6
Telah genap 1 tahun Reza pergi merantau ke luar kota, dan telah berkali-kali pula Mamanya menghubungi Reza dan meminta Reza untuk segera pulang walaupun hanya sebentar. Tapi tampaknya Reza masih enggan untuk pulang ke rumahnya.
“Ayo dong Za..! Pulang sebentar.. aja. Mama kangen ni..!” ujar Mamanya di telpon kepada Reza.
“Masa Kamu nggak kangen sama Mama. Ayo dong za.. pulang ya!” rengek Mamanya.
Karena mendengar Mamanya yang selalu sedih saat berbicara di telpon, Reza pun akhirnya memutuskan unyuk pulang. Sama sepergi kepergiannya, Reza pun tidak memberitahukan tentang kepulangannya kepada Dita.
Setelah Reza pulang, Reza pun disambut dengan pelukan hangat dari Mamanya. Tampak wajah Mamanya sangat bahagia melihat kepulangan Reza.
“Reza. Akhirnya Kamu pulang juga. Mama seneng banget liat Kamu” ujar Mamanya sambil menatapi wajah Reza dan memegang kedua bahu Reza.
“Kenapa Kamu nggak bilang sama Mama kalau hari ini Kamu pulang. Kalau Kamu kabarin kan Mama bisa masakin makanan kesukaan Kamu” ujar Mamanya menemani Reza berjalan masuk menuju kamarnya.
“Reza mau makan apa? Nanti biar Mama suruh Bu Retno masakin, atau mau Mama pesenin. Kamu pasti leper!” ujar Mamanya tak henti-henti memberikan perhatiannya kepada Reza.
“Nggak usah Ma, Reza capek ni. Reza Cuma pengen istirahat aja Ma” jawab Reza.
“Ya udah Kamu istirahat aja ya. Mama juga sebentar lagi mau ketemu sama rekan bisnis Mama. Mama udah janji, jadi Mama tinggalin Kamu nggak pa pa ya!” ujar Mamanya.
“Nggak pa pa Ma. Reza masuk dulu ya Ma” ujar Reza.
Reza kemudian masuk ke kamarnya dan memandangi sekeliling ruang kamarnya. Reza melihat tidak ada yang berubah dari kamarnya setelah ditinggalkannya selama setahun. Buku-buku masih tertata rapi di atas meja belajarnya dan di ujung sisi meja belajarnya masih ada gitar yang dulu sering dimainkannya. Setelah melihat-lihat kamarnya Reza kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Reza kemudian memejamkan matanya. Reza berusaha berpikir bagaimana nanti saat Dia bertemu dengan Dita, namun Dia tidak dapat memikirkan hal apapun untuk itu. Reza kemudian segera bangun dan mengambil gitarnya dan dengan perlahan Reza mulai memetik gitarnya itu.
Sepulang kuliah Dita langsung masuk ke kamarnya. Tak berapa lama Dita berada di kamarnya, samar-samar Dita mendengar ada suara dentingan gitar. Dita mendengarkan dentingan gitar itu dengan seksama, Dita berusaha mencari tahu dari mana suara gitar itu berasal. Suara dentingan gitar itu terdengar berasal dari arah luar kamarnya, maka Dita pun segera membuka pintu kamarnya. Namun setelah Dita berada di luar kamarnya tiba-tiba suara dentingan gitar itu menghilang. Dita pun terdiam untuk sesaat di depan pintu kamarnya. Setelah beberapa saat berdiam diri di depan pintu kamar, Dita kembali mendengarkan ada suara dentingan gitar. Dita segera memasang telinga kembali, dan Dita mendengar suara dentingan gitar itu berasal dari kamar Reza. Dita kemudian bergegas berjalan menuju kamar Reza dan dengan segera membuka pintu kamar Reza. Di depan pintu kamar Reza, mata Dita terbelalak karena melihat Reza sedang asik memainkan gitar di atas tempat tidurnya. Dita seketika merasa sangat senang, dan saat itu ingin rasanya Dia berlari masuk ke dalam kamar dan segera memeluk tubuh Reza untuk melepaskan semua kerinduannya. Tapi niat itu segera dibatalkannya, karena saat itu Reza masih tampak dingin terhadap dirinya. Oleh karena itu Dita hanya menyapa Reza dari depan pintu kamar saja.
“Kak Reza, Kakak udah pulang? Gimana kabarnya..?” tanya Dita.
“Kakak nyampe tadi pagi. Kakak baik-baik aja” jawab Reza seadanya.
Reza kemudian terus memainkan gitarnya.
“Kakak pasti capek, Dita ke kamar dulu ya Kak” ujar Dita, lalu Dita segera menutup pintu kamar Reza dan bergegas kembali ke kamarnya.
“Ternyata Kak Reza masih membenci Dita. Dita pikir setelah Kak Reza kembali, Kakak akan jadi Kak Reza seperti yang dulu” guman Dita setelah berada di kamarnya.
Dita kemudian duduk di depan meja belajarnya, Dita pun kemudian merebahkan kepalanya ke atas meja itu. Dita meraih sebuah pena cantik yang merupakan pena kesayangannya. Pena itu tak lain adalah pena yang dulu telah dikembalikan oleh Reza kepadanya, tepatnya saat Reza hendak pergi ke luar Kota.
“Kapan Kakak akan kembali seperti yang dulu? Dita kangen sama Kak Reza yang dulu” ujar Dita sedih sambil memandangi pena kesayangannya.
Dita yang saat itu telah mampu melupakan rasa cintanya terhadap Reza, sangat berharap bahwa Reza akan bersikap seperti yang dulu. Dita sangat ingin menemui sosok Reza yang sangat menyayanginya, Reza yang selalu berbagi dengannya, Reza yang selalu tertawa dan bercanda dengannya, dan Reza yang selalu menjadi sosok pelindung baginya. Dita benar-benar telah kehilanga sosok Reza yang selama ini dirindukannya. Dita terus menatapi pena yang ada ditangannya itu dengan tatapan kosong. Saat itu Dita berharap akan ada hari dimana Dia bisa menemukan sosok Reza seperti yang dulu Dia kenal.
XXX XXX XXX
Telah empat hari berlalu dari kepulangan Reza, dan disuatu malam saat Reza hendak keluar dari kamarnya tak sengaja Dia melihat Dita masuk ke dalam kamar Mamanya. Reza pun menjadi penasaran akan hal yang menyebabkan Mamanya sampai memanggil Dita ke kamarnya. Karena seingat Reza Mamanya sangat jarang memanggil Dita Ke dalam kamarnya jika bukan karena ada hal yang penting. Karena rasa penasarannya itu, setelah melihat Dita masuk ke dalam kamar Mamanya, Reza dengan segera berjalan menghampiri kamar Mamanya. Reza menempelkan telinganya ke daun pintu kamar berusaha mendengar percakapan antara Dita dengan Mamanya. Namun sayangnya Reza tidak dapat mendengarkan sepatah kata pun, hal itu dikarenakan pintu kamar Mamanya tertutup rapat. Karena tidak berhasil menguping pembicaraan Dita dan Mamanya Reza pun segera kembali ke kamarnya.
“Kok tumben Mama manggil Dita ke kamarnya. Kayaknya udah lama banget Mama nggak pernah nyuruh Dita ke kamarnya. Pasti ada hal penting. Apa ya? Apa Dita ngelakuin kesalahan yang bikin Mama marah? Apa sekarang Mama lagi marahin Dita?” pikir Reza sambil rebahan di atas ranjangnya.
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di benak Reza saat itu.
Setelah masuk ke dalam kamar Mamanya, Dita segera berjalan menghampiri Mamanya yang sedang duduk di salah satu sisi ranjangnya. Dita kemudian berdiri tepat di sebelah Mamanya dengan menghadapkan tubuhnya ke arah Mamanya.
“Besok malem temenin Fiko. Dia ada acara dinner bareng rekan bisnisnya” ujar Mamanya dingin.
“Iya Ma” jawab Dita singkat sambil memandangi Mamanya yang tak sedikitpun melihat ke arah dirinya.
“Ini baju Mama bawain dari butik. Besok malem Kamu pake baju ini. Jangan sampai Kamu bikin Fiko malu didepan rekan-rekan bisnisnya” ujar Mamanya sambil menyerahkan bungkusan baju kepada Dita dan tanpa melihat ke arah Dita.
“Iya Ma” jawab Dita lagi dengan lembut.
“Udah itu aja” ujar Mamanya.
Mamanya kemudian meraih sebuah majalah fashion yang berada di sebelahnya dan kemudian segera membukanya.
“Dita permisi ya Ma” ujar Dita sedih karena melihat Mamanya terus dingin terhadap dirinya.
“Mmm” jawab Mamanya seadanya sambil terus melihat majalah fashion di tangannya.
Dita pun segera berjalan meninggalkan Mamanya yang masih tampak asik dengan majalahnya.
“Sampai kapan Mama akan terus kayak gini sama Dita?” ujar Dita terduduk sedih di salah satu sisi ranjangnya.
“Dita udah nurutin semua yang Mama minta. Tapi Mama masih aja dingin sama Dita. Kenapa Mama nggak suka sama Dita? Kenapa Mama benci sama Dita. Apa salah Dita Ma?” ujar Dita dengan mata berkaca-kaca.
Seperti biasa Dita pun kembali mengadukan semua kesedihannya pada boneka Papa. Dita tersedu-sedu saat mengadu pada boneka Papa Dita pun kemudian memeluk boneka Papa dengan erat.
Keesokan harinya Dita bangun dengan mata yang sedikit sembab. Dita segera pergi kedapur dan mengambil batu es untuk mengompres matanya, karena Dia tidak mau teman-temannya di kampus sampai mengetahui bahwa Dia semalam menangis. Dan yang paling dikhawatirkan oleh Dita adalah jika Citra sampai melihat matanya yang sembab maka tentu saja Cita akan memberitahukan hal itu kepada Rangga. Dita tidak ingin membuat Rangga menjadi khawatir terhadap dirinya. Setelah mengambil batu es dan kain kompres Dita segera kembali ke kamarnya. Setelah di kamar Dita segera mengompres mata yang sembab.
“Dita pergi ya Bu, tolong bilangin sama Mama” ujar Dita kepada Bu Retno setelah Dia menyelesaikan sarapannya.
Dita yakin saat itu Mamanya masih berada di kamarnya, oleh karena itu Dia menitipkan pesannya kepada Bu Retno. Dan seperti biasa Dita juga Tidak mau mengganggu Mamanya yang dapat mengakibatkan dirinya diomeli oleh Mamanya.
“Iya, nanti Ibu bilangin sama Mama” jawab Bu Retno.
“Sini biar Ibu aja yang beresin” ujar Bu Retno saat melihat Dita hendak membereskan piring dan gelas bekas sarapannya.
“Makasih ya Bu” ujar Dita.
Dita pun kemudian segera bergegas pergi ke kampusnya.
Setelah tiba di kampus seperti biasanya Dita disambut dengan hangatnya canda tawa para sahabatnya. Dan tentu saja hal itu dapat mengobati rasa sedih di hati Dita.
“Jangan becanda terus..! tiga hari lagi kita ujian lo..!” ujar Dita menggoda para shabatnya itu sambil mencubit lembut pipi Citra.
“Tenang aja Dit, kan masih tiga hari lagi” jawab Beni sambil terus bercanda bersama Citra.
“Beni..!” ujar Dita sambil memicingkan matanya kepada Beni.
“Hi...” Beni memaksakan senyumannya kepada Dita.
“Dit, kalau udah selesai ujian nanti kita liburan yuk!” ajak Zian.
“Iya Dit” sambung Citra.
“Kita bertiga udah ngerencanain liburan bareng, tapi kita belum mutusin mau liburan kemana” tambah Citra yang segera menghentikan candaannya bersama Beni dan segera duduk di samping Dita.
“Ikut ya Dit..!” bujuk Citra sambil merangkul tangan Dita.
“Ujian aja belum, kalian udah ngerencanain liburan!” ujar Dita.
“Kan harus direncanain jauh-jauh hari, biar rencananya mateng” jawab Citra bersemangat.
“Mateng..! kayak buah-buahan aja” celetuk Beni.
Dita pun hanya bisa tersenyum mendengar rencana sahabat-sahabatnya.
“Gimana Dit?” tanya Zian.
“Ikut ya Dit!” sambung Citra.
“Iya Dit, ikut dong..! sekali-kali kita liburan sama-sama. Kita kan belum pernah liburan bareng” tambah Beni.
“Liat nanti aja deh.. kalau udah selesai ujian” jawab Dita ragu.
Sebenarnya di hati Dita ada keinginan untuk ikut liburan bersama sahabat-sahabatnya itu, tapi Dia takut Mamanya tidak akan memberikan izin.
“Ih.. kok gitu sih Dit..!” ujar Citra berlagak merajuk.
“Ikut ya...! ayolah Dit..! ” pinta Citra lagi dengan wajah memelas.
“Mmm.. Iya deh..” jawab Dita walaupun Dia tidak yakin dengan jawabannya itu.
Setelah kelas kuliah berakhir Dita dan ketiga sahabatnya itu tidak langsung pulang ke rumah masing-masing, mereka memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi ujian semesteran akan segera tiba. Waktu luang mereka yang cukup banyak hari itu, mereka habiskan untuk belajar di perpustakaan. Tanpa terasa hari pun telah menjelang sore, Dita kemudian tersadar akan permintaan Mamanya untuk menemani Fiko pergi ke acara dinner. Dita kemudian dengan segera berpamitan pada sahabat-sahabatnya itu.
“Aku pulang duluan ya! Aku lupa, tadi Mama nyuruh Aku pulang cepat” ujar Dita beralasan.
“Bareng aja Dit, kita juga udah mau pulang ni” jawab Zian.
“Iya Dit, bareng aja” tambah Beni.
Akhirnya Dita diantar pulang oleh para sahabatnya itu. Setelah tiba di depan rumahnya Dita segera turun dari mobil dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke dalam rumahnya. Dita tidak ingin sampai Mamanya tahu bahwa Dia pulang sore lagi seperti hari-hari yang kemarin. Dita kemudian berdiam diri di kamarnya hingga malam tiba.
Malam itu tak seperti biasanya, Fiko tidak menjemput Dita sampai ke dalam rumahnya. Fiko hanya menunggu Dita di dalam mobil di luar pagar. Dita yakin saat itu Mamanya pasti melarang Fiko untuk masuk ke dalam rumah, Mamanya pasti tidak ingin Reza sampai bertemu dengan Fiko dan mengetahui tentang perjodohannya itu dengan Fiko. Dita pun menjadi sangat yakin bahwa Mamanya merahasiakan mengenai perjodohannya itu dengan Fiko. Karena jika Reza tahu tentang perjodohannya itu, Reza pasti sudah bertanya banyak hal kepadanya. Namun sejak kepulangan Reza, Reza tidak ada menanyakan mengenai hal apapun kepadanya.
Akhirnya waktu Dita malam itu dihabiskannya hanya untuk menemani Fiko dinner bersama rekan bisnisnya. Dita merasa waktunya terbuang sia-sia malam itu. Acara dinner yang dibumbui dengan obrolan seputar bisnis benar-benar hal yang belum bisa dijangkau oleh otak Dita. Malam itu Dita benar-benar merasa sangat bosan. Dita lebih banyak berdiam diri, hanya sesekali saja Dia berbicara yaitu saat memjawab pertanyaan dari rekan-rekan bisnis Fiko yang melontarkan pertanyaan kepadanya. Malam itu Dita berusaha seramah mungkin terhadap rekan-rekan bisnis Fiko, Dia pun berusaha menahan kekesalannya dengan memberikan senyuman saat ada rekan bisnis fiko yang terkadang terkesan menyindirnya. Dita berusaha agar tidak membuat Fiko malu seperti yang dipesankan oleh Mamanya. Dita terus berusaha bersabar sepanjang dinner malam itu.
XXX XXX XXX
“Tok.. tok..tok.. Mbak Dita. Disuruh Mama makan malam bareng sekarang Mbak” ujar Bu Retno setelah mengetuk pintu kamar Dita.
“Makan malam bareng! Kok tumben. Apa ada yang mau Mama omongin” guman Dita.
“Iya Bu. Sebentar lagi Dita ke dapur” jawab Dita sedikit berteriak agar Bu Retno bisa mendengar perkataannya.
Dita kemudian seggera beranjak dari tempat tidurnya lalu segera pergi menuju meja makan dan di sana sudah ada Reza dan Mamanya. Dita kemudian segera Duduk di kursi yang berada di sebelah Reza. Suasana di meja makan sesaat terasa sangat hening, tak ada percakapan yang terjadi antara Dita, Reza dan Mamanya. Ketiganya berdiam diri sambil menyantap makanannya masing-masing.
“Lusa ujian Dita kan udah selesai. Dan mumpung Reza masih di sini, Mama kepengen kita sekali-kali liburan bersama-bersama” ujar Mamanya memecah keheningan itu.
Tentu saja Dita menyabut berita itu dengan sedikit perasaan aneh. Dita cukup heran kenapa Mamanya tiba-tiba mengajaknya untuk ikut liburan. Tak seperti biasanya, Mamanya selalu pergi liburan keluar Kota seorang diri tanpa dirinya ataupun Reza. Seingat Dita telah lama sekali mereka tidak pernah pergi liburan bersama semenjak Papanya meninggal dunia. Tapi entah kenapa malam itu Mamanya punya rencana untuk liburan bersama. Namun Dita menepis semua perasaan anehnya itu, Dia berusaha berpikiran positif atas rencana Mamanya itu. Mungkin Mamanya rindu akan kebersamaan seperti yang dulu, saat masih ada Papanya pikir Dita saat itu.
Sama halnya Dengan Dita, Reza juga cukup terkejut saat mendengar rencana Mamanya itu.
“Serius Ma. Mama pengen kita liburan bareng” tanya Reza untuk memastikan.
“Iya Mama serius” jawab Mamanya dengan wajah yang serius.
“Kamu pikir Mama becanda” tambah Mamany yang kemudian meghentikan suapannya lalu menatap ke arah Reza.
“Bukan Gitu maksud Reza. Tapi kok mendadak banget sih Ma. Trus udah lama banget Mama nggak pernah ngajak kita liburan. Rasanya aneh aja kalau Mama mendadak ngajak kita pergi liburan” ujar Reza yang sedikit merasa aneh pada Mamanya.
“Aneh gimana? Masa nggak boleh Mama ngajak anak-anaknya pergi liburan” tanya Mamanya sedikit kesal.
“Emangnya Mama mau ngajak kita liburan kemana?” tanya Reza akhirnya karena melihat Mamanya yang tampak kesal.
“Ya.. ketempat yang deket-deket sini aja. Ke villa Tante Irma. Kan udah lama juga kita nggak kesana” jawab Mamanya.
“Vila Tante Irma yang di perkebunan teh itu!” ujar Reza menegaskan.
“Iya” jawab Mamanya meyakinkan Reza.
“Reza nggak ikut Ma. Reza lagi males banget berkendara sejauh itu” ujar Reza.
“Ya kita rantal mobil aja atau Mama bisa pake sopirnya temen Mama” ujar Mamanya.
“Ayo dong Za..! masa kamu nggak mau liburan bareng Mama” ujar Mamanya membujuk Reza.
“Mama kan kepengen Kita liburan sama-sama”ujar Mamanya lagi dengan nada yang sedih.
Karena melihat Mamanya terus memelas dan Reza juga tidak ingin mengecewakan Mamanya, akhirnya Reza menyetujui ajakan Mamanya itu.
Sementara itu Dita hanya berdiam diri dan meneruskan makannya, Dita tidak berani memotong pembicaraan Mamanya dengan Reza. Selain itu Dita juga tidak berani menyampaikan pendapatnya pada Mamanya, karena Dia tahu Mamanya pasti tidak akan menyukainya. Sepanjang percakapan Mamanya dengan Reza, Dita hanya bisa mendengarkannya saja.
Akhirnya Dita, Reza dan Mamanya pergi berlibur. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh akhirnya Mobil mereka pun menyusuri jalanan berkelok-kelok yang di sepanjang perjalan terhampar pemandangan daun teh yang hijau dan menyegarkan mata. Sejuknya udara pegunungan dan ditambah dengan merdunya kicauan burung membuat hati Dita terasa sangat damai. Disepanjang perjalan menyusuri perkebunan teh itu, tak henti-henti Dita memejamkan matanya sambil menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan untuk menikmati segarnya udara pegunungan itu. Setelah itu Dita pun tampak sangat asik mengarahkan pendangannya pada hamparan daun teh yang tersaji disepanjang perjalanan itu.
Mobil mereka pun akhirnya sampai di depan sebuah Vila yang tampak cukup besar. Dita segera membantu Bapak sopir mengeluarkan barang dari bagasi mobil. Dita berusaha membawa kopernya sendiri karena melihat Ibu dan Bapak penjaga villa tampak kerepotan membawa barang-barang milik Mamanya. Baru saja Dita melangkahkan kakinya untuk menuju pintu vila, tiba-tiba Fiko keluar dari dalam vila. Dan dengan seketika langkah kaki Dita terhenti, Dita sangat terkejut melihat keberadaan Fiko di vila itu.
“Fiko..! Kamu! Kok Kamu ada di sini?” ujar Reza terkejut dan terbelalak.
Reza tampak sangat terkejut dan binggung saat melihat kehadiran Fiko di sana. Fiko hanya merespon pertanyaan Reza dengan senyumannya, lalu Fiko mengambil koper yang ada di tangan Dita dan segera membawanya masuk ke dalam vila. Dita pun seketika tersadar bahwa itu semua adalah rencana yang telah disusun oleh Mamanya. Dita kemudian segera masuk mengikuti langkah kaki Fiko. Sementara itu, Reza masih berdiri terpaku kebingungan di depan vila.
Mama Dita sengaja mengatur liburan itu dengan tujuan untuk memberitahukan kepada Reza mengenai perjodohan antara Dita dan Fiko. Mamanya tidak bisa menyembunyikan mengenai perjodohan Dita selamanya dari Reza. Karena pada akhirnya Reza juga harus tahu tentang perjodohan Adiknya itu. Dengan adanya Fiko yang tak lain adalah sahabat Reza, Mamanya berharap Fiko akan membantunya untuk menjelaskan perihal perjodohan itu. Mamanya merasa takut jika harus Dia sendiri yang mengatakan mengenai perjodohan itu kepada Reza, oleh karena itu Dia meminta bantuan Fiko. Sedari awal Mamanya sudah yakin saat Reza mendengar berita itu, Reza pasti akan marah besar. Tapi Mamanya juga tidak mau merahasiakan tentang perjodohan Dita lebih lama lagi dari Reza.
Saat sore menjelang dan karena Dita merasa haus, Dita pun segera keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum di dapur vila. Saat Dita keluar dari kamarnya tak sengaja Dita mendengar ada suara gaduh dari dalam kamar Mamanya. Dita sangat mengenali suara itu, suara gaduh dari dalam kamar Mamanya itu tak lain adalah suara Reza. Dita dengan cepat melangkahkan kakinya menghampiri kamar Mamanya. Dita kemudian mendekatkan telinganya pada pintu kamar Mamanya yang tak tertutup rapat agar dapat mendengar dengan jelas pembicaraan Mamanya dengan Reza.
“Kenapa Mama lakuin ini sama Dita? Mama tahu kan kalau Dita itu nggak suka sama Fiko. Mama juga tahu kan kalau Dita dan Rangga saling mencintai. Kenapa Mama malah mengatur perjodohan Dita sama Fiko? Mama bener-bener jahat..! Mama nggak punya hati..! Reza nggak nyangka Mama setega ini ” ujar Reza penuh emosi.
“Stop Reza! Cukup…! Jangan omelin Mama terus. Kamu pikir Mama sejahat itu.. iya..! Mama lakuin ini semua demi Dita. Dita itu memerlukan laki-laki yang mampu memenuhi kebutuhannya nanti. Dan saat ini Mama rasa Fiko adalah orang yang tepat. Mama nggak mungkin selamanya menampung Dita. Selain itu, Ibunya Fikolah yang membantu Mama saat bisnis Mama hampir bangkrut. Mama juga nggak ada pilihan lain saat Ibunya Fiko mengatakan soal perjodohan itu” ujar Mamanya memberi penjelasan.
Di depan pintu kamar Mamanya Dita terus mendengarkan bahwa Mamanya berusaha menjelaskan mengenai perjodohan dirinya kepada Reza. Setelah mendengar penjelasan dari Mamanya kepada Reza, Dita tidak lagi mendengar ada suara dari dalam kamar Mamanya. Suasana di dalam kamar Mamanya pun terdengar sangat hening seolah tak ada penghuni di dalam kamar itu. Dita pun kemudian perlahan-lahan melangkahkan kakinya utnuk menjauh dari kamar Mamanya. Dita segera pergi menuju sebuah kolam air mancur yang terletak di belakang vila. Di sana Dita menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon yang cuckup rindang. Dita memejamkan matanya untuk mencari kedamaian. Angin bertiup sepoi-sepoi diiringi gemercik air dan ditambah dengan aroma segar pegunungan membuat Dita terhanyut menikmati kedamaian itu.
Sementara itu Reza yang berada di dalam kamar Mamanya telah kehabisan kata-kata untuk meluapkan kemarahannya. Reza akhirnya hanya mampu terdiam dan berusaha untuk mengendalikan dirinya. Demikian pula Mamanya, Mamanya juga duduk terdiam di salah satu sisi tempat tidurnya. Setelah lama saling membisu akhirnya Reza pergi keluar dari kamar Mamanya tanpa sepatah katapun. Selang beberapa saat Reza berjalan dari kamar Mamanya Tampaklah Fiko tengah duduk santai di ruang tamu sambil memainkan handphonenya.
“Hai.. Za” sapa Fiko saat melihat Reza.
Sambil berjalan Reza hanya menatapi Fiko dengan tatapan penuh emosi, Reza pun berlalu begitu saja dari hadapan Fiko. Saat itu Reza tidak bisa menutupi rasa kesal dan marahnya pada sahabatnya itu.
“Za..! Kamu kenapa?” tanya Fiko saat melihat Reza berlalu begitu saja.
Fiko yang tidak tahu duduk persoalannya tidak terlalu menghiraukan perilaku Reza yang aneh saat itu. Fiko pun kemudian kembali memainkan handphonenya.
Keesokan harinya, setelah sarapan pagi Fiko mengajak Dita untuk berjalan-jalan menyusuri perkebunan teh. Dita yang saat itu merasa bosan berada di vila menuruti saja ajakan Fiko itu. Dita dan Fiko pun perlahan berjalan meninggalkan pekarangan vila. Tak berselang berapa lama berjalan Dita pun kemudian tersadar bahwa Dia telah meninggalkan handphonenya di kamar. Saat itu Dita takut jika Rangga menghubunginya dan Mamanya yang mengangkat telpon itu, maka Mamanya pasti akan memarahi Rangga.
“HP Dita ketinggalan. Dita ambil dulu ya kak” ujar Dita sesaat setelah menghentikan langkahnya.
“Yaela... biarin ajalah.. ngapain mesti bawa HP segala. Kita jalannya deket-deket sini aja kok” ujar Fiko.
“Mmm.. buat foto-foto Kak” jawab beralasan.
“Sebentar ya Kak” ujar Dita.
Tanpa menunggu izin dari Fiko, Dita segera berjalan pulang ke arah vila untuk mengambil handphonenya. Dita pun berlari-lari kecil agar segera sampai ke vila, karena Dia tidak ingin membuat Fiko kesal akibat menunggunya terlalu lama.
Saat telah berada di ruang tamu, Dita sudah mulai mendengar ada kegaduhan dari dalam kamar Mamanya. Dita segera bergegas berjalan menuju kamarnya. Dita berniat segera mengambil handphonenya dan segera kembali menemui Fiko. Tapi tiba-tiba Dita dikejutkan oleh suara Reza yang berteriak membentak Mamanya. Langkah kaki Dita langsung terhenti di dekat kamar Mamanya. Tubuh Dita pun menjadi gemetaran karena terkejut saat mendengar suara Reza yang berteriak cukup kencang. Dita sebelumnya tidak pernah mendengar Reza berkata terlalu keras dan kasar terhadap Mamanya. Dengan tubuh yang gemetaran, Dita berusaha melangkahkan kakinya untuk terus berjalan menuju kamarnya. Saat hendak melangkah, Dita kembali dikejutkan oleh suara benda pecah dari dalam kamar Mamanya. Tentu saja hal itu membuat Dita semakin takut. Reza terdengar terus memarahi Mamanya mengenai perjodohan dirinya dengan Fiko. Tapi saat itu Dita tak mendengar ada suara Mamanya.
Saat itu Dita menjadi sangat khawatir atas pertengkaran yang terjadi antara Reza dan Mamanya. Akhirnya Dita memberanikan diri untuk berjalan mendekati kamar Mamanya. Perlahan-lahan Dita pun mulai mendengar suara Mamanya berbicara. Tapi Dita tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dikatakan oleh Mamanya itu. Dita kemudian lebih mendekatkan dirinya ke pintu kamar yang sedikit terbuka itu dan segera memasang telinganya untuk mendengar pembicaraan Mamanya.
“Dita bukan anak kandung Mama, Dita bukan Adik kandung Kamu” ujar Mamanya dengan suara bergetar.