“Dita bukan anak kandung Mama, Dita bukan Adik kandung Kamu” ujar Mamanya dengan suara bergetar.
Saat mendengarkan perkataan Mamanya itu Dita sangat terkejut. Tubuh Dita semakin gemetaran, tangannya yang bertopang pada sebuah vas bunga seketika terlepas. Tubuh Dita terdorong ke depan, vas bunga yang dipegang oleh Dita pun terjatuh dan pecah. Dita pun segera berlari meninggalkan kamar Mamanya, tapi saat di ruang tamu tak sengaja kaki Dita tersangkut pada ujung karpet sehingga membuat tubuhnya langsung terjatuh. Kaki Dita pun sedikit tergores akibat terkena ujung kaki kursi. Namun Dita tak menghiraukan kakinya yang sakit, dengan segera Dita berdiri kembali dan berlari keluar vila.
Karena mendengar ada suara benda pecah dari arah luar kamar Mamanya, Reza dengan segera keluar dari kamar Mamanya. Reza pun melihat Dita yang sedang berlari keluar vila, saat itu Reza yakin bahwa Dita telah mendengarkan semua perkataan Mamanya. Tanpa menyia-nyiakan waktu Reza pun segera berlari untuk mengejar Dita.
Dengan tubuh yang gemetaran Dita terus berlari, air matanya pun mengalir deras. Dita terus saja berlari melewati Fiko yang sedang berdiri menunggunya. Dita terus berlari tanpa tahu arah dan tujuan. Tak jarang Dita terjatuh, tapi Dita tidak merasakan ada sakit sedikitpun di tubuhnya, Dita pun tidak menghiraukan kakinya yang telah mengeluarkan darah. Dita terus berusaha bangun dan terus berlari. Saat itu yang Dita rasakan hanyalah rasa sesak di dadanya.
Fiko yang masih berdiri terpaku karena bingung melihat Dita yang berlari sambil menangis, dibuat tambah bingung dengan kehadiran Reza yang juga menghampirinya dengan berlarian. Fiko dengan segera menghentikan langkah kaki Reza.
“Eit… eit… mau kemana…?” tanya Fiko sambil memegangi tangan Reza.
“Ko, please..! lepasin tangan Aku. Ini penting banget! Tolong lepasin! Nanti Aku jelasin” ujar Reza dengan wajah yang sangat panik.
Reza pun berusaha melepaskan tanganya dari genggaman Fiko. Karena melihat Reza yang tampak begitu panik, Fiko pun melepaskan genggaman tangannya. Reza kemudian dengan segera berlari kembali untuk mengejar Dita yang sudah berada jauh dari pandanganya.
Fiko yang tidak tahu akan hal yang telah terjadi, hanya bisa menerka-nerka kejadian saat itu. Fiko berpikir bahwa Dita telah bertengkar dengan Mamanya. Fiko yang bingung harus bagaimana dengan kejadian itu hanya bisa mengikuti Reza yang tengah berlari mengejar Dita.
“Dita…! Berhenti…!” teriak Reza dari kejauhan.
“Dita…! Tunggu…!” teriak Reza lagi.
Dita tidak menghiraukan panggilan itu, Dita terus saja berlari.
Pikiran Dita tiba-tiba terasa kosong. Saat itu Dita tidak dapat merasakan apa-apa, Dita hanya merasa hampa, Dita pun tak mampu memikirkan apapun. Dita terus berlari sambil terisak-isak. Dita berlari menyusuri lembah dan lereng perkebunanan teh yang tak berujung. Darah bercucuran mengalir dari kaki dan tangan Dita yang terluka akibat goresan ranting-ranting tajam di perkebunan teh itu, tapi Dita tidak merasakan sakit sedikit pun. Saat itu hanya hatinyalah yang terasa sangat sakit. Dita berlari dan terus berlari, Dita berharap bumi akan menenggelamkannya saat itu juga. Dita merasa hidupnya sudah berakhir hari itu.
Lama-lama Dita kehabisan tenaganya untuk berlari. Nafas Dita pun tersengal-sengal, tapi Dita tetap memaksakan dirinya untuk tetap berlari. Namun tiba-tiba Dita merasakan ada seseorang yang memegang pundaknya.
“Dita, berhenti!” ujar Reza terengah-engah sambil memegang erat pundak Dita.
Dita berusaha melepaskan dirinya dari rangkulan Reza. Tapi Reza dengan segera memeluk tubuh Dita. Dita meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Reza. Tapi Reza malah memeluknya semakin erat.
“Dit.. Di.. ta… bu..kan anak Ma..ma..” ujar Dita tersendat-sendat dengan air mata yang semakin berlinang.
Hati Dita teramat sakit menerima kenyataan bahwa dirinya bukan anak kandung Mamanya. Air mata Dita tumpah ruah, tangisnya pun menjadi-jadi. Dita akhirnya terduduk karena tubuhnya benar-benar terasa letih. Reza yang ikut terduduk, dengan segera berusaha menenangkan Dita.
“Dita.. Kakak di sini. Dita lihat Kakak! Kakak di sini untuk Dita. Kakak akan selalu sayang sama Dita. Kakak nggak peduli apapun yang akan terjadi nanti, Kakak selamanya akan sayang sama Dita. Kakak…” Reza tak mampu lagi meneruskan kata-katanya.
Hati Reza begitu sakit sama halnya dengan Dita. Reza pun tidak sanggup menahan air matanya. Reza terus menangis sambil memeluk erat tubuh Dita yang gemetaran.
Dita terus menangis sekencang-kencangnya. Dita tampak seperti orang yang hilang akal dan menjadi sangat ketakutan. Dita mengeleng-gelengkan kepalanya sambil sesekali menjerit. Dita pun menangis dengan histeris. Di saat Reza mulai melepaskan pelukannya, Dita segera berdiri dan berlari kembali, Reza dengan sigap segera menyusul Dita. Tak berapa jauh Dita berlari, tiba-tiba kaki Dita terkilir dan tubuhnya terguling sampai ke bawah lereng perkebunan teh. Saat itu Dita merasa jiwanya begitu tenang, hatinya terasa sangat damai. Tiba-tiba Dita melihat samar-samar dari kejauhan Papanya muncul dan berjalan menuju ke arahnya sambil tersenyum hangat.
Reza yang melihat tubuh Dita terguling, segera berlari menuruni lereng perkebunan teh itu untuk mengejar tubuh Dita.
“Dita..! Dita..!” teriak Reza cemas sambil terus berlari mengejar tubuh Dita.
Setelah tiba di depan tubuh Dita, Reza segera memeluk tubuh Dita yang tak lagi bergerak. Reza berteriak-teriak seperti orang gila dengan air mata yang mengalir semakin deras.
XXX XXX XXX
Dita perlahan-lahan membuka matanya, Dita melihat sebuah ruangan yang sangat asing baginya. Dita memperhatikan sekeliling ruangan tersebut, tapi Dita benar-benar tidak mengenali ruangan itu. Akhirnya Mata Dita terhenti pada sebuah sofa di sudut ruangan. Di atas sofa itu Dita melihat Reza tengah tidur. Kemudian Dita terus memperhatikan bagian-bagian ruangan itu, hingga pada pakaian yang Dia kenakan dan kondisi tubuhnya yang banyak perban. Dita akhirnya tersadar bahwa Dia sedang berada di rumah sakit. Dita berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Dia ingat terakhir kali dirinyia berada di perkebunan teh bersama Reza, dan saat itu kakinya menginjak kerikil yang membuat tubuhnya terjatuh. Tak lama dari mengingat peristiwa itu, kepala Dita pun kemudian terasa pusing Dita akhirnya kembali memejamkan matanya.
Dita mendengar ada suara beberapa orang sedang berbincang dari arah luar ruangannya. Dita kemudian membuka matanya perlahan-lahan. Saat itu Dita mengarahkan panadangannya ke arah jendela dan tampak hari telah siang dan saat Dita melirik ke arah pintu yang sedang sedikit terbuka, tiba-tiba ada beberapa orang yang mengenakan seragam rumah sakit sedang berjalan menuju ke arahnya.
“Kamu sudah sadar?” ujar salah seorang yang mengenakan seragam rumah sakit itu.
Tak lama kemudian Dita melihat Reza muncul dari arah belakang orang-orang yang mengenakan seragam rumah sakit itu. Salah seorang dari orang-orang itu segera mengecek kondisi Dita dan menganjurkan Dita agar tetap banyak beristirahat. Setelah itu orang-orang itu pun pergi, dan Reza segera menghampiri Dita.
“Kak Reza” ujar Dita berusaha berbicara.
“Ssstt..! Dita istirahat ya! Biar Dita cepat sembuh” ujar Reza sambil membelai kepala Dita.
“Dita.. Dita..” ujar Dita terbata-bata.
Air mata Dita pun mengalir, karena Dia teringat perkataan Mamanya sewaktu di vila. Ada banyak hal yang ingin dikatakannya kepada Reza, tapi Dita belum memiliki cukup kekuatan untuk berbicara.
“Dita..! Dita nggak boleh banyak pikiran dulu. Semuanya akan baik-baik aja. Kakak janji. Sekarang Dita istirahat ya..!” ujar Reza berusaha menenagkan Dita sambil terus membelai Dita dengan hangat.
Siang itu Reza sengaja tidak memberitahukan Mamanya mengenai kondisi Dita yang telah siuman. Reza takut saat Dita bertemu dengan Mamanya, Dita akan kembali bersedih. Reza takut hal itu akan berpengaruh pada kondisi mental Dita. Siang itu Reza terus berusaha menghibur dan menenangkan Dita, hingga akhirnya Dita pun tertidur. Setelah Dita tertidur, Reza sengaja meninggalkan Dita sendirian di rungannya, karena Reza takut keberadaanya akan menganggu istirahat Dita.
Dita yang telah terbangun kembali dari tidurnya, merasakan tubuhnya terasa kaku. Dita berusaha menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Dita kemudian berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya dan berusaha untuk berdiri dengan bertumpu pada tiang tempat infusenya terpasang. Perlahan-lahan Dita mencoba melangkahkan kakinya untuk berjalan, dan saat itu sesekali muncul rasa nyeri dari luka di tubuhnya. Dita terus berusaha melatih kakinya untuk berjalan, Dita terus berjalan pelan-pelan di sekitar tempat tidurnya. Dita pun secara perlahan berusaha menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya agar Dia segera pulih, karena Dia tidak mau berlama-lama berada di rumah sakit. Setelah beberapa saat Dita berjalan-jalan dan menggerak-gerakkan tubuhnya, Dita pun kembali berbaring.
Pagi hari berikutnya seorang Dokter beserta beberapa asistennya kembali memeriksa kondisi Dita. Setelah selesai memeriksa kondisi Dita, salah seorang asisten Dokter itu segera melepaskan selang infuse yang berada di tangan Dita.
“Kondisi Adik anda semakin membaik. Jika kondisinya terus konsiten seperti ini, ya.. mungkin dalam waktu yang dekat Dia sudah bisa pulang” ujar Dokter itu kepada Reza.
Setelah memeriksa dan menjelaskan suma perihal kondisi Dita kepada Reza, Dokter beserta asistennya itu pun segera pergi.
“Kak, Dita mohon..! Kakak jangan kasih tau Mama kalau Dita udah bangun” ujar Dita pada Reza setelah dokter keluar dari ruangan itu.
“Apa?” tanya Reza yang berpura-pura tidak mendengar.
“Tolong jangan kasih tau Mama kalau Dita udah siuman. Dita takut ketemu sama Mama” ujar Dita lagi.
“Iya.. Kakak janji nggak akan kasih tau Mama. Sekarang Dita istirahat ya” ujar Reza sambil membetulkan selimut Dita dan Kemudian Rangga membelai kepala Dita sambil tersenyum.
Disuatu pagi setelah Dita terjaga dari tidurnya, Dita tidak melihat ada Reza di rungan itu. Dita segera bangun dan duduk di tempat tidurnya, tak lama kemudian seorang dokter beserta asistennya masuk untuk mengontrol kondisi Dita.
“Besok Dita udah boleh pulang, kondisi Dita sudah cukup baik” ujar dokter yang menangani Dita.
“Enggak bisa hari ini aja Dok, Dita merasa udah cukup sehat. Lagian Dita merasa capek kalau harus terus-terusan tidur” ujar Dita berusaha meyakinkan dokter itu.
“Kalau Dita merasa sudah cukup kuat, nggak apa-apa. Yang penting nanti saat di rumah Dita harus tetap memperhatikan waktu untuk istirahat. Udah kangen sama Mamanya ya...?” ujar dokter itu lagi.
“Kalau Dita memang mau pulang hari ini, nanti suruh Kakaknya untuk mengurus administrasi Dita. Setelah itu Dita boleh pulang” tambah dokter itu.
Setelah Reza selesai mengurus administrasi Rumah Sakit untuk Dita. Reza segera menuntun Dita berjalan keluar dari rumah sakit itu. Dengan sanngat berhati-hati Reza membantu Dita masuk kedalam mobil yang berada di parkiran rumah sakit. Mobil yang dikendarai Reza segera melaju meninggalkan rumah sakit itu. Selama perjalanan Dita hanya berdiam diri. Dita banyak berpikir tentang dirinya yang akan segera bertemu dengan Mamanya. Dita berusaha menerka-nerka hal yang akan terjadi saat nanti dirinya bertemu dengan Mamanya di rumah. Dita terus melamun dan berpikir hingga akhirnya Dia tertidur. Dita pun terbangun saat Reza menghentikan mobilnya. Dita membuka matanya dan Dita pun melihat bahwa mereka telah berada di depan sebuah apotik yang tak jauh dari kawasan rumahnya.
“Dita tunggu sebentar ya. Ada obat yang harus Kakak beli. Karena di rumah sakit obat itu sedang kehabisan stok” ujar Reza pada Dita.
Dita hanya menganggukan kepalanya.
Setelah Reza pergi, Dita segera meraih jaket milik Reza yang tertinggal di dalam mobil. Dita segera mengenakan jaket itu dan berniat untuk kabur, karena Dia merasa sangat takut untuk bertemu dengan Mamanya. Saat Dita memasukkan tangannya ke saku jaket, Dita menemukan dompet Reza di sana. Dita kemudian mengambil 5 lembar uang ratusan dari dompet kakaknya itu. Setelah itu Dita segera melepaskan jaket yang telah Dia pakai dan meletakkan kembali jaket Reza ketempat semula, karena Dia yakin Reza akan segera kembali untuk mengambil dompetnya itu. Dan tak lama kemudian Reza pun kembali ke mobil dan mengambil jaketnya. Setelah Reza masuk kembali ke dalam apotik, Dita segera keluar dari mobil dan dengan berjalan mengendap-endap pergi menjauh dari mobil Kakaknya itu.
Setelah berhasil kabur Dita pun kemudian binggung akan arah dan tujuannya, saat itu Dita tidak tahu akan pergi kemana. Hingga akhirnya Dita memutuskan untuk pergi ke rumah sahabatnya Citra. Saat tiba di rumah Citra, Citra tampak terkejut melihat kedatangan Dita. Citra pun segera mengajak sahabatnya itu masuk ke rumahnya. Setelah berada di dalam kamar Citra, Dita segera bercerita mengenai semua hal yang telah menimpanya. Dita juga memberitahukan kepada Citra bahwa Dia bukan anak kandung dari Mamanya. Dita kemudian menceritakan semua hal yang membuatnya takut untuk pulang ke rumahnya. Citra yang sangat iba dengan sahabatnya itu mengizinkan Dita untuk tinggal dan beristirahat di rumahnya.
“Dit Aku keluar sebentar ya..! Aku udah ada janji sama Zian hari ini. Sebentar.. aja” ujar Citra sambil memilih-milih baju di lemarinya.
“Kalau kamu butuh sesuatu, kamu panggil aja si Mbak. Mama sama Papa Aku masih di luar kota, jadi Kamu santai aja” tambah Citra.
“Sorry banget ya Dit..!” ujar Citra lagi.
“Atau gini aja deh.. Aku batalin aja janji sama Zian. Atau Aku suruh Zian dateng kesini aja sekalian sama Beni” ujar Citra yang merasa tidak enak untuk meninggalkan sahabatnya itu.
“Enggak pa pa Cit, Kamu pergi aja” ujar Dita meyakinkan Citra.
Dita kemudian menikmati makanan ringan yang telah disiapkan oleh Citra di kamarnya.
“Maaf ya Dit..!” ujar Citra sekali lagi karena benar-benar merasa tidak enak terhadap Dita.
“Nggak pa pa Citra..! pergi aja. Aku juga mau istirahat. Jadi Kamu pergi aja, Oke..!” ujar Dita kembali meyakinkan sahabatnya itu.
Citra pun kemudian pergi. Setelah beberapa lama Citra pergi, Dita segera bergegas untuk pergi meninggalkan rumah Citra. Saat itu Dita takut bahwa Citra akan memberitahukan keberadaanya kepada Rangga ataupun Reza. Dita kemudian segera berpamitan pada asiten rumah tangga Citra. Setelah itu Dita segera pergi meninggalkan rumah Citra.
Setelah Dita pergi dari rumah Citra. Dita kembali kebingungan mencari tempat tujuan. Dita terus berjalan tanpa tujuan, telah beberapa kali Dita naik dan turun bus tapi Dia belum juga menemukan tujuannya. Dita terus menyusuri g**g-g**g kecil yang belum pernah dilaluinya. Dita akhirnya sampai di sebuah wilayah yang tampak sangat tidak beraturan. Dita terus menyusuri jalanan sempit di wilayah itu, hingga Dita tiba di sebuah warung makan yang cukup besar setelah keluar dari g**g sempit itu. Karena merasa lapar Dita pun akhirnya berhenti di warung makan itu dan segera memesan makanan. Setelah selesai makan Dita menanyakan mengenai pekerjaan pada pemilik warung. Tapi pemilik warung terrnyata belum membutuhkan orang untuk dipekerjakan. Akhirnya Dita pun pergi dari warung makan itu. Dita benar-benar kebingungan mencari tempat untuk berteduh. Hari pun telah beranjak sore, namun Dita belum juga menemukan tempat untuk menginap.
Dita terus berjalan, dan tanpa disadarinya Dia telah berada di kawasan yang padat dan ramai. Dita melihat hingar-bingar kota ada di depan matanya. Saat itu Dita berpikir bahwa dirinya tidak mungkin bisa bertahan hanya dengan mengandalkan sisa uang yang ada di tangannya. Dita pun berpikir bahwa dirinya harus segera mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang dan tempat tinggal. Setelah beberapa saat berjalan, Dita kemudian melihat kios koran yang berada di saberang jalan. Dita pun berniat untuk mencari informasi lowongan pekerjaan dari koran tersebut.
Dita menoleh ke kiri dan ke kanan untuk menyeberangi jalan. Saat tiba di depan kios koran tersebut Dita segera meminta koran lowongan kerja pada penjualnya. Saat hendak membayar koran, Dita mendengar suara gaduh dari salah satu sisi kios koran itu. Dita melihat ada seorang laki-laki yang sedang memegang sebuah majalah bisnis yang berdiri membelakanginya. Dita hanya bisa mendengar suara orang itu dengan samar-samar, karena suasana di sana terlalu bising oleh suara kendaraan yang berlalu-lalang.
“Enggak ada Pak..! Saya nggak punya uang kecil” ujar laki-laki itu.
“Aduh..! gimana ya Mas, uangnya hari ini besar-besar semua sih! Apa Mas mau nunggu sebentar? Kalau mau, saya tukarin dulu” ujar penjual koran.
“Aduh..! Tapi saya buru-buru ni Pak. Gimana ya..? mmm.. maaf ya Pak nggak jadi aja” ujar laki-laki itu lagi.
“Biar saya aja yang bayar Pak” ujar Dita sambil berjalan menghampiri laki-laki yang masih membelakangi dirinya.
Laki-laki yang memegang majalah itu kemudian segera menoleh. Setelah laki-laki itu menoleh, Dita menjadi sangat terkejut, ternyata laki-laki itu adalah Rangga. Dita dengan segera membalikkan badanya dan berniat segera pergi.
“Dita!” ujar Rangga sambil membalikkan tubuh Dita ke arahnya.
Rangga tampak tidak mempercayai bahwa yang ada di hadapannya itu adalah Dita.
“Kenapa Kamu di sini? Bukannya kemaren kamu masih di rumah sakit?” tanya Rangga yang tampak sangat khawatir.
Rangga kemudian segera mengajak Dita pergi dari tempat itu.
Di dalam mobil Dita melihat Rangga menghubungi seseorang dengan handphonenya. Saat itu terdengar Rangga sedang membatalkan janjinya dengan seseorang. Rangga kemudian membawa Dita ke sebuah kedai jus yang berada tak jauh dari tempat kerjanya. Rangga pun memesankan jus mangga kesukaan Dita.
“Dita kabur dari rumah sakit ya?” tanya Rangga dengan lembut.
“Dita nggak boleh kayak gitu. Mamanya Dita dan Kak Reza pasti binggung nyariin Dita. Ayo Kakak antar Dita pulang” tambah Rangga.
“Dita nggak mau pulang. Dita nggak berani ketemu sama Mama, Dita juga takut Kak Reza akan marah” jawab Dita.
“Mereka nggak akan marah, Dit” ujar Rangga lagi dengan lembut.
“Dita nggak mau pulang Kak, tolong Dita. Dita mohon..! jangan anter Dita pulang” pinta Dita mengiba.
“Kalau Kakak maksa, lebih baik Dita pergi aja” ujar Dita.
Dita pun kemudian segera bangkit dari tempat duduknya dan hendak beranjak pergi.
“Dita mau pergi ke mana?” tanya Rangga yang segera memegangi tangan Dita.
“Dita nggak tau, tapi Dita nggak mau pulang” ujar Dita dengan wajah mengiba.
Akhirnya Rangga membawa Dita ke suatu tempat. Rangga mencarikan Dita tempat tinggal di sebuah rumah sewaan yang letaknya tidak jauh dari tempat Dia bekerja.
“Besok Kakak akan suruh Citra untuk beliin pakaian buat Kamu” ujar Rangga setelah berada di rumah sewaan Dita.
“Jangan kasih tau Citra kalau Dita di sini.. Dita takut Citra akan bilang sama Kak Reza” pinta Dita dengan cemas.
“Dita nggak boleh kayak gini lama-lama. Kakak Cuma bantu Dita untuk beberapa bulan aja, setelah Dita siap untuk ketemu Kak Reza dan Mama, maka Kakak akan segera nganterin Dita pulang” ujar Rangga menasehati Dita yang sedang berdiri di hadapannya.
“Iya” jawab Dita pelan.
“Kak Rangga harus janji sama Dita, Kakak nggak boleh kasih tau siapapun kalau Dita ada di sini” pinta Dita mengiba.
“Iya Kakak Janji” jawab Rangga sambil membelai lembut rambut Dita.
“Makasih, Kak Rangga udah baik banget sama Dita. Maafin Dita yang nggak bisa ngebalas semua kebaikan Kak Rangga selama ini” ujar Dita sambil manatap wajah Rangga.
“Ssst..! Dita nggak boleh ngomong kayak itu” ujar Rangga sambil mengacak-ngacak rambut Dita.
Rangga kemudian melemparkan sebuah senyuman hangatnya kepada Dita.
Dita dan Rangga pun kemudian segera membereskan bagian dalam rumah sewaan yang tampak sangat berantakan. Setelah cukup bersih dan rapi Rangga kemudian meminta izin untuk pergi. Lalu tak lama dari itu Rangga pun kembali lagi dengan membawa beberapa peralatan dan makanan untuk Dita. Dita kembali merasa tidak enak dan merasa bersalah karena terus merepotkan Ranggga. Dita pun akhirnya tak mampu membendung air matanya saat menerima semua kebaikan dari Rangga itu.
“Dita..! kok Dita nangis? Kenapa..?” tanya Rangga heran serta khawatir.
Rangga segera menghampiri Dita yang sedang membersihkan sofa.
“Dita kenapa..? Apa Dita sakit? Kalau Dita sakit, ayo kita ke rumah sakit sekarang” ujar Rangga lagi sambil membimbing Dita untuk duduk.
“Dita nggak sakit Kak. Kak Rangga terlalu baik sama Dita. Dita ngerasa Dita belum cukup pantas buat Kak Rangga. Dita nggak pernah ngelakuin apa-apa buat Kak Rangga, tapi Kak Rangga selalu nolongin Dita. Maafin Dita karena selalu ngerepotin Kakak” ujar Dita dengan mata berkaca-kaca.
Dita merasa dirinya sangat tidak pantas untuk mendapat cinta dari Rangga. Rangga sangat tulus mencintainya, sementara Dia belum bisa memberikan seluruh cintanya kepada Rangga. saat itu Dita sangat membenci dirinya atas perbuatannya terhadap Rangga.
“Dita. Udah.. udah..! Kakak nggak mau denger lagi Dita ngomong yang aneh-aneh kayak Gini” ujar Rangga sambil menyibakkan rambut Dita yang menutupi wajahnya.
“Kakak nggak suka kalau Dita ngomong kayak gitu” ujar Rangga sambil menatapi wajah Dita dan menghapus air matanya.
“Dita janji nggak bakal ngomong kayak gini lagi ya!” pinta Rangga sambil menggenggam kedua bahu Dita.
Dita hanya menganggukkan kepalanya.
Rangga kemudia memeluk Dita yang masih tampak bersedih. Rangga sangat berharap semua masalah yang menimpa Dita akan segera berakhir. Dia tidak mau melihat Dita terus-terusan bersedih.
XXX XXX XXX