6

2079 Kata
Ditengah kegaduhan itu Citra tampak tersenyum senang. Citra pun tampak menikmati kegaduhan yang terjadi karena ulahnya itu. Citra terus memperhatikan orang-orang yang sedang bersorak dan meneriaki dirinya. Melihat orang-oarng yang menghujatnya itu, Citra bukannya marah, tapi Citra malah memberikan senyumannya. Sama halnya dengan Citra, Rangga pun demikian, Dia terus memperhatikan orang-orang yang terus berteriak dan bersorak disekelilingnya sambil melemparkan senyumannya. Setelah beberapa saat menikmati kegaduhan itu, Citra pun kemudian kembali angkat bicara. “Kok Kak Rangga jawab mau sih. Harusnya Kak Rangga jawabnya enggak mau” ujar Citra dengan wajah kecewa. Suasana yang semula gaduh perlahan menjadi tenang saat mendengar perkataan dari Citra itu. Semua anak-anak pun menjadi binggung dibuat Citra. Wajah-wajah penuh kekecewaan itu pun telah berganti dengan wajah-wajah penuh tanda tanya. Demikian pula dengan Dita, Dia benar-benar penasaran akan ulah sahabatnya itu. Dita pun semakin dibuat penasaran saat melihat Rangga berbisik-bisik kepada Citra. “Anggap aja Kak Rangga sedang ngebisikin sesuatu ke Kamu. Biar orang-orang semakin penasaran dengan kita dan ending dari kejahilan kamu ini pasti akan semakin menarik!” bisik Rangga di telinga Citra “Dan Kak Rangga juga pengen liat wajah-wajah orang yang kecewa saat Kakak terima kamu jadi pacar Kakak hehehe... Ternyata banyak juga ya...” ujar Rangga sambil terus berbisik-bisik kepada Citra. “Tolong perhatiannya sebentar!” ujar Rangga setelah beberapa saat tampak berbisik-bisik dengan Citra. “Ada yang pengen Aku kasih tau sama kalian” ujar Rangga lagi setelah semua anak-anak memberikan perhatiannya. “Aku sama Citra enggak akan pernah menjadi sepasang kekasih. Aku bisa jamin itu. Sampai kapan pun enggak akan pernah” ujar Rangga. Kemudian Rangga kembali  memandangi semua orang di sekelilingnya. Setelah berdiam diri untuk beberapa saat, Rangga mulai berbicara kembali. “Sebenernya… Aku sama Citra itu sepupuan” ujar Rangga. “Citra sebenarnya udah punya cowok idaman… iya kan…!” tambah Rangga menggoda sepupunya itu. “Aku enggak nyangka sepupu Aku yang manis ini punya ide gila untuk ngerjain kalian semua. Kalian semua udah dikerjain sama Citra tahu enggak…!” tambah Rangga lagi sambil merangkul dan menepuk-nepuk bahu Citra. Mendengar semua penjelasan Rangga, suasana kembali menjadi riuh. Banyak anak-anak yang mengidolakan Rangga merasa senang dengan kebenaran itu. Saat itu Dita, Zian dan Beni benar-benar dibuat ternganga oleh kejahilan Citra. Setelah mengucapkan permintaan maaf atas kejahilannya itu, Citra segera kembali ke tempat duduknya. Dita menyambut Citra dengan sebuah pelukan. Dita menyesal karena telah salah menilai sahabatnya itu. Citra ternyata tidak seagresif yang dipikirkannya. Dita sangat senang mengetahui kenyataan bahwa selama ini Citra tidak benar-benar melakukan tindakan bodoh untuk mngejar-ngejar Rangga. Zian dan Beni pun tampak menarik nafas lega karena ternyata Citra tidak benar-benar senekat yang mereka pikirkan. Keempat sahabat itu pun hanya tersenyum-senyum mengingkat kejahilan yang baru saja dilakukan oleh Citra. Sementara itu Rangga masih tampak tetap berdiri di depan. Rangga kemudian tampak mengambil gitar dari tangan salah seorang panitia. “Aku mau yanyiin sebuah lagu. Lagu ini Aku persembahkan untuk seseorang yang telah berhasil merebut hati Aku” ujar Rangga sambil mengarahkan pandangannya mengintari anak-anak yang ada di hadapannya. “Perempuan itu saat ini berada di sini, berada di antara kita” ujar Rangga lagi. Suasana sekita menjadi riuh kembali tepat sesaat setalah Rangga berbicara. Tampak anak-anak sibuk mempertanyakan sosok perempuan yang dimaksud oleh Rangga. Dita sebenarnya sedikit penasaran akan sosok perempuan tersebut, tapi Dita berusaha membuang rasa penasarannya itu. Menurut Dita, Rangga pasti tidak akan memilih perempuan sembarangan untuk menjadi pacarnya. “Tapi Aku enggak akan kasih tau siapa namanya. Karena Aku tahu saat ini Dia belum menyadari keberadaanku, Dia belum bisa ngeliat Aku. Aku berharap suatu hari nanti Dia bisa ngeliat Aku dan menyadari bahwa rasa ini tulus untuknya” tambah Rangga setelah melihat suasana sedikit tenang. Rangga pun tampak mulai memetik gitar di tangannya dan mulai menyanyikan sebuah lagu dari Roulette yang berjudul aku jatuh cinta. “Awalnya Ku tak mengerti apa yang sedang Ku rasakan Segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada Sejak Kau hadir di setiap malam di tidurku Aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku Sudah sekian lama Ku alami pedih putus cinta Dan mulai terbiasa hidup sendiri tanpa asmara Dan hadirmu mambawa cinta sembuhkan lukaku Kau berbeda dari yang Ku kira          Aku jatuh cinta kepada dirinya Sungguh-sungguh cinta oh… apa adanya Tak pernah Ku ragu namu tetap selalu menunggu Sungguh Aku jatuh cinta kepadanya hu… Coba-coba dengarkan apa yang ingin Aku katakan Yang selama ini sungguh telah lama terpendam Aku tak percaya membuatku tak berdaya Tuk ungkapkan apa yang kurasa… ………………………………………” Rangga menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan, sehingga lagu itu terdengar sangat indah dan suasana pun terasa menjadi sangat romantis. Rangga tampak begitu mempesona dan menawan saat sedang memetik gitar dan menyanyikan lagu itu. Banyak yang terkesima dan kagum saat melihat Rangga sedang bernyanyi, demikian pula dengan Dita. Tak jarang Dita tersenyum manis karena rasa kagumnya terhadap Sosok Rangga. “Siapa pun cewek yang disukai oleh Kak Rangga, pasti cewek itu akan bahagia banget denger lagu ini” guman Dita sambil terus memandangi Rangga yang sedang bernyanyi. “Beruntung banget perempuan itu. Siapa Dia? Siapa perempuan yang udah berhasil membuat Kak Rangga jatuh cinta?” ujar Dita di dalam hatinya. Setelah Rangga menyelesaikan lagunya, langsung terdengar riuh suara tepuk tangan yang sebagian besar berasal dari kaum hawa. Kemudian tak lama setelah Rangga selesai menyampaikan ucapan terimakasihnya, tampak Reza berjalan menuju tempat di mana Rangga sedang berdiri. Setelah Reza berada di dekat Rangga, Rangga tampak menyerahkan gitar yang dipeganggnya kepada Reza. “Selamat malam!” ujar Reza membuka pembicaraannya. “Ada sebuah lagu yang ingin Aku nyanyikan. Lagu ini Aku persembahkan untuk seorang perempuan yang sangat istimewa di mataku. Perempuan itu juga ada di sini malam ini. Sama seperti Rangga, Aku juga enggak akan kasih tau siapa nama perempuan itu” ujar Reza. Lalu Reza segera memetik Gitarnya dan mulai bernyanyi. “Kau begitu sempurna dimataku Kau begitu indah Kau membuat diriku akan slalu memujamu Disetiap langklahku Ku kan slalu memikirkan dirimu Tak pernah Ku bayangkan hidupku tanpa cintamu ……………………………………………………” Tak berbeda dengan Rangga, Reza pun menyanyikan lagu sempurna miliknya Andra and Thebackbone dengan penuh penghayatan dan romantis. Dita memandangi orang-orang di sekelilingnya, Dita melihat semuanya sedang hanyut menikmati lagu yang sedang dinyanyikan oleh Reza. Dita pun sempat mendengar celotehan dari beberapa orang yang berada di dekatnya, mereka berharap bahwa yang dimaksud oleh Reza adalah diri mereka. Dita kemudian tertegun merenungi tentang sosok perempuan yang telah membuat Kakaknya itu jatuh cinta. Dita pun sempat berharap bahwa lagu yang dinyanyikan oleh Reza itu dipersembahkan untuk dirinya, karena di mata Dita, Reza adalah sosok laki-laki yang sempurna sebagai pendamping hidup. “Andai lagu ini untuk Aku. Andai Kak Reza nyanyiin lagu ini untuk Aku.. Aku pasti akan menjadi orang yang paling bahagia malam ini. Siapa Dia Kak? Dia sangat beruntung bisa ngedapetin Kakak. Dita yakin, Dia pasti orang yang sangat baik, sehingga Kakak menyukainya.  Semoga Kakak bisa bahagia bersama Dia” ujar Dita dalam hatinya. Sebenarnya jauh di relung hatinya, Dita merasakan sakit yang teramat dalam. Telah lama Dia memendam rasa suka pada Kakaknya itu. Tapi Dita selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa suka dan cinta yang Dia rasakan hanyalah cinta yang dimiliki oleh seorang Adik terhadap Kakaknya, tidak lebih. Tapi semakin lama, Dita merasakan cintanya itu lebih dari cinta seorang Adik. Dita pun selalu berusaha menepis semua perasaanya itu. Dita tidak ingin Reza membenci dirinya karena telah memiliki cinta yang salah. “Mulai malam ini Aku enggak boleh lagi berharap akan mendapatkan cinta Kak Reza. Aku enggak boleh menyimpan rasa cinta ini lagi. Enggak boleh…! Semua ini udah jelas…! Kak Reza udah memilih seseorang untuk menemani hidupnya. Dan mulai malam ini Aku harus berusaha membuang rasa suka ini. Sadar Dita…! Reza itu adalah Kakak Kamu…! dan selamanya akan begitu. Aku ini bener-bener bodoh…! kenapa Aku enggak pernah sadar kalau semua ini enggak akan berubah. Enggak akan pernah…!  Reza adalah Kakakku dasar bodoh…! bodoh…! bodoh…!” guman Dita dalam hatinya  sambil memukul-mukul kepalanya. Reza mengakhiri lagu sempurna itu dengan sempurna. Semua anak-anak berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Reza. Selanjutnya anak-anak pun bergantian untuk mengisi acara malam itu. Mereka seolah tidak ingin membiarkan malam itu terrbuang dengan sia-sia.                        XXX                                      XXX                                      XXX Saat pulang dari kegiatan Bakti Sosial, Reza dan Dita tiba di rumahnya saat hari telah menjelang malam. Dita bergegas masuk ke dalam kamarnya dan dengan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Karena rasa haus dan lapar yang tak dapat lagi ditahannya, Dita pun segera keluar kamarnya sesaat setelah Dia mengganti pakaiannya. Saat keluar dari kamarnya, tak sengaja Dita melihat ke arah pintu kamar Reza. Dita melihat pintu kamar Reza tidak tertutup dengan rapat dan Dita pun mendengar ada suara mamanya sedang berbincang-bincang dengan Reza. Dita yang penasaran dengan yang diperbincangkan antara mamanya dan Reza, segera berjalan dengan mengendap-endap mendekati kamar Reza. Pembicaraan antara mamanya dan Reza pun dapat terdengar dengan jelas olehnya. Dita mendengar mamanya terus bertanya akan keadaan Reza, mamanya terdengar sangat khawatir terhadap kondisi Reza. “Reza kamu pasti capek. Mau Mama panggilin tukang pijat. Kamu harus cepat-cepat istirahat, Mama takut nanti Kamu jatuh sakit. Apa Kamu mau makan? Mama ambilin ya. Barang-barang Kamu ini enggak usah diberesin, nanti biar Mama aja yang beresin. Kamu istirahat aja” ujar mamanya. Dita mendengar mamanya terus berkata panjang lebar yang tampak sangat mengkhawatirkan keadaan Reza. Mendengarkan semua itu Dita pun merasa sedih, Dita kemudian segera menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Dita mengulanginya beberapa kali hingga perasaanya menjadi lebih baik. Begitulah cara Dita untuk menenangkan dirinya. Sebelum ketahuan dirinya menguping, Dita pun buru-buru pergi dari depan kamar Reza. Dita kemudian pergi ke dapur lalu segera mengisi perutnya yang kosong. Saat hendak pulang ke kamarnya, Dita melihat Mamanya sudah berada di ruang keluarga. Mamanya tampak sedang asik menonoton televisi. “Ma”  tegur Dita. “Gimana kegiatannya?” tanya Mamanya seadanya tanpa menoleh ke arah Dita. “Lancar Ma” jawab Dita, Dita kemudian menghentikan langkahnya tepat di belakang kursi mamanya. “Cepat istirahat! Jangan sampai sakit” ujar Mamanya lagi. Saat mendengar perkataan Mamanya itu, rasa sakit di hati Dita sedikit terobati. Ternyata Mamanya juga mengkhawatirkan keadaaanya pikir Dita saat itu. Tapi tak lama kemudian Mamanya kembali berbicara. “Nanti kalau sakit, Mama juga yang repot, dan Kakak Kamu nantinya juga ikut repot. Kasian tu Kakak kamu. Jadi Kamu jangan sampai ngerepotin. Kamu itu kan paling sering ngerepotin Kakak Kamu” ujar mamanya lagi sambil terus menatap ke arah televisi. Dita tertunduk lemas saat mendengarkan perkataan Mamanya itu. Sambil menahan air matanya Dita bergegas berjalan menuju kamarnya. Sebelum sampai di kamarnya tangisan Dita pun pecah. Dita berjalan dengan cepat-cepat sambil menyeka air matanya. Tiba-tiba Dita melihat Reza sedang berjalan di hadapannya. Dita segera menundukkan wajahnya kembali, Dita tidak inggin Reza sampai melihatnya menangis. Dita berjalan semakin cepat saat berpapasan dengan Reza. Setelah melewati Reza, Dita pun sedikit berlari menuju kamarnya. Setelah menutup pintu kamar, Dita mambantingkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dita segera mengambil boneka Papa dan segera memeluknya dengan erat. Dita menangis tersedu-sedu mengingat ucapan Mamanya. Hatinya terasa sangat sakit dengan ucapan Mamanya itu. Dita pun semakin erat memeluk boneka Papa dan tangisnya pun semakin menjadi-jadi.  Reza yang penasaran akan hal yang menyebabkan Dita menangis, dengan segera menemui Mamanya dan menanyakan perihal yang telah terjadi. Mamanya pun menjelaskan apa yang telah Dia katakan kepada Dita. “Mama ngomong apa adanya. Memang begitu kan kenyataanya. Dita itu memang sukanya bikin repot” ujar Mamanya yang tampak kesal. “Tapi Mama seharusnya nggak ngomong kaya gitu, Dita pasti sedih!” jawab Reza dengan sedikit emosi. “Sudahlah! Enggak usah ngebahas masalah itu lagi. Mama pusing! Sekarang Kamu cepat istirahat! Mama juga udah mau tidur, Mama ngantuk” ujar mamanya sambil melangkah pergi meninggalkan Reza yang masih terlihat kesal. Reza sangat khawatir dengan keadaan Dita. Reza yakin Dita pasti sangat sedih dengan perkataan Mamanya itu. Reza kemudian berniat untuk menemui Dita, beberapa kali Reza mengetuk pintu kamar Dita, namun tak terdengar ada suara Dita dari dalam kamar. Setelah beberapa kali Reza mengetuk-ngetuk pintu kamar Dita dan tak kunjung ada jawaban, Reza pun kembali ke kamarnya. Pagi harinya Dita bangun dengan mata yang sembab. Dita segera bangun dan merapikan kamarnya yang berantakan. Saat itu Dita merasakan tubuhnya terasa sangat letih. Dita berjalan dengan sempoyongan menuju dapur untuk sarapan. Setelah selesai sarapan pagi Dita kembali masuk ke kamarnya dan beristirahat kembali. Untung hari itu adalah hari libur, jadi Dita bisa beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Dari satu minggu liburan semesteran hanya satu hari saja yang dapat dinikmati oleh Dita untuk beristirahat, karena selebihnya telah diisi dengan kegiatan Bakti Sosial.                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN