4

4449 Kata
3 Satu minggu telah berlalu dari kegiatan Makrab. Aktivitas akademika telah dimulai. Dita pun menjalani masa kuliahnya dengan baik. Selama seminggu perkuliahan berlangsung, Dita tidak menemukan hal yang memberatkan dirinya untuk terus mengikuti aktivitas perkuliahan. Hari-hari Dita di kampus dilaluinya dengan penuh warna, karena ada sahabat-sahabatnya yang selalu berada di sisinya. Dita merasa sangat beruntung memiliki sahabat-sahabat yang baik. Dita dan sahabat-sahabatnya itu saling membantu dan saling support satu sama lain. Di suatu hari minggu yang cerah Dita hanya bermalas-malasan di kamarnya. Tiba-tiba Dita mendengar ada suara ketukan pintu dan suara Bu Retno berkali-kali memanggil dirinya. Dengan malas-malasan Dita beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu kamar. “Ada apa Bu?” tanya Dita setelah membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Bu Retno masuk. “Begini Mbak, tadi pagi Mama nyuruh Ibu untuk ngasih tau Mbak Dita, Kata Mama, Mbak Dita boleh ambil barang apa aja yang Mbak mau di butik. Itu adalah hadiah dari Mama” ujar Bu Retno. “Hadiah...! Hadiah untuk apa Bu?” tanya Dita heran. “Enggak tau Mbak,  tadi pagi Mama enggak ngomong apa-apa lagi, Cuma itu aja” jawab Bu Retno yang juga ikut bingung. “Oh... Hadiah itu… mungkin karena Mbak Dita udah kuliah. Dulu saat Mas Reza udah masuk Universitas, Dia juga dikasih hadiah sama Mama. Iya Mbak… Ibu ingat saat itu Mas Reza di beliin motor yang besar Mbak sama Mamanya Mbak” ujar Bu Retno lagi yang masih tampak sedang berpikir. “Mungkin Ibu bener. Itu adalah hadiah karena Dita udah kuliah. Dulu waktu Dita masuk SMP dan SMA Mama juga ngasih hadiah ke Dita” ujar Dita sambil mengingat masa lalunya. “Iya Mbak, Ibu yakin itu hadiah karena Mbak Dita udah kuliah” ujar Bu Retno meyakinkan Dita. “Oh ya Mbak, Ibu permisi dulu. Ibu masih ada kerjaan” ujar Bu Rento berpamitan.  Setelah Bu Retno pergi dari kamarnya, Dita segera memeluk boneka papa. “Pa… Dita sedih. Mama enggak pernah berubah, Mama masih benci sama Dita. Sekarang pun Mama masih enggak mau ngasih hadiah langsung ke Dita. Semua masih sama kayak dulu. Mama selalu nitipin hadiahnya sama orang lain. Kenapa Mama kayak gitu Pa…? Kenapa…? Apa salah Dita…? Dita juga pengen kayak Kak Reza yang selalu diperhatiin sama Mama” ujar Dita sedih sambil memeluk boneka papa. Dita terus mengadukan semua yang dirasakannya pada boneka Papa dan tanpa terasa air mata Dita mulai berlinang. “Sekarang Dita udah enggak punya siapa-siapa lagi Pa. Kak Reza sekarang udah berubah pa… Kak Reza udah kayak mama… Kak Reza sekarang benci sama Dita... Kak Reza udah enggak sayang lagi sama Dita. Pa… semenjak Papa enggak ada, Mama jadi jarang pulang ke rumah. Mama lebih sering ngabisin waktunya di butik dan mama juga sering pergi ke luar Kota. Mama sepertinya sengaja ngelakuin itu untuk menghindar dari Dita. Mama pasti enggak suka ngeliat Dita. Pa… Dita kengen banget sama Papa… Dita mau ikut Papa aja… Pa… tolong… tolong  jemput Dita, Dita udah enggak kuat ” ujar Dita terisak-isak. Dita memeluk boneka Papa dengan erat. Dengan bercerita sambil memeluk boneka Papa, Dita merasa beban di hatinya sedikit berkurang. Lama Dita memeluk boneka Papa sambil mencurahkan isi hatinya, hingga akhirnya Dita pun tertidur.                                               XXX                                      XXX                                      XXX Sementara itu Reza yang sedang berada di kamarnya, sibuk merapikan buku-buku dan barang-barang yang berserakan di atas meja belajarnya. Tanpa sengaja Reza manjatuhkan beberapa buku pada tumpukan kado yang berada di pinggir meja belajarnya. Saat hendak mengambil buku-buku itu mata Reza tak sengaja tertuju pada tumpukan kado dan surat yang didapatkannya pada acara Malam Keakraban di kampusnya. Reza kemudian segera membuka kado-kado dan surat-surat itu satu persatu. Saat sedang asik membaca sebuah surat, Reza tiba-tiba teringat akan kado yang diberikan olah Dita kepadanya. Reza kemudian segera mencari kado tersebut. Setelah Reza membuka kado itu, Reza melihat di dalam kotak tersebut terdapat sepucuk surat dan sebuah pena cantik. Reza ingat betul pena itu adalah pena yang dulu pernah Dia berikan kepada Dita. Reza pun segera membuka surat itu dan membancanya. “Kak Reza, maaf jika surat ini nanti akan menggangu Kakak. Karena menyita waktu Kakak untuk membacanya. Dita binggung harus kasih kado apa dan akan kasih kado untuk siapa. Di mata Dita hanya Kak Reza satu-satunya senior yang pantas untuk mendapatkan kado dari Dita, karena hanya Kak Reza yang pantas untuk menjadi idola dimata Dita. Karena Kakak adalah orang yang sangat baik bagi Dita” Membaca isi surat tersebut Reza tersenyum tersipu-sipu dan bahagia. Reza senang bahwa Dita tidak menyimpan rasa benci terhadap dirinya. Kemudian Reza melanjutkan membaca surat itu kembali. Reza terus tersenyum membaca isi surat dari Dita yang terus memuji dirinya. Tapi senyuman itu terhenti seketika, saat Reza membaca bagian-bagian akhir dari surat Dita. “Kak Reza inget pena ini, pena ini adalah pena yang dulu Kakak beliin buat Dita. Dita sayang banget sama pena ini, karena pena ini dibeli atas usaha Kak Reza. Padahal waktu itu Dita tahu uang jajan Kak Reza udah habis, tapi Dita tetap maksa Kakak untuk membelinya. Dita enggak tahu entah dari mana Kakak akhirnya dapet uang dan ngebeliin pena ini untuk Dita. Pena ini selalu Dita jaga, setiap Dita melihat pena ini Dita pasti akan teringat sama Kak Reza yang selalu berusaha membahagiakan Dita. Hari ini untuk pertama kalinya Dita menggunakan pena ini, untuk sebuah surat yang Dita tujukan untuk Kak Reza. Dan mungkin juga hari ini untuk terakhir kalinya Dita menggunakan pena ini.  Jika nanti Kak Reza memutuskan membuang pena ini,  itu berarti Dita enggak memiliki kesempatan lagi untuk menggunakannya.  Dita memberikan pena ini sebagai kado keakraban antara adik dan kakak, bukan antara senior dan juniornya. Dita berharap dengan adanya pena ini di tangan Kakak, Kak Reza bisa mengingat Dita dan kebersamaan yang udah kita lalui bersama. Saat terakhir Dita masuk ke kamar Kakak, Dita enggak lagi ngeliat ada barang-barang yang pernah Dita kasih dulu terpajang di kamar Kakak. Kakak mungkin udah membuang semuanya. Oleh karena itu, Dita memberikan pena ini. Setidaknya ada satu barang yang akan mengingatkan Kak Reza kepada Dita, agar Kak Reza enggak bener-bener ngelupain keberadaan Dita. Kenapa Kak Reza sekarang seperti mama? Kenapa Kak Reza membenci Dita? Apa salah Dita? Jika memang Dita pernah melakukan kesalahan yang sangat menyakitkan Kak Reza, yang membuat Kak Reza jadi benci sama Dita, maka Dita minta maaf. Dita benar-benar minta maaf. Kak Reza, Dita mohon agar Kakak memberi penjelasan tentang kebencian Kakak terhadap Dita. Agar Dita bisa mengkoresi dan memperbaiki kesalahan Dita. Dita minta Kak Reza enggak membuang pena ini, karena Dita sangat berharap suatu hari nanti Kak Reza akan datang mengembalikan pena ini dan menjelaskan semuanya kepada Dita. Dita akan selalu menunggu masa itu. Dita sayang Kak Reza” Reza hampir meneteskan air mata saat membaca bagian-bagian akhir surat dari Dita. Reza kemudian berguman sendiri untuk meluapkan semua rasa bersalah dan amarah yang selama ini dipendamnya. “Maafin Kak Reza Dit. Kakak terpaksa ngelakuin ini, Kakak enggak punya pilihan lain. Kakak enggak bisa kayak dulu lagi. Kakak enggak bisa berada di samping Dita lagi. Kakak sakit…! Kakak gila…! Kakak jatuh cinta sama Dita, Adik Kakak sendiri..! Kakak takut enggak bisa mengontrol emosi Kakak saat berada di samping Kamu. Kakak sayang sama Dita, Kakak cinta sama Dita, tapi bukan sebagai seorang Adik. Tapi lebih dari itu…! Maafin Kakak..! Kakak enggak bisa ngejelasin semua ini sama Dita. Kakak takut..! Kakak sangat takut Dita akan membenci Kakak. Kakak enggak pernah membenci Dita, Kakak enggak pernah ingin membuat Dita menangis. Kakak benar-benar enggak tahu harus berbuat apa…? Kakak bingung Dit..! Tolong maafin Kakak. Kakak berharap suatu hari nanti Dita akan mengerti ketidakberdayaan Kakak”  ujar Reza terduduk di sisi tempat tidurnya dengan berlinang air mata. Reza terus berbicara sendiri seperti orang yang hilang akal. Hingga akhirnya Reza tidak mampu lagi berkata-kata. Reza membiarkan air matanya terus mengalir mambasahi pipinya. Hanya air matanyalah yang dapat mewakili semua perasaan yang dirasakannya saat itu.. XXX                                      XXX                                      XXX Tanpa terasa sudah hampir lima bulan Dita menjadi seorang Mahasiswi di Universitas Mandiri. Dita bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang baik. Karena dengan bersama sahabat-sahabatnya itulah Dita dapat menjalani hari-harinya yang cukup berat. Dengan perhatian dari sahabat-sahabatny itu Dita dapat melupakan semua kesedihan yang dialaminya. Jadwal Ujian semesteran telah ditempel di papan pengumuman. Dita dan para sahabatnya sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian tersebut. Mereka tidak membiarkan waktu yang tersisa terbuang sia-sia. Mereka memanfaatkan waktu itu dengan melakukan kegiatan belajar bersama, meminjam buku di perpustakaan dan melengkapi catatan yang terasa masih kurang. Di suatu hari, sembari menunggu mata kuliah berikutnya, Dita dan ketiga orang sahabatnya itu asik membahas materi ujian semester di dalam ruang perkuliahan. Selang beberapa waktu kemudian masuklah Fiko, Rangga dan beberapa orang senior lainnya. Rangga pun meminta waktu untuk menyampaikan sebuah pemberitahuan. “Selamat siang...!” sapa Rangga dengan hangat. Setelah salamnya dijawab Rangga kemudian meneruskan perkataannya. “Maaf mengganggu waktu kalian, ada beberapa pemberitahuan yang harus kami sampaikan” Ujar Rangga. Rangga kemudian melemparkan padangannya pada semua juniornya itu. Setelah Dia melihat para juniornya telah berfokus untuk mendengar perkataannya, maka Rangga meneruskan pembicaraannya. “Setelah ujian semester selesai, jurusan kita akan mengadakan sebuah kegiatan sosial. Kegiatan tersebut dinamakan kegiatan Bakti Sosial. Kegiatan ini adalah kegiatan rutin Jurusan yang diadakan setahun sekali. Kegiatan ini akan diadakan di luar kota. Tepatnya di sebuah desa yang masih sangat membutuhkan bantuan pembangunan, baik itu pembangunan fisik maupun pembangunan sumberdaya manusianya. Oleh karena itu sebelum kegiatan itu dilaksanakan, kita perlu menggalang dana terlebih dahulu. Masalah penggalangan dana dan pembagian kelompok serta tugas masing-masing, akan kita diskusikan nanti setelah semua mata kuliah  selesai” ujar Rangga menjelaskan mengenai kegiatan tersebut.            Tujuan kegiatan bakti sosial ini adalah untuk saling membantu dengan sesama. Jika kita memiliki waktu ataupun bahan sebagai objek yang bisa kita berikan untuk membantu orang lain, maka sebaiknya kita berikan hal itu untuk membantu mereka yang membutuhkan. Selain itu dari kegiatan bakti soial tersebut Kita akan mendapatkan banyak pelajaran, terutama tentang lingkungan masyarakat” tambah Rangga lagi. Dita dan seisi ruangan tampak memberikan perhatian yang penuh terhadap penyampaian Rangga mengenai kegiatan bakti sosial tersebut.  “Saya harap tidak ada satu pun Mahasiswa yang pulang duluan. Semua Mahasiswa diwajibkan untuk ikut dalam kegiatan ini, karena ini adalah kegiatan wajib Jurusan yang selalu dilaksanakan setiap tahun. Bagi Mahasiswa yang benar-benar tidak dapat mengikuti kegiatan ini, harap memberikan alasan yang tepat dan dapat diterima oleh ketua panitia pelaksana. Kegiatan ini juga akan didampingi oleh beberapa Dosen yang berperan sebagai pendamping kegiatan. Jadi saya harap kegiatan ini dilakukan dengan baik dan sungguh-sungguh” tambah Rangga panjang lebar. “Apa kalian sudah jelas dengan apa yang saya sampaikan tadi?” tanya Rangga kepada semua juniornya itu. “Kalau ada yang belum jelas, silahkan bertanya” tambah Rangga. “Kalau kalin tidak ada yang bertanya, berarti kalian sudah mengerti dengan yang saya jelaskan tadi” ujar Rangga. “Iya” jawab sebagian anak-anak di dalam ruangan itu. Dan tampak sebagian anak-anak yang lain menganggukkan kepala mereka pertanda mereka telah mngerti dengan penjelasan yang disampaikan oleh Rangga. “Kalau begitu sampai bertemu nanti setelah mata kuliah kalian selesai” ujar Rangga. Setelah itu Rangga pun berpamitan kepada para juniornya itu, lalu kemudian Rangga dan teman-temannya pergi meniggalkan ruangan tersebut.            Kegiatan bakti sosial merupakan sebuah kegiatan wujud dari rasa kemanusiaan antara sesama manusia. Kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh para Mahasiswa bertujuan untuk mewujudkan rasa cinta kasih, rasa saling menolong, rasa saling peduli terhadap masyarakat luas yang membutuhkan uluran tangan. Selain itu kegiatan bakti sosial itu juga dapat membantu dalam proses pembentukan sikap dan kepekaan sosial. Dari sisi akademik tujuan diselenggarakannya kegiatan bakti sosial adalah untuk melaksanakan atau menerapkan salah satu point Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat.                                    XXX                                      XXX                                      XXX Kegiatan Bakti Sosial yang telah dijadwalkan akhirnya tiba. Seluruh Mahasiswa berkumpul di kampus dengan membawa barang dan perlengkapan yang telah ditentukan oleh panitia. Seluruh peserta kegiatan Bakti Sosial yang merupakan Mahasiswa semester satu, telah berbaris sesuai kelompoknya masing-masing. Satu-persatu peserta kegiatan Bakti Sosial diabsen dan langsung dipersilahkan masuk ke dalam bus. Dita, Citra dan Zian, mereka mendapat bus yang sama, hanya Beni yang harus terpisah dari mereka. Para peserta tidak bisa memilih bus sesuai keinginan mereka, karena para panitialah yang mengatur bus untuk para pesertanya itu. Setelah semua Mahasiswa semester satu masuk ke dalam bus, satu-perstu para senior mulai memasuki bus. Dita dan Citra duduk berdampingan, mereka duduk di bagian kanan bus pada kursi nomor tiga dari belakang. Sesaat setelah berada di dalam bus, Citra tampak asik mendengarkan musik dari earphonenya. Tampak Citra menganguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama musik yang didengarnya. Karena tidak ingin mengusik kebahagian Citra, Dita memilih bersenda gurau bersama Zian yang duduk berseberangan di sebelah kirinya. Saat tengah asik bergurau, tak sengaja Dita menolehkan kepalanya ke arah pintu bus. Dita melihat para senior mulai menaiki bus. Setelah beberapa orang senior masuk ke dalam bus, tampaklah Fiko sedang berjalan menuju kursi di depan tempat duduknya. Di belakang Fiko ada Rangga, Yeyen dan yang terakhir ada Reza. Fiko dan Rangga duduk berdua di kursi yang berada tepat di depan Dita. Sedangkan Reza dan Yeyen Duduk di kursi yang berseberangan dengan Fiko, tepatnya di kursi yang berada di depan Zian. Dita yang terus menatapi para senior yang sedang masuk ke dalam bus itu tak sempat menghindarkan tatapannya dari pandangan Reza. Reza dan Dita saling bertatapan untuk beberapa saat. Dita yang merasa tidak kuat dengan tatapan Reza, segera memalingkan wajahnya ke arah zian. Dita merasa hari itu  nasibnya kurang beruntung karena harus melihat Reza dan Yeyen berduaan ditambah lagi dengan Fiko yang ternyata duduk tepat di depan kursinya. Dita menggerutu dan mencibirkan bibirnya karena kesal. Sementara itu Citra malah kecentilan memanggil-manggil Reza, Fiko dan Rangga. “Hai Kak Reza… Hai Kak Ranga… Kak Fiko…” ujar Citra  melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum centil. “Citra beruntung banget hari ini… Terimakasih Tuhan..! Karena Engkau udah membuat Citra satu bus bersama idola-idola Citra… ” tambah Citra sambil mengangkat kedua tangannya layaknya orang yang sedang berdoa. “Citra…! Berisik..! Udah Cit! Jangan malu-maluin!” ujar Dita dengan suara sedikit berbisik. Dita merasa terganggu dan merasa malu dengan kelakuan sahabatnya itu. “Citra…!” ujar Dita lagi sambil menginjak kaki Citra. “Awww…! Sakit tau…!” teriak Citra. Namun Citra tetap saja tidak memperdulikan teguran sahabatnya itu, Citra terus memamerkan senyuman genitnya di hadapan Rangga, Reza dan Fiko. Dita sangat tahu bahwa sahabatnya itu sangat terobsesi dengan makhluk yang bernama Rangga. Tapi Dita tidak suka melihat sahabatnya itu bersikap terlalu genit dan agresif. Dita pun terus berusaha memperingatkan sahabatnya itu dengan suara sedikit berbisik-bisik dan sesekali menyenggol bahu Citra. “Citra..! Udah dong..! Malu-maluin tau...!” ujar Dita dengan suara sedikit berbisik sambil menyenggol bahu Citra. “Ampun..! Ni anak.. bikin malu aja” ujar Dita dalam hatinya sambil memejamkan matanya karena sedikit kesal kepada Citra. Tentu saja Citra tetap tidak menghiraukan teguran sahabatnya itu, Citra terus saja memanggil-manggil para seniornya itu sambil tersenyum genit. Melihat kelakuan Citra yang memalukan itu, Dita kemudian perlahan menundukkan kepalanya dan menggarut-garut keningnya untuk menutupi wajahnya yang kesal. Beberapa jam kemudian, suasana di dalam bus yang semula ramai berangsur menjadi hening. Bus itu terus melaju dengan kecepatan yang tinggi. Saat itu Citra tampak sudah tertidur pulas masih dengan earphone ditelinganya. Berbeda dengan Dita, telah berkali-kali Dita berusaha memejamkan matanya untuk tidur, namun Dia tetap tidak bisa tertidur. Karena merasa bosan, Dita kemudian mengambil earphone dari dalam tasnya. Dita segera memasang earphone itu di telinganya dan segera memutar musik kesukaannya. Dita kemudian memejamkan matanya untuk menikmati musik yang sedang diputarnya. Setelah beberapa saat Dita mendengarkan musik dari earphonenya, Dita merasakan suasana di dalam bus perlahan menjadi sangat tenang dan lambat-laun menjadi sangat sunyi. Dita tidak lagi mendengarkan ada suara-suara lain selain musik dari earphonenya. Semakin lama Dita merasakan suasana di dalam bus itu menjadi benar-benar sunyi, lalu Dita pun tidak lagi mendengar ada suara musik dari earphonnya. Yang terdengar oleh Dita saat itu hanyalah suara bising dari mesin kendaraan yang tengah melaju dengan kencang. Perlahan Dita membuka matanya, Dita baru tersadar bahwa bus yang membawanya ke lokasi kegiatan Bakti Sosial ternyata telah berhenti. Dengan mata yang masih berat karena baru terbangun dari tidurnya, Dita menoleh kearah Citra, Dia melihat Citra masih tertidur pulas. Kemudian Dita pun mengarahkan pandangannya ke arah luar jendela, tampak oleh Dita di seberang jalan ada beberapa rumah warga dan ada beberapa kedai kecil yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. “Di mana ini? Apa udah nyampe? Apa di sini, lokasi kegiatannya? Kalau emang di sini… bus yang lainnya mana?” guman Dita sambil celingak-celinguk memperhatikan suasana di sekitar bus melalui jendela. “Huuaaammm… mmmm” Citra tiba-tiba terbangun karena beberapa kali tersenggol oleh Dita yang terus mendekatkan wajahnya pada jendela Bus. “Udah nyampe ya Dit?” tanya Citra. “Enggak tau Cit, Aku juga baru bangun. Tapi kayaknya belum deh! Aku enggak liat ada bus yang lain. Cuma bus kita aja yang ada di sini” jawab Dita menjelaskan apa yang Dia lihat. “Coba Kamu liat! Anak-anak juga masih pada tidur. Berarti kita belum nyampe” tambah Dita yang saat itu melihat ke arah belakang tempat duduknya. “Aduh…! Masa bodo deh sama itu semua. Yang jelas sekarang Aku kebelet nih..! Temenin Aku yuk nyari toilet” ujar Citra meringis. “Ayo cepet…! Udah kebelet banget nih…!” ujar Citra lagi sambil menarik tangan Dita. Saat berdiri dari tampat duduknya, Dita melihat ada beberapa bangku yang sudah kosong yang berada di barisan depan, termasuk bangku Fiko, Rangga Reza dan Yeyen. Tapi Dita tidak memperdulikan kemana orang-orang itu pergi. Setelah keluar dari dalam bus, Dita dan Citra melihat Pak sopir sedang berbicara dengan seseorang melalui handphone-nya. “Mungkin bus kami akan terlambat tiba di lokasi tujuan karena harus mengganti ban. Salah satu ban belakang bus bocor. Sebenarnya bocornya tidak terlalu parah jika tidak dipaksakan terus melaju. Tapi saat itu bus sedang berada di dalam hutan, jadi Kami terpaksa membiarkan bus tetap melaju hinnga mencapai lokasi yang ada penduduknya biar aman. Dan kebetulan di sini juga ada bengkel” ujar pak sopir pada teman bicaranya di handphone. Dita dan Citra tak sengaja mendengar percakapan pak sopir itut saat sedang melintas di samping Pak sopir yang berada di belakang bus. Dita pun kemudian segera melihat ban belakang bus yang ternyata sedang diperbaiki. “Liat Cit! Kayaknya perbaikannya masih agak lama tuh” ujar Dita sambil menunjuk ke arah ban yang sedang diperbaiki. “Kayaknya iya” jawab Citra. “Kalau gini, kita bisa santai, kita istirahat dulu yuk di kedai depan sana. Sekalian kamu numpang ke toilet di kedai itu aja” ujar Dita sambil menunjuk ke arah kedai yang ada di seberang jalan. Dita dan Citra bergegas menuju kedai yang terletak di seberang jalan dari tempat bus mereka berada. Setela berada tepat di depan kedai itu Dita melihat ada beberapa orang seniornya sedang asik bercengkrama sambil menikmati minuman yang ada di hadapan mereka. Di antara para senior itu, Dita melihat ada Fiko yang sedang menatapi dirinya. Dita menjadi kesal karena berkali-kali Dia harus bertemu dengan Fiko, orang yang paling tidak disukainya. Sempat terbesit di benak Dita untuk mengurungkan niatnya membeli minuman dan segera kembali ke dalam bus. Tapi Dita segera mengurungkan niatnya itu. “Kalau Aku balik arah kembali ke bus, pasti Fiko mikirnya Aku takut sama Dia” pikir Dita. “Tapi Aku males banget harus ngeliat manusia yang bernama Fiko itu” pikir Dita lagi “Ayo Dit..! Cepetan..! Udah kebelet bangt nih!” ujar Citra sambil terus menarik tangan Dita. Setelah masuk ke dalam kedai, Citra segera pergi ke toilet dan Dita segera mamasan dua botol air mineral. Dita kemudian duduk di kursi kosong yang berada berseberangan dengan tempat duduk Fiko. Dita kemudian membuka tutup botol air mineral yang ada ditangannya sambil perlahan melirik ke arah tempat dimana Fiko sedang duduk. Dita melihat Fiko masih metatap ke arahnya. Dita tahu bahwa sejak dirinya berjalan mendekati kedai tersebut Fiko telah menatapinya dengan tatapan tajam, tapi Dita terus berpura-pura tidak mengetahui hal itu. “Iihh.. Kok susah banget sih!” guman Dita sambil membuka tutup botol air mineral yang dipegangnya. “Keras banget sih tutup botolnya. Tau kayak gini, mending tadi aku minta tolong aja sama yang jual” guman Dita lagi sambil tetap berusaha membuka botol minumnya. Dita kemudian menjadi teringat kejadian di saat Dia menumpahkan air mineral pada saat Ospek yang menyebabkan baju Fiko dan Rangga menjadi basah. Karena Fiko masih terus melihat ke arahnya dan demikian pula Rangga, maka Dita mengubah posisi duduknya ke arah samping sambil terus berusaha membuka tutup botol air mineral tersebut. Dita tidak mau lagi terlihat bodoh dimata Fiko dan Rangga karena tidak bisa membuka tutup botol air mineral itu. Setelah berusaha dengan keras akhirnya Dita berhasil membuka tutup botol air mineral tersebut. Dita kemudian memperbaiki posisi duduknya seperti semula dan segera menenggak air minumnya. Tak lama kemudian Citra pun datang dan segera duduk di samping Dita. Selang beberapa waktu dari Citra duduk, Dita melihat para seniornya satu-persatu beranjak dari tempat duduknya dan tampak hendak meninggalkan kedai itu. “Hai Dita, Citra. Kakak duluan ya” sapa Rangga dengan ramah saat hendak keluar kedai. “Iya...” jawab Dita sambil tersenyum ramah. “Kak Rangga tunggu…! Citra juga udah mau ke bus. Bareng ya Kak!” ujar Citra yang segera berdiri dan berjalan menghampiri Rangga. “Citra…!” ujar Dita geram. Dita tentu tidak tinggal diam melihat sahabatnya itu kecentilan. Dita segera bergerak dan hendak berdiri untuk menggapai tangan Citra dan mencegah Citra pergi bersama Rangga. “Duk” terdengar suara benturan yang cukup keras pada kaki meja. Saat hendak berdiri lutut kaki Dita tak sengaja membentur kaki meja yang berada di depannya. “Aaaww...! Aduh…!” Dita pun terduduk kembali dan meringis kesakitan. Dita kemudian mengelus-elus lututnya yang terasa sakit. Citra yang melihat kejadian yang menimpa Dita, malah cekikikan tertawa. “Mangkanya pelan-pelan, Dita!” ujar Citra sambil terus cekikikan. “Dita enggak apa-apa?” tanya Rangga yang saat itu segera membalikkan badannya dan hendak menghampiri Dita, Tapi Citra dengan segera menggandeng tangan Rangga. “Ayo Kak, kita ke bus. Bye Dita… kita duluan ya…!” ujar Citra sambil menarik tangan Rangga yang sedang digandengnya. Citra dan Rangga pun pergi meninggalkan Dita yang sedang terduduk kesakitan. Sesekali tampak Rangga menolehkan kepalanya untuk melihat Dita. Sambil menahan rasa sakit di kakinya, Dita berusaha berdiri dan berjalan untuk membayar minuman yang telah Dia pesan. Setelah itu Dita pun berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari dalam kedai, karena saat itu Dita melihat sudah tidak ada satu orang pun yang berada di luar bus. Dita pun menyeberangi jalan dengan sedikit berlari karena Dia takut ketinggalan bus yang di tumpanginya itu. Saat Dita mulai masuk ke dalam bus, langkah kakinya seketika menjadi pelan. Jantungnya berdetak dengan cepat, dan hatinya pun terasa sakit. Dita tidak dapat mengalihkan pandangannya dari sosok Reza. Dita terkejut melihat Reza dan Yeyen yang tampah tengah tertidur di dalam bus, dan saat itu pula Dita melihat kepala Yeyen bersandar tepat di bahu Reza. Tak hanya itu, Yeyen juga tampak menggandeng erat tangan Reza. Dita menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit di hatinya. Dita menarik nafasnya dalam-dalam dan menengadahkan kepalanya karena air matanya hampir menetes. “Enggak..! Enggak mungkin aku cemburu! Mana mungkin aku cemburu! Dia Kakakku... Kak Reza! Ini pasti karena Aku jalan terburu-buru tadi mangkanya jantung Aku menjadi berdetak cepat. Mana mungkin semua ini karena ngeliat Kak Reza sama Yeyen. Itu enggak mungkin…!” ujar Dita dalam hatinya. Dita terus berusaha menghibur hatinya, hingga Dia tidak menyadari bahwa dirinya telah berada tepat di depan tempat duduknya. Setelah terkejut melihat Reza dan Yeyen, Dita kembali dikejutkan oleh kekonyolan sahabatnya Citra. Dita melihat Rangga telah duduk manis di sebelah Citra yang tentu saja kursi yang di duduki Rangga adalah tempat duduk miliknya.   “Hai Dit. Enggak apa-apa kan Kakak duduk di sini. Ada urusan yang harus Kakak selesaikan sama Citra” ujar Rangga. “Citra…!” ujar Dita tak percaya. Dita yakin itu semua adalah ulah sahabatnya. “Citra pasti memaksa Kak Rangga biar duduk sama Dia”  pikir Dita. “Hai Dita… hehe…” ujar Citra sambil tersenyum nakal dan sambil melambaikan tangannya kepada Dita.  “Iya ni Dit… Aku sama Kak Rangga ada urusan penting… please ya…! Kak Rangga boleh duduk di sini..! Ya.. please..!” ujar Citra lagi sambil mengangkat dan menyatukan kedua telapak tangannya seolah sedang mengiba. “Iiih… dasar Citra! Awas Kamu ya” jawab Dita geram. Dita memelototi Citra dengan penuh amarah, tapi Citra hanya tersenyum centil sambil terus menggoda Rangga. Dita benar-benar kesal dan tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan Citra terhadap dirinya. Dita sangat geram dengan kelakuan sahabatnya itu, tapi saat itu Dita tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk memperingatkan Citra. Belum hilang kesedihannya karena melihat Reza dan Yeyen, kemudian harus ditambah lagi dengan kekonyolan dari Citra, hal itu membuat Dita benar-benar menjadi sulit untuk berpikir dengan tenang. Dita segera memejamkan matanya ambil menghela nafas, lalu Dita memaksakan dirinya untuk tersenyum di hadapan Rangga. Setelah itu Dita pun segera menuju tempat duduk milik Rangga yang berada tepat di sebelah Fiko. Di saat itu Dita melihat mata Fiko tertutup rapat dan kepalanya bersandar di dinding kaca bus, layaknya orang yang sedang tidur. “Kenapa Aku s**l banget sih hari ini!” guman Dita dalam hati karena kesal. “Tadi kejedut. Sekarang harus duduk di sebelah orang ini! Iiihhg... sebel..sebel..!” guman Dita lagi. “Semoga aja Dia nggak bangun” harap Dita sambil perlahan-lahan mulai duduk di sebelah Fiko. “Hu...hu...hu..hu..” Rengek Dita seperti orang yang sedang menangis, sambil memejamkan matanya. “Iiih.. Kenapa harus duduk sama orang ini sih!” guman Dita lagi sambil menoleh ke arah Fiko dan sambil mengepalkan tangannya dan mengarahkannya ke arah Fiko. Dita pun kemudian menatap ke arah Fiko untuk beberapa saat dengan tatapan kesal. Setelah puas menatapi Fiko Dita kemudian meperbaiki posisi duduknya seperti semula.  “Hu..hu..hu..hu..” rengek Dita lagi sambil menengadahkan kepalanya serta menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya dan diikuti dengan hentakakan kaki karena rasa kesalnya. Di sepajang perjalanan itu Dita terus berharap agar Fiko tidak terbangun dari tidurnya. Sebab Jika sampai Fiko terbangun Dita tidak tahu harus bagaimana, tidak tahu harus berbuat apa dan tidak tahu harus berkata apa. Dita merasa sangat canggung jika dirinya harus membuka komunikasi dengan Fiko, karena selama ini yang Dia ingat hanya pertengkaran saja yang selalu terjadi antara dirinya dengan Fiko. Dan jauh di lubuk hatinya pun Dita sebenarnya sangat enggan menjalin komunikasi dengan makhluk yang bernama Fiko yang saat itu berada tepat di sampingnya.            Perjalan kali itu terasa sangat lama dan membosankan bagi Dita. Selama perjalanan Dita hanya termangu sendiri, tidak ada satu pun orang yang bisa diajaknya berbicara. Teman-temannya duduk berjauhan dari tempat duduknya yang sekarang, dan hanya handphonelah yang menjadi teman setianya saat itu. Setelah setia menemani Dita beberapa saat, akhirnya handphone Dita pun lowbat.  Dita pun kembali merasa jenuh dan bosan, tak jarang Dita menengadahkan kepalanya dan memandangi langit-langit bus untuk menghilangkan rasa bosannya.                                    XXX                                      XXX                                      XXX
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN