Saat Dita sedang berjalan menuju podium, Reza memperhatikan Dita dengan penuh rasa cemas dan kasihan. Reza melihat Dita berjalan dengan pandangan yang kosong. Reza yakin saat itu Dita sedang berpikir keras. Reza kemudian menundukkan kepalannya dan menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya, Reza pun menghela nafasnya karena Dia sangat khawatir terhadap Dita. Setelah beberapa saat menghela nafasnya, Reza kembali menegakkan kepalannya dan memperhatikan Dita yang terus berjalan mendekati podium.
Setelah berada di atas podium, Dita terdiam untuk sejenak. Dita kemudian memperhatikan orang-orang di sekelilingnya dan dihadapannya. Dita melihat begitu banyak pasang mata yang tidak Dia kenal sedang menatap ke arah dirinya. Dita kembali mengatur nafasnya, setelah itu Dita mulai membuka pembicaraannya dengan mengucapkan salam. Lalu Dita segera mengutarakan semua hal yang telah muncul di benaknya.
“Tahun ajaran baru merupakan tahun yang sangat bermakna dan memberikan kesan yang mendalam bagi para Siswa dan siswi. Di tahun itu para Siswa ataupun Siswi akan segera menginjakkan kakinya untuk pertama kali di lingkungan pendidikan yang lebih tinggi yaitu lingkungan Universitas. Gelar Siswa yang selama ini disandang akan hilang dan berganti dengan gelar Mahasiswa. Di masa peralihan dari Siswa menjadi Mahasiswa inilah tentunya peran dari Senior ataupun Dosen sangat diperlukan. Bimbingan dan arahan yang baik sangatlah dibutuhkan pada masa peralihan itu.
Bimbingan dan arahan tersebut dapat diberikan di saat kegiatan Ospek berlangsung. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa adanya kegiatan Ospek sangat dibutuhkan. Dari kegiatan itulah para Mahasiswa baru akan mengenali lingkungan dan kehidupan kampus, serta tahu akan esensi dari gelar Mahasiswa yang telah disandangnya. Selain itu melalui kegiatan Ospek diharapkan para senior ataupun Dosen mampu memberikan motivasi dan mendorong Mahasiswa baru agar lebih berani untuk bersosialisasi dan berinteraksi satu sama lain.
Dari kepanjangan kata Ospek sendiri yaitu Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus, dapat diambil makna bahwa tujuan dari kegiatan Ospek adalah untuk membantu Mahasiswa baru mengenali seluk-beluk kampusnya dan membantu Mahasiswa baru agar memiliki pandangan tentang arah belajar sebagai seorang Mahasiswa. Maka sudah seharusnya pada saat Ospek para Mahasiswa baru dikenalkan dengan para Dosen, diberitahu tentang organisasi-organisasi kampus, fasilitas kampus, jam belajar, mata kuliah dan berbagai hal yang dapat membantu Mahasiswa baru agar lebih mengenali kehidupan kampusnya.
Di setiap Universitas tentunya para senior memiliki cara tersendiri untuk menyambut kedatangan para juniornya. Ada beberapa Universitas yang mengisi kegiatan Ospek dengan berbagai tugas seperti menulis karya ilmiah dan esai. Adapula Universitas yang mengisi kegiatannya dengan mengadakan games yang bersifat ringan dan seru. Ada yang mengisi acara Ospek dengan mengadakan team builldings yang tentunya bertujuan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak Universitas yang masih mengisi kegiatan Ospek dengan memberikan pelatihan mental dan fisik serta menerapkan aksi k*******n pada Mahasiswa baru. Para senior terkadang sengaja memberikan tugas yang tidak rasional dan dengan sengaja pula merancang tugas-tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh Mahasiswa baru. Selain itu, juga sering ditemui ada para senior yang selalu berusaha mencari-cari kesalahan peserta Ospek yang tujuannya tidak lain adalah untuk memberikan hukuman kepada juniornya.
Karena kekhawatiran akan hukuman yang akan diterima tersebut, para Mahasiswa baru tidak lagi memperhatikan tujuan dari kegiatan Ospek yang sebenarnya. Ada Banyak senior yang mengatakan bahwa tujuan mereka berkata kasar, keras dan bertindak represif adalah untuk menumbuhkan sikap disiplin, mandiri dan menumbuhkan sikap berani pada Mahasiswa baru.
Menurut saya pribadi pendekatan seperti itu tidaklah efektif. Karena buah dari tindakan represif, cacian, k*******n baik itu fisik ataupun non fisik, itu semua akan menjatuhkan mental para Mahasiswa baru. Selain itu dampak lain dari pendekatan tersebut adalah dikhawatirkan akan menimbulkan rasa dendam, serta dapat menghilangkan motivasi, mematikan kreativitas dan mengkerdilkan cara berfikir seseorang.
Ospek sebenarnya adalah wadah untuk memperkenalkan dunia baru yang lebih intelek. Melalui kegiatan Ospek para Senior diharapkan membantu Mahasiswa baru membangun pemikiran yang kritis untuk menghadapi kehidupan di depannya. Mahasiswa baru pada akhirnya juga akan menjadi Mahasiswa seutuhnya yang dituntut untuk berperan sebagai Agent of chance, agent of reform, and agent of social control. Disamping itu meskipun masih menyandang gelar Mahasiswa baru, mereka juga sudah dituntut untuk mengamalkan Tridharma perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian.
Keberhasilan dari semua tanggungjawab tersebut tentunya membutuhkan campur tangan dari para senior dan Dosen. Oleh Karena itulah masa Ospek sangatlah penting dalam proses pembentukan pribadi dan cara berpikir. Maka sudah sewajarnya kegiatan Ospek harus diisi dengan kegiatan yang efektif, kreatif, dan inovatif sehingga mampu memberikan pesan dan kesan yang positif.
Itu saja yang dapat saya sampaikan mengenai kegiatan Ospek selam tiga hari yang telah kami jalani. Sebagai perwakilan Mahasiswa baru saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh Dosen dan kepada seluruh senior dan panitia Ospek yang telah membimbing kami dengan baik selama tiga hari kemarin” itulah isi pidato Dita di malam itu.
Dita menemukan ide untuk berbicara seperti itu, karena saat perjalanan menuju podium Dita langsung teringat akan sambutannya sebagai ketua MOS di SMA-nya dulu. Menurut Dita inti dari kegiatan OSPEK tidak jauh berbeda dengan kegiatan MOS. Dita hanya perlu menambah dan mengurangi beberapa hal untuk melengkapi penjelasannya itu. Untuk materi yang berhubungan mengenai tanggungjawab sebagai Mahasiswa, Dita hanya perlu mengutip kata-kata dari pidato yang disampaikan oleh Dosen pada saat pembukaan kegiatan Ospek. Oleh karena itu Dita bisa dengan lancar berbicara di atas podium.
Setelah Dita selesai menyampaikan beberapa kalimat penutup, terdengar riuh suara tepuk tangan dari para Mahasiswa. Dita pun tersenyum lepas, selanjutnya Dita segera pamit undur diri dari podium. Saat Dita hendak menuruni anak tangga podium, tak sengaja mata Dita bertatapan langsung dengan mata Reza. Saat itu Dita melihat Reza tersenyum hangat kepadanya. Dita sangat senang melihat senyuman Kakaknya itu, karena sudah lama sekali Reza tidak pernah memperlihatkan senyuman kepada dirinya. Namun Dita tak sempat menikmati dan membalas senyuman dari Kakaknya itu, dikarenakan pandangan Dita telah tertuju pada Fiko yang berdiri tepat di sisi kanan Reza.
Dita kemudian cepat-cepat melangkahkan kakinya menuruni anak tangga podium. Dita ingin segera menghindar dari tatapan para senior dan Dosen yang tampak terus mamandang ke arahnya. Setibanya di bawah podium Dita dihampiri oleh beberapa orang Dosen. Para Dosen itu menyalami Dita dan memuji Dita atas keberaniannya. Setelah berbincang-bincang beberapa saat dengan para Dosen tersebut, Dita segera kembali menuju tempat duduknya. Dita sudah tidak sabar ingin menemui sahabat-sahabatnya dan ingin mendengar komentar para sahabatnya itu. Dita pun disambut dengan pelukan hangat dari Citra dan tepuk tangan dari sahabat-sahabatnya yang lain.
“yey… ini dia temen kita yang hebat” ujar Zian sambil terus bertepuk tangan.
“yey…” tambah sahabat-sahabat Dita yang lain yang tampak senang dengan keberhasilan Dita berpidato.
“Dita emang temen kita yang hebat!” ujar Citra sambil merangkul bahu Dita.
“Hebat apanya! Kamu tau nggak tadi Aku udah hampir pingsan di sana” ujar Dita menanggapi pujian dari sahabatnya itu.
“Mmmm… nggak tau..! Yang jelas Kamu hebat” jawab citra sambil bersandar manja di bahu Dita.
“Selamat ya Dit! Dari tadi Aku udah yakin kalau Kamu pasti bisa” ujar Zian sambil tersenyum senang.
“Dita top deh. Top pake banget” tambah Beni sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah Dita.
Dita hanya tersenyum mendengar celotehan sahabat-sahabatnya itu. Dita dan teman-temannya pun akhirnya larut dalam canda tawa yang tercipta diantara mereka saat itu.
Acara Makrab malam itu berlalu dengan begitu cepat. Pemandu acara kembali berdiri di atas podium dan memberitahukan bahwa acara pemberian tanda mata telah tiba. Pemandu acara itu kemudian mempersilahkan tiga orang Mahasiswa baru menyerahkan tanda mata secara simbolis kepada para senior. Penyerahan tanda mata tersebut merupakan acara penutup dari semua rangkaian acara malam itu. Setelah penyerahan tanda mata secara simbolis selesai, acara dilanjutkan dengan acara hiburan. Para Mahasiswa dipersilahkan untuk mengisi acara hiburan tersebut dengan apa saja yang ingin mereka tampilkan.
Dita terus memandangi kotak persegi panjang yang ada ditangannya sambil berpikir bagaimana cara dirinya menyerahkan kado itu kepada Reza.
“Mau dikasih ke siapa Dit?” tanya Citra, saat melihat Dita terus memandangi kado yang ada di tangannya.
“Rahasia dong..! Nanti kalau aku kasih tau… kamu pingsan lagi…” goda Dita.
“Pelit banget sih” ujar Citra berpura-pura kesal.
“Hiiii…” Dita pun memamerkan sebuah senyuman yang dipaksakannya kepada Citra.
Karena merasa kecewa atas jawaban Dita, Citra kemudian menanyakan hal yang sama pada Zian dan Beni. Tapi kedua sahabatnya itu juga menjawab dengan jawaban yang sama dengan Dita. Lalau Dita, Zian dan Beni tertawa melihat Citra yang memonyongkan bibirnya karena lagi-lagi kecewa atas jawaban Zian dan Beni.
Saat sedang asik bergurau Dita yang melihat Citra tidak membawa apa-apa, segera bertanya tentang kado Citra.
“Kamu nggak bawa kado ya Cit?” tanya Dita penasaran.
Seakan ingin membalas atas perlakuan Dita dan kedua sahabatnya, Citra pun menjawab dengan jawaban yang sama dengan jawaban dari sahabat-sahabatnya itu.
“Ra.. ha.. si.. a” jawab Citra sambil tersenyum puas.
Dita pun ikut tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya itu.
“Taa… daa… ” ujar Citra sambil mengeluarkan sepucuk surat dari dalam saku celananya.
“Surat ini… buat Kak Rangga… Abisnya… Kak Rangga baik banget sih, trus ramah, mmmm... Yang pasti… Kak Rangga cakep. Hehehe...” ujar Citra dengan centil dan riang. Dita, Zian dan Beni tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala karena melihat tingkat unik dari sahabat mereka itu.
“Eh… Dit, kado Kamu, Kamu kasih aja sama Kak Reza. Kak Reza kan cowok terfavorit di kampus ini. Kalau enggak… Kamu kasih sama Kak Rangga juga enggak apa-apa… biar nanti kita saingan untuk dapetin Kak Rangga hehehe... Mmmm… dikasih sama Kak Fiko juga enggak apa-apa. Emang sih… Dia galak, sok, ketus, tapi… Dia kan cakep” celoteh Citra tak henti-henti.
Dita tidak heran bila Citra begitu cepat dalam mendapatkan informasi dan gosip-gosip di kampus. Karena dari awal Dia berkenalan dengan Citra, Citra terlihat begitu ramah, enerjik dan sedikit centil. Citra adalah orang cepat dan mudah akrab dengan orang lain. Maka bukan hal yang sulit untuk Citra memperoleh informasi sebanyak itu dalam waktu yang singkat.
Saat Citra asik berceloteh menjelaskan mengenai para senior, diam-diam Dita, Zian, dan Beni beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan-lahan pergi menjauhi Citra. Citra yang merasa tidak lagi mendengar ada suara sahabat-sahabatnya, segera menolehkan wajahnya ke belakang. Citra pun melihat sahabat-sahabatnya itu telah beranjak pergi meninggalkan dirinya. Dari kejauhan Dita, Zian dan Beni melambaikan tangan mereka kepada Citra.
“Kami harus mencari orang yang tepat untuk ini” ujar Zian sedikit berteriak sambil menunjukkan kado di tangannya. Yang kemudian diikuti oleh Dita dan Beni.
“Nanti Kita berkumpul lagi di sana dan semoga berhasil dengan suratnya” teriak Zian lagi.
Saat berpisah dengan Zian dan Beni, Dita berdiri di balik sebatang pohon palm kipas yang cukup besar. Dari balik pohon itu Dita memperhatikan Reza yang sedang asik bercengkrama bersama Rangga, Fiko dan beberapa orang lainnya di sekitar sentral acara Makrab. Dita kemudian melihat Reza beranjak pergi meninggalkan teman-temannya menuju sebuah kursi yang cukup jauh dari tempat dimana teman-temannya berdiri. Saat itu Dita sempat berpikir akan segera menghampiri Reza dan menyerahkan kado yang dibawanya itu. Tapi kemudian muncul keraguan di hati Dita, Dita takut teman-teman Reza akan melihat dirinya saat menyerahkan kado tersebut. Dita pun takut hal itu akan membuat Reza menjadi terganggu dan membuat Reza menjadi tidak nyaman.
Dita terus memperhatikan Reza yang masih duduk santai sambil sesekali meminum air mineral yang pegangnya. Tak lama kemudian Dita melihat cewek-cewek centil yang tak lain adalah Yeyen dan teman-temannya sedang berjalan menghampiri Reza dan diikuti oleh Rangga, Fiko dan beberapa orang lagi yang tidak dikenali oleh Dita. Dita mengelus dadanya dan menarik nafas lega, Dita merasa beruntung karena Dia tidak jadi menemui Reza saat itu. Dita terus menunggu dan berharap bahwa Reza akan segera menjauh dari teman-temannya.
Lama Dita bediri di balik pohon palm itu untuk mengawasi Reza, tapi teman-teman Reza tak kunjung meninggalkannya. Dita menggerak-gerakkan tanganya seperti orang yang sedang melakukan gerakan olah raga untuk menghilangkan rasa bosannya. Dan tak jarang Dita duduk jongkok untuk menghilangkan pegal di kakinya. Saat bangun dari jongkok untuk yang kesekian kalinya, tiba-tiba Dita melihat Citra sedang berjalan menuju kumpulan para seniornya itu. Dita kemudian memasang matanya tajam-tajam untuk memperhatikan sahabatnya itu. Citra tampak berjalan mendekati Rangga, kemudian dengan rasa penuh percaya diri dan tanpa memperdulikan orang-orang yang berada di sekitar Rangga, Citra segera menyerahkan suratnya kepada Rangga. Setelah itu Citra tampak tersenyum manis di hadapan Rangga dan teman-teman Rangga.
“Gila…! Citra berani banget…! Coba aja Aku bisa seberani Citra. Pasti sekarang Aku enggak di sini, Enggak ngumpet-ngumpet kayak gini. Mana banyak nyamuk lag!i” guman Dita sambil mengebas-ngebaskan tangannya untuk mengusir nyamuk.
Setelah sekian lama menunggu, Dita pun akhirnya mendapatkan kesempatan. Saat itu sepertinya ada seseorang sedang menghubungi Reza. Tampak Reza mengambil handphone dari saku celananya dan mulai berbicara dan perlahan-lahan Reza pun tampak pergi menjauh dari teman-temannya. Hal itu tentu tidak disia-siakan oleh Dita. Dita segera mengikuti Reza dengan berjalan mengendap-endap di belakang Reza. Reza pergi menuju salah satu sisi taman yang tampak sedikit sepi, lalu Reza berhenti di bawah salah satu pohon pinus yang cukup besar.
Karena Dita tidak ingin mengganggu obrolan Reza, maka Dita memutuskan untuk menunggu dari tempat yang sedikit jauh dari tempat Reza berdiri. Setelah Reza menutup telponya, Dita segera melangkahkan kakinya bergegas menghampiri Reza. Hampir saja Reza beranjak pergi jika Dita tidak dengan segera memanggil Kakaknya itu.
“Kak Reza, Tunggu!” panggil Dita sambil mempercepat langkah kakinya.
Reza yang melihat kedatangan Dita, sesegera mungkin berusaha menghindar. Reza segera membalikkan badanya dan sudah berniat untuk pergi meninggalkan Dita. Tapi Dita bergerak lebih cepat, Dita dengan segera meraih tangan Kakaknya itu. Setelah Reza menghentikan langkahnya, Dita pun langsung berdiri tepat di hadapan Reza.
“Kak, ini.. buat Kak Reza” ujar Dita dengan ragu-ragu sambil menyodorkan kado yang Dia pegang.
Dengan hati berdebar-debar Dita menyerahkan kado yang dibawanya kepada Reza. Reza pun kemudian menerima kado tersebut.
“Jangan dibuang ya Kak, kadonya” ujar Dita sedikit manja, karena Dita takut Kakaknya itu akan membuang kado darinya.
Belum selesai Dita mengatakan semua yang ingin disampaikannya kepada Reza, Dita merasakan ada kehadiran seseorang di belakangnya.
“Ehheemmm…” ujar Fiko dari arah belakang Dita.
Mendengar suara itu Dita spontan langsung menoleh. Dita melihat ada Rangga dan Fiko telah berdiri di belakangnya. Dita kemudian berbalik dan berhadapan langsung dengan Fiko dan Rangga, di saat itu Dita benar-benar cemas dan kehilangan kata-kata. Dita benar-benar takut Reza akan marah kepadanya dan akan semakin menjauhi dirinya. Dita merasa semakin ketakutan saat melihat Fiko dan Rangga terus menatapi dirinya.
“Wah...wah…wah...! Ternyata matanya liar juga. Sepengetahuan Aaku… selama ini Reza enggak pernah muncul di hadapan kelompok kalian, tapi kenapa Kamu bisa tahu sama Reza.. ya? Ternyata kamu ini hebat juga ya..! Kamu pinter memilih orang yang diidolakan. Waw…!” sindir Fiko kepada Dita sambil menggeleng-gelengkan kepala dan sambil bertepuk-tepuk tangan kecil.
“Kamu ini… ternyata sama aja kayak kebanyakan cewek di kampus ini, yang kerjaannya cuma ngejar-ngejar Reza. Kamu ini ternyata genit juga ya...!” tambah Fiko sambil tersenyum sinis.
“Udah Ko…!” ujar Rangga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke arah Fiko seraya memberikan isyarat pada Fiko untuk menghentikan ocehannya.
Mendengar Fiko berkata seperti itu, Dita benar-benar marah, hatinya terasa sangat sakit. Menurut Dita perkataan Fiko itu benar-benar sudah keterlaluan. Dita mengepalkan kedua tangannya, saat itu ingin sekali rasanya Dia menghajar dan membalas perlakuan Fiko. Namun Dita tak mau mengambil resiko yang nantinya akan membuat suasana menjadi kacau. Dan tentunya Dita juga tidak ingin Reza sampai ikut terlibat dalam masalah itu. Dita kemudian menggigit bibirnya dan menarik nafas dalam-dalam untuk meredam amarahnya.
Seolah tak memperhatikan ekspresi wajah Dita yang marah, Fiko terus saja mencerca dan menyindir Dita. Reza yang mendengar cercaan Fiko pun ikut geram, walaupun Dia tahu Fiko sebenarnya tidak serius dengan ucapannya itu. Reza yakin bahwa Fiko hanya berusaha menggoda Adiknya. Tapi menurut Reza perkataan Fiko yang demikian itu akan sangat menyakitkan hati Dita. Tapi sama halnya dengan Dita, Reza tidak ingin mengambil resiko yang akan membuat susana menjadi tidak terkendali yang pada akhirnya dapat mengakibatkan rahasianya terbongkar. Reza akhirnya memilih membisu untuk berdiam diri.
Tanpa menggubris cacian Fiko, Dita segera menghadapkan wajahnya ke arah Reza.
“Kak Reza, Dita pergi ya” ujar Dita berpamitan kepada Reza.
“Kak Rangga, permisi” ujar Dita berpamitan kepada Rangga.
Setelah berpamitan kepada Reza dan Rangga Dita segera melangkah pergi meninggalkan Fiko yang belum selesai mencaci dan menyindirnya. Dita melangkahkan kakinya dengan cepat karena air matanya tak mampu lagi Dia bendung. Dita tidak ingin Reza sampai melihat dirinya menangis. Dita merasa sedih bukan hanya disebabkan oleh perkataan Fiko saja, tapi ada alasan lain yang sangat menyakitkan hatinya. Kejadian itu adalah untuk pertama kalinya Reza tidak membelanya saat ada orang yang berusaha menyakiti dirinya. Selain itu Dita juga sangat kesal karena tidak bisa menberikan perlawanan sedikitpun terhadap cacian Fiko.
Berkali-kali Dita menarik nafas untuk menghentikan tangisnya, namun air matanya terus saja menetes. Dita pun terus berusaha menghentikan tangisnya dan terus menyeka air matanya yang terus membanjiri pipinya.
“Dita, Kamu nangis…?” ujar Rangga yang tiba-tiba muncul di hadapan Dita.
“Omongan Fiko tadi nggak usah kamu masukin ke hati. Fiko emang kayak gitu orangnya, Dia suka ceplas-ceplos kalau ngomong. Udah… Dita jangan nangis lagi. Ini bukan Dita yang seperti Kakak kenal. Dita yang Kakak kenal itu adalah cewek yang berani, kuat dan hebat” ujar Rangga mencoba menghibur Dita.
“Kak Fiko emang bener-bener keterlaluan. Dia pikir, Dia siapa…? Seenaknya ngomong kayak gitu. Kak Reza juga, kenapa Dia enggak belain Dita? Harusnya Kak Reza…” Dita segera menghentikan ocehannya, Dita tersadar bahwa Dia telah mengatakan sesuatu yang dapat membongkar rahasia Kakaknya.
Dita kemudian langsung tertunduk dan terdiam.
“Reza…? Kenapa Reza harus…” ujar Rangga yang seketika terhenti, dan ragu untuk melanjutkan perkataannya itu.
“Emangnya kenapa dengan Reza?” tanya Rangga penasaran.
Dita tidak mampu menjawab pertannyaan yang dilontarkan oleh Rangga. Dita terus tertunduk dan membisu sambil berusaha menyeka air matanya.
“Udah..! Enggak usah dipikirin, Fiko emang kayak gitu. Dia suka asal ngomong, tapi sebenernya Dia orang yang baik kok. Sekarang… Dita enggak boleh nangis lagi..! Jangan nangis lagi ya..!” ujar Rangga menhibur Dita sambil menundukkan wajahnya dan menatapi wajah Dita, setelah itu Rangga pun tersenyum hangat kepada Dita.
Rangga sebenarnya tampak penasaran dan binggung atas ucapan Dita mengenai Reza, namun Rangga tidak ingin mempertanyakan hal itu kepada Dita yang sedang bersedih. Rangga pun terus berusaha menghibur dan menenangkan Dita yang terus menangis.
Dita pun tahu bahwa sebenarnya Rangga penasaran akan perkataannya mengenai Reza, tapi Dita tidak bisa menjelaskan semuanya kepada Rangga. Dita pun terus tertunduk untuk menghindari tatapan Rangga.
“Dita…!” panggil Zian. Zian segera berjalan menghampiri Dita dan Rangga.
“Dita, kamu kok nangis?” tanya Zian terkejut setelah berada di dekat Dita.
“Kamu apain Dita?” bentak Zian pada Rangga.
Belum sempat Rangga menjawab, Dita telah terlebih dahulu menjawab pertanyaan dari Zian.
“Kak Rangga Cuma bantuin Aku. Tadi tiba-tiba Aku kelilipan dan kebetulan Kak Rangga lewat, lalu Aku minta tolong aja sama Dia” ujar Dita berbohong kepada Zian.
“Makasih ya Kak, karena tadi udah bantui Dita” ujar Dita kepada Rangga.
Rangga hanya tersenyum mendengar kebohongan yang dilontarkan oleh Dita. Tak lama setelah Dita menyelesaikan uacapanya, Zian segera menarik tangan Dita dan membawanya pergi dari hadapan Rangga.
Dita, Zian, Citra dan Beni berkumpul kembali di tempat semula, dan mereka pun kembali bersenda gurau. Tentu saja hal itu sangat membantu Dita melupakan kesedihannya. Tak jauh dari tempat Dita duduk, tampaklah olehnya, Reza dan teman-temannya telah berkumpul kembali di salah satu kursi taman. Dita melihat Reza begitu asik bersenda-gurau dengan teman-teman wanitanya dan tentunya di sana juga ada Yeyen, Rangga dan Fiko. Dita melihat Reza tertawa riang saat bergurau dengan teman-temannya, saat itu Reza tampak sangat bahagia. Di tengah-tengah gurauannya sesekali tampak tangan Reza merangkul bahu Yeyen dan hal itu tentu saja membuat hati Dita terasa sakit.
Jauh di lubuk hatinya, Dita menyimpan rasa cinta yang teramat dalam untuk Kakaknya itu. Dita benar-benar merasa cemburu, Dita sangat takut Yeyen akan merebut dan mengambil Reza dari dalam hidupnya. Saat itu ingin sekali Dita pulang dan mengadukan semuanya pada boneka Papa, yaitu boneka yang terakhir kali diberikan Papanya kepada Dita sebelum Papanya meninggal dunia. Hanya boneka Papalah yang Dita miliki dan hanya pada boneka Papa Dita bisa mengadukan semua kesedihannya.