengan Zian. Di saat itu Reza melihat Dita tertawa riang dan terlihat begitu bahagia saat bersama Zian.
“Kakak harap Kamu akan bahagia seperti ini terus Dit. Kakak seneng kalau ngeliat Kamu tertawa bahagia kayak gini. Kakak selalu berdoa agar Dita selalu diberi kebahagiaan. Maafin Kak Reza Dit, karena selama ini Kakak udah bikin Dita sedih terus” ujar Reza lirih sambil terus memperhatikan kebersamaan Dita dan Zian.
Kegiatan Bakti Sosial pada malam pertama itu diadakan di dalam tenda induk yaitu tenda terbesar yang berada di lokasi kegiatan. Seluruh peserta kegiatan Bakti Sosial, beserta para panitia dan seluruh Dosen pendamping berkumpul di dalam tenda tersebut. Kegiatan malam itu diawali dengan acara pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dari beberapa orang Dosen, lalu ditutup dengan mereview tugas yang akan dilaksanakan oleh para peserta kegiatan untuk esok hari.
Setelah pagi hari menjelang, semua peserta kegiatan Bakti Sosial sibuk menyiapkan peralatan yang akan mereka gunakan untuk melaksanakan kegiatan di pagi itu. Para peserta kegiatan yang tak lain adalah Mahasiswa semester satu itu, diberikan tugas untuk mencari dan menggali informasi mengenai Desa Talang Air. Tujuan dari tugas tersebut adalah untuk mengetahui berbagai masalah yang dialami oleh Desa Talang Air, sehingga bantuan yang akan diberikan bisa tepat sasaran. Para pesrta kegiatan itu tampak antusias melaksanakan tugas mereka masing-masing. Hasil pencarian informasi tersebut akan dipresentasikan oleh tiap-tiap kelompok pada malam harinya.
Satu-persatu perwakilan dari Setiap kelompok pun maju dan mempresentasikan hasil dari kegiatan kelompoknya hari itu. Setelah kegiatan presentasi selesai, seluruh peserta kegiatan beserta panitian mulai berdiskusi perihal bantuan yang akan mereka berikan kepada warga Desa Talang Air. Setelah kegiatan diskusi selesai semua peserta kegiatan diperbolehkan untuk meninggalkan tenda induk tersebut.
Malam itu bulan bersinar cukup terang dan disertai dengan banyaknya kunang-kunang yang beterbangan menjadikan suasana malam itu menjadi sangat indah. Setelah keluar dari tenda induk, Dita dan ketiga sahabatnya itu berjalan bersama-sama menuju tepi sungai kecil yang berada tak jauh dari tenda induk tersebut. Di tepi sungai telah banyak anak-anak lain yang tengah duduk-duduk untuk menikmati suasana malam itu. Dita dan sahabat-sahabatnya pun ikut duduk bergabung bersama anak-anak yang lain dan ikut bercengkrama di sana. Mereka berbagi cerita tentang pengalaman yang mereka alami selama kegiatan. Semakin lama tepi sungai itu pun menjadi semakin ramai, karena satu-persatu anak-anak peserta kegiatan mendatangi tempat tersebut. Setelah lama bercengkrama dan malam pun telah larut, Dita dan sahabat-sahabatnya serta anak-anak yang lain kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat.
Pada malam hari terakhir kegiatan Bakti Sosial, semua peserta kegiatan berkumpul di sebuah lahan kosong yang cukup luas yang berada di dekat tenda utama. Di sana tampak ada api unggun yang telah menyala begitu besar, sehingga suasana malam itu pun menjadi terang dan terasa hangat. Semua panitia dan peserta kegiatan tampak duduk mengelilingi api unggun tersebut. Hanya ada beberapa orang panitia saja yang sedang berdiri di depan, mereka bertugas memandu acara pada malam itu hingga acara selesai. Salah satu panitia mulai berbicara dan segera membuka acara malam itu. Kemudian panitia itu segera mempersilahkan ketua pelaksana kegiatan untuk maju dan menyampaikan hasil dari kegiatan Bakti Sosial yang telah mereka laksanakan di Desa Talang Air itu.
Rangga adalah ketua pelaksana dari kegiatan Bakti Sosial tersebut. Rangga segera memaparkan mengenai tujuan dan hasil dari kegiatan Bakti Sosial itu. Setelah memaparkan semua penjelasan dan hasil yang telah dicapai dari kegiatan tersebut, Rangga kemudian menutup kegiatan Bakti Sosial malam itu dengan do’a yang penuh khidmat. Setelah Rangga undur diri, panitia pelaksana kegiatan itu segera mengambil alih untuk melanjutkan acara malam itu.
“Malam ini adalah malam terakhir Kita bersama-sama. Setelah pulang nanti mungkin Kita tidak akan merasa sedekat ini lagi. Kita pasti sudah sibuk dengan aktivitas kita masing-masing di kampus” ujar salah seorang pemandu acara tersebut.
“Bagaimana kalau malam ini Kita isi dengan acara senang-senang?” tanya pemandu acara itu kepada seluruh peserta kegiatan malam itu.
“Bagi kalian yang ingin bernyanyi, menari, berpuisi, pantun atau apapun itu silahkan maju Atau… jika ada yang ingin menyampaikan sesuatu kepada seseorang yang dikagumi.. juga boleh. Manfaatkanlah malam ini sebaik mungkin dan besenag-senanglah. Karena kesempatan ini mungkin tidak akan terulang untuk kedua kalinya” ujar pemandu acara itu panjang lebar.
Pemandu acara itu kemudian segera mempersilahkan seorang peserta kegiatan yang telah mengacungkan tangannya.
“Ayo silahkan maju!” ujar pemandu acara itu.
“Siapa namanya?” tanya pemandu acara itu setelah mahasiswa junior itu maju.
“Bima” jawab Mahasiswa itu dengan lantang.
“Oke... Bima mau mempersembahkan apa?” tanya panitia tersebut.
“Mau nyanyi Kak” jawabnya singkat.
“Lagunya dipersembahkan buat siapa Bima? Mungkin ada seseorang yang spesial?” goda pemandu acara itu.
“Nggak ada Kak. Cuma mau nyanyi aja” jawab mahasiswa itu.
Hiburan malam itu dibuka dengan nyanyian dari seorang Mahasiswa junior yang bernama Bima. Setelah Bima selesai bernyanyi, ada pula Mahasiswa yang mengisi acara malam itu dengan berpuisi, kemudian ada pula Mahasiswa yang mengungkapkan perasaannya kepada seseorang yang Dia sukai. Dan ada pula beberapa orang senior yang mengungkapkan perasaannya kepada junior mereka. Ada beberapa orang senior yang diterima pernyataan cintanya dan ada pula yang ditolak oleh para juniornya itu. Dita dan ketiga sahabatnya tertawa cekikikan melihat ulah yang tak terduga dari para senior dan teman-teman mereka di malam itu. Saat sedang asik menikmati tontonan di depannya, Dita dikejutkan oleh Citra yang tiba-tiba mengacungkan tangannya.
“Ya... di sebelah sana ada yang mengacungkan tangannya. Ayo sini maju!” ujar pemandu acara mempersilahkan Citra untuk maju.
“Siapa namanya?” tanya pemandu acara kepada Citra setelah Citra berada di depan.
“Citra” jawab Citra dengan lantang.
“Citra mau mempersembahkan apa?” tanya pemandu acara lagi.
“Mmmm… Aku mau bilang sesuatu sama seseorang” ujar Citra dengan penuh percaya diri.
“Mau mengungkapkan perasaan...? Gitu maksudnya?” tanya pemandu acara untuk memastikan ucapan Citra.
“Iya” jawab Citra sambil tersenyum.
Dita, Zian dan Beni ternganga dan terbelalak melihat Citra yang terlalu berani alias nekat itu. Suasana yang semula tenang berubah menjadi riuh, banyak anak-anak yang bertepuk tangan dan bersiul-siul untuk memberi dukungan kepada citra, namun ada pula beberapa Mahasiswa perempuan yang mencibirnya.
“Selamat malam...” ujar Citra memulai pembicaraanya. Kemudian Citra memperhatikan sekelilinganya.
“Mmmm… Buat salah seorang Kakak tingkat... Sebenernya udah lama Citra suka sama Kakak” ujar Dita.
“Wuuu... suit...suit...” terdengar sorakan dan suitan para Mahasiswa yang lain menyoraki Citra.
Namun Citra tidak terpengaruh dengan itu semua, Citra tidak memperdulikan keriuhan yang terjadi disekelilingnya.
“Kakak tahu alasannya kenapa Citra suka sama Kakak? Itu karena… mmm... Karena Kakak sangat baik, piter, ramah dan yang pasti… Kakak Cakep” ujar Citra melanjutkan perkataannya sambil tersenyum centil dan riang.
“Citra yakin banyak cewek-cewek di sini yang akan marah saat Citra kasih tahu siapa nama Kakak. Karena Kakak adalah idola kebanyakan cewek di kampus. He..he..he..” tambah Citra sambil terus memamerkan senyum centilnya.
“Tapi… Citra sa...ngat suka sama Kakak. Citra enggak peduli dengan cewek-cewek lain yang akan marah. Citra udah siap menerima apapun resikonya. Sekarang Citra pengen bilang sama Kakak, Citra cinta sama Kakak. Apa Kakak mau jadi pacar Citra? ” ujar Citra panjang lebar sambil mengarahkan pandangannya ke arah Rangga.
Rangga saat itu belum sadar bahwa yang dimaksud Citra adalah dirinya, Rangga malah terus asik memperhatikan Citra dengan tatapan penasaran.
“Kak Rangga, apa Kak Rangga mau jadi pacar Citra?” ujar Citra dengan lantang.
Spontan Dita dan seluruh anak-anak yang berada di sana berterik dan bertepuk tangan melihat keberanian Citra itu.
“Gila..! Citra nekat banget!” guman Dita dengan mata terbelalak.
Zian dan Beni tampak hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka.
“Liat tu sahabat kalian! Nekat banget nggak sih..!” ujar Dita kepada kedua sahabatnya itu.
“He..he..he..” Beni dan Zian tampak tersenyum kecut, yang kemudian di ikuti oleh Dita.
“Ayo.. Citra.. Semangat!” teriak Zian yang kemudian diakhiri dengan senyuman gelinya.
“Iya Citra.. semangat! Jangan menyerah! Lanjutkan perjuanganmu!” teriak Beni.
“Ayo dong Dit, kasih semangat sama Sahabat Kita” ujar Beni kepada Dita sambil tersenyum geli.
Beni dan Zian berkali-kali berteriak untuk memberikan dukungan pada sahabatnya itu. Sementara itu Dita hanya tersenyum geli melihat ulah dari Zian dan Beni yang sok menyemangati Citra. Akhirnya Dita, Zian dan Beni tertawa cekikikan menertawakan ulah mereka itu.
Rangga yang baru menyadari bahwa dimaksud Citra adalah dirinya, spontan tertawa lepas. Suasana seketika menjadi riuh, karena setiap orang sibuk berargumen atas apa yang mereka saksikan. Karena melihat suasana semakin gaduh dan banyak anak-anak yang terlihat meneriaki Citra, Rangga segera maju menuju tempat dimana Citra sedang berdiri. Selama berjalan menuju Citra, Rangga terus tersenyum geli dan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Maaf, bisa diulangi lagi perkataan yang terakhir tadi” pinta Rangga kepada Citra setelah Dia berdiri tepat di hadapan Citra.
“Kak Rangga mau nggak jadi pacar Citra?” ujar Citra mengulangi perkataannya.
“Iya. Kakak mau” jawab Rangga saat itu juga sambil terus tersenyum.
Rangga kemudian meletakkan tangan kananya di atas kepala Citra dan mengacak-acak rambut Citra dengan tatapan penuh kasih sayang.
Mendengar jawaban dari Rangga itu, anak-anak yang mengidolakannya langsung bersorak dan berteriak histeris. Teriakan-teriakan histeris semakin menjadi saat melihat Rangga membelai rambut Citra. Banyak kaum hawa yang tampak sangat kecewa melihat kejadian di hadapannya itu. Dan ada beberapa anak-anak mulai berdiri lalu berteriak dan menghujat Citra. Dita pun ikut berdiri, Dita pun tertegun dan terbelalak saat melihat orang-orang yang terang-terangan menghujat Citra. Selain itu Dita juga tertegun saat melihat Rangga membelai rambut Citra. Dita merasa tidak percaya akan hal yang baru saja disaksikannya.
“Ini beneran apa mimpi? Gampang banget Kak Rangga bilang iya. Apa Kak Rangga cuma mau mainin Citra? Atau… apa Kak Rangga selama ini juga suka sama Citra? Keliatannya Kak Rangga sayang banget sama Citra. Dari cara Dia membelai dan menatap Citra, kayaknya Kak Rangga emang suka sama Citra. Enggak mungkin Kak Rangga Cuma mau mainin Citra.itu nggek mungkin, Kak Rangga kan orang yang baik” guman Dita dalam hatinya.