10

3465 Kata
5 Satu bulan telah berlalu dari hari wisuda Reza. Hari itu Reza telah berkemas-kemas untuk berangkat ke luar kota seperti rencananya dahulu. Reza yang tidak ingin merasakan kesedihan akibat berpisah dengan Dita, sengaja tidak memberitahukan kepada Dita tentang keberangkatanya. Reza hanya meninggalkan sepucuk surat untuk Dita. Dita yang hari itu sedang kuliah tidak menyadari bahwa Reza telah pergi. Saat Dita tiba di rumahnya, Dita disambut oleh Bu Retno dengan wajah yang sedih. “Bu Retno. Bu Retno kenapa…?” tanya Dita setelah Bu Retno membuka pintu dan tampak sedih. “Maafin Ibu Mbak. Ibu nggak disuruh kasih tau Mbak Dita” ujar Bu Retno dengan wajah yang semakin sedih. “Bu Retno ada apa...?” tanya Dita khawatir. “Mas Reza, udah berangkat tadi pagi” ujar Bu Retno. “Enggak..! Nggak mungkin! Nggak mungkin kak Reza pergi tanpa pamitan sama Dita” ujar Dita tidak percaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat itu juga ada perasaan sedih yang hinggap di hatinya. Namun Dita tidak mau memrpercayai akan hal yang telah disampaikan oleh Bu Retno kepadanya saat itu. Dita kemudian langsung berlari masuk ke dalam rumah dan bergegas menuju kamar Reza. Setelah pintu kamar Reza dibuka, Dita pun tidak melihat ada Reza di sana. Untuk memastikan bahwa Reza benar-benar telah pergi, Dita kemudian membuka lemari pakaian Reza, Dita melihat lemari pakaian Reza sudah hampir kosong. Dita pun tak mampu menahan tangisnya, air matanya langsung tumpah seketika, hatinya benar-benar sakit, Dita benar-benar merasa sedih dengan kenyataan itu. Dita pun segera berlari ke kamarnya. Di kamarnya, saat hendak mengambil boneka Papa, Dita melihat ada sepucuk surat di samping boneka Papa. Di atas surat itu tampak ada sebuah pena yang dulu pernah Dia berikan kepada Reza. Dita kemudian meraih surat itu dan perlahan membukanya. “Hai Dita. Sebelumnya Kakak minta maaf, karena Kakak enggak kasih tau Dita mengenai keberangkatan Kakak. Dita pasti kecewa dan marah sama Kakak. Pena yang dulu Dita kasih sama Kakak, Kakak kembaliin sama Dita. Dulu Dita pernah bilang, Kakak harus kembaliin pena ini beserta sebuah penjelasan. Mungkin inilah saatnya untuk Dita mengetahui semuanya. Sebenarnya Kakak sangat takut Dita akan marah. Kakak Takut Dita akan sangat benc samai kakak. Kakak binggung harus memulainya dari mana. Dita, sekali lagi Kakak minta maaf. Jika nanti karena penjelasan ini, Dita marah dan benci sama Kakak, Kakak akan terima dan memang sepatutnya Dita benci sama Kakak. Kakak siap menerima semua itu, tapi tolong jangan pernah hapus Kakak dari ingatan Dita. Apa Dita ingat acara ulang tahun Kakak waktu kelas 3 SMA dulu. Waktu itu Dita masih kelas 1 SMA. Di malam itulah Kakak mulai menyadari ada yang salah dalam diri Kakak. Di malam itu, saat Kakak memandangi Dita yang terjatuh di pelukan Kakak, Kakak merasa jantung Kakak seakan mau copot. Waktu itu Kakak belum tahu pasti perasaaan apa yang ada di hati Kakak. Semenjak malam itu, hari-hari Kakak hanya dipenuhi oleh bayangan Dita. Sampai suatu hari Kakak melihat Dita tertidur di kamar Kakak. Waktu itu Kakak memandangi kamu dari dekat untuk meyakinkan perasaan apa yang Kakak miliki. Kemudian jantung Kakak kembali bergejolak saat memandangi kamu. Dan semenjak itu Kakak sadar bahwa itu adalah cinta. Kakak jatuh cinta sama Dita, Adik Kakak sendiri. Kakak benar-benar gila memikirkan hal itu. Semenjak itu Kakak memutuskan untuk menghindari kamu. Kakak memilih berbuat kasar sama Dita, Kakak acuh sama kamu, itu semua Kakak lakuin untuk membunuh rasa cinta Kakak sama kamu. Karena menurut Kakak, itu adalah hal terbaik yang harus Kakak lakukan. Dan saat itu Kakak sengaja melanjutkan kuliah ke Jakarta untuk menjauhi kamu. Tapi tak disangka saat kamu tamat SMA, mama malah memusatkan bisnisnya di Jakarta juga, dan akhirnya Kakak dipertemukan kembali dengan kamu. Sebenarnya Kakak enggak mau melakukan semua ini sama Dita, karena Kakak sangat sayang sama Dita. Tapi Kakak juga enggak sanggup jika harus menderita karena perasaan Kakak ini. Kakak juga enggak memberitahukan soal keberangkatan Kakak sama kamu, karena Kakak takut nantinya Kakak enggak sanggup menahan air mata Kakak, saat harus berpisah dengan kamu. Dita, tolong kasih Kakak waktu dan kesempatan untuk membenahi dairi dan hati Kakak. Agar nanti saat Kakak pulang, Kakak udah punya hati seperti yang dulu. Hati yang tulus menyayangi dan mencintai kamu sebagai Adik Kakak. Sekali lagi Kakak minta maaf. Ada satu hal lagi yang harus Kakak sampaikan dengan jujur sama Dita. Sebenarnya Kakak sangat cemburu saat mengetahui bahwa Dita menerima cinta dari Rangga. Saat itu hati Kakak bener-bener hancur. Kakak bener-bener minta maaf, karena telah memiliki rasa seperti ini. Tolong maafin Kakak” Dita tak mampu menahan air matanya saat membaca surat dari Kakaknya itu. Air matanya terus berlinang sepanjang Dia membaca surat itu. Dita semakin terisak-isak saat Dia membaca baris terakhir dari surat itu. “Lagu yang Kakak nyanyiin saat kegiatan bakti sosial dulu, itu adalah buat Dita” Dita merasa hatinya seakan ditusuk-tusuk oleh pisau yang sangat tajam. Hatinya saat itu terasa sangat sakit. Dita menagis sejadi-jadinya, Dita tidak mampu menahan kesedihannya. Saat mengetahui kenyataan bahwa Reza menyukainya, seharusnya Dita merasa senang, tapi entah kenapa saat itu yang dirasakan Dita adalah rasa sakit yang teramat dalam. Dita merasa kacau dan bingung dengan apa yang Dia rasakan saat itu. Dia hanya bisa terus menangis meratapi semua kenyataan yang baru diterimannya itu. Setelah kepergian Reza, Dita sedikit kehilangan semangat hidupnya. Hari-hari dilaluinya dengan perasaan hampa. Dita benar-benar merasa kesepian dan kehillangan semenjak kepergian Reza. Meskipun selama ini Reza jarang menegurnya ataupun cuek terhadap dirinya, tapi Dita tetap merasa senang karena Dia masih bisa melihat sosok Reza ada di hadapannya. “Dit, Kok ngelamun aja” sapa Zian yang melihat Dita tampak melamun Di bangku taman kampus. “Oh.. Zian ngagetin aja” jawab Dita yang tersadar dari lamunannya. “Sendirian aja?” tanya Zian karena tak melihat seorang pun berada disekitar Dita. Zian kemudian duduk di samping Dita. “Enggak. Tadi ke sini bareng Beni. Beninya lagi nyari minum trus sekalian mau jemput Citra di perpustakaan” jawab Dita. “Ke kantin yuk!” ajak zian sambil menoleh ke arah Dita. “Tunggu Beni sama Citra dulu ya Zian. Tadi Beni bilang mau ke sini lagi.. kan kasian kalau Dia ke sisni kita udah nggak ada” jawab Dita. Dita dan Zian akhirnya menunggu kedua sahabatnya itu. Sambil menunggu kedua sahabatnya itu, Dita dan Zian pun memanfaatkan waktunya untuk membahas tugas akhir semester mereka. Tugas akhir semester mereka saat itu adalah membuat laporan dari hasil penelitian tentang anak-anak jalanan dan pengamen. Saat tengah asik membahas mengenai tugas mereka itu, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil berbunyi beberapa kali dari arah jalan yang tak jauh dari tempat duduk Dita dan Zian. “Bip.. bip..bip..” mendengar suara klakson yang berulang-ulang kali itu Dita dan dan Zian pun menoleh ke arah sumber klakson itu. “Dita! Zian!” panggil Beni dari dalam mobil setelah membuka kaca mobilnya. Didalam Mobil tampak Citra yang duduk di sebelah Beni sedang melambai-lambaikan tangannya kepada Dita dan Zian. “Kita nyari makan di luar kampus aja yuk” ajak Beni kepada kedua sahabatnya itu yang telah berada di dekat mobilnya. “Waktunya cukup nggak? Satu jam lagi kita masuk lo!” ujar Zian memperingatkan sahabat-sahabatnya itu. “Aman..! Tenang aja. Ayo masuk” ujar Beni meyakinkan Zian dan Dita. “Iya.. tenang aja” tambah Citra. “Kalau Aku sih..terserah” ujar Dita yang sebenarnya tampak binggung. Setelah menimbang-nimbang untuk beberapa saat, Dita dan Zian pun akhirnya mengikuti ajakan Beni dan Citra. Akhirnya keempat sahabat itu meluncur keluar area kampusnya untuk mencari tempat makan siang mereka. Mobil Beni terus meluncur di jalan raya hingga tiba di depan sebuah rumah makan yang cukup besar. Beni segera memarkirkan mobilnya di depan rumah makan itu. Rumah makan itu tampak ramai dengan pengunjung. Dita dan sahabat-sahabatnya itu segera masuk ke dalam rumah makan tersebut. Suasana di dalam rumah makan itu benar-benar ramai, hal itu dikarenakan menu yang disajikan oleh rumah makan itu sangat banyak dan bervariasi. Dita dan ketiga sahabatnya itu pun kemudian segera memesan makanan dan minuman untuk makan siang mereka. Setelah beberapa lama menunggu, makanan yang mereka pesan belum juga datang. Yang telah tersaji di meja mereka saat itu hanyalah jus dan beberpa makanan ringan yang telah mereka pesan. “Bu..! Permisi..!” ujar Dita memanggil seorang Ibu yang tampak sedang mengantarkan makanan ke salah satu meja. “Pesanan kita mana ya Bu?” tanya Dita setelah Ibu itu menghampirinya. “Sebentar ya Mbak, itu lagi dibikinin” jawab ibu itu. Ibu-ibu itu kemudian pergi dari hadapan Dita dan sahabat-sahabatnya. “Gimana ni..! sekarang udah jam setengah dua lewat lo. Jam dua kita masuk” ujar Dita mengingatkan teman-temannya. “Ya gimana? Masa kita batalin pesenannya” jawab Beni yang tampak sedikit binggung. Zian dan Citra pun tampak gelisah. “Trus gimana? Kayaknya kita bakal telat ni” ujar Zian kemudian. Saat sedang membahas mengenai pesanan makanan mereka yang tak kunjung datang, tiba-tiba seorang Ibu-ibu datang menghampiri meja mereka dengan membawa sebuah nampan besar yang berisikan pesanan makanan mereka. Dengan segera Dita dan sahabat-sahabatnya itu menyantap makanan yang telah disajikan itu. Mereka menghabiskan makanannya dengan tergesa-gesa karena takut terlambat masuk kuliah. Setelah tiba di kampusnya dan setelah memarkirkan mobilnya, Dita, Zian, Citra dan Beni segera berlari menuju ruangan dimana kelas siang itu berlangsung. Setibanya mereka di depan pintu, tampak anak-anak yang berada di dalam ruangan sedang berfokus mendengarkan penjelasan dari Dosen mereka itu. Setelah mengetuk pintu Beni, Zian, Dita dan Citra beriringan mulai melangkahkan kaki mereka untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. “Kalian.. berempat. Keluar aja” ujar dosen tersebut sesaat Beni melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. “Iya Pak” jawab Beni. Beni segera membalikkan badannya dan diikuti oleh ketiga sahabatnya itu. Mereka pun pergi menjauh dari ruangan itu. Setelah berada jauh dari ruangan itu, Dita cekikikan menertawakan kekonyolan yang telah diperbuatnya bersama sahabat-sahabatnya itu. Melihat Dita yang cekikikan ketiga sahabatnya itu pun ikut cekikikan. Mereka pun asik menertawakan kebodohan telah mereka perbuat itu. Hari itu adalah untuk pertama kalinya Dita di usir dari ruang perkuliahan. Berbeda halnya dengan Beni, Beni adalah sahabatnya yang sering kali di usir dari ruang perkuliahan karena terlambat. Namun Dita tidak merasa marah ataupun kesal karena tidak dapat mengikuti mata kuliah hari, Dita malah merasa bahagia. Dita merasa bahagia bisa tertawa berrsama Sahabat-sahabatnya itu. Kebahagiaan yang diciptakan para sahabatnya itulah yang bisa membuat Dita terus bertahan menjalani hidupnya. Selain Sahabat-sahabatnya itu Dita juga memiliki Rangga yang selalu ada untuknya. Rangga selalu memberikan supportnya untuk Dita. Hari-hari Dita yang terasa membosankan saat berada di rumah pun hilang karena ada Rangga yang selalu menghubunginya. Setiap hari Rangga selalu meluangkan waktunya untuk menghubungi Dita. Dita sangat bersyukur, karena dihidupnya dia masih diberi kesempatan untuk disayangi oleh seseorang sangat baik seperti Rangga. Ranggalah yang kini satu-satu menjadi tempat Dita berbagi. XXX XXX XXX Di Suatu malam setelah Dita menerima telpon dari Rangga, Dita juga menerima telpon dari Mamanya. “Halo..! Dita! Dita temenin Mama dinner ya malam ini” ujar Mamanya di telpon. “Dinner!” ujar Dita mengulangi perkataan Mamanya karena binggung. “Iya..! temenin Mama dinner malam ini” ujar Mamanya lagi. “O.. iya Ma, iya” jawab Dita sedikit terbata-bata. “Dita naik taksi aja. Nanti Mama pesankan” ujar Mamanya. Mamanya kemudian mengirimkan alamat sebuah restoran kepada Dita melalui w******p. Dita cukup terkejut mengdengar apa yang dikatakan Mamanya di telpon. Itu adalah untuk pertama kali Mamanya mengajaknya dinner berdua. Betapa senangnya Dita malam itu. Setelah mamanya menutup telpon, Dita dengan segera berdandan dan tanpa membuang waktu Dita langsung menuju tempat yang diberitahukan oleh Mamanya. Persaan bosan yang dirasakan oleh Dita ssat itu seketika menghilang dan berganti dengan perasaan penuh kebahagiaan. Di perjalanan menuju tempat dinner, Dita tak henti-hentinya tersenyum karena bahagia. Setelah tiba di restoran yang dimaksudkan oleh Mamanya, Dita bergegas masuk ke restoran terrsebut. Dita sudah tidak sabar untuk menemui Mamanya. Senyuman bahagia terpancar jelas di wajahnya. Dita kemudian memandangi sekeliling ruangan restoran itu untuk mencari Mamanya. Dari arah sisi kanan restoran itu Dita melihat Mamanya sedang melambaikan tangan ke arahnya. Di saat itu juga Dita melihat ada 3 orang lainnya yang sedang duduk bersama Mamanya. Dari kejauhan Dita tidak dapat mengenali ketiga orang tersebut. Dita pun kemudian berjalan perlahan menhampiri Mamanya. Semakin Dita berjalan mendekati meja tersebut, ketiga orang yang duduk bersama Mamanya itu mulai terlihat jelas di mata Dita. Ketiga orang itu adalah Fiko dan kedua orang tuanya. Senyuman penuh kebahagiaan di wajah Dita pun seketika menghilang. “Ma. Om, Tamte. Selamat malam” sapa Dita dengan ramah setelah berada di dekat meja makan itu. “Malam Dita, ayo duduk” ujar Ibunya Fiko dengan ramah. “Iya Tante” jawab Dita. Dita pun kemudian segera duduk di samping Mamanya. Ibu Fiko tersenyum ramah memandangi Dita. “Apa kabar Dita?” tanya ibu Fiko setelah Dita duduk. “Baik Tante” jawab Dita sambil tersenyum ramah pula. “Ayo dimakan!” ujar Ibu Fiko sambil memindahkan beberapa makanan ke hadapan Dita. “Kok Dita datengnya enggak bareng Mama?” tanya Ibu Fiko. “Apa...? Mmm.. itu..” ujar Dita yang kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut. “Saya tadi berangkat dari butik, jadi nggak bisa berangkat bareng Dita. Kemaren-kemaren saya juga lupa untuk ngasih tau Dita, kalau malam ini ada undangan dinner. Saat saya mau berangkat ke sini tadi, saya baru ingat kalau saya belum memberitahukan Dita. Maaf ya Mbak, gara-gara saya, Dita jadi telat datengnya” ujar Mamanya memotong perkataan Dita untuk memberikan alasan kepada Ibunya Fiko. “Ah.. Nggak apa-apa.. yang penting sekarang Dita udah ada di sini” ujar Ibu Fiko dengan lembut dan sangat ramah. Dita hanya melemparkan senyumannya kepada Ibu Fiko atas penjelasan dari Mamanya itu. Sambil menyantap makanannya, Dita berusaha melirik Fiko yang berada di arah kanannya itu. Malam itu Fiko tampak berbeda dari biasanya. Fiko yang jahil, yang usil tampak tak banyak bicara malam itu. Dita hanya melihat Fiko yang kalem, yang manis dan berwibawa malam itu. Beberapa kali Dita melihat Fiko tersenyum ramah menanggapi obrolan di hadapannya itu. Karena sikap Fiko yang begitu berbeda dari biasanya, Dita pun menjadi terpana, hingga berkali-kali Dita melirik ke arah Fiko. “Dita, ada yang ingin kami bicarakan sama Dita” ujar ibu Fiko setelah lama mereka bercengkrama. “Mama Kamu, Om dan Tante udah sepakat untuk menjodohkan Kamu sama Fiko” ujar Ibu Fiko sambil menatapi Dita dengan lembut. Dita yang saat itu sedang mengangkat gelas air minumnya, spontan segera meletakkan gelasnya kembali. Rasa hausnya mendadak hilang. Dita sangat terkejut mendengar perkataan dari Ibunya Fiko itu. Dita pun spontan langsung menatap ke arah Ibunya Fiko. Dita benar-benar tidak percaya akan hal yang telah didengarnya itu. Dita kemudian mengalihkan tatapanya ke Arah Mamanya. Untuk beberapa saat Dita terus memandangi Mamanya, Dia berharap Mamanya akan menjelaskan semua hal itu kepadanya. “Iya Dita, udah lama Ibunya Fiko bilang ini sama Mama. Ini juga untuk lebih mendekatkan keluarga kita. Lagian Kamu sama Fiko kan udah lama saling kenal, pasti akan mudah untuk kalian membina hubungan yang lebih serius. Oh iya, Sekarang Fiko udah bekerja di hotel milik papanya lo! Dan kalau kalian udah menikah nanti, hotel itu akan diserahkan sepenuhnya pada Fiko. Hidup Kamu pasti akan terjamin bersama Fiko. Iyakan Mbak Lastri!” ujar mamanya panjang lebar sambil memamerkan senyumannya yang ramah di hadapan semua orang yang ada di sana. Tanpa memikirkan perasaan Dita yang hancur, Mamanya terus berbicara mengenai perjodohannya dengan Fiko. Dita melihat Mamanya tampak sangat bahagia dengan perjodohan itu. Tak henti-henti Mamanya memuji Fiko dan keluarganya di depan Dita. Mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut Mamanya itu, membuat Dita merasa sangat sedih. Mata Dita pun mulai berkaca-kaca dan sebelum air matanya tumpah, Dita dengan segera meminta izin untuk pergi ke kamar kecil. Setibanya di toilet air mata Dita langsung mengalir deras. Dita kemudian mencubit-cubit tangannya dan menepuk-nepuk pipinya untuk memastikan bahwa peristiwa yang baru dialaminya itu hanyalah mimpi. Dita merasa sangat sedih, hati Dita terasa sangat sakit oleh perlakuan Mamanya itu. “Kenapa Mama tega banget sama Dita! Apa Mama benci banget sama Dita! Kenapa Mama ngelakuin ini! Kenapa mama jodohin Dita! Dita benci sama Mama! Mama jahat!” ujar Dita dalam hatinya sambil terus menagis di dalam toilet. Dita berusaha menghentikan tangisnya. Dita takut, bila dia berlama-lama di toilet Mamanya pasti akan memarahinya. Dita kemudian segera merapikan pakaiannya dan memulas wajahnya dengan bedak agar tak tampak dirinya habis menangis. XXX XXX XXX Di suatu malam Mamanya memanggil Dita ke ruang kerjanya. Saat itu Dita diajak berbicara empat mata oleh mamanya. “Ada yamg perlu mama omongin sama Kamu” ujar mamanya kepada Dita, setelah Dita duduk disalah satu kursi di ruang kerja Mamanya. Sementara itu Dita hanya duduk dan berdiam diri sambil memandangi Mamanya yang tengah berdiri disamping meja kerjanya. “Mama selama ini enggak pernah minta apapun dari Kamu. Untuk sekali ini aja Mama minta tolong, jangan tolak perjodohan ini. Mama tau Kamu dan Rangga punya hubungan yang lebih dari sekedar teman. Tapi Ibunya Fiko itu rekan bisnis Mama dan Ibunya Fiko yang membantu Mama saat dulu butik Mama mengalami masalah keuangan. Jadi tolong jangan kecewain Mama. Mama nggak mau bisnis Mama hancur gara-gara perjodohan ini batal. Bisnis ini sangat penting untuk Mama. Dari sanalah Mama mencari uang untuk membiayai kehidupan kita. Jadi mulai sekarang belajarlah untuk menyukai Fiko dan lupain Rangga” ujar mamanya penjang lebar. Mamanya terus mengutarakan semua isi hatinya tanpa membiarkan Dita berucap sepatah kata pun. Setelah mamanya selesai mengutarakan semua perasaannya, Mamanya segera pergi meninggalkan Dita yang masih terpaku di tempat duduknya. Dita merasa beban dihatinya semakin bertambah. Dita tertekan akan semua hal yang menimpa dirinya. Dita kehilangan semangat serta kehilangan tujuan hidupnya. Dita pun akhirnya bermalas-malasan melakukan aktivitasnya termasuk kuliah. Hari-hari dihabiskan Dita hanya dengan menangis dan bermalas-malasan di kamarnya. Telpon dari para sahabatnya pun tak pernah dihiraukan oleh Dita. Bahkan telpon dari Rangga pun dibiarkan saja oleh Dita. Hari itu telah berkali-kali Dita mendengar nada panggilan masuk dari handphonenya, tapi Dita tidak memperdulikannya. Dita terus saja memandangi hamparan langit biru dari jendela kamarnya. Dita benar-benar merasa lelah dengan kehidupan yang dijalaninya itu. “Tok..tok..tok” terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Dita. “Mbak Dita. Ini Bu Retno” ujar Bu Retno dari balik pintu. “Di luar ada Mas Rangga” ujar Bu Retno lagi. Dita hanya berdiam diri sambil terus mamandang ke luar jendela. “Mbak Dita..! Mbak ada di dalam nggak?” tanya Bu Retno karena tak ada jawaban dari Dita. Bu Retno kemudian kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar Dita. Sebenarnya saat itu Dita tidak ingin menemui Rangga. Dita tidak mau Rangga melihat matanya yang sembab. Tapi Dita juga tidak inggin mengecewakan Rangga yang telah meluangkan waktu untuk menemui dirinya. Selain itu, Dita juga akan merasa sangat bersalah jika Dia menolak kedatangan Rangga dan membiarkan Rangga pulang begitu saja. “Kak Rangga” sapa Dita setelah berada di teras rumahnya. Dita kemudian segera duduk di samping Rangga. “Maafin Dita ya Kak! Udah ngebuat Kakak nunggu lama” ujar Dita dengan kepala tertunduk. Dita tidak ingin Rangga sampai melihat wajahnya. Melihat Dita yang terus tertunduk Rangga segera memegang wajah Dita dan menengadahkan wajah Dita ke arah wajahnya. Rangga pun terkejut saat melihat wajah Dita yang kusut dan dengan mata yang sembab. “Dita kenapa..?Apa Dita ada masalah? Bilang sama Kakak” ujar Rangga khawatir sambil menatap mata Dita. “Citra bilang udah beberapa hari ini Dita nggak masuk kuliah dan Dita juga nggak pernah angkat telpon dari Kakak. Dita ada masalah apa? Cerita sama Kakak!” ujar Rangga lagi sambil menggenggam erat kedua tangan Dita. “Ada masalah sama Mama ya? Dita harus cerita sama Kakak, biar Kakak bisa bantu cari solusinya” ujar Rangga yang mengkhawatirkan kondisi Dita. Dita hanya terdiam, saat itu Dita belum siap untuk membicarakan masalah perjodohannya dengan Fiko yang telah diatur oleh Mamanya. Dita sangat takut Rangga akan marah bila Dia menceritakan tentang perjodohannya itu. Dita terus berdiam diri dan kemudian menundukkan pandangannya. Melihat Dita yang terus berdiam diri dan tampak belum siap untuk berbicara, Rangga pun segera merangkul bahu Dita. “Kalau Dita belum siap cerita sama Kakak sekarang, nggak apa-apa. Dita keliatannya capek banget, Dita istirahat aja ya! Jangan lupa makan dan jaga kesehatan” ujar Rangga sambil menbelai rambut Dita dengan penuh kasih sayang. Saat itu Rangga tidak ingin membuat beban Dita bertambah berat dengan pertanyaan-pertanyaan darinya. Maka Rangga pun membiarkan Dita terus membisu. Rangga yakin suatu saat nanti Dita pasti akan menceritakan semuanya. “Dita istirahat ya! Kakak pulang dulu” ujar Rangga. Dita hanya menganggukan kepalanya. Dita pun mengantarkan Rangga sampai ke mobilnya. Di depan mobilnya Rangga kembali membelai Rambut Dita dengan penuh kasih sayang. Karena perlakuan Rangga yang sangat baik dan hangat itulah terkadang membuat Dita tak mampu menahan air matanya. Dita terkadang merasa sangat bersalah terhadap Rangga. Dita sering membenci dirinya yang selalu tidak bisa jujur terhadap Rangga. Kabaikan yang diterimanya dari Rangga, tak pernah mampu dibalasnya dengan baik. Karena itulah Dita sangat sulit menahan air matanya saat menerima semua kebaikan dari Rangga. XXX XXX XXX
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN