9

3734 Kata
Setelah berada tak jauh dari tempat Reza berdiri, langkah Dita pun seketika terhenti. Saat itu Dita melihat Yeyen datang menghampiri Reza dan Rangga. “Makasih ya Yen, udah mau jadi pendamping Aku di acara ini” ujar Reza kepada Yeyen. Dita yang berada tak jauh Dari tempat Reza dan Yeyen berdiri, dengan jelas dapat mendengar perbincangan antara Reza dan Yeyen tersebut. Mendengar perkataan Reza itu, Dita pun seketika merasakan rasa yang sangat sakit di hatinya. “Ternyata Yeyen. Orang yang selama ini disukai oleh Kak Reza. Ternyata Yeyen.  Kenapa…? Kenapa harus Yeyen..?” ujar Dita sedih. Menurut Dita Yeyen bukanlah orang yang tepat untuk Reza. Reza bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Yeyen pikir Dita. Saat itu juga ingin rasanya Dita berlari, pergi menjauh dari tempat itu, tapi di saat itu juga Rangga memanggilnya. “Dita!” ujar Rangga sedikit berteriak memanggil Dita yang tampak tengah mematung di antara keramaian itu. Dita masih berdiri terpaku menatapi Reza yang tampak masih asik berbincang-bincang dengan Yeyen. Sementara itu Rangga terus saja memanggil-manggil dirinya. “Dita! Ayo sini!” ajak Rangga masih dengan sedikit berteriak sambil melambaikan-lambaikan tangannya ke arah Dita.  Dengan perasaan tak menentu Dita pun kemudian perlahan melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Rangga dan Reza sedang berdiri. Setelah tepat berada di hadapan Reza, Dita merasa tubuhnya menjadi kaku. Lama Dita berdiam diri dan membisu di hadapan Reza. Dita berusaha menenangkan hatinya dan berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara. Akhirnya Dita pun perlahan mengulurkan tangannya kepada Reza untuk mengucapkan selamat. “Selamat ya Kak. Dita seneng banget ngeliat keberhasilan Kak Reza” ujar Dita sambil menyalami Kakaknya itu. Dita pun berusaha terus meredam emosinya dan menahan air matanya, Dita tidak ingin Reza dan orang-orang disekitarnya melihat Dia menangis. “Makasih ya Dit. Kakak seneng Dita dateng ke sini ” jawab Reza sambil tersenyum bahagia. Dita pun memaksakan sebuah senyuman manis untuk membalas senyuman Kakaknya itu. “Kak Rangga. Selamat ya..!” ujar Dita sambil mengulurkan tangannya ke arah Rangga. “Iya. Makasih ya Dit” jawab Rangga yang kemudian melemparkan senyuman manisnya kepada Dita. Sementara itu Yeyen tampak tengah asik berbincang-bincang dengan beberapa orang teman Reza yang sebelumnya bercengkrama dengan Reza dan Rangga. “Hei.. hei.. kalian ngelupain Aku ya?” ujar Fiko yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Rangga. “Kalian jahat banget sih! Kok kalian ninggalin Aku” ujar Fiko lagi setelah berdiri di samping Rangga. “Kita yang ninggalin..! Atau Kamunya yang keasikan foto-foto bareng cewek-cewek itu!” jawab Reza meledek sahabatnya itu. Mendengar ledekan sahabatnya itu, Fiko hanya tersenyum tipis. “Eh.. ada Dita. Apa kabar Dita?” ujar Fiko sambil memandangi Dita. “Baik Kak” jawab Dita seadanya. “Ngapain Dita di sini? Nyari Kakak ya..? Mau ngucapin selamat sama Kakak?” ujar Fiko sambil tersenyum untuk mengggoda Dita. “Oo.. Iya.. Selamat ya Kak” ujar Dita yang kemudian diikuti dengan uluran tangannya. “Tu.. kan.. bener..! Dita ternyata mau ngucapin selamat sama Kakak” goda Fiko lagi kepada Dita. Dita hanya tersenyum melihat ulah Fiko itu. Demikian pula dengan Reza dan Rangga, mereka hanya tersenyum melihat keisengan sahabatnya itu kepada Dita. Dita terus berusaha menahan air matanya selama perbincangan itu berlangsung. Dita benar-benar tidak mampu mengusir rasa sakit dihatinya karena kenyataan bahwa orang yang selama ini disukai oleh Reza adalah Yeyen. “Dita pergi dulu ya Kak” ujar Dita segera berpamitan karena Dia sudah tidak mampu lagi menahan air matanya. Setelah berpamitan Dita dengan segera melangkahkan kakinya menjauh dari tempat Reza, Rangga dan Fiko. Air mata Dita pun mengalir mengiringi langkah kakinya meninggalkan keramaian itu. Dita merasa suasana menjadi sangat sunyi, tidak ada suara-suara yang dapat Dia dengar terkecuali suara detak jantungnya dan jeritan hatinya yang meraung kesakitan. Tanpa disadari oleh Dita, Rangga telah berjalan di sampingnya. Dita pun langsung menoleh dan Dita melihat Rangga sedang memandanginya. Dita segera menundukkan kepalanya dan kemudian segera menghapus air matanya. Rangga pun tampak terkejut karena melihat wajah Dita yang berlinangan air mata. Rangga kemudian segera merangkul bahu Dita dan membawa Dita menjauh dari keramaian itu. Rangga membawa Dita ke salah satu bangku taman yang cukup jauh dari gedung G. Dimana keadaan taman saat itu tidak terlalu ramai. Setelah duduk di bangku taman itu Rangga membiarkan Dita terus menangis di bahunya. Lama mereka berdua duduk di sana, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Dita ataupun Rangga. Sebenarnya Rangga penasaran akan hal yang membuat Dita menangis. Tapi saat itu Rangga tidak berani menanyakannya kepada Dita. Dia takut Dita akan terbebani oleh pertanyaanya itu. “Dita..! udah..! jangan nangis lagi!” ujar Rangga sambil menepuk-nepuk bahu Dita dengan lembut untuk menenangkan Dita. “Apa Dita mau cerita sama Kakak?” tanya Rangga memberanikan diri sambil terus merangkul dan menepuk-nepuk bahu Dita dengan lembut. Namun Dita masih terisak-isak menangis. Perlahan-lahan Dita berusaha menenangkan dirinya, Dita berusaha menghentikan tangisnya. Untuk beberapa saat Dita pun terdiam, Dita menutup matanya dan tetap membiarkan kepalanya bersandar di bahu Rangga. Dita terus berusaha menenangkan dirinya. Setelah perasaannya sudah sedikit membaik Dita pun perlahan-lahan mengangkat kepalanya dari bahu Rangga. “Sebentar lagi Kak Reza akan wisuda dan akan segera pergi keluar kota. Kalau Kak Reza pergi, di rumah Cuma tinggal Mama sama Dita. Kak Rangga tahu kan, bagaimana hubungan Dita dengan Mama” ujar Dita yang terpaksa membohongi Rangga akan hal yang membuatnya menangis. “Kalau Kak Reza pergi, Dita udah enggak punya tempat berbagi lagi” tambah Dita dengan sedih. Setelah berusaha meyakinkan Rangga akan kebohongannya, Dita pun kemudian hanya mampu terdiam. “Dita..! Kak Rangga ada di sini. Kak Rangga akan selalu ada buat Dita” ujar Rangga sambil mengubah posisi duduknya untuk menghadap ke arah Dita Rangga kemudian menatapi Dita dengan penuh kasih sayang, lalu Rangga memegangi kedua bahu Dita dengan lembut. “Kapanpun Dita butuh seseorang untuk tempat berbagi, maka Dita jangan ragu-ragu untuk menghubungi Kakak. Inget..! Kak Rangga akan selalu ada buat Dita” tambah Rangga sambil menurunkan tangannya dari bahu Dita yang kemudian meraih kedua tangan Dita lalu menggenggamnya dengan erat. Rangga pun kemudian menghapus air mata yang masih membekas di pipi Dita. Melihat Rangga yang sangat baik terhadap dirinya, air mata Dita kembali menetes. “Maafin Dita Kak. Dita udah bohong sama Kakak. Padahal Kak Rangga baik banget sama Dita. Kalau Kakak tahu bahwa Dita jatuh cinta sama Kak Reza, Kakak pasti akan sangat membenci Dita. Maafin Dita Kak..! Dita belum bisa membalas rasa cinta dari Kak Rangga, karena hati Dita saat ini udah dipenuhi oleh rasa cinta buat Kak Reza. Maafin Dita Ka..!” ujar Dita dalam hatinya sambil menatap ke arah Rangga yang masih berusaha menyeka air mata di pipinya. Semua yang di rasakan Dita benar-benar membuatnya binggung dan membuatnya kehabisan kata-kata di hadapan Rangga. Dita hanya mampu meneteskan air matanya untuk mewakili perasaan kacau di dalam hatinya. Melihat Dita yang tak kunjung berhenti menangis, Rangga pun memeluk tubuh Dita dengan erat seraya ingin memberikan perlindungan dan kekuatan. Dita membiarkan dirinya berada di dalam pelukan Rangga. Perlahan-lahan Dita merasakan ada kehangatan yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya yang semula terasa membeku secara perlahan menjadi hangat. Dita pun menemukan kedamaian saat berada di dalam pelukan Rangga. Dita kemudian memejamkan matanya untuk menikmati kedamaian yang dirasakannya saat itu. “Perasaan ini.. Rasa nyaman dan damai ini.. dulu Aku sering ngerasa kayak gini. Pelukan ini. Rasanya sama dengan pelukan Kak Reza. Pelukan inilah yang selalu bisa menenangkan Aku. Dulu Kak Reza selalu memeluk Aku seperti ini. Kak Reza selalu peluk Aku kalau Aku nangis” ujar Dita dalam hati sambil terus memejamkan matanya. Dita mendapatkan ketenangan dan kedamaian saat berada di dalam pelukan Rangga, sehingga Dita pun membiarkan Rangga terus memeluk erat tubuhnya.                                    XXX                                      XXX                                      XXX Hari wisuda adalah hari yang paling dinanti-nanti oleh semua mahaiswa tingkat akhir, khususnya mahasiswa yang telah mengikuti acara yudisium. Wisuda merupakan upacara penangguhan atau pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belar di suatu Universitas. Hari wisuda Universitas Mandiri pun telah diselenggarakan hari itu. Di hari wisudanya itu, Reza meminta mamanya untuk mengajak Dita ikut serta menghadiri acara tersebut. Karena hari itu kemungkinan besar adalah hari terakhirnya bisa berkumpul bersama Dita dan Mamanya secara bersama-sama. Di hari yang penuh kebahagiaan itu, Reza juga inggin melihat kebahagiaan dari wajah Dita dan Mamanya secara bersanma-sama. Setelah mengenakan seragam wisuda, yaitu jubah toga wisuda dengan berbagai macam atributnya, Reza segera keluar dari kamarnya. “Tok.. tok.. tok..” Reza menggetuk pintu kamar Dita “Dita udah siap belum?” tanya Rangga dari depan pintu kamar Dita. Namun tampak tak ada jawaban dari Dita. Reza pun kembali mengetuk pintu kamar Dita tapi tetap saja tidak ada jawaban. “Kak Reza masuk ya Dit!” ujar Reza. Reza pun kemudian membuka pintu kamar Dita. Setelah pintu kamar dibuka, Dita tak tampak berada di dalam kamarnya. “Kok nggak ada. Dita dimana ya? Apa Dia udah nunggu di luar” guman Reza sambil berjalan menghampiri kamar Mamanya. “Ma.. udah siap belum?” tanya Reza sambil mengetuk pintu kamar Mamanya. “Iya. Sebentar” jawab Mamanya dari dalam kamar. Tak lama kemudian Mamanya pun keluar dari kamarnya. “Anak Mama. Ganteng banget!” ujar Mamanya setelah keluar dari kamarnya. Reza hanya tersenyum mendengar pujian dari Mamanya itu. “Dandanan Mama gimana?” tanya Mamanya sambil memperlihatkan penampilannya di hadapan Reza. “Mama cantik banget!” jawab Reza sambil mengacungkan jempolnya ke hadapan Mamanya. “Jangan becanda..! Mama serius ni..! Mama enggak mau kalau sampai mempermalukan Kamu” ujar Mamanya dengan serius. “Enggak Ma.. Reza serius.. Mama cantik kok” jawab Reza meyakinkan Mamanya. “Ayo Ma kita berangkat” ajak Reza pada Mamanya. Reza dan Mamanya kemudian berjalan keluar rumahnya. Saat telah tiba di depan pintu tampaklah Dita sedang berdiri di sana. Dita tampak cantik dan anggun dengan balutan kebaya modern berwarna peach dan dipadankan dengan bawahan kain batik motif berwarna coklat.  Dita pun mengenakan heels yang tak terlalu tinggi serta menenteng tas tangan sebagai pelengkap penampilannya hari itu. Dita sangat senang hari itu, karena Dia bisa mengenakan pakaian yang sama dengan mamanya. Selain pakaiannya kebar dengan Mamanya Dita juga senang karena pakaian yang dikenakannya itu di rancang sendiri oleh Mamanya.            Dita sudah sejak lama menunggu Mamanya dan Reza di teras rumah. Dita tidak ingin membuat Mamanya marah karena keterlambatannya. “Oh.. Dita udah di sini” ujar Reza. “Iya kak” jawab Dita setelah membalikkan tubuhnya menghadap Reza. Saat itu Reza merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Dia benar-benar dibuat terpesona oleh Adiknya itu. “Ayo kita berangkat” ajak Reza yang berusaha mengalihkan pendangannya dari Dita. “Sini Mama aja yang nyetir” ujar Mamanya, lalu Mamanya mengambil kunci mobil dari tangan Reza. Sambil berjalan menuju mobil Reza menarik nafasnya dalam-dalam berulang kali. Dia berusaha mengatur nafasnya agar detak jantungnya kembali normal. Dia tidak ingin perasaanya terhadap Dita mengacaukan pikirannya hari itu. “Reza.. Kamu kenapa? Nervous ya!” tanya Mamanya karena melihat Reza berkali-kali tampak menghembuskan nafasnya dengan kencang. “Santai aja” tambah Mamanya sambil terus memperhatikan jalan mobilnya. “Mangkanya Mama enggak mau Kamu yang nyetir tadi. Mama takut kayak gini..! Kamu nervous, trus nggak konsentrasi nyetir. Nah kalau udah kayak gitu kan bahaya” ujar Mamanya lagi. Reza hanya membisu mendengarkan perkataan Mamanya itu. Reza tidak ingin Mamanya tahu bahwa yang membuatnya gugup dan tertekan bukanlah karena acara wisuda, melainkan karena perasaannya terhadap Dita. Dita yang saat itu duduk di bangku tepat di belakang Reza hanya bisa berdiam diri. Dia tidak mau mencampuri percakapan Mamanya denganReza. Dia yakin Mamanya pasti tidak akan menyukai hal itu. Sepanjang perjalanan menuju tempat acara Wisuda Kakaknya itu, Dita habiskan dengan memainkan handphine-nya.            Setelah tiba di gedung serba guna Universitas Mandiri, yaitu tampat dimana acara wisuda berlangsung, Reza, Dita dan Mamaya segera masuk ke gedung tersebut. Dita dan Mamanya segera duduk di kursi tamu untuk keluarga wisudawan/wisudawati yang telah di tetapkan oleh panitia wisuda. Dan Reza juga segera duduk di kursinya yang tentu saja telah ditentukan oleh panitia. Sama halnya pada saat yudisium, saat wisuda itu pun Reza, Rangga dan Fiko duduk berjejer berdampingan.            Acara wisuda hari itu pun dibuka oleh protokoler wisuda. Protokoler itu pun kemudian membacakan susunan acara wisuda hari itu. Setelah beberapa sesi dari rangkaian acara wisuda berlalu, seluruh hadirin dan seluruh peserta wisuda diminta untuk berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dengan diiringi oleh orkestra, kumandanga lagu indonesia raya yang dinyanyikan oleh peserta wisuda itu terdengar penuh sangat indah dan penuh khidmat. Setelah lagu selesai berkumandang seluruh hadirin dan peserta wisuda pun kembali dipersilahkan duduk. Satu-persatu rangkaian acara wisuda hari itu terlewati hingga akhirnya tiba pada acara pelantikan lulusan oleh Rektor Universitas Mandiri.            Menurut sebagian besar mahasiswa, acara pelantikan lulusan adalah acara puncak atau inti dari acara wisuda. Karena pada acara pelantikan lulusan itulah kuncir topi wisuda yang semula berada di posisi kiri dipindahkan oleh Rektor ke pisisi kanan, dan hal itu merupakan pertanda seorang wisudawan atau wisudawati telah diwisuda dengan kata lain telah disahkannya wisudawan/wisudawati dalam mendapatkan gelar mereka.            Satu-persatu para wisudawan/wisudawati dipanggil dan maju untuk diwisuda. Reza, Rangga dan Fiko satu persatu akhirnya diwisuda hari itu. Wajah-wajah kemenangan terpancar dari wajah mereka. Akhirnya perjuangan mereka menuntut ilmu diperguruan tinggi benar-benar selesai hari itu. Seisi ruangan tampat berlangsungnya acara wisuda di hari itu dipenuhi oleh waja-wajah penuh kebahagiaan. Setelah acara pelantikan lulusan selesai, acara kemudian dilanjutkan dengan acara pengucapan janji wisuda. Saat itu para Wisudawan dan wisudawati pun dipersilahkan berdiri untuk mengucapkan janji wisuda. Reza yang saat itu diembani tugas memimpin pengucapan janji wisuda telah dipersilahkan protokler untuk maju ke depan. Reza pun kemudian berjalan maju ke depan dan berdiri diantara bendera merah putih dan bendera Universitas Mandiri. Setelah menghadap ke arah peserta wisuda, Reza kemudian memegangi ujung bendera merah putih dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang unjung bendera Universitas Mandiri. Setelah itu Reza mulai mengucapkan lafal janji wisuda. Lafal janji wisuda itu kemudian diikuti oleh seluruh peserta wisuda. Setelah lafal janji wisuda selesai Reza pun kemudian dipersilahkan kembali ke tempat duduknya. Setelah itu acara wisuda hari itu dilanjutkan dengan nyanyian lagu Bagimu Negeri oleh peserta wisuda. Setelah semua rangkaian acara wisuda dilaksanakan, akhirnya acara wisuda Universitas Mandiri di hari itu pun berakhir. Diakhir acara wisudanya Reza dan teman-temanya mengabadikan moment-moment itu dengan berfoto. Reza pun tak lupa mengajak Mamanya dan Dita untuk ikut serta berfoto. Saat setelah selesai berfoto-foto, pandangan Dita kemudian tertuju pada sosok seorang laki-laki dan seorang perempuan yang hampir seumuran dengan Mamanya sedang berjalan dan tampak menatapi dirinya. Kedua orang itu tampak berjalan menuju ke arahnya dan Mamanya. Dita kemudian menoleh ke arah Mamanya, dan tampak Mamanya tersenyum ramah kepada kedua orang itu. Setelah kedua orang itu berada tepat di depan mereka, Mamanya pun segera menjabat tangan kedua orang itu. Dita pun kemudian ikut menjabat tangan kedua orang yang belum dikenalinya itu. “Oo ini ya.. yang namanya Dita! Cantik sekali..! Fiko sering lo.. cerita soal Dita ke Tante” ujar perempuan itu kepada Dita sambil menatapi Dita dan tak lupa perempuan itu tersenyum ramah kepada Dita. Dita pun hanya tersenyum menanggapinya. Mendengar perkataan perempuan itu, Dita dapat segera menebak siapa sebenarnya kedua orang yang kini berada di hadapannya itu. Kedua orang itu tak lain adalah orang tua dari Fiko. Setelah beberapa saat kemudian kedua orang tua Fiko tampak sudah asik berbincang-bincang dengan Mamanya. Dita yang tidak mengerti akan obrolan Mamanya, segera mengalihkan pandanganya ke arah Reza yang tampak asik berfoto-foto kembali bersama teman-temannya. Tak lama kemudian Reza tampak berjalan menghampiri dirinya. “Foto berdua sama Kakak yuk. Buat kenang-kenangan..” ujar Reza yang berusaha bersikap normal kepada Dita. Reza kemudian menarik tangan Dita dan menjauh dari Mamanya. Setelah beberapa petik berfoto bersama Dita, Reza pun mengajak Dita berfoto bersama teman-temannya, dan tentu saja di sana ada Rangga dan Fiko. “Dit. Foto sama Kakak yuk!” ajak Rangga. “Ayok” jawab Dita. Rangga dan Dita pun kemudian memisahkan diri untuk berfoto. “Za. Tolong fotoin kita dong!” pinta Rangga sambil menyodorkan kameranya kepada Reza. Reza pun mengambil kamera dari tangan sahabatnya itu, dan menggabil beberapa petik foto Dita bersama Rangga. Fiko pun tak mau ketinggalan untuk berfoto bersama Dita. Akhirnya mereka pun bergantian untuk berfoto bersama Dita. “Dit, sini foto sama Kakak lagi” ajak Rangga. Dita pun kemudian segera berdiri di samping Rangga. Saat hendak berfoto Rangga kemudian meletakkan tangan kanannya di bahu Dita untuk merangkulnya. Di saat Rangga merangkul bahunya, tiba-tiba Dita teringat saat Rangga menyatakan cintanya yang saat itu belum ada jawaban dari dirinya. Setelah mereka selesai berfoto-foto dan Rangga saat itu sedang berdiri di sampingnya, secara perlahan Dita meraih salah satu tangan Ranggga. Rangga pun spontan langsung menoleh ke arah Dita. Namun Dita tidak memperdulikan Rangga yang sedang menatapinya itu. Dita kemudian menarik tangan Rangga dan pergi menjauh dari Reza dan teman-temannya Reza. Reza yang menyaksikan kejadian di depan matanya itu hanya bisa terdiam. Dia membiarkan Dita dan Rangga pergi meninggalkan dirinya. Sementara itu Fiko yang tengah asik melihat hasil jepretannya bersama teman-temannya tidak mengetahui hal yang telah terjadi. “Rangga adalah cowok yang baik. Kakak yakin Rangga pasti bisa jagain Kamu dengan baik. Kakak akan berusaha ngelepasin Kamu, Dit!” ujar Rangga dalam hatinya sambil menatapi kepergian Dita dan Rangga. Saat itu Reza merasakan rasa yang teramat sakit di hatinya. Namun Dia harus menerima kenyataan pahit bahwa Dia tidak bisa memiliki Dita lebih dari seorang Adik. Reza berusaha menyadarkan dirinya bahwa Dita itu adalah Adiknya. “Maafin Kakak. Karena selama ini udah punya rasa yang salah sama Dita. Kakak berharap Dita akan selalu bahagia bersama Rangga” ujar Reza alam hatinya lagi. “Lo.. Dita sama Rangga kok enggak ada. Kemana mereka?” tanya Fiko yang telah selesai urusannya bersama-teman-temannya. “Pergi” jawab Reza singkat. “Pergi kemana? Trus mereka pergi berdua!” tanya Fiko lagi karena penasaran. “Enggak tau!” jawab Reza lagi dengan singkat sambil mengotak atik kameranya. “Serius.. Za! Masa kamu nggak tau mereka kemana” ujar Fiko yang masih penasaran. “Enggak tau.. Fiko..!” jawab Reza yang tampak sedikit kesal. “Jangan-jangan diantara mereka ada apa-apa!” ujar Fiko. “Apa-apa gimana?” tanya Reza berlagak bodoh. “Ya.. ada apa-apa” jawab Fiko yang ragu untuk menjelaskan maksud dari perkataannya. “Udah ah, nggak usah ngurusin mereka. Yuk kita foto-foto lagi!” ajak Reza yang berusaha mengalihkan pembicaraan Fiko. Reza dan Fiko pun kembali mengabadikan kebersamaan mereka bersama teman-temannya, bersama berberapa Dosen yang datang dan bersama orang tua mereka.            Rangga membiarkan tangannya terus digenggam dan ditarik oleh Dita. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Rangga terus mengikuti langkah kaki Dita. Suasana yang begitu ramai saat itu membuat Dita kesulitan menemukan tempat yang tepat untuk memberitahukan Rangga atas jawaban perasaan yang akan disampaikannya itu. Dita terus menerobos keramaian itu, hingga akhirnya ada seorang peserta wisuda yang tanpa sengaja menyeggol tubuh Dita dengan cukup keras. Tubuh Dita pun sedikit oleng. Melihat Dita yang tampak akan terjatuh, Rangga pun dengan sigap menarik tangannya yang masih digenggam erat oleh Dita. Rangga segera menarik tubuh Dita ke arah tubuhnya sehingga Dita pun tidak jadi terjatuh. Tubuh Dita pun akhirnya berada dalam dekapan tangan Rangga, dan hal itu pulalah yang menyebabkan Dita dan Rangga saling bertatapan. Saat itu Rangga merasakan rasa sesak di dadanya, jantungnya pun berdetak dengan hebat. Rangga benar-benar telah dibuat jatuh cinta oleh sosok bidadari yang berada di dalam dekapannya itu. Dimatanya saat itu Dita tampak begitu cantik dan mempesona. Dan Rangga pun berharap waktu berhenti berputar saat itu juga, agar selamanya Dia bisa bersama dengan Dita. Di saat tubuhnya berada dalam dekapan Rangga, Dita malah teringat akan kejadian yang pernah dialaminya saat pesta ulang tahun Reza, Kakaknya. Dimana saat itu Reza-lah yang menangkap tubuhnya saat Dia hampir terjatuh. “Dulu Kak Reza yang nolongin Aku waktu Aku hampir terjatuh. Kak Reza narik tangan Aku dan mendekap Aku kayak gini” ujar Dita dalam hatinya. “Reza, Reza, Reza. Kenapa selalu Kak Reza yang ada dalam otak Aku. Aku enggak boleh kayak gini terus. Reza udah milih Yeyen. Sadar Dita…! Sadar…! Aku harus belajar ngelupain Kak Reza. Aku harus bisa merelakan Kak Reza pergi dari hati Aku” ujar Dita lagi dalam hatinya. Dita pun menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan Reza dari benaknya, dan setelah itu Dita pun tersadar dari bayangan masa lalunya bersama Reza. Dita kemudian melihat Rangga yang tampak sedang menatapi dirinya. “Kak Rangga. Kak..!” panggil Dita pada Rangga yang sedang mematung. Panggilan Dita itu pun membuat Rangga segera tersadar, Rangga kemudian dengan segera membangunkan tubuh Dita. “Kamu enggak apa-apa Dit?” tanya Rangga setelah Dita berdiri. “Nggak apa-apa Kak. Dita baik-baik aja” jawab Dita. “Makasih ya Kak, tadi udah nolong Dita” ujar Dita sambil menatap ke arah Rangga. “Iya” jawab Rangga sambil tersenyum dan mengelus kepala Dita dengan hangat. “Yang dulu Kakak pernah bilang sama Dita. Itu… mmmm…” ujar Dita yang kemudian terhenti dan ragu-ragu untuk dilanjutkannya. “Dulu..! Kakak bilang apa ya..? Emangnya Kakak ada bilang sesuatu ke Dita! ” ujar Rangga berpura-pura penasaran akan perkataan Dita. “Dulu kak Rangga pernah bilang… mmmm…” ujar Dita lagi yang masih ragu-ragu untuk menyampaikan maksudnya. Saat itu Dita binggung akan memulai pembicaraannya dari mana. Rangga yang saat itu sudah tahu arah pembicaraan Dita, segera meraih tangan Dita dan memandangi Dita dengan hangat. “Dita, dengerin Kakak! Kakak enggak pernah maksa Dita untuk suka sama Kakak, apalagi untuk cinta sama Kakak. Perasaan itu enggak bisa dipaksain Dit. Dita harus jujur sama perasaan Dita. Dita harus…” ujar Rangga yang seketika berhenti berbicara. “Iya. Dita mau jadi pacar Kak Rangga” ujar Dita memotong pembicaraan Rangga. “Apa?” tanya Rangga sambil menatap jauh ke dalam bola mata Dita. “Apa Dita yakin dengan yang barusan Dita bilang” ujar Rangga lagi untuk memastikan perkataan Dita. “Iya, Dita mau menjadi pacar Kak Rangga. Tapi.. Dita takut, Dita nggak bisa jadi pacar yang baik buat Kak Rangga. Kak Rangga adalah orang yang baik banget. Sedangkan Dita, Dita nggak sebaik Kak Rangga” ujar Dita sambil menatap langsung ke arah mata Rangga yang masih menatapi dirinya. “Dita! Kakak suka sama Dita, dan Kakak sayang sama Dita, itu karena apa adanya Dita” ujar Rangga meyakinkan Dita. Rangga kemudian memeluk tubuh Dita dan mencium keningnya. Rangga merasa sangat bahagia hari itu, karena wanita yang selama ini disukainya kini berada dalam pelukannya. Sementara itu Dita merasa sangat bersalah kepada Rangga. Karena telah memanfaatkan cinta Rangga untuk membantunya melupakan Reza. Tapi cara itu harus ditempuhnya, agar Dia bisa membunuh rasa cintanya kepada Reza dan benar-benar bisa melupakan Reza untuk selamanya. XXX                     XXX                     XXX        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN