8

3139 Kata
“Fiko! Rangga!” ujar Reza. Mendengar ada suara Reza dari arah belakangnya, Dita segera menoleh dan Dia melihat Reza telah berdiri tak jauh di belakangnya. Dengan perasaan tak menentu Dita segera membalikkan badannya, dan dengan tergopoh-gopoh Dita segera berjalan masuk. Karena sangat panik, kaki Dita sampai tersandung kursi dan botol air minum yang pegangnya pun hampir terjatuh. Dita berhenti sejenak memegangi kakinya yang sakit, lalu Dia segera berdiri kembali dan terus berjalan menuju kamarnya tanpa berani menatap ke arah Reza. Sementara itu Fiko dan Rangga masih saling bertatapan, keduanya tampak binggung dan penasaran atas hal yang dilihatnya saat itu. Reza segera mengajak kedua sahabatnya itu masuk dan menjelaskan semua kebenarannya, terkecuali masalah perasaannya terhadap Dita. “Dita itu adalah Adik Aku” ujar Reza setelah mereka berada di dalam kamarnya. “Aku sengaja meminta Dita merahasiakan ini” tambah Reza. “Kenapa…?” tanya Fiko dan Rangga hampir serentak.   Reza kemudian menjelaskan mengenai perlakuan Mamanya terhadap Dita. “Terkadang Aku ngerasa enggak enak sama Dita. Aku kasian sama Dita” ujar Reza setelah selesai bercerita. “Kenapa kamu harus merahasiakan semua ini..? Itu pasti akan membuat Dita semakin sedih” ujar Rangga. “Aku tau. Tapi Aku takut orang-orang yang enggak suka sama Aku akan menumpahkan kebencian mereka sama Dita. Karena itu Aku meminta Dita untuk merahasikan semua ini” ujar Reza memberi alasan untuk membohongi kedua sahabatnya itu. Reza terpaksa membohongi sahabat-sahabatnya itu, karena Dia tidak ingin Fiko dan Rangga sampai tahu tentang perasaannya yang sebenarnya terhadap Adiknya Dita. “Dita sering sedih dengan perlakuan Mama, dan aku enggak mau menambah beban Dita dengan membiarkan orang-orang yang membenci Aku melampiaskan kebencian mereka ke Dita” ujar Reza lagi. Reza terus berusaha meyakinkan Fiko dan Rangga atas kebohongannya itu. “Dulu waktu Aku dan Dita masih SMA, banyak anak-anak yang menjahili Dita karena mereka marah sama Aku. Aku enggak mau Dita ngalamin kejadian itu lagi saat Dia kuliah” tambah Reza. Reza terus saja membual mengenai alasannya di hadapan Fiko dan Rangga, hingga Fiko dan Rangga mempercayainya.                                    XXX                                      XXX                                      XXX Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Dalam hitungan bulan Reza akan segera meninggalkan kampus. Setelah wisuda, Reza yang telah lama berencana pergi untuk merantau akan segera merealisasikan rencananya. Tujuan Reza merantau tak lain hanyalah untuk menghindari Dita dan menata kembali hatinya. Reza sebenarnya tidak ada lagi kewajiban untuk datang ke kampus. Sidang skripsi telah dilaluinya dengan hasil yang sangat memuaskan. Reza hanya tinggal menunggu waktu wisuda saja, tetapi Reza tetap pergi ke kampus. Reza memanfaatkan waktu yang tersisa itu untuk berkumpul dengan teman-temannya dan sekaligus membantu teman-temannya yang masih menyusun skripsi. Saat itu di kampus sedang diadakan acara seni dan bazar. Dari kejauhan Reza memperhatikan Dita yang sedang berjalan bersama Zian. Dita dan Zian tampak sedang  mengunjungi stan-stan yang ada di bazaar itu. Lalu Dita dan Zian berhenti di depan panggung pentas seni. Dita dan Zian pun tampak asik menonton pentas seni itu. Tak lama kemudian Citra datang menghampiri mereka dan Citra kemudian berbisik-bisik kepada Zian, lalu Citra dan Zian pergi meniggalkan Dita seorang diri di depan panggung ppentas seni itu. “Ehemmm… permisi…!” ujar Rangga yang telah berdiri di belakang Dita. Dita pun seketika langsung menoleh.  “Hai Dita..” ujar Rangga sambil melangkahkan kakinya untuk berdiri di samping Dita. “Oh… Kak Rangga. Mau nonton pentas seni juga ya?” tanya Dita. “Mmmm..” ujar Rangga yang terdiam sesaat. “Sebenarnya Kakak ada perlu sama Dita” ujar Rangga kemudian. “Apa Kak?  Ada perlu apa?” tanya Dita sambil menoleh ke arah Rangga. “Mmm… Dita ada  waktu enggak? Sebentar.. aja. Ada yang perlu Kakak omongin sama Dita” ujar Rangga dengan memasang wajah yang serius. “Penting ya…?” tanya Dita lagi yang tampak penasaran. “Penting banget”  jawab Rangga masih dengan ekpresi yang serius. “Ya udah, Kak  Rangga ngomong aja sekarang” ujar Dita sambil menatapi wajah Rangga. “Kakak enggak bisa ngomongnya di sini. Di sini berisik banget! Ayo ikut Kakak!” ajak Rangga. Dita pun segera melangkahkan kakinya mengikuti Rangga. Setelah cukup lama berjalan, Rangga akhirnya berhenti di sebuah bangku yang letaknya cukup dekat dari lapangan basket. Bangku itu tepat berada di bawah pohon yang besar dan rindang. Rangga dan Dita pun kemudian segera duduk di bangku itu. Saat itu angin bertiup sepoi-sepoi dan terdengar pula alun-alun suara musik dari pentas seni yang membuat suasana menjadi terasa damai. Suasana lapangan basket kala itu tampak cukup sepi, hanya tampak beberapa orang saja yang bermain basket di sana. “Dit, ada yang ingin Kakak bicarain sama Dita. Tapi sebelumnya Kakak minta maaf kalau nanti omongan Kakak membuat Dita jadi ngerasa nggak nyaman” ujar Rangga memulai pembicaraannya. Sementara itu Dita hanya berdiam diri, karena Dia tidak mengerti maksud dari perkataan Rangga itu. “Apa Dita.. Udah punya orang yang Dita sayangi?” tanya Rangga ragu-ragu. “Maksud Kakak apa ya..! Dita enggak ngerti” ujar Dita setelah menoleh ke arah Rangga. Rangga pun terdiam untuk beberapa saat sambil terus memandangi anak-anak yang sedang bermain basket di hadapanya. “Dita udah punya orang yang disayangin belum?” tanya Rangga kemudian sambil terus memandang lurus ke depan. “Ooo..” ujar Dita yang sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rangga. “Udah” ujar Dita lagi, Yang juga memperhatikan anak-anak yang sedang bermain basket di hadapannya. Mendengar jawaban Dita itu seketika Rangga langsung terdiam. Jantung Rangga menjadi berdebar-debar karena rasa kecewanya. Rangga tidak pernah menyangka bahwa Dita telah memiliki seorang pacar. “Apa Kakak boleh tahu, Dia siapa? ujar Rangga memberanikan dirinya untuk bertyanya. “Kak Reza” jawab Dita singkat. Mendengar jawaban Dita itu, Rangga pun sedikit merasa lega. “Bukan sayang seperti itu yang Kakak maksud. Yang Kakak maksud adalah… pacar. Apa Dita… apa Dita udah punya pacar?” tanya Rangga lagi dengan ragu-ragu sambil menatapi Dita yang tampak sedang menikmati permainan basket di depannya. Dita sangat terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Rangga. Saat itu Dita merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dita binggung harus menjawab apa atas pertanyaan tersebut. Dita hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Rangga itu. “Sebenarnya lagu yang Kakak nyanyikan malam itu. itu untuk Dita. Waktu itu Kakak pikir Dita dan Zian pacaran, jadi Kakak enggak mau ngerusak hubungan kalian. Tapi beberapa hari yang lalu Kakak tahu semuanya. Citra udah cerita semuannya sama Kakak” ujar Rangga sambil memperhatikan Dita yang tampak masih asik melihat permainan basket di depannya. “Kakak udah suka sama Dita sejak hari pertama Kakak ngeliat Dita. Tapi saat itu Kakak belum yakin kalau Kakak benar-benar suka sama Dita. Kakak takut kalau perasaan Kakak itu hanya sekedar simpati. Tapi semakin lama Kakak banyak tahu tentang Dita, Kakak rasa bahwa Kakak bener-bener suka sama Dita. Kakak bener-bener sayang sama Dita” ujar Rangga panjang lebar untuk meyakinkan Dita tentang perasaannya. Setelah selesai mengatakan semua perasaannya, Rangga kemudian diam untuk menunggu respon dari Dita. Tapi Dita hanya berdiam diri, Dita tidak memberikan reaksi apapun atas ungkapan persaaan yang telah disampaikan oleh Rangga saat itu. Keduannya pun akhirnya terdiam untuk beberapa saat. “Apa Dita mau jadi pacar Kakak?” ujar Rangga memberanikan diri untuk memecah kebisuan di antara mereka. Dita terus saja berdiam diri. Dita benar-benar tidak pernah menyangka bahwa Rangga akan mengatakan hal itu kepadanya. Dita sebenarnya menyukai sosok Rangga yang lembut dan baik, tapi Dita belum pernah memikirkan untuk menjalin sebuah hubungan yang serius dengan seseorang. Dita terus terdiam dan terus berkutat dengan perasaanya. “Kalau Dita belum Siap, Dita enggak harus jawab sekarang. Masih ada waktu 3 bulan lagi sebelum Kakak wisuda. Dan selama itu Kakak akan menuggu jawaban dari Dita” ujar Rangga kembali, karena melihat Dita yang terus membisu. Dita masih berdiam diri karena binggung. Dita tidak tahu harus bagaimana. Lidahnya terasa kalut untuk berbicara, pikirannya pun menjadi kacau dan jantungnya berdebar tak menentu. Melihat Dita yang tampak kebinggungan, Rangga lantas berdiri dan mengajak Dita kembali ke tempat acara pentas seni. “Enggak usah terlalu dipikirin, Dita enggak harus jawab sekarang. Kalau Dita ngerasa terbebani oleh ucapan Kakak, Dita lupain aja. Anggap aja Kak Rangga enggak pernah ngomong apapun sama Dita” ujar Rangga saat di perjalanan menuju tampat pentas seni. Reza yang tak sengaja melihat Dita dan Rangga sedang duduk di bangku dekat lapangan basket. Saat itu secara diam-diam menguping pembicaraan Dita dan Rangga. Reza pun telah mendengar semua apa yang dikatakan oleh Rangga kepada Dita. Tentu saja itu menjadi tontonan yang sangat menyakitkan hatinya. Reza belum bisa melepaskan Dita dari dalam hatinya, karena Cintanya begitu besar untuk Dita. Sepeninggal Dita dan Rangga, Reza terduduk di kursi di tempat dimana Rangga mengungkapkan perasaannya kepada Dita. Reza tertegun merenungi kejadian pahit yang baru saja disaksikannya. Reza pulang ke rumahnya setelah larut malam. Reza berdiam diri di depan jendela kamarnya. Reza menatap jauh keluar kamar sambil merenungi kejadian yang telah disaksikannya di kampus. “Seharusnya Aku seneng ngeliat Dita bersama Rangga. Karena Rangga adalah laki-laki yang baik dan bertanggungjawab. Dita pasti akan bahagia bila berada di samping Rangga. Aku harus bahagia dengan semua ini. Ini adalah hal yang baik untuk Dita dan untuk Aku. Dengan begini mungkin Aku bisa ngelupain Dita. Aku harus menhapus harapanku untuk memiliki Dita” guman Reza sambil terus menatap jauh ke luar jendela. Reza terus merenung hingga terdengar suara ketukan pintu berkali-kali di depan kamarnya. “Reza…! Reza…! Boleh mama masuk?” ujar Mamanya sambil terus mengetuk pintu kamar Reza. “Iya Ma… masuk aja!” jawab Reza sambil berjalan menjau dari jendela dan segera duduk di tempat tidurnya. “Za.. ada yang ingin Mama omomngin sama Kamu” ujar Mamanya setelah duduk di samping Reza. “Mama udah lama punya rencana untuk membuka bisnis di bidang property, tapi untuk itu Mama tentu butuh modal yang besar. Rencananya bisnis ini akan Mama buka sekitar 2 tahun lagi, karena untuk saat ini Mama belum punya dana yang cukup. Tapi ternyata Mama mendapat jalan lain untuk bisnis ini, seorang teman Mama mengajak menjalin kerjasama untuk membangun bisnis tersebut tahun ini juga. Temen Mama itu juga adalah langganan setia di butik Mama. Malam besok Dia ngundang Mama untuk dinner, boleh dikatakan.. itu acara makan bersama untuk lebih saling mengenal. Mama pengen Kamu temenin Mama. Kamu bisa kan temenin Mama besok malem? Mama enggak enak kalau harus pergi sendirian” jelas Mamanya. “Iya.. besok malem Reza akan temenin Mama” jawab Reza sambil memandang Mamanya. “Oh ya.. ada satu lagi yang Mama ingin bicarain. Ini mengenai niat Kamu yang ingin pergi keluar kota setelah wisuda. Mama kasih izin Kamu untuk pergi, tapi Kamu harus janji sama Mama, kamu harus benar-benar jaga diri Kamu dan harus sering-sering kabarin Mama. Sebenernya Mama enggak mau Kamu pergi jauh-jauh dari Mama.  Mama jadi enggak punya temen lagi untuk ngobrol. Tapi kalau itu udah menjadi keputusan Kamu.. ya..  Mama enggak bisa ngelarang. Mama selalu yakin Kamu pasti melakukan hal yang terbaik, Mama percaya sama Kamu” ujar Mamanya sambil memandangi Reza. Lalu Mamanya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Reza. “Makasih Ma udah percaya sama Reza” ujar Reza yang kemudian memeluk Mamanya. “Kamu harta Mama yang paling berharga” ujar Mamanya sambil menepuk-nepuk punggung Reza yang berada dalam pelukannya.  Setelah itu Mamanya pun segera pergi dari kamar Reza. Di sebuah tempat makan yang cukup mewah, di salah satu meja makan, Reza melihat ada Fiko sedang duduk bersama Ibunya. Saat itu Reza tidak mengetahui bahwa relasi bisnis yang dimaksud oleh Mamanya adalah orang tua dari sahabatnya sendiri. Reza terus saja mengikuti Mamanya yang terus berjalan dan perlahan mendekati meja dimana Fiko dan Ibunya tengah duduk. Tak lama kemudian Mamanya menghentikan langkah kakinya tepat di depan meja makan Fiko dan Ibunya. Mamanya kemudian segera menjabat tangan Ibunya Fiko dan segera duduk. Reza pun segera menjabat tangan Ibunya Fiko. “Apa kabar Tante?” sapa Reza. “Baik.. Enggak nyangka ya! Ternyata Ibu Niken itu adalah Mama Kamu” Ujar Ibunya Fiko dengan ramah. “Iya.. ini bener-bener kebetulan” ujar Mamanya. Sesaat kemudian Mamanya dan Ibu Fiko telah terlibat pembicaraan yang serius mengenai bisnis dan kerjasama mereka. “Kok Dita enggak ikut za?” tanya Fiko. “Apa?” ujar Reza dengan spontan karena terkejut mendengar pertanyaan Fiko. “Itu.. Mmm.. Dita…” ujar Reza berusaha mencari jawaban. “Dita kurang sehat, mangkanya enggak bisa ikut” ujar Mamanya memotong pembicaraan antara Reza dan Fiko. “Ternyata Fiko dan Reza satu kampus ya.. dan temen akrab lagi” lanjut Mamanya mengalihkan pembicaraan. “Pasti kerjasama Kita akan berjalan lancar kalau kayak gini, iya kan Mbak” tambah Mamanya lagi. Ibunya Fiko tersenyum seraya menyetujui perkataan tersebut, dan kemudian keduanya kembali tampak asik berbincang mengenai bisnis yang akan segera mereka rintis.                                    XXX                                      XXX                                      XXX Salah satu hari penting yang paling di tunggu-tunggu oleh Mahasiswa tingkat akhir selain Wisuda adalah Yudisium. Acara yudisium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mandiri telah digelar hari itu. Yudisium adalah tahap pengukuhan kelulusan secara resmi seorang mahasiswa yang diangap telah memenuhi syarat kelulusan pada suatu bidang studi. Pada acara yudisium ini pula predikat kelulusan seorang mahasiswa ditetapkan, apakah mahasiswa itu mendapat predikat cumlaude, sangat memuaskan, atau memuaskan. Yudisium dapat diibaratkan sebagai garis finisnya para Mahasiswa atau juga dapat diibaratkan sebagai jurnal penutup. Dengan menyelesaikan jurnal penutup tersebut berarti selesailah sudah apa yang selama ini dikerjakan.            Di hari itu wajah-wajah berseri dan ceria memenuhi pelataran luar gedung G tempat dimana acara yudisium berlangsung. Segerombolan Mahasiswa dan Mahasiswi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mandiri tampak sedang bercengkrama, tertawa dan bersenda gurau di luar gedung tersebut, namun banyak juga Mahasiswa yang telah berada didalam gedung itu. Mereka seolah tak sabar lagi menantikan detik-detik dikukuhkannya mereka sebagai alumni Universitas Mandiri. Dengan balutan seragam yudisium, yaitu setelan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya dan dilengkapi dasi hitam polos serta sepatu pantofel, membuat Reza tampak gagah dan menawan. Setelah Reza berpakaian seragam lengkap dan merasa dirinya telah rapi dari ujung kepala hingga ujung kaki, Reza pun bergegas menemui Mamanya untuk berpamitan. “Ma, Reza berangkat ya!” ujar Reza kepada Mamanya yang tengah duduk di ruang tamu dan tampak sedang membaca koran. “Iya. Hati-hati bawa mobilnya” ujar Mamanya sambil menutup dan meletakkan koran tersebut ke atas meja di hadapannya “Wah..! Anak Mama gagah banget” ujar Mamanya yang kemudian bangun dari duduknya. “Anak Mama. Sebentar lagi udah Sarjana” tambah Mamanya sambil menepuk-nepuk bahu Reza yang sedang berdiri di hadapannya itu. “Mama bangga sama Reza. Bangga banget!” ujar Mamanya lagi. “Mama nanti dateng ke acara yudisium Reza nggak?” tanya Reza pada Mamanya. “Mama dateng juga enggak bisa masuk. Iya kan! Masa Mama harus nungguin Kamu di luar gedung sampai acaranya selesai” jawab Mamanya. “Yang jadi PW Kamu siapa?” tanya Mamanya untuk menggoda Reza. “Ih..! Mama sok tau.. emangnya Mama tau  PW itu apa?” jawab Reza meledek Mamanya. “Ya taulah..! PW itu pendamping wanita. Emangnya Kamu aja yang tau. Kamu lupa kalau Mama Mu ini dulu pernah jadi PW juga” jawab Mamanya seraya membanggakan diri di depan Reza. Reza pun hanya tersenyum melihat ulah Mamanya itu. Setelah berpamitan dengan Mamanya, Reza pun bergegas pergi ke kampusnya untuk menuju auditorium gedung G tempat dimana acara yudisium diselenggarakan.            Setelah tiba di gedung G, Reza pun segera masuk ke dalam gedung dan segera mencari tempat duduk yang telah di tentukan oleh panitia yudisium. Reza, Rangga dan Fiko duduk berjejer di kursi paling depan di bawah tribun di sisi kanan gedung. Suasana di dalam gedung tampak sangat riuh, karena para peserta yudisium sangat antusias menunggu detik-detik acara itu dimulai. Riuhnya para Mahasiswa pun seketika terhenti, ketika seorang moderator mengambil alih kendali acara itu. Acara yudisium hari itu pun segera dimulai.            Setelah cukup lama acara itu berlangsung, akhirnya tibalah pada acara puncak dari acara yudisium tersebut. Seluruh Mahasiswa dipanggil satu persatu untuk maju ke depan, ke atas podium untuk pengambilan nilai sekaligus surat keterangan lulus (SKL) sebagai tanda bahwa para Mahasiswa itu telah lulus dan siap untuk mengikuti wisuda. Setelah satu persatu namanya dipanggil, Reza, Rangga dan Fiko pun secara bergiliran maju ke atas podium untuk memerima map berisi SKL beserta nilainya. Predikat cumlaude yang diraih oleh Reza dan kedua sahabatnya itu membuat wajah mereka tampak sumringah. Kerja keras mereka selama kuliah akhirnya terbayarkan oleh predikat cumlaude tersebut.            Acara yudisium tersebut berlangsung lancar dan khidmat. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mandiri pun mengucapkan selamat kepada para yudisiawan dan yudisiawati yang telah berhasil menyelesaikan studinya. Dekan itu berharap ilmu yang telah diperoleh selama masa kuliah dapat bermanfaat di masyarakat dan di lingkungan kerja.            Setelah acara yudisium berakhir, wajah-wajah seluruh peserta yudisium pun tampak lebih ceria dan senyuman sumringah pun tak dapat ditutupi oleh mereka. Para yudisiawan dan yudisiawati tampak saling merangkul, berpelukan dan bersalaman untuk mengucapkan selamat diantara mereka. Selain itu mereka pun tampak mengabadikan moment-moment itu dengan berfoto-foto. Suasana di dalam gedung itu pun kembali riuh. XXX                      XXX                      XXX  Dita yang saat itu masih harus menyelesaikan tugas kelompoknya di perpustakaan, kehilangan konsentrasinya. Di benak Dita terus terlintas akan acara yudisium Kakaknya. Saat itu Dita sangat ingin pergi ke gedung G tempat dimana acara yudisium Kakaknya berlangsung. Dita sangat ingin menemui Reza untuk mengucapkan kata selamat kepada Kakaknya itu. Setelah tugas kelompok mereka selesai Dita dan Citra segera meninggalkan perpustakaan dan bergegas menuju gedung G. Sebelum meninggalkan perpustakaan Dita pun sempat menelpon beberapa orang temannya untuk ikut mereka ke acara yudisium tersebut. Setibanya di tempat acara, pintu gedung tampak masih tertutup rapat yang menandakan acara yudisium belum selesai. Dita dan para sahabatnya terus menunggu hingga pintu gedung itu di buka, dan tak berapa lama mereka menuggu, pintu gedung akhirnya di buka. Banyak para Mahasiswa yang berhamburan masuk ke dalam gedung tersebut untuk mencari keluarga, sahabat ataupun kerabat mereka. Dita, Citra dan teman-temannya pun ikut berhamburan masuk ke dalam gedung tersebut. Setibanya di dalam gedung mereka pun berpisah untuk mencari orang yang ingin mereka temui. Dita tampak celingak-celinguk di tengah keramaian itu. Dita berusaha mencari Kakaknya. Dita memasang matanya tajam-tajam mengamati sekelilingnya dengan seksama, Dia sangat berharap bisa segera menemukan Kakaknya. Setelah cukup lama mengamati orang-orang yang berada di tengah keramaian itu akhirnya mata Dita terhenti pada sosok laki-laki yang tampak gagah dan menawan yang sedang berdiri di salah satu sisi podium. Laki-laki itu adalah Reza, Kakaknya. Pada saat itu Reza tampak tengah asik bercengkrama bersama Rangga dan beberapa orang lainnya. “Dug… dug… dug…” suara detak jantung Dita yang berdetak semakin cepat saat Dia melihat Reza. Di hati Dita pun muncul gejolak yang sangat hebat. Dita merasa dirinya benar-benar telah kehilangan akal saat melihat Reza yang sangat rupawan. Rasa cintanya yang perlahan telah Dia kubur kini kembali membara. Perlahan-lahan Dita mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri Reza. Semakin melangkah maju dan semakin mendekati Reza, getaran di hati Dita semakin berkecamuk, jantungnya pun berdetak semakin cepat. “Ya Tuhan..! Lindungi Aku dari perasaan ini” ujar Dita dalam hati sambil terus melangkah untuk menhampiri Reza.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN