11

2351 Kata
Sejak malam perjodohan itu Mamanya sering mengatur pertemuan antara Dita dan Fiko. Mulai dari acara dinner, pergi ke taman hiburan, menemani Fiko makan siang bahkan sampai menemani Fiko ke acara-acara kantornya, semua itu telah di atur secara rapi oleh Mamanya. “Kakak ini kenapa sih! Kenapa Kakak diem aja waktu kita dijodohin. Harusnya malam itu Kakak nolak semua ini. Kakak kan tahu sendiri kalau Dita nggak mungkin ngebantah Mama. Kak Fiko kan tau, gimana hubungan Dita sama Mama. Jadi harusnya malam itu Kakak yang berusaha nolak perjodohan ini” ujar Dita penuh emosi di dalam mobil Fiko saat hendak pergi menemani Fiko dinner. Malam itu Dita menumpahkan semua kekesalannya kepada Fiko. Amarah Dita meluap-luap, Dita melontarkan semua perkataan yang membuat hatinya merasa puas. Tapi di saat itu Dita tidak mendengar ada sepatah kata pun terucap dari mulut Fiko. Dan Dita pun tidak menghiraukan Fiko yang terus berdiam diri. “Kakak tau kan kalau kita ini nggak cocok. Kakak nggak suka kan sama Dita dan Dita juga nggak suka sama Kakak. Jadi sampai kapanpun kita nggak akan pernah cocok” ujar Dita yang terus saja meluapkan kekesalannya. Sementara itu Fiko terus saja membiarkan Dita mengeluarkan semua amarahnya. Fiko terus metanap lurus ke arah jalan mobilnya. Setelah Dita berhenti dari ocehannya Fiko kemudian memalingkan wajahnya ke arah Dita sambil melemparkan sebuah senyuman kepada Dita. “Udah puas..? Udah lega..?” tanya Fiko sambil memandangi Dita yang masih terlihat kesal. “Kakak akan berusaha menghentikan apa yang Kakak nggak suka. Tapi untuk hal ini.. Kakak lumayan menyukainya. Kakak mau liat sampai sejauh mana seorang Meggi Anandita akan berusaha mengagalkan perjodohan ini. Tapi Kamu harus ingat! kalau perjodohan ini gagal, maka kerjasama bisnis orang tua kita juga akan berakhir” ujar Fiko lagi yang kemudian tersenyum puas dan setelah itu Fiko pun mengedipkan sebelah matanya. Melihat ulah Fiko itu, Dita menjadi semakin kesal, tapi Dita tidak mampu berbuat apapun. Saat itu Dita hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredam emosinya. Dita termangu memandangi tumpukan buku dan beberapa skripsi yang ada di hadapannya itu. Dengan menopangkan tangan kirinya ke pipi dan sambil memain-mainkan penan di tangan kanannya Dita terus memandangi tumpukan buku dan skripsi itu. Setelah beberapa saat kemudian Dita menurunkan tangan kirinya dan meluruskannya ke atas meja, lalu Dita pun merebahkan kepalanya dan meletakkan kepalanya tepat di atas tangannya itu. Saat itu Dita masih sangat enggan menggunakan otaknya untuk berpikir mengenai tugas kuliahnya. Dita hanya bermalas-malasan saja di perpustakaan hari itu. “Skripsi. Apa Aku bisa sampai ke titik itu? Apa aku bisa bertahansampai mendapatkan gelar Sarjana?” ujar Dita dalam hati sambil terus memandangi tumpukan skripsi itu. Dita kemudian memejamkan matanya, Dia berusaha untuk mengosongkan pikirannya. Dia ingin melupakan semua hal yang telah menimpanya. “Dit, ngapain Kamu? Tidur ya..!” sapa Citra sambil menepuk bahu Dita. Citra kemudian segera duduk di sebelah Dita, lalu Citra mengambil salah satu skripsi yang masih tersusun rapi di hadapan Dita. “Kok dikit banget skripsinya, emangnya ini udah cukup buat referensi tugas kita” ujar Citra. “Tugas Kamu udah selesai ya Dit?” tanya Citra kemudian. “Belum” jawab Dita singkat. “Belum..! Kok Kamu malah tidur-tiduran?” ujar Citra sedikit heran. “Males” jawab Dita lagi dengan singkat. “Males..!” ujar Citra terkejut. “Biasanya kan Kamu yang paling semangat kalau ada tugas. Trus biasanya Kamu yang duluan nyelesain tugas daripada kita-kita” ujar Citra lagi dengan nadanya yang nyinyir sambil memandangi Dita dengan heran. “Kamu lagi ada masalaj ya Dit? Cerita dong..!” ujar Citra sambil memegang tangan Dita. Dita kemudian menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kencangs ambil menarik tangannya yang sedang dipegang oleh Citra. Dita kemudian mengambil sebuah Skripsi dan mulai membukannya. “Zian sama Beni mana?” Tanya Dita sambil terus memperhatikan lembaran skripsi yang telah dibukanya. “Tadi katanya sih mereka mau langsung pulang. Hari ini mereka udah ada janji sama teman-temanya mau ngegame bareng di rumah Beni” jawab Citra. “Oo..” jawab Dita singkat. Dita kemudian hanya terdiam sambil terus memandangi lembaran skripsi dihadapannya. Satu-persatu lemabaran skripsi itu dibuka oleh Dita, dan Dita mulai tampak berpikir untuk mulai menerjakan tugasnya. Setelah selesai dengan skripsi yang dipegangnya, Dita kemudian mengambil sebuah buku tentang kenakalan remaja yang akan menjadi acuannya menulis tugasnya. Dengan seksama Dita membaca buku tersebut, hingga tiba-tiba terdengar suara etaran HP di atas meja. “Drrrt... drrrt.. drrrt...” HP Dita bergetar berkali-kali di atas meja. Dita segera meraih Hpnya, dan Dia melihat itu adalah telpon dari Mamanya. Dita pun segera mengangkat telpon dari Mamanya itu. “Hallo Ma” sapa Dita dengan suara pelan karena sedang berada di dalam ruang perpustakaan. “Kamu dimana sekarang?” tanya Mamanya. “Di perpustakaan Ma. Sebentar lagi Dita pulang” jawab Dita yang takut Mamanya akan marah karena Dia belum pulang. “Tunggu aja di sana nanti Fiko yang jemput” ujar Mamanya. Tanpa membiarkan Dita menjawab iya atau tidak, Mamanya segera menutup telponnya. Dita pun menghela nafasnya atas perlakuan mamanya itu. “Kenapa Dit? Mama Kamu nyuruh pulang ya?” tanya Citra setelah Dita meletakkan Hpnya diatas meja. “Iya” jawab Dita. “Cit, Aku pulang Duluan nggak pa pa ya..!” ujar Dita sambil membereskan buku-bukunya di atas meja. “Sip..! Nggak pa pa” jawab Citra sambil mengacungkan jempolnya kepada Dita. Setelah membereskan semua buku dan peralatan tulisnya Dita segera pergi meninggalkan Citra yang masih tampak bersemangat mengerjakan tugasnya. Setelah berada di luar perpustakaan Dita memilih duduk dibawah sebuah pohon yang rindang untuk menunggu Fiko. “Bip..Bip..Bip..” Fiko membunyikan klakson mobilnya, lalu Fiko membuka jendela mobilnya dan melemparkan senyumannya kepada Dita. Dita hanya melihat Fiko dengan tatapan dingin. Dengan perasaan enggan Dita berjalan menuju mobil Fiko. Selain kuliah, waktu Dita pun banyak dihabiskannya bersama Fiko dengan hal-hal yang menurutnya sangat membosankan. Dita sangat terpaksa setiap kali di ajak oleh Fiko untuk pergi, namun Dita tidak bisa menolaknya karena itu adalah permintaan dari Mamanya. Suatu malam saat sedang dinner bersama Fiko, Dita dikejutkan oleh kehadiran Rangga. “Dita, kamu kok ada di sini? Sama Fiko..! Ngapain?” tanya Rangga penuh curiga. “Dita… Mmmm… Dita…” ujar Dita terbata-bata karena terkejut dengan kehadiran Rangga. Dita tidak bisa menyembunyikan kecemasannya, Dita segera berdiri dan memandangi Rangga dengan wajah cemas. Dita sangat ingin berbicara dan menjelaskan semuanya kepada Rangga, tapi saat itu lidahnya terasa sangat kalut untuk berucap. Dita merasa sangat takut, Dia takut Rangga tidak akan bisa menerima semua alasan darinya. “Mamanya Dita sama orangtua Aku udah sepakat untuk ngejodohin kita” ujar Fiko dengan lantang dan Fiko kemudian juga segera berdiri menghadap ke arah Rangga. Mendengar ucapan Fiko itu, membuat Rangga naik pitam. Dengan penuh emosi Rangga segera mencengkeram erat kerah baju Fiko. “Kamu udah gila ya! Kamu kan tahu kalau Dita itu pacar Aku dan Kamu, Kamu itu sahabat Aku. Kamu tega ya Ko! Aku bener-bener nggak nyaka Kamu sejahat ini!” ujar Rangga berapi-api. Rangga kemudian mengepalkan tangan kanannya dan hedak mengarahkannay ke wajah Fiko. Melihat hal itu Dita dengan segera menarik tangan Rangga dan menggenggam tangan Rangga dengan erat. Dita tidak mau Rangga sampai melakukan tindak k*******n terhadap Fiko. Dita takut bila sampai Rangga memukul Fiko, masalahnya akan semakin rumit. Dita terus mengenggam erat tangan Rangga dengan mata sedikit berkaca-kaca karena rasa takutnya. “Sorry Ngga. Untuk kali ini, Aku nggak bisa ngelepasin Dita begitu aja. Kalau Kamu emang cinta sama Dita, Kamu harus usaha ngerebut Dia dari Aku” ujar Fiko sambil merapikan kerah bajunya. “Oh ya.. ada satu hal lagi yang harus Aku kasih tahu, kalau sampai perjodohan kami gagal, maka kerjasama bisnis Mamanya Dita sama orangtua Aku juga akan batal. Jadi sekarang terserah Kamu mau pilih yang mana. Aku ingin liat perjuangan Kamu mempertahankan Dita” ancam Fiko dengan tegas kepada Rangga sambil menepuk-nepuk bahu Rangga. “Kamu!” ujar Rangga dengan penuh emosi dan berusaha melepaskan tangannya dari menggaman Dita. Tapi Dita dengan sekuat tenaga tetap menggenggam erat tangan Rangga. “Mmmm.. apa Kamu yakin, kalau Kamu itu mencintai Dita. Apa menurut Kamu perasaan Kamu ke Dita itu adalah cinta? Pikirkan itu!” tambah Fiko dengan senyuman sinis dan mengarahkan wajahnya tepat di depan wajah Rangga sambil terus menepuk-nepuk bahu Rangga. Setelah itu Fiko segera meraih tangan Dita yang masih menggenggam erat tangan Rangga. Dengan terpaksa Dita pun melepaskan tangannya dari Rangga. Dita pun membiarkan tangannya ditarik oleh Fiko, karena saat itu Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Saat itu pun sebenarnya Dita merasa sangat bersalah terhadap Rangga, karena Dia telah m*****i kepercayaan Rangga. Sesekali Dita menolehkan kepalanya kebelakang dan tampak olehnya Rangga sedang terduduk membisu di sana. Dita pun tak mampu menahan air matanya. Sepanjang perjalanan keluar restoran tersebut Dita terus meneteskan air matanya. Sementara itu Rangga masih duduk mematung memandangi kepergian Dita bersama Fiko. Rangga benar-benar tidak percaya akan peritiwa yang baru saja melandanya. Dia tidak percaya bahwa sahabat karibnya tega melakukan hal itu terhadap dirinya. Sementara Dita telah berani membohonginya pikir Rangga saat itu. Rangga pun kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas meja dan menutupkan kedua telapak tangannya itu ke wajahnya sambil menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Rangga berusaha menenangkan jiwanya yang sedang kacau dan berusaha menormalkan pemikirannya. Di perjalanan pulang Dita hanya membisu dengan sesekali menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Dita berusaha menahan kesedihannya. “Ngapain Kamu nangis!” bentak Fiko sambil tetap berfokus pada setir mobilnya. “Namgisin Rangga? Apa hebatnya Rangga?” tanya Fiko. Dita dengan segera menolehkan kepalanya ke arah Fiko dan menatapi Fiko dengan tatapan yang tajam. Saat itu Dita benar-benar marah kepada Fiko namun kemarahannya itu tak mampu diluapkannya. Setelah beberapa saat mematapi Fiko yang tetap berfokus menyetir mobilnya, Dita pun kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil di sisi kirinya. Untuk sesaat suasana di dalam mobil menjadi sangat hening, tak ada sepatah kata pun yang terucap diantara mereka. “Udah dong Dit, jangan sedih terus” ujar Fiko dengan nada yang lembut sambil menoleh ke arah Dita. Tapi Dita hanya berdiam diri, Dia terus memandang jauh ke arah luar jendela mobil. “Mau pulang sekarang?” tanya Fiko. “Kalau pulang sekarang takutnya Mama Kamu marah liat muka Kamu yang kusut kayak gitu” tambah Fiko. “Kita muter-muter dulu ya. Kalau muka Kamu udah seger nanti baru kita pulang” ujar Fiko lagi karena melihat Dita tidak merespon perkataannya. Dita tetap saja tidak menggubris semua perkataan Fiko. Saat itu Dia sangat enggan untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Dita hanya terus memandangi pemandangan jalan lewat jendela mobil di sampingnya. Keesokan harinya, Dita segera menghubungi Rangga, Dita berniat untuk menjelaskan perihal perjodohannya itu dengan Fiko. Dita pun berusaha menghubungi handphone Rangga, tapi Rangga tak pernah menjawab telpon tersebut. Telah berhari-hari Dita terus mencoba untuk menghubungi Rangga, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari Rangga. Hingga suatu hari Dita memutuskan untuk mengirimkan pesan melalui w******p kepada Rangga. “Kak Rangga, kita harus ketemu. Kakak harus denger semua penjelasan Dita. Kakak boleh marah sama Dita, tapi tolong dengerin dulu penjelasan Dita. Setelah kuliah pukul 15:00 WIB Dita akan tunggu Kakak di taman kampus. Kalau kak Rangga memutuskan untuk nggak datang, mungkin selamanya Kakak nggak akan bisa nemuin Dita lagi” demikianlah isi pesan singkat yang ditulis Dita kepada Rangga. Setelah kuliahnya usai, Dita duduk di salah satu kursi taman untuk menunggu kedatangan Rangga. Lama Dita menggungu di sana. Dita kemudian melihat jam di tangannya, saat itu waktu telah menunjukkan pukul 17:00 WIB. Dita menjadi gelisah karena Rangga belum juga datang. Sempat terbesit di benak Dita bahwa Rangga sudah tidak ingin bertemu dengan dirinya. Namun tak lama kemudian Dari kejauhan Dita melihat Rangga sedang berjalan ke arahnya. Dita merasa sangat bersalah karena telah menyembunyikan masalah perjodohannya dari Rangga. setelah Rangga berada tepat di hadapannya Dita segera berdiri dari duduknya. Sambil berusaha menahan air matanya Dita pun berusaha untuk berbicara kepada Rangga. “Kak Rangga, maafin Dita” ujar Dita dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. Rangga dengan segera memeluk tubuh Dita. Rangga merasa sangat rindu akan kehadiran Dita, dan akan canda tawanya bersama Dita. Telah berhari-hari Dia mendiamkan Dita, padahal saat itu Dia tahu bahwa Dita pasti terpaksa menerima perjodohan itu karena Mamanya. Tapi saat itu juga Rangga merasa sangat marah karena Dita tidak menceritakan masalah perjodohan tersebut kepada dirinya. Tapi setelah beberapa hari mendiamkan Dita, Rangga pun tersadar bahwa tindakannya itu pasti akan menambah kesedihan dan menambah beban di hati Dita. Rangga pun merasa sangat bersalah dengan tindakannya yang telah mendiamkan Dita. Karena itu Rangga tidak sanggup menahan air matanya saat memeluk tubuh Dita. “Tolong maafin Dita..! Dita nggak berani bilang sama Kakak. Dita takut bilang semua ini sama Kakak” ujar Dita tersedu-sedu di pelukan Rangga. “Nggak Dit, Dita nggak sepenuhnya salah. Kakak juga salah sama Dita” ujar Rangga sambil memeluk erat tubuh Dita dan membelai Rambut Dita. “Maafin Kak Rangga ya Dit! Nggak seharusnya Kakak marah sama Dita. Kakak tahu ini bukanlah keinginan Dita. maafin Kakak” Tambah Rangga sambil terus memeluk erat tubuh Dita. Dita pun hanya mampu menganggukkan kepalanya untuk menjawab semua perkataan Rangga. Rangga membiarkan Dita terus menangis dipelukannya. Dia membiarkan Dita menumpahkan semua kesedihan yang telah lama dipendamnya sendirian. Setelah beberapa saat setelah itu Dita pun tampak sudah cukup tenang, Rangga pun kemudian mengajak Dita untuk Duduk dan membicarakan semua masalah yang telah terjadi. Dita kemudian segera menceritakan tentang perjodohannya dengan Fiko yang telah diatur oleh Mamanya. Rangga pun dapat memahami hal tersebut. Rangga tahu Dita berada diposisi yang sulit. “Kakak janji sama Dita, Kakak pasti akan bebasin Dita dari perjodohan ini” ujar Rangga meyakinkan Dita sambil menggenggam erat tangan Dita. Dita pun hanya menganggukan kepalanya. “Sekarang Dita jangan sedih lagi ya! Dita nggak usah takut, ada Kakak di sini” ujar Rangga lagi. “Tapi Dita harus janji sama Kakak. Apapun yang terjadi sama Dita, Dita harus cerita sama Kakak. Dita nggak boleh ngerahasiain apapun dari Kakak” pinta Rangga kepada Dita. Dita pun terus saja hanya mampu menganggukkan kepalanya. Setelah itu Rangga pun kembali memeluk Dita dengan hangat. Di pelukan Rangga itu Dita kembali menemukan kedamaian yang telah lama tidak dirasakannya. Dita pun merasa bersyukur dengan hadirnya Rangga di sisinya. XXX XXX XXX
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN