4
Masa liburan semesteran telah usai, aktivitas akademik kampus pun telah dimulai kembali. Dita yang hari itu kondisi tubuhnya belum terlalu sehat tetap memaksakan dirinya untuk bangun dan bersiap-siap untuk pergi kuliah. Hari itu cuaca tidak begitu bersahabat, gerimis yang mengguyur sejak subuh, belum juga reda. Setelah mengembangkan payungnya, Dita pun segera berangkat ke kampus. Bus yang membawa Dita dari halte di dekat rumahnya telah sampai di halte kampus, Dita pun segera turun dan berjalan secepat mungkin agar dirinya tidak kebasahan. Baru setengah perjalanan menuju gedung kuliah, hujan pun turun semakin deras. Beberapa kali angin bertiup kencang yang membuat payung Dita terkebas-kebas, alhasil tubuh Dita terkena percikan air hujan, sehingga membuat pakaian yang dikenakannya menjadi basah.
Hingga selesai mata kuliah jam pertama, hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan reda. Dengan pakaian yang lembab ditambah dengan kondisi tubuhnya yang kurang sehat membuat Dita mengigil kedinginan. Saat itu Dita sudah berencana untuk tidak mengikuti mata kuliah pada jam berikutnya, Dita ingin segera pulang dan beristirahat. Dita takut Mamanya akan marah bila sampai Dia jatuh sakit. Sambil menunggu hujan reda, Dita dan sahabat-sahabatnya duduk di salah satu kursi yang ada di depan ruang perkuliahan. Sahabat-sahabat Dita tampak sangat mengkhawatirkan kondisi Dita. Zian telah beberapa kali menawarkan untuk mengantarkannya pulang. Tapi Dita terus menolak, Dita tidak mau Zian sampai tahu dimana tempat tinggalnya. Dita pun berusaha meyakinkan sahabat-sahabatnya bahwa dirinya baik-baik saja.
Reza dan teman-temannya tampak sedang asik berbincang-bincang dan bersenda gurau di salah satu kursi yang letaknya berseberangan dengan tempat dimana Dita dan sahabat-sahabatnya itu sedang duduk. Reza saat itu terus memperhatikan Dita yang sedang mengenakan jaket yang diberikan oleh Zian. Reza tidak mengetahui bahwa Adiknya saat itu sedang sakit. Reza terus asik bercanda dengan teman-temannya, tapi sesekali mata Reza tampak melirik ke arah Dita. Rangga yang duduk tepat di samping Reza, telah beberapa kali memergoki pandangan Reza itu.
“Dita manis ya” ujar Rangga yang kemudian juga ikut memperhatikan Dita.
“Kamu suka kan sama Dita? Ngaku aja Za…!” ujar Rangga lagi.
“Apa?” ujar Reza yang tampak terkejut.
“Tatapan Kamu ke Dita itu beda Za… Aku bisa liat itu. Dan… Aku juga tahu kamu sering memperhatikan Dita dari kejauhan. Mmm… Jangan-jangan… lagu yang kamu nyanyiin malam itu… itu buat Dita? Iya kan?” ujar Rangga sambil melirik ke arah Reza sesaat lalu Rangga kembali memandangi Dita.
Reza memilih untuk bungkam, Reza membiarkan sahabatnya itu terus berceloteh. Reza terus memperhatikan Dita yang saat itu mulai beranjak dari tempat duduknya. Dita mulai berjalan ke arah luar gedung perkuliahan. Di depan gerbang gedung perkuliahan Dita membentangkan payungnya, lalu berjalan dengan perlahan sambil sesekali melompati genangan air yang menghalangi jalannya.
Hujan masih sedikit deras tapi Dita memutuskan untuk segera pulang agar Dia bisa lekas beristirahat, di saat itu Dita berharap saat Mamanya pulang ke rumah dirinya sudah cukup sehat. Dia tidak mau Mamanya marah lagi karena melihat dirinya yang jatuh sakit.
“Brukk” tiba-tiba tubuh Dita terjatuh. Kaki Dita terkilir saat melompat untuk menhindari genangan air yang ada di hadapannya.
Reza yang sejak lama memperhatikan Dita, segera berlari menerobos hujan untuk menolong Adiknya itu. Rangga dan Fiko yang juga melihat kejadian itu segera berlari mengikuti Reza.
“Dit, Dita...! Kamu kenapa? Dita… enggak apa-apa kan?” tanya Reza cemas.
Reza berusaha membangunkan tubuh Dita yang telah basah kuyup. Dilihatnya tubuh Dita gemetaran dan wajah Dita pun tampak sangat pucat. Reza benar-benar cemas melihat kondisi Dita yang seperti itu.
“Enggak apa-apa Kak. Dita mau pulang! Nanti Mama marah. Dita harus pulang! Dita mau pulang sekarang Kak… Dita mau istirahat” ujar Dita gemetaran.
Melihat kondisi Dita yang benar-benar buruk. Reza segera menggendong tubuh Dita menuju mobil yang telah disiapkan oleh Rangga dan Fiko. Reza segera membawa Dita ke rumah sakit terdekat. Setibanya di rumah sakit, Reza segera mengurus administrasi untuk Dita. Dita pun dibawa keruang UGD dan segera ditangani oleh pihak Rumah sakit.
“Keluarga pasien Meggi Anandita?” tanya seorang dokter kepada Reza saat telah selesai memeriksa Dita.
“Iya.. Saya Kakaknya” jawab Reza yang saat itu sedang berdiri di samping ranjang Dita.
“Enggak usah terlalu khawatir, Adik kamu cuma deman tinggi aja. Mungkin karena Dia kecapekan” ujar Dokter itu menjelaskan sakit yang diderita oleh Dita
“Adik kamu ini cuma butuh istirahat aja” tambah Dokter itu.
“Bisa pulang malam ini Dok?” tanya Reza.
“Sebaiknya malam ini Adik Kamu dirawat di sini dulu” jawab Dokter itu.
“Kita tunggu perkembangannya sampai besok. Kalau besok Dia kondisinya sudah stabil. Besok udah boleh pulang” tambah Dokter itu lagi.
Rangga dan Fiko yang menunggu di luar Ruang UGD tampak sangat gelisah.
“Gimana keadaan Dita ya?” tanya Fiko kepada Rangga yang tampak mengkhawatirkan keadaan Dita.
Rangga hanya mengangkat kedua bahunya yang mengisyaratkan bahwa Dia tidak tahu.
“Tumben Kamu peduli sama Dita. Kamu kan biasanya cuma suka ngejahilin Dia aja” ujar Rangga meledek sahabatnya itu.
“Emangnya salah kalau Aku khawatir ngeliat Dita yang pingsan kayak tadi?” jawab Fiko membela dirinya.
“Kita do’a-in aja biar Dita enggak kenapa-napa” ujar Rangga.
“Ngga, menurut kamu Reza aneh nggak?” tanya Fiko yang saat merasa perlakuan Reza terhadap Dita sedikit berlebihan.
“Aneh gimana?” tanya Rangga balik.
“Ya aneh.. kok Dia sigap banget nolongin Dita. Trus kamu liat nggak mukanya tadi? Reza keliatan cemas banget pas ngeliat Dita pingsan” jelas Fiko.
“Ya.. wajarlah Dia cemas. Sama kayak kita. Kita kan juga cemas ngeliat Dita pingsan kayak gitu” ujar Rangga.
“Beda Ngga..! kamu nggak bisa bedaain apa! Cemasnya Reza tadi tu beda..!” jelas Fiko berusaha meyakinkan Rangga.
“Fiko, Rangga kalian pulang duluan aja. Sekarang udah malem. Dita biar Aku yang jaga. tadi Aku udah telpon keluarganya. Mungkin sebentar lagi mereka dateng” ujar Reza berusaha meyakinkan kedua sahabatnya itu.
Karena malam telah larut, dan tanpa menaruh curiga Rangga pun mengiyakan anjuran dari sahabatnya itu. Sementara Fiko yang saat itu merasa aneh dengan tingkah laku Reza tampak hanya terdiam. Sebenarnya saat itu Fiko sempat berpikir untuk mempertanyakan tentang rasa penasarannya itu kepada Reza. Namun niatnya itu diurungkannya. Karena Fiko takut jika hal yang dipikirnya itu ternyata tidak benar, maka tentu saja hal itu akan merusak hubungan persahabatannya dengan Reza. Fiko dan Rangga pun akhirnya pergi meninggal Reza di depan pintu ruang UGD.
Keesokan harinya dokter telah mengizinklan Dita untuk pulang. Reza menuntun Dita dengan sangat hati-hati menyusuri lorong rumah sakit. Setibanya di rumahnya, Dita disambut dengan ocehan dari Mamanya. Hal itu membuat mata Dita langsung berkaca-kaca, saat itu Dita benar-benar tidak mampu menahan air matanya.
“Mama kan udah bilang istirahat. Sekarang kalau udah sakit kayak gini siapa yang repot. Kamu ini… selalu… aja ngerepotin. Kakak Kamu tu lagi capek, kalau Dia sampe sakit gimana?” ujar Mamanya memarahi Dita.
Tanpa menhiraukan ocehan Mamanya, Reza terus saja berjalan menuntun Dita masuk ke dalam rumah lalu menuntun Dita menuju kamarnya.
“Enggak usah didengerin, Mama mungkin sangat khawatir, mangkanya Mama kayak gitu” ujar Reza berusaha menghibur Dita.
Setelah sampai di kamar Dita, Reza pun segera membantu Dita untuk berbaring di tempat tidurnya, tak lupa Reza juga memasangkan selimut di tubuh Adikny itu.
“Kakak tinggal ya Dit. Nanti kalau Dita butuh apa-apa, Dita telpon Kakak ya!” ujar Reza.
“Iya. Makasih ya Kak” jawab Dita yang tampak masih lemah.
Reza hanya membalasnya dengan senyuman. Setelah Dita tampak berbaring dengan nyaman Reza pun segera pergi dan membiarkan Dita beristirahat.
Keesokan paginya Reza memutuskan untuk tidak berangkat kuliah, saat itu Reza ingin menjaga Dita yang sedang sakit. Reza yakin bahwa Bu Retno pasti sibuk dengan pekerjaanya, sehingga tidak akan mungkin Bu Retno bisa menjaga Dita dengan maksimal. Reza pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar Dita. Reza membuka pintu kamar Dita dengan perlahan-lahan dan tampak olehnya, Dita masih tertidur pulas. Karena tidak ingin mengganggu tidur Dita, Reza pun segera kembali ke kamarnya.
Di kampus banyak Mahasiswa yang sibuk membicarakan Dita, termasuk Rangga dan Fiko. Rangga dan Fiko hari itu telah berencana untuk menjenguk Dita di rumah sakit.
“Kita ajak Reza yuk!” usul Rangga pada Fiko.
“Mmmm… boleh juga” jawab Fiko sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Rangga kemudian mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, lalu Dia segera menghubungi Reza.
“Hallo… Reza. Kamu di mana? Oh... di rumah ya. Udah dulu ya Za” ujar Rangga singkat dan segera menutup teleponnya.
“Kok Kamu enggak Bilang kalau Kita mau jengguk Dita” tanya Fiko.
“Kamu ingat nggak kapan terakhir kali Kita main ke rumah Reza” Rangga malah balik bertanya kepada Fiko.
“Mmm.. Kapan ya? Kayaknya udah lama banget” jawab Fiko setelah beberapa saat berusaha untuk mengingat.
“Kita udah enggak ke rumah Reza sejak menjelang Ospek” ujar Rangga.
“Kamu inget nggak? Tiap kali Kita bilang kalau Kita mau main ke rumahnya. Dia selalu bilang kalau Dia enggak ada di rumah” ujar Rangga lagi untuk mengingatkan sahabatnya itu.
“Pernah sekali waktu itu Reza bilang lagi di rumah, pas Kita telpon dan bilang Kita udah di depan pagar rumahnya, Eh, mendadak Dia bilang Dia enggak ada di rumah. Kamu ingetkan kejadian itu?” ujar Rangga lagi.
“O, ya ya bener. Aku inget” ujar Fiko sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kamu ngerasa nggak kalau ada yang aneh sama Reza semenjak Ospek” tanya Rangga kepada Fiko.
“Iya sih.. kayak ada yang Dia sembunyiin. Apa ada sesuatu yang Dia sembunyiin di rumahnya?” ujar Fiko yang menjadi penasaran.
“Tapi apa hubunganya dengan Kita yang mau jenguk Dita” tanya Fiko.
“Kalau tadi Kita langsung ajak Dia jenguk Dita, Dia pasti ngajak Kita ketemuan di Rumah sakit” jelas Rangga.
“Tadi Aku sengaja nggak bilang ke Reza kalau Kita mau jenguk Dita, trus Aku juga nggak bilang kalau Kita mau ke rumahnya. Kalau Aku bilang pasti Reza ngasih seribu alasan biar Kita nggak dateng ke rumahnya, kayak yang dulu-dulu. Jadi Kita langsung aja ke rumahnya” ujar Rangga menjelaskan maksudnya itu.
“Udah dari rumah Reza, baru Kita ke rumah sakit jenguk Dita. Gimana?” usul Rangga.
“Oke!” jawab Fiko.
“Sekali mengayuh dayung. Dua, tiga palau terlampaui” tambah Fiko sambil tersenyum.
Hari itu setelah semua mata kuliah berakhir, Rangga dan Fiko pun segera meluncur menuju rumah Reza.
XXX XXX XXX
Setelah terjaga dari tidurnya, Dita merasakan tubuhnya sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya.
“Aku harus segera makan, dan minum obat biar cepat sembuh” ujar Dita sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya.
Dita kemudian segera pergi ke dapur untuk makan. Setelah makan Dita menyiapkan sebotol air minum untuk di bawa ke kamarnya. Saat Dita sedang berjalan menuju kamarnya tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Bu Retno bergegas hendak membuka pintu, tapi Dita segera menghentikan Bu Retno.
“Biar Dita aja Bu, itu mungkin Mama. Biar Mama bisa liat kalau Dita udah sehat” ujar Dita.
“Iya Mbak. Kalau gitu Ibu permisi dulu” jawab Bu Retno yang segera kembali ke dapur.
Setelah Bu Retno meninggalkannya, Dita pun segera berjalan menuju pintu, dan setelah pintu dibuka betapa terkejutnya Dita, karena di depan pintu rumahnya itu ada Rangga dan Fiko. Rangga dan Fiko pun sangat terkejut saat melihat orang yang muncul dari balik pintu itu.
“Dita!” ujar Rangga dan Fiko hampir bersamaan.
“Kak Rangga. Kak Fiko” ujar Dita gugup.
Ketiga orang itu kemudian terdiam dan saling menatap satu sama lain. Lalu dari dalam rumah terdengarlah suara Reza.
“Siapa yang datang Bu?” tanya Reza yang saat itu mengira bahwa yang membukakan pintu adalah Bu Retno.
Reza kemudian berjalan dari depan pintu kamarnya, saat telah berada di ruang tamu, Reza terkejut karena melihat ada dua orang sahabatnya sedang berdiri di depan pintu tepat di hadapan Dita.
“Fiko! Rangga!” ujar Reza.