Tak lama setelah Dita berbincang-bincang dengan kedua orang tua Rangga, Rangga pun ikut bergabung dan bercengkrama bersama mereka. Rangga kemudian membicarakan masalah lamaran untuk Dita. Rangga meminta orang tuanya untuk segera melamar Dita. Dita pun cukup terkejut saat mendengarkan rencana Rangga itu, Dita pun segera menatapi Rangga yang duduk di hadapannya itu.
“Maaf Dit, kalau ini membuat Kamu terkejut. Mungkin menurut Kamu ini mendadak, tapi Kakak udah pernah ngomongin ini sama Papa dan Mama. Kakak udah lama berencana melamar Kamu, tapi Kakak belum memiliki keberanian dan belum ketemu waktu yang tepat” jelas Rangga pada Dita, karena melihat Dita terkejut dengan rencananya itu.
“Kakak yakin, sekarang adalah saatnya” tambah Rangga untuk meyakinkan Dita.
“Apa Dita keberatan dengan rencana Kakak? Kalau Dita belum siap, Dita bilang aja, nggak apa-apa” ujar Rangga sambil beranjak dari tempat duduknya dan segera duduk di samping Dita.
“Enggak apa-apa kalau Dita belum siap, Dita ngomong aja” ujar Rangga lagi dengan lembut.
“Dita siap kok” jawab Dita sambil berusaha tersenyum.
Menurut Dita itu adalah keputusan yang paling tepat saat itu. Karena hanya Ranggalah tempat dirinya bergantung. Kedua orang tua Rangga malam itu pun menyetujui rencana Rangga untuk melamar Dita.
XXX XXX XXX
Beberapa hari setelah Rangga menyampaikan niatnya untuk melamar Dita, Rangga dan kedua orangtuanya pun pergi ke rumah Dita dengan tujuan untuk melamar Dita dan sekaligus untuk mengantarkan Dita pulang ke rumahnya. Di perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba muncul rasa takut di hati Dita. Dita takut Mamanya akan marah dengan kepulangannya serta lamaran itu. Dita tampak sangat gelisah dan cemas, sesekali Dita menggigit bibirnya dan menarik nafasnya dalam-dalam, lalu Dita menggigit-gigit unjung kukunya dengan pandangan jauh keluar kaca mobil. Rangga yang melhat Dita sangat cemas dan gelisah segera meraih tangan Dita. Dita pun seketika langsung menoleh ke arah Rangga yang duduk di sampingnya.
“Dita..! Dita nggak usah takut. Semuanya akan baik-baik aja. Dita takut Mama akan marah, iya kan..!” ujar Rangga yang mengerti kegelisahan Dita.
Dita hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum getir.
“Dita nggak usah mikir macem-macem. Kakak yakin, Mama Dita nggak akan marah” ujar Rangga lagi untuk menenangkan Dita sambil membelai lembut kepala Dita.
“Iya, Dita nggak usah takut, kan ada Tante sama Om. Uda.. Dita tenang aja ” tambah Mama Rangga.
“Makasih Tante. Tante sama Om udah baik banget sama Dita” jawab Dita.
Malam itu setelah tiba di rumahnya, perasaan Dita semakin tak menentu. Setelah keluar dari mobil Dita tidak segera masuk ke dalam Rumahnya, Dita memilih berjalan di belakang Rangga. Dan setelah Bu Retno membukakan pintu, Dita perlahan-lahan melangkahkan kakinya untuk memasuki rumahnya mengikuti langkah kaki Rangga. Setelah beberapa langkah masuk ke dalam rumahnya, Dita pun melihat Reza berjalan menghampirinya. Reza kemudian dengan segera memeluk tubuh Dita.
“Dita..! Kakak kangen banget sama Dita. Kenapa Dita pergi begitu aja. Kenapa Dita tinggalin Kakak lagi. Dita kan udah janji nggak akan pernah ninggalin Kak Reza!” ujar Reza sambil terus memeluk Dita.
“Maafin Dita Kak” ujar Dita lirih.
“Dita harus janji! Dita nggak akan pernah ninggalin Kakak lagi!” ujar Reza setelah Dia melepaskan pelukannya.
“Awas kalau Dita sampai berani ninggalin Kakak lagi ” ujar Reza lagi sambil menatapi Dita.
Dita hanya terdiam karena Dia tidak mampu untuk menjawab permintaan Reza itu. Setelah beberapa saat dari pertemuan itu, Reza dan Dita pun ikut bergabung duduk di ruang tamu.
Tak lama setelah Reza dan Dita duduk, kedua orang tua Rangga segera menyampaikan maksud dari kedatangan mereka.
“Sebelumnya Saya mau minta maaf, karena mengganggu waktu Ibu Niken” ujar Mamanya Rangga dengan sangat ramah.
“Kok Ibu yang minta maaf. Seharusnya Saya yang minta maaf, karena udah ngerepotin Ibu” ujar Mama Dita dengan lembut.
“Makasih Ibu udah nganterin Dita pulang” tambah Mamanya.
“Begini Bu Niken, maksud kedatangan Kami ke sini.. Kami ingin melamar Dita untuk anak Kami Rangga” ujar Papanya Rangga untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka malam itu.
Mamanya dan Reza sangat terkejut ketika mendengar Papanya Rangga menyampaikan maksud kedatangannya itu. Mamanya pun segera mamandangi Dita yang tampak tertunduk disebelah Rangga. Demikian pula dengan Reza, Reza segera mengarahkan pandangannya kepada Dita. Namun Dita hanya tampak tertunduk dan berdiam diri.
“Kok mendadak benget sih..!” ujar Mama Dita yang masih belum sepenuhnya percaya dengan apa didengarnya saat itu.
“Sebenarnya udah lama Kita sekeluarga berencana melamar Dita, tapi baru malam ini kesampaian” jawab Mamanya Rangga.
Mamanya Dita pun bingung dengan lamaran itu, karena Dia telah menjodohkan Dita dengan Fiko. Mamanya pun tahu bahwa Dita tidak pernah menyukai Fiko. Mamanya pun kemudian terdiam untuk beberapa saat.
“Gimana kalau Kita serahin sama Dita aja. Biarkan Dita yang mengambil keputusan. Karena yang akan menjalani semua itu kan Dita” usul Reza memecah kebisuan Mamanya.
Sebenarnya Reza dengan berat hati mengusulkan ide itu, karena Dia masih belum rela untuk melepaskan Dita pergi dari sisinya. Tapi Reza juga tidak mau melihat Dita terus terbebani oleh perjodohannya dengan Fiko. Karena Reza tahu bahwa Dita tidak pernah menyukai Fiko. Dan jika Dia harus memilih antara Fiko dan Rangga, tentu Dia lebih memilih Rangga untuk menjadi pendamping hidup Dita. Karena Dia tahu Rangga lebih bertanggung jawab dan lebih tulus mencintai Dita.
“Gimana Dit?” tanya Reza kepada Dita yang masih tampak tertunduk.
Dita pun segera mengangkatkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya kepada Reza dan Mamanya.
“Mmm.. Dita.. Dita ikut kata Mama sama Kak Reza aja” jawab Dita pelan dan ragu-ragu.
Setelah melewati perbincangan yang cukup lama akhirnya Mama Dita menerima lamaran dari keluarga Rangga. Setelah keluarga Rangga beranjak dari ruang tamu hendak pulang, Reza segera kembali ke kamarnya. Dita dan Mamanya mengantarkan keluarga Rangga sampai di depan pintu. Selepas kepergian keluarga Rangga, Mamanya segera memeluk Dita dengan bercucuran air mata.
“Maafin Mama! Mama udah salah selama ini. Maafin Mama ya..! Mama nggak tahu kenapa Mama bisa sejahat itu sama Kamu. Mama sayang sama Kamu, Mama nggak mau kehilangan Dita lagi. Tolong maafin Mama..!” ujar Mamanya sambil mencium pipi dan kening Dita.
Mata Dita pun langsung berkaca-kaca karena senang. Dita merasa sangat senang bisa dipeluk oleh Mamanya. Itu adalah untuk pertama kali Mamanya memeluk dirinya. Mamanya kemudian segera mengajak Dita duduk dan Mamanya segera menceritakan kenyataan yang sebenarnya mengenai Dita. Setelah selesai bercerita Mamanya kembali memeluk tubuh Dita.
“Nggak seharusnya Mama jahat sama Kamu. Ini semua bukan salah Kamu. Mama yang terlalu egois. Mama terlalu bodoh. Mama sangat bodoh selama ini karena mengikuti keegoisan Mama” ujar Mamanya terus menagis menyesali perbuatannya.
“Maafin Mama karena udah menjodohkan Kamu sama Fiko. Besok biar Mama yang menjelaskan sama keluarga Fiko masalah lamaran ini” ujar Mamanya sambil menghapus air mata di pipi Dita.
“Enggak usah Ma, Fiko udah ngebebasin Dita dari perjodohan itu. Orang tua Fiko juga udah tahu” jawab Dita.
Dita kemudian menceritakan kejadian yang terjadi setelah Dia kabur saat pulang dari rumah sakit.
Saat itu setelah Dita mendapat tempat tinggal. Di suatu hari Rangga membawa Fiko ikut bersamanya untuk bertemu dengan Dita di rumah sewaanya. Saat itu menurut Rangga, Fiko harus mengetahui kondisi Dita, karena Rangga takut keluarga Fiko akan melaporkan masalah hilangnya Dita pada pihak kepolisian. Dan di hari itu juga Fiko melepaskan Dita dari perjodohan itu.
“Dit, maafin Kak Fiko ya! Selama ini Kakak udah bikin Kamu sedih” ujar Fiko dengan lembut.
“Jujur Kakak akui, Kakak memang suka sama Dita, tapi akhirnya Kakak sadar cinta Rangga lebih besar dan lebih tulus dari pada cinta yang Kakak miliki. Selama ini Kakak hanya ingin melihat seberapa besar cinta Rangga sama Kamu. Kakak takut Rangga selama ini baik dan perhatian sama Kamu, itu karena Dia hanya kasihan sama Kamu” ujar Fiko berusaha menjelaskan perbuatan yang sengaja dilakukannya untuk membuktikan bahwa Rangga benar-benar mencintai Dita.
Setelah itu Fiko menceritakan semua mengenai alasanya melakukan tindakannya itu.
Saat mereka masih berkuliah Fiko melihat Rangga banyak dekat dengan anak-anak perempuan di kampusnya. Banyak anak-anak perempuan di kampusnya yang menyukai Rangga dan mereka pun merasa nyaman saat berada di sekitar rangga. Hal itu dikarenakan selain Rangga memiliki wajah yangtampan Dia juga orang yang ramah, baik, perhatian dan bersahabat. Rangga adalah tipe orang yang tidak menyukai hal-hal yang berbau k*******n. Contohnya saja saat kegiatan ospek di kampus, Rangga adalah orang yang akan memberikan perhatian yang lebih kepada anak-anak baru yang dijahili atau ditindas oleh para seniornya. Sama halnya dengan Dita, banyak anak-anak baru terutama anak perempuan yang menjadi dekat dengan Rangga, karena Rangga selalu hadir memberikan perhatiaannya untuk menenangkan dan memberikan semangat saat anak-anak itu dijahili oleh seniornya pada saat kegiatan ospek. Dengan perhatian Rangga yang seperti itu tak jarang anak-anak perempuan itu salah mengartikan perhatian dari Rangga tersebut. Mereka menganggap bahwa Rangga menaruh hati kepada mereka, dan tak jarang ada anak-anak perempuan yang bertindak semaunya, mereka bertingkah seolah mereka adalah kekasih Rangga. Rangga sebenarnya adalah orang sangat tidak suka menyakiti hati orang lain terutama perempuan. Tapi suatu ketika Rangga meluapkan semua emosinya dengan kata-kata yang cukup keras pada beberapa anak-anak perempuan di kampusnya yang telah bertingkah berlebihan terhadapnya. Sebenarnya perhatian dan perlakuan Rangga terhadap mereka itu hanyalah sebuah bentuk simpatinya. Rangga selalu bersimpati saat ada orang lain yang dijahili atau ditindas itu karena ada alasan di masa lalunya.
Selama kuliah Fiko melihat Rangga banyak dekat dengan beberapa orang wanita. Rangga pun tampak memberikan perhatian lebih kepada wanita-wanita itu. Sama halnya dengan Dita, wanita yang menjadi dekat denga Rangga adalah mereka yang sering ditindas oleh seniornya pada saat kegiatan Ospek. Oleh karena itu para wanita itu sering salah dalam memahami perhatian yang diberikan oleh Rangga. Mereka mengira Rangga memiliki hati kepada mereka, padahal Rangga hanya bersimpati saja. Rangga selalu berusaha untuk tidak pernah menyakiti hati para wanita itu. Hingga akhirnya para wanita itu bertingkah seolah mereka adalah kekasihnya Rangga, dan di saat itulah Rangga mulai merasa tidak nyaman. Akhirnya Rangga mengeluarkan kata-kata yang tentunya menyakitkan hati para wanita tersebut. Rangga dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak memiliki perasaan apa-apa selain dari simpati. Dan tentu saja ucapan itu sangat menyakitkan hati para wanita yang selama ini telah diberi perhatian lebih oleh Rangga. Sebenarnya semua tidak dapat dikatakan sepenuhnya kesalahan Rangga. Rangga bersikap demikian karena dia memiliki alasan di masa lalunya.
Saat itu untuk pertama kalinya Rangga dan seorang sahabat wanitanya memasuki Universitas dan mengikuti kegiatan Ospek. Sahabat Rangga itu mengalami depresi akibat di bully oleh seniornya pada masa Ospek. Sahabatnya itu sempat di rawat di rumah sakit jiwa untuk waktu yang cukup panjang. Setelah beberapa hari di bawa pulang ke rumah, sahabatnya itu ditemukan sudah tidak bernyawa lagi di kamarnya. Akibat depresi yang dialaminya, sahabat Rangga itu memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan jalan meminum racun. Semenjak itu Rangga selalu kasihan dan bersimpati terhadap orang-orang yang diperlakukan keras dan kasar pada saat Ospek. Rangga selalu memberi perhatian yang lebih pada wanita yang menurutnya teraniaya di saat Ospek. Oleh karena itu Rangga juga memberi perhatian yang lebih kepada Dita. karena Rangga memberikan perhatian itu, maka Fiko semakin sengaja menjahili Dita. Hal itu dilakukan Fiko untuk melihat seberapa besar rasa suka yang dimiliki Rangga terhadap Dita. Fiko tahu Bahwa Rangga sebenarnya sudah memiliki ketertarikan pada Dita semenjak pertama kali melihat Dita.
Pertemuan Rangga dan Dita untuk pertama kalinya bukanlah di saat kegiatan Ospek, melainkan pada saat hari terakhir pendaftaran Mahasiswa baru di kampusnya. Hari itu Rangga menemani Citra saudara sepupunya untuk mendaftar kuliah di Universitas Mandiri. Dan di hari itu tak sengaja Rangga telah menabrak tubuh seorang wanita. Wanita itu tampak sangat sederhana dengan mengenakan sweter berwarna biru. Namun dengan kesederhanaannya itulah wanita itu menjadi tampak anggun dan cantik. Rangga pun segera meminta maaf dan berusaha menolong wanita yang telah ditabraknya hingga terjatuh itu. Wanita itu tampak pucat dan sedikit lemah, layaknya orang yang baru sembuh dari sakit. Tapi saat Rangga ingin menolong wanita itu untuk bangun, wanita itu segera menolaknya. Wanita itu kemudian segera berdiri dan tersenyum kepada Rangga lalu wanita itu kemudian segera pergi meninggalkan Rangga yang tampak masih sangat ingin memandanginya.
Setelah kepergian wanita itu dari hadapannya, Rangga baru tersadar bahwa Dia sedang memegang formulir pendaftaran milik wanita itu. Rangga sempat ingin mengejar wanita itu sebelum Dia menyadari bahwa formulir yang Dia pegang adalah formulir yang tidak terpakai lagi. Rangga memperhatikan formulir yang ada di tangannya itu, di sana ada banyak coretan dan banyak data yang tidak terisi secara lengkap sehingga Rangga tersadar bahwa formulir itu sudah tidak digunakan lagi. Rangga kemudian mulai membaca formulir itu dan dari sanalah Rangga mengetahui nama wanita yang telah membuat hatinya berdebar-derbar. Wanita itu bernama Meggi Anandita.
Semenjak hari itu Rangga sering bercerita kepada Fiko tentang wanita yang tak sengaja ditemuanya itu, wanita yang bernama Meggi Anandita. Dan tak disangka saat hari Ospek tiba, Rangga dipertemukan kembali pada Dita. Tentu saja Rangga sangat senang melihat keberadaan Dita di kampusnya. Fiko saat itu sengaja berpura-pura lupa dengan seorang wanita yang bernama Meggi Anandita, lalu Fiko sengaja berlaku sedikit keras terhadap Dita untuk melikat reaksi dari Rangga. Semakin lama Fiko pun akhirnya merasa yakin bahwa Rangga benar-benar menyukai Dita. Dan untuk lebih meyakinkan dirinya, maka saat Mamanya mengusulkan perjodohannya dengan Dita, Fiko dengan segera menyetujui rencana tersebut. Fiko memanfaatkan kesempatan itu untuk lebih melihat kesungguhan cinta Rangga terhadap Dita.
Setelah Dita menyelesaikan cerita tentang kejadian yang dialaminya kepada Mamanya, Mamanya kembali memeluk Dita. Mamanya tampak seperti orang yang telah ditinggal pergi oleh seorang anak selama bertahun-tahun. Mamanya tak henti-henti membelai rambut Dita, memeluk, bahkan menciumi kening Dita. Mamanya pun mengantarkan Dita ke kamarnya dan kembali membelai kepala Dita sebelum Dia beranjak pergi dari kamar Dita. Malam itu Dita merasa hidupnya sangat indah, tidak ada hal lain lagi yang Dia inginkan. Perlakuan Mamanya malam itu benar-benar telah membuat Dita tak bisa menhentikan seyuman dari bibirnya. Kembali Dita mengambil boneka Papa dan berbincang dengan boneka Papa. Dita mengutarakan semua kebahagiaanya pada boneka Papa. Dita pun menciumi dan memeluk boneka papa erat-erat seolah ingin membagi kebahagiaanya.
Sementara itu Reza yang sejak kepulangan Rangga dan keluarganya terus mengurung diri di dalam kamarnya. Malam itu pikiran Reza terasa kacau akibat lamaran Rangga terhadap Dita. Meskipun Reza telah berusaha membunuh rasa cintanya terhadap Dita, tapi Dia belum bisa sepenunhya melepaskan Dita dari hidupnya. Dia masih berharap memiliki waktu yang lebih lama berada di sisi Dita.
Di Pagi harinya Dita bangun dengan suasana hati yang berbunga-bunga. Dita segera berajak dari tempat tidurnya dan menyiapkan dirinya untuk berangkat kuliah. Setelah siap, Dita segera keluar dari kamarnya dan segera menuju kamar Mamanya. Dita berkali-kali mengetuk kamar Mamanya namun sayangnya tak ada jawaban.
“Mama udah berangkat ke butik Mbak” ujar Bu Retno yang datang menghampiri Dita ke depan pintu kamar Mamanya.
“Kok pagi banget Bu?” tanya Dita heran.
“Iya, Mama bilang ada banyak urusan yang harus cepat diselesaikan sebelum acaranya Mbak Dita. Oh ya Mbak, tadi pagi Mama bikinin Mak Dita sarapan lo.. Mama pesan sama Ibu.. agar Mbak Dita sarapan dulu sebelum berangkat kuliah” jelas Bu Retno.
“Apa? Yang bener Bu?” tanya Dita tidak percaya.
“Iya.. Ibu juga kaget Mbak. Tapi.. kayaknya Mama memang udah berubah. Ayo Mbak sarapan dulu” ajak Bu Retno.
“Nah.. ini telor ayam kampung setengah mateng dan s**u cokelat untuk Mbak Dita, dan ini Roti bakar sama s**u segar untuk Mas Reza” ujar Bu Retno sambil menyiapkan sarapan untuk Dita dan untuk Reza.
“Oh ya.. Mas Reza mana ya..? Kok tumben jam segini Mas Reza belum bangun” ujar Bu Reno lagi.
“Nanti biar Dita aja Bu yang anter ke kamar Kak Reza” ujar Dita.
Setelah Dita menyelesaikan sarapannya, Dita segera pergi ke kamar Reza dengan membawa sarapan yang telah disiapkan oleh Bu Retno. Dita mengetuk-ngetuk pintu kamar Reza, setelah sekian lama barulah terdengar jawaban dari Reza. Setelah Reza membuka pintu kamarnya, Dita segera menyapa kakaknya itu yang tampak masih bermalas-malasan.
“Kak Reza baru bangun ya..? Ini sarapan Kakak. Dita taruh di dalam ya” ujar Dita sambil melangkah masuk ke kamar Reza dan meletakkan sarapan itu di atas meja belajar Reza.
Dita kemudian membuka semua tirai dan jendela di kamar Reza, sehingga kamar Reza menjadi terlihat terang. Reza kembali ke atas tempat tidurnya dan menarik selimutnya.
“Kak Reza nggak kerja ya?” tanya Dita sambil memperhatikan Reza yang masih bermalas-malasan.
“Kakak cuti” jawab Reza singkat dan tanpa membuka matanya.
“Oh..! Kak, mungkin nggak lagi Dita seminar hasil. Dita deg-degan nih..! Semoga aja semuanya lancar dan perbaikannya sedikit, jadi dalam waktu singkat Dita udah bisa sidang skripsi” ujar Dita berusaha mengajak Reza ngobrol.
Tiba-tiba Reza beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan menghampiri Dita yang sedang berdiri di dekat meja belajar Reza.
“Apa Dita udah yakin dengan keputusan yang Dita buat? Apa Dita udah bener-bener siap untuk menikah dengan Rangga?” tanya Reza dengan serius kepada Dita.
“Kenapa mendadak benget sih Dit..! Kenapa nggak nunggu kamu selesai wisuda dulu..! Kenapa secepat ini Dit…? Kak Reza belum siap dengan semua ini” ujar Reza sedih.
“Dita nggak tahu Kak. Yang Dita tahu Kak Rangga adalah orang yang sangat.. baik. Dia baik banget sama Dita, cuma ini cara Dita untuk ngebalas semua kebaikan Kak Rangga” jawab Dita sambil memalingkan wajahnya mengahadap ke arah luar jendela untuk menghindari tatapan Reza.
“Kalau Dita nggak yakin, kenapa Dita ngambil keputusan secepat ini?” tanya Reza.
“Aduh! Maaf Kak Dita harus segera pergi ke kampus. Dita udah telat nih..!” ujar Dita berusaha menghindar dari percakapan itu.
Dita kemudian segera pergi meninggalkan Reza yang masih tampak ingin membicarakan banyak hal kepadanya. Dita berusaha menghindari percakapan yang panjang dengan Reza, karena Dita takut bila dirinya berlama-lama berbincang dengan Reza, maka hatinya akan goyah untuk menikah dengan Rangga. Karena jauh di dalam hatinya masih tersimpan cinta yang begitu besar untuk Reza.
“Bu, Dita berangkat kekampus ya” ujar Dita berpamitan pada Bu Retno yang sedang membersihkan ruang tamu.
“Iya Mbak hati-hati” jawab Bu Retno.
“Dit, Kakak anterin ya!” ujar Reza yang tiba-tiba telah berada di belakang Dita.
“Kak Reza!” ujar Dita sedikit terkejut saat melihat Reza telah berada di belakangnya.
“Kakak anterin ya!” ujar Reza lagi sambil tersenyum hangat.
“Kakak kan belum mandi..!” ujar Dita sambil mengernyitkan alisnya.
“Nggak usah..! Dita naik bus aja” tambah Dita mengelak untuk diantar oleh Reza.
Saat itu Dita sangat Takut Reza akan bertanya banyak hal di dalam mobil saat mengantarkannya ke kampus.
“Pokoknya Kakak anter hari ini” ujar Reza memaksa.
Reza pun kemudian segera menarik tangan Dita, dan segera pergi menuju mobilnya.
Akhirnya Dita pun diantarkan oleh Reza pergi ke kampusnya. Dan benar saja di tengah perjalanan Reza tak henti-henti membahas mengenai lamaran Rangga terhadap dirinya.
“Apa Dita nggak mau memikirkan ulang tentang lamaran Rangga tadi malam?” ujar Reza saat di perjalannan mengantarkan Dita.
“Maksud Kak Reza gimana? Dita nggak ngerti” ujar Dita berpura-pura bodoh.
“Apa Dita bener-bener udah yakin menerima lamaran Rangga tadi malam? Apa Dita udah siap menikah sama Rangga?” tanya Reza untuk meyakinkan perasaan Dita.
“Kalau Dita belum yakin, Kakak bisa bantu Dita buat ngomong sama Rangga dan keluarganya” tambah Reza.
“Kak Dita udah mau nyampe ni” ujar Dita saat memasuki gerbang kampusnya untuk mengalihkan pembicaraan Reza.
“Dita turun di sini aja Kak” pinta Dita.
“Nggak, Kakak anter Kamu sampai ke dalam” jawab Reza.
Setelah sampai di depan gedung sekretariat Fakultasnya Dita segera turun dari mobil.
“Dita pulang jam berapa? Namti Kak Reza jemput” ujar Reza setelah membuka kaca jendela mobilnya.
“Nggak usah Kak, nanti Dita pulangnya bareng Temen-temen aja” jawab Dita.
“Bye Kak, Dita masuk ya!” ujar Dita sambil melambaikan tangannya kemudian segera pergi meninggalkan Reza.
Reza pun kemudian segera mengendarai mobilnya meninggalkan gedung perkuliahan itu.
Hari itu Dita pergi ke kampusnya hanya untuk bimbingan skripsi saja. Dita pun kemudian segera menemui dosen pembimbing skripsinya di ruang sekretariat untuk mengatur jadwal seminar hasil dalam penyusunan skripsinya. Dita ingin segera menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin agar Dia bisa segera pergi menjauh dari Reza. Dia tidak ingin terus berada di dalam lingkaran kehidupan Reza, karena hal itu akan membuat hatinya goyah. Jika Dia cepat menyelesaikan kuliahnya maka Dia bisa secepatnya menikah dengan Rangga dan secepatnya pula Dia akan pergi meninggalkan Reza pikir Dita saat itu.
“Dita, Maafkan Bapak. Dita mungkin baru bisa seminar hasil pertengahan bulan depan” ujar Pak Cahyo salah satu dosen pembimbing skripsi Dita.
“Kenapa Pak?” tanya Dita sedikit kecewa.
“Kalau dari Bapak sih nggak ada masalah, tapi dari Pak Samsul. Pak Samsul ada dinas ke luar kota dari akhir bulan ini sampai pertengahan bulan depan. Kita nggak mungkin mengadakan seminar hasil Kamu tanpa Pak Samsul. Iya kan Dita! Dia kan dosen pembimbing Kamu juga” ujar Pak Cahyo menjelaskan permasalahannya.
“Dita tunggu aja Ya! Tenang aja.. Dita pasti bisa. Itu kan nggak terlalu lama. Nanti kalau Pak Samsul sudah pulang baru kita bahas lagi mengenai jadwal seminar hasil Dita” tambah pak Cahyo menyemangati Dita.
“Iya Pak” jawab Dita sambil berusaha tersenyum.
“Dita permisi ya Pak” ujar Dita berpamitan pada dosen pembimbingnya itu.
Dita pun meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang kecewa, niat hatinya yang ingin segera menyelesaikan studinya terpaksa tertunda. Dita kemudian pergi menuju taman kampus, dan disana Dia memilih duduk di bangku taman yang berada dibawah pohon yang sangat rindang yang tepat berada didekat kolam ikan. Dita kemudian menghela nafasnya sambil memandangi ikan-ikan yang berada di dalam kolam.
“Untuk apa bermimpi?Hidup dengan mimpi terasa sangat berat. Tanpa mimpi hidup pun akan terus berjalan. Bermimpi pun tak ada gunanya, karena pada akhirnya Aku akan terbangun dari mimpi itu tanpa mendapatkan apa-apa. Sama halnya dengan Cita-cita dan cinta. Semakin tinggi aku bercita-cita dan berharap cinta, maka jatuhku akan terasa lebih sakit” ujar Dita lirih dalam hatinya.
“Apa yang akan Aku lihat? Apa yang akan aku temui? Apa yang akan aku dapatkan? Apa yang nantinya aku korbankan? Haruskah itu? Apakah Aku tidak bisa hidup dengan jalan yang Aku pilih sendiri?Kenapa Aku berada di sini? Kenapa Aku terjebak disituasi yang seperti ini?” tanya Dita dalam hatinya sambil terus memandangi ikan-ikan yang berada di dalam kolam.