15

2014 Kata
7            Hari-hari Dita dilaluinya dengan terus memberikan semangat kepada Reza. Dita terus membujuk Reza agar menjalani fisioterapi, hingga suatu hari Reza akhirnya mau menjalani fisioterapi tersebut. Fisioterapi yang di jadwalkan Dokter dilakukan dua kali dalam kurun waktu satu minggu. Hari pertama fisioterapi, kaki Reza di sinari oleh lampu dan beberapa titik kaki Reza ditempeli alat untuk menyetrum yang berguna untuk membantu merangsang dan melemaskan otot-otot. Setelah itu kaki Reza di pijat-pijat. Saat itu Reza tampak sangat kesakitan, Reza pun sesekali tampak berteriak karena rasa sakit di kakinya. Dita yang melihatnya saat itu merasa sangat sedih, tapi Dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Kakaknya yang sedang kesakitan itu. Terapi hari itu berlangsung cukup lama. Dita harus mendengar Kakaknya menjerit-jerit dan menangis kesakitan sekitar 1 jam lamanya. “Kalian mengambil keputusan yang tepat untuk segera menjalani fisioterapi. Jika kalian sempat menundanya, proses pemulihan fungsi kaki seperti sedia kala pasti akan sulit. Fisioterapi sebaiknya dilakukan sedini mungkin yaitu 1 bulan setelah operasi, sehingga otot sendi tidak terlalu kaku dan bisa menekuk dengan sempurna. Untuk kasus Reza ini, saya yakin kamu pasti akan bisa berjalan dengan normal kembali” ujar terapis tersebut menjelaskan kondisi Reza setelah Reza menyelesaikan sesi terapinya. “Perlu waktu berapa lama untuk menekuk dan berjalan dengan baik?” tanya Dita. “Tergantung dari seringnya latihan. Dengan mengikuti fisioterapi di rumah sakit, bukan berarti hanya mengandalkan itu saja, justru yang terpenting adalah frekuensi latihan yang dilakukan  di rumah” jawab terapis itu. Terapis itu kemudian memberitahukan gerakan-gerakan yang harus dilakukan dan terus dilatih di rumah kepada Reza. Selanjutnya Reza juga diberitahukan bagaimana posisi yang baik untuk duduk, tidur dan berjalan. Terapis itu juga menyarankan agar Reza harus sering memijat-mijat dan mengompres kakinya.            Di bulan pertama Reza menjalani terapi, Reza dianjurkan tetap menggunakan kursi roda. Dan pada bulan kedua Reza telah diperbolehkan menggunakan dua tongkat. Dita terus membantu Reza untuk berjalan menggunakan tongkat. Tak jarang Reza hampir terjatuh karena latihan itu, tapi Dita selalu sigap menopang tubuh Reza. Dita terus memberikan semangatnya untuk Reza, tak pernah sekali pun dia membiarkan Reza berlatih seorang diri. Sampai suatu hari Reza menanyakan tentang kuliahnya Dita. “Akhir-akhir ini Kakak liat Dita nggk pernah pergi kuliah” ujar Reza. “Dita udah ngajuin cuti Kak, selama setahun” jawab Dita sambil membantu Reza berjalan. “Apa? Nggak! Dita nggak boleh cuti kuliah. Cepet batalin! Kakak nggak mau gara-gara Kakak, Kamu sampai mengabaikan kuliah Kamu. Tahun ini Kamu kan udah mulai nyusun skripsi. Cepet batalin cutinya” ujar Reza marah. “Kakak mau besok Dita ke kampus dan batalin cuti Dita” pinta Reza. “Iya, besok Dita batalin cutinya” jawab Dita pelan. Keesokan harinya Dita pun segera membatalkan pengajuan cutinya. Dita kembali menjalani kuliahnya, tapi Dita masih merasa beruntung karena di semester itu Dia hanya mengambil 3 mata kuliah saja termasuk skripsi. Dita hanya perlu pergi kuliah 2 hari saja dalam seminggu diluar bimbingan skripsinya. Jadi Dita masih memiliki banyak waktu untuk menemani Reza berlatih berjalan. Setiap pulang dari kuliah Dita tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, terkadang Dita sampai berlari-lari kecil agar cepat tiba di rumah. Setibanya di rumah Dita pun segera cepat-cepat mengisi perutnya, lalu Dia segera menemui Reza dan menemani Reza untuk berlatih berjalan. Empat bulan lamanya Reza terus belajar berjalan menggunakan dua tongkat. Perlahan-lahan Reza pun mulai merasakan kaki kananya sudah mulai bisa menopang tubuhnya. Setelah beberapa kali berkonsultasi pada terapis, Reza akhirnya diperbolehkan melepas satu tongkatnya. Kini Reza pun telah bisa berjalan hanya menggunakan satu tongkat. Dengan perkembangan kondisi Reza itu tentu saja membuat Dita merasa sangat senang. Dita sangat berharap Reza bisa segera berjalan dengan normal seperti yang dulu. Demikian pula dengan Reza, Reza merasa sangat senang dengan kemajuannya saat itu. Pada suatu hari Dita mengajak Reza untuk latihan berjalan, di taman komplek rumahnya. Dita mendorong kursi roda Reza menuju taman dengan hati-hati. Setelah tiba di taman, Dita segera memberikan tongkat kepada Reza. Setelah beberapa lama berjalan dengan tongkatnya, Dita kemudian meminta Reza untuk mencoba berjalan tanpa bantuan tongkat. Dita mengulurkan tangannya untuk membantu Reza berdiri. Reza kemudian memegang erat tangan Dita dan perlahan-lahan Reza mulai mengangkat kakinya dan berusaha untuk melangkah. Tiba-tiba tubuh Reza terlepas dari rangkulan Dita. “Kak Reza..!” teriak Dita ketakutan. “Maafin Dita Kak. Dita nggak hati-hati” ujar Dita dengan mata yang berkaca-kaca. Dita segera berusaha membangunkan tubuh Reza yang tersungkur di atas rumput. Lalu Dita membersihkan pakaian Reza yang tampak sedikit kotor. “Hahaha... hahaha… hahaha….” Reza tertawa lepas. “Kak Reza. Kakak kenapa? Kakak nggak apa-apa kan…?” tanya Dita cemas dan binggung. Reza terus tertawa kencang. Dita yang tidak mengerti terus saja memandangi Reza yang tampak tertawa bahagia. “Kakak nggak apa-apa kok Dit, Kakak malah lagi seneng banget sekarang” ujar Reza yang tak henti-hentinya tersenyum. Sementara itu Dita terus menatapi Reza dengan heran. “Kenapa harus dengan cara kayak gini, kita bisa dekat lagi” ujar Reza dengan wajah yang serius yang masih terduduk di atas rumput sambil memandangi Dita. Dita masih saja terus memandangi Reza yang terduduk di hadapannya itu. “Kakak rela selamanya kayak gini asal Kamu selalu berada di samping Kakak. Kakak nggak bisa kehilangan Kamu Dit. Kakak bener-bener sayang sama Kamu” ujar Reza lagi sambil meraih tangan Dita dan menggenggamnya erat. Dita kemudian menarik tangan Reza kearahnya, Dita pun kemudian membasahi tangan Reza dengan air matanya. Dita sangat terharu mendengar semua perkataan Reza saat itu. Dita pun terus menangis dan tertunduk di hadapan Reza dan terus menggenggam erat tangan Reza. Reza kemudian segera memeluk tubuh Dita. “Kak Reza, maafin Dita Kak. Selama ini Dita udah membuat Kakak sedih. Dita selalu ngerepotin Kakak. Maafin Dita” ujar Dita yang masih berada di dalam pelukan Reza. “Ssstt... Dita nggak pernah ngerepotin Kakak” jawab Reza dengan lembut. Reza terus memeluk tubuh Dita untuk melepaskan rasa rindunya kepada Dita. Reza pun kemudian teringat saat mereka berdua masih kecil, Reza seringkali memeluk Dita saat Dia bersedih persis seperti saat itu.            Hari-hari selanjutnya pun akhirnya dilalui oleh Dita dan Reza dengan rasa penuh kebersamaan. Mereka menjalani hari-hari mereka dengan penuh keceriaan dan kebahagian. Reza pun seakan menemukan alasannya kembali untuk terus berjuang. Reza terus berusaha untuk berlatih agar bisa berjalan kembali secepatnya. Akhirnya delapan bulan berjalan dengan begitu cepat. Reza pun kembali bisa berjalan dengan normal. Melihat keberhasilan Reza itu Dita pun merasa sangat bahagia.  Suatu hari Dita mengajak Reza pergi mengunjungi sebuah  taman hiburan. Di sana mereka mencoba hampir semua wahana permainan yang ada, dan mereka pun bermain sepuasnya. Mereka melewati setiap detik hari itu dengan penuh canda tawa dan keceriaan. Setelah puas bermain, Reza kemudian membawakan satu cup jus mangga segar untuk Dita. “Ternyata Kakak masih ingat” ujar Dita sambil tersenyum bahagia dan segera menerima jus mangga dari Reza. “Iya dong.. Kak Reza..! Kakak nggak perna lupa apa yang jadi kesukaan Dita” ujar Reza membanggakan dirinya. Lalu Reza segera duduk di samping Dita. “Udah sore ni Dit, yuk Kita pulang” ajak Reza. “Nanti aja Kak pulangnya, Kita pergi ke pantai dulu yuk! Udah lama banget Dita nggak pergi ke pantai. Ayo dong Kak..!” pinta Dita dengan manja. Reza akhirnya menyetujui ajakan Dita itu. Reza dan Dita pun akhirnya pergi ke pantai. Di pantai itu saat mereka asik bersenda gurau dan bermain Dita merasa sangat bahagia, karena Dia bisa melihat tawa bahagia terpancar di wajah Reza. Mereka terus bermain sambil bersenda gurau di pantai itu hingga malam pun menjelang. Dita berusaha mengisi setiap detik di hari itu dengan memori yang indah. Dita seolah tidak ingin membiarkan hari itu berlalu begitu saja, karena hari itu adalah hari terakhirnya bersama Reza. Karena secepatnya Dita harus pergi dari rumahnya seperti janjinya dulu kepada Mamanya. “Kak Maafin Dita. Besok Dita harus pergi. Dulu Dita udah janji sama Mama, Dita boleh tinggal di rumah hanya sampai Kak Reza sembuh. Sekarang Kak Reza udah bisa jalan lagi, itu artinya Dita harus pergi. Dita Cuma bisa berada di sisi Kakak Cuma sampai hari ini aja. Maafin Dita Kak!” ujar Dita dalam hatinya sambil memandangi Reza yang tengah duduk disampingnya yang tampak sedang asik memandangi gelombang air laut. “Kak Reza traktir Dita ya..! Dita nggak punya uang.. tapi Dita pengen.. banget makan sate yang di pinggir jalan dekat kampus” ujar Dita setelah mereka berada di dalam mobil. “Iya.. Kakak tau kalau Dita nggak punya uang. Dari dulu emang kayak gitu kan…!!” goda Reza sambil tersenyum. Dita pun turut tersenyum mendengar perkataan Kakaknya itu. Saat malam telah larut barulah Dita mengajak Reza untuk pulang. Setibanya di rumah, Reza dan Dita segera masuk ke kamarnya masing-masing. Setelah masuk ke kamarnya, Dita segera mengunci pintu kamarnya. Dita kemudian segera berkemas-kemas, karena keesokan harinya Dia harus segera pergi dari rumahnya itu. Keesokan harinya Dita sengaja bangun pagi-pagi sekali, karena Dita tidak ingin Mamanya dan Reza sampai mengetahui kepergiannya. Dita kemudian begegas keluar dari kamarnya dengan membawa satu koper kecil yang berisi beberapa helai pakaiannya. Dita meninggalkan handphonenya dan semua fasilitas yang telah diberikan oleh Mamanya. Dita kemudian masuk ke ruang kerja Mamanya dan meletakkan selembar kertas di atas meja kerja Mamanya. Di kertas itu Dita menuliskan beberapa pesan untuk Mamanya. “Ma, Dita pergi. Dita udah penuhi janji Dita untuk membuat kak Reza sembuh. Sekarang Kak Reza udah sembuh, Kak Reza udah bisa jalan lagi kayak dulu. Itu berarti udah saatnya Dita harus pergi dari rumah ini. Maafin Dita karena selama ini selalu nyusahin Mama. Dita selalu bikin Mama marah. Maafin Dita karena nggak bisa jadi anak yang baik untuk Mama. Dita sayang banget sama Mama, Selamanya Dita akan selalu sayang sama Mama. Ma, terimakasih karena Mama udah mau merawat dan membesarkan Dita” Setelah meletakkan surat itu, Dita bergegas pergi meninggalkan rumahnya.  XXX                                     XXX                                      XXX            Tujuan Dita adalah warung makan Bu Ratih, karena di sanalah satu-satunya tempat yang diketahui oleh Dita. Setelah berada di warung Bu Ratih, Dita segera menghubungi Rangga menggunakan handphone milik Bu Ratih. Bu Ratih sebenarnya telah menawarkan Dita untuk tinggal di rumahnya. Tapi Dita menolaknya, Dita tidak mau merepotkan Bu Ratih dan keluarganya. Tak lama setelah Dita menghubungi Rangga, Rangga pun tiba di warung Bu Ratih. “Kak Rangga! Kok cepet bangaet. Kak Rangga nggak kerja ya?” tanya Dita yang terkejut karena melihat Rangga telah datang menemuinya. “Kakak izin hari ini. Dita kenapa di sini? Nanti Kak Reza dan Mamanya nyariin lo..!’ ujar Rangga. Setelah Rangga duduk, Dita pun segera menceritakan semua tentang janji yang telah dibuatnya kepada Mamanya. “Dita nggak tau harus menghubungi siapa. Cuma Kak Rangga yang Dita inget. Sekali lagi Dita minta maaf, karena udah ngerepotin Kak Rangga” ujar Dita tertunduk. “Kak, Dita mau pinjem uang untuk bayar sewa rumah. Pemilik rumah yang kemarin, sekarang minta dibayar langsung setengah tahun. Uang Dita nggak cukup. Nanti kalau Dita udah dapat kerja, Dita kembaliin” ujar Dita lagi dengan ragu-ragu. Saat itu sebenarnya Dita merasa sangat tidak enak kepada Rangga, karena telah berkali-kali merepotkannya. Dita pun merasa sangat berhutang budi kepada Rangga, karena setiap kali Dia mengalami kesulitan Rangga selalu hadir untuk menolongnya. Karena melihat Dita yang tampak kebingungan, Rangga segera mengajak Dita pergi dari warung Bu Ratih. Rangga kemudian mengajak Dita berkeliling kota, dan pada malam harinya Rangga mengajak Dita ke rumahnya. Setelah tiba di rumahnya, Rangga segera mengajak Dita masuk. Dita pun disambut hangat oleh kedua orang tua Rangga. “Dita kok akhir-akhir ini udah jarang main ke rumah? Lagi banyak tugas kuliah ya?” tanya Mama Rangga saat sedang berbincang-bincang santai di ruang tamu. “Iya Tante” jawab Dita dengan ramah. “Padahal kemaren-kemaren Tante pengen ngajak Dita liat pameran lukisan. Tapi Rangga bilang Dita lagi banyak tugas. Sekarang Dita lagi nyusun skripsi ya? ” ujar Mama Rangga lagi sambil memandangi Dita dengan hangat. “Iya Tante, sekarang Dita lagi nyusun skipsi” jawab Dita sambil tersenyum. Tak lama setelah Dita berbincang-bincang dengan kedua orang tua Rangga, Rangga pun ikut bergabung dan bercengkrama bersama mereka. Rangga kemudian membicarakan masalah lamaran untuk Dita. Rangga meminta orang tuanya untuk segera melamar Dita. Dita pun cukup terkejut saat mendengarkan rencana Rangga itu, Dita pun segera menatapi Rangga yang duduk di hadapannya itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN