2

3218 Kata
2 Malam Keakraban pun tiba, malam itu Dita sengaja datang lebih awal karena Dia tidak ingin terlambat datang ke acara Malam Keakraban tersebut. Selain itu Dita juga tidak ingin membuat Reza merasa terpaksa memberikan tumpangan kepada dirinya, meskipun tumpangan itu hanya sampai halte tempat menunggu bus di komplek rumahnya, Dita tetap tidak mau. Dita tahu bahwa Reza tidak akan membiarkan dirinya berjalan kaki sendirian menyusuri g**g kecil, yang sedikit gelap dan sepi itu. g**g kecil itu merupakan satu-satunya jalan tercepat dari rumahnya menuju halte bus. Jika melalui g**g itu hanya dibutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima menit saja untuk sampai ke halte bus. Tapi jika harus menempuh jalanan komplek, maka Dita harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk berjalan kaki. Karena bila melalui jalan itu Dita memerlukan waktu sekitar sepuluh hingga lima belas menit untuk mencapai jalan utama. Oleh karena itu Dita selalu memilih melewati g**g kecil tersebut. Malam itu sebenarnya Dita sudah berniat memanggil taxi, tapi setelah sadar uang sakunya menipis akibat membeli banyak keperluan selama kegiatan Ospek, maka niat untuk naik taxi itu dibatalkannya. Dita pun akhirnya naik bus untuk pergi ke acara Makrab di kampusnya. Di dalam bus, Dita menatap jauh keluar jendela kemudian Dita teringat masa lalunya. Dulu saat dirinya kehabisan uang, Dia bisa dengan mudah meminta ataupun meminjam uang kepada Reza. Tapi semenjak sikap Reza berubah terhadap dirinya, Dita tidak berani lagi untuk meminta ataupun meminjam uang kepada Reza. Dita juga tidak terlalu berani untuk meminta uang kepada Mamanya, karena Mamanya akan terlebih dahulu memarahinya sebelum memberikan uang tersebut kepadanya. Selain itu Dita juga tidak ingin selalu membebani Mamanya. Bus yang ditumpangi Dita berhenti tepat di halte di depan gerbang kampusnya. Dita segera turun dan mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalan yang menuju taman utama kampus yang letaknya berada di belakang gedung perpustakaan Universitas. Jarak dari gerbang kampus menuju ke arah taman utama itu cukup jauh, dibutuhkan waktu sekitar sepuluh menit bila ditempuh dengan berjalan santai. Dita sangat menikmati keindahan suasana malam itu. Suasana malam itu begitu tenang, udara yang sejuk dan sesekali terdengar nyanyian jangrik dari semak-semak di pinggir jalan yang dilalui Dita. Dita terus melangkahkan kakinya dengan santai, dan di saat itu semakin banyak kendaraan yang melintasinya dan berlalu dari pandangannya. Semua kendaraan-kendaraan itu terus diperhatikan oleh Dita. Semua kendaraan itu tampak berhenti tepat di depan taman tempat dimana acara Makrab akan digelar. “Enak banget mereka, dianter sama keluarganya. Coba Papa masih ada, pasti Papa akan nganterin Dita” ujar Dita lirih. “Coba aja Pak Ajam nggak berenti kerja, pasti Aku nggak akan kayak gini” pikir Dita. “Kenapa Pak Ajam harus berenti kerja Sih..!” guman Dita. Dita kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Dita berusaha menghibur dan menguatkan dirinya. “Enggak apa-apa Dita… Kamu harus kuat, Kamu harus mandiri. Inget pesan Papa dulu, Kamu harus buktiin sama Papa dan Mama, kalau kamu itu anak yang mandiri dan kuat bukan anak yang suka ngerepotin ataupun anak manja. Ayo Dita semangat…!” ujar Dita dengan suara seperti berbisik sambil menepuk-nepuk dadanya menggunakan telapak tangan kanan untuk menyemangati dirinya. Lambat laun taman kampus mulai terlihat lebih jelas di pandangan Dita. Dita terus memandangi suasana disekitar taman itu dari kejauhan. Di sana Dita melihat ada beberapa perempuan mengenakan pakaian layaknya akan menghadiri sebuah acara resmi. Mereka tampak mengenakan dress dan heels yang cukup tinggi. Lalu di salah satu sudut taman, Dita juga melihat ada beberapa orang perempuan yang tampak sedang kecentilan dengan beberapa orang laki-laki di sekitarnya. “Ini acara apa sih? Kok banyak yang pake dress, trus… pake heels lagi. Kayak mau ke pesta aja. Yang itu lagi, jadi cewek kok genit banget! Jangan sampai Kak Reza dideketin sama cewek-cewek kayak gitu. iigghhh…” ujar Dita bergidik dan sambil terus memandangi suasana di sekitar taman. “Aduh…!! Jangan-jangan… Aku yang salah. Apa emang harus pake dress ya! Aduh…! gimana nih kalau nanti ternyata Aku salah kostum” ujar Dita yang tiba-tiba khawatir dengan pakaian yang di kenakannya. Dita saat itu hanya mengenakan kemeja dan sweter dengan bawahan celana jeans serta dipadankan dengan flat shoes. Dita tidak tahu persis acara Makrab itu seperti apa dan Dita pun tidak sempat bertanya kepada teman-temannya mengenai acara Makrab. Dita pun menjadi ragu dengan pakaian yang dikenakannya saat itu. Dita khawatir dirinya akan dipermalukan oleh mahasiswa yang lain karena dirinya salah kostum. Dita yakin seniornya yang bernama Fiko pasti akan mempermalukannya habis-habisan di depan umum karena hal itu. Begitu banyak hal dan pertanyaan yang menghampiri benak Dita saat itu. Hingga akhirnya terlintas pula pertanyaan di benak Dita, apakah Kakanya Reza akan menghadiri acara Makrab malam itu. Setelah beberapa saat Dita mengingat Kakanya Reza, Dita pun berusaha menepis semua bayangan Reza dari benaknya. Dita memukul-mukul kepalanya seolah ingin mengusir bayangan Reza yang telah merasuki pikirannya. Namun bayangan Reza seolah tidak mau pergi dari benaknya. Dita malah menjadi semakin khawatir bila Reza tidak datang ke acara Makrab malam itu. “Kalau Kak Reza enggak dateng, gimana caranya Aku ngasih surat ini sama Kak Reza?” ujar Dita sambil memperhatikan tangannya yang sedang memegang sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang yang telah terbungkus rapi. Karena terus sibuk dengan pikirannya Dita tidak menyadari bahwa ada seseorang yang terus mengikutinya. “Aaaaa…” teriak Dita. Jantung Dita terasa seakan lepas dan langkah kakinya seketika langsung terhenti begitupun dengan lamunannya. Dita terkejut setengah mati karena tiba-tiba ada seseorang dari belakang menepuk bahunya. Perlahan-lahan Dita menolehkan kepalanya ke arah belakang, dan Dita melihat tidak ada satu oranga pun yang berada di belakangnya. Dita kembali memalingkan wajahnya ke arah depan. Sambil menarik nafas dan menutup matanya, Dita menumbuhkan keberanian untuk menoleh ke arah belakang sekali lagi. Perlahan-lahan Dita kembali menolehkan kepalanya ke belakang. “Waaaa…” ujar Zian sedikit berteriak. “Aaaaa…” teriak Dita lagi. Karena secara tiba-tiba Zian muncul di belakangnya. Karena melihat Dita yang tampak sangat terkejut, Zian pun tertawa terpingkal-pingkal. “Hahaha… Hahaha… hahaha…” tawa Zian tak henti-henti. “Dita… Dita… Kamu lucu banget. Kamu pikir Aku setan…? Wajah Kamu sampai pucat kayak gitu hahaha…” ujar Zian sambil terus tertawa geli. “Kamu takut banget ya…? Kamu… kamu… hahaha...” ujar Zian lagi yang tak sanggup meneruskan kata-katanya karena tak sanggup menahan tawanya. Karena merasa geram dengan perbuatan Zian, Dita pun memukul-mukul bahu Zian. Zian berusaha mengelak sambil terus tertawa. Dita dan Zian akhirnya menjadi asik saling mengejar dan saling memukul, serta sesekali tawa mereka pecah mengisi kesunyian malam. Akhirnya Dita mengabiskan sisa perjalanannya bersama Zian. “Kamu kok jalan kaki, bukannya biasanya Kamu dianter?” tanya Dita kepada Zian. “Malam ini keluarga Aku enggak ada yang bisa nganter, jadi tadi Aku naik bus” jawab Zian. “Mmmm… mau Aku kasih tau sesuatu nggak?” ujar Zian melanjutkan perkataannya sambil tersenyun dan menoleh ke arah Dita. “Apa…?” tanya Dita setelah menoleh ke arah Zian. “Hmmm…” Zian tersenyum terkulum, kemudian Zian kembali berbicara. “Sebenarnya tadi sejak Aku turun dari bus, Aku udah ngeliat Kamu. Aku panggil-panggil tapi Kamu enggak noleh. Tadi Aku sempat mikir bahwa itu bukan Kamu. Tapi pasudah deket, ternyata memang benar itu Kamu. Aku sengaja enggak manggil Kamu lagi. Kamu ternyata lucu banget kalau diliat dari belakang. Dari tadi Aku liat kamu menggeleng-geleng sendiri, manggut-manggut, terus Kamu mukul-mukul kepala. Ngeliat itu Aku jadi semakin penasaran apa lagi yang bakal kamu lakuin, mangkanya Aku diem-diem ngebuntutin kamu. Hehehe….” ujar Zian panjang lebar sambil tersenyum geli. “Abis itu, Kamu iseng ngagetin Aku. Iya kan…?” ujar Dita. “Aku enggak ngagetin kamu kok. Kalau ngagetin… kan harusnya bilang dor… Tadi Aku cuma megang bahu Kamu, terus kamu langsung teriak. Trus Aku cuma bilang waa… Kamu juga langsung teriak. Kamu takut ya…?” goda Zian sambil senyum-senyum. “Enggak…! Mana mungkin Aku takut. Aku cuma kaget aja” elak Dita. “Oh ya, Kamu kenapa jalan kaki? Sendirian lagi” tanya Zian. “Biasanya kan Kamu dianter” tambah Zian. “Dasar sok tau” jawab Dita sambil meledek. “Tau darimana Kamu, kalau Aku biasanya dianter” tanya Dita. “Emangnya Aku nggak punya mata, tiap hari Aku ngeliat kok kalau kamu dianter, tapi Cuma sampai di depan gerbang kampus aja” jawab Zian. “Hhiii… ” Dita memaksakan sebuah senyuman di hadapan Zian. “Pak Ajam yang biasa nganterin, udah berenti kerja. Kemaren Dia pulang kampung. Katanya sih ada keluarganya yang sakit. Mama juga nggak bisa nganter karena Mama belum pulang dari kerja” jelas Dita. “Mmmm” ujar Zian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti dengan penjelasan Dita. “Anak cewek tu enggak boleh jalan sendirian kalau malem. Bahaya tau…! Kalau ada hantu yang gentayangan trus nyulik Kamu gimana…?” goda Zian sambil mengangkat kedua tangannya dan mengerakkan jari-jarinya di depan wajah Dita, Zian juga memelototkan matanya seolah seperti seseorang yang sedang menakut-nakuti anak kecil. “Apa sih! Kamu pikir Aku setakut itu” ujar Dita sambil menepuk bahu Zian. Meskipun tengah asik bersenda gurau dengan Zian, sesekali di benak Dita masih sempat terbesit pertanyaan apakah Kakaknya akan datang menghadiri acara malam itu. Tak ayal hal itu membuat Dita tampak bengong dan membisu. “Hallo…! Kok malah bengong” ujar Zian. Zian pun segera berdiri di depan Dita, lalu Zian berjalan mundur sambil terus menggoda Dita. “Kamu lagi mikirin hantu itu ya…?” goda Zian sambil terus berjalan mundur. “Tenang aja, kamu enggak bakal nyesel kok di culik sama hantu itu. Hantunya cakep kok, kurang lebih cakepnya kayak Aku… Hehehe…” goda Zian lagi. “Oh ya, Apa keluarga kamu enggak khawatir ngebiarin anaknya yang cantik ini jalan sendirian” tanya Zian lagi sambil melangkahkan kakinya ke samping Dita dan berjalan seperti semula. Dita hanya menanggapi ocehan Zian dengan senyuman. Di sepanjang perjalanan Dita dan Zian asik bercengkrama dan sesekali mereka pun tertawa terbahak-bahak karena gurauan mereka. Tanpa mereka sadari malam itu telah membuat hubungan persahabatan mereka semakin dekat. Saat tiba di taman, Dita menarik nafas lega karena di sana Dia melihat banyak Mahasiswi yang mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakannya. Tak lama kemudian Citra pun datang bersama seorang laki-laki. Citra segera menyapa Dita dan Zian kemudian memperkenalkan laki-laki yang datang bersamanya itu. Laki-laki itu bernama Beni teman Citra semasa SMA dan sekarang menjadi temannya di perguruan tinggi. Dita dan teman-temannya itu segera mencari tempat duduk untuk menyaksikan acara Makrab yang akan segera dimulai. Telah lama Dita dan teman-temannya memgelilingi taman, tapi mereka tak juga menemukan bangku taman yang kosong. Mereka terus berusaha mencari hingga mata mereka tertuju pada sebuah bangku semen yang cukup panjang yang letaknya berada di bawah sebuah pohon pinus yang cukup besar. Dita dan teman-temanya segera berjalan menuju bangku itu, tapi setelah tiba di dekat bangku itu mereka langsung kecewa. Bangku itu penuh dengan debu, sampah kulit kacang dan dedaunan pinus yang berguguran. Melihat teman-temannya kecewa dan bengong, Zian segera pergi dan tak lama kemudian kembali lagi dengan membawa potongan daun pinus yang cukup banyak. Zian langsung mengebas-ngebaskan daun pinus itu ke atas bangku yang kotor tersebut. Melihat Zian yang begitu bersemangat membersikan bangku semen itu, Dita pun meminta sebagian daun pinus yang dipegang oleh Zian. Dita kemudian membantu Zian untuk membersihkan bangku itu. Citra dan Beni pun segera membantu kedua temannya itu. Mereka berempat bergegas membersihkan bangku tersebut. Dita dan teman-temannya cekikikan menertawakan apa yang tengah mereka kerjakan. Tanpa ada rasa malu ataupun gengsi mereka terus membersihkan bangku itu dengan diselingi candaan yang mengundang tawa di antara mereka. Terang saja aksi mereka itu tak luput dari sorot mata orang-orang di sekitarnya. Tapi Dita dan teman-temannya tidak memperdulikan hal itu, karena saat itu mereka benar-benar menikmati kebersamaan mereka sebagai sahabat baru. Dita merasa begitu bahagia dan nyaman bersama tiga orang yang baru saja menjadi sahabatnya itu. “Selamat malam! Mohon Perhatiannya! Acara malam ini akan segera kita mulai” Terdengar suara seseorang yang berasal dari podium di tengah-tengah taman yang mengumumkan bahwa acara Makrab akan segera dimulai. Dita dan ketiga sahabatnya segera duduk dan bersiap menyaksikan acara Makrab tersebut. Dari tempat duduk mereka, terlihat jelas arena tengah taman yang dijadikan sentral acara Makrab. Di tengah-tengah taman tampak sebuah podium dengan ukuran cukup besar yang digunakan sebagai tempat para pembicara yang akan mengisi acara Malam Keakraban di malam itu. Dan disalah satu sisi podium tampak sound system dan peralatan band yang telah tertata rapi meskipun tanpa menggunakan panggung. Tak jauh di belakang podium berjejer beberapa Dosen dan para senior yang sedang duduk dan beberapa orang diantaranya tampak tengah asik bercengkrama. Di antara barisan itu tentu saja ada beberapa orang yang sangat dikenali oleh Dita. Orang-orang itu adalah seniornya yang bernama Yeyen dan kedua sahabatnya yang selama Ospek terus kecentilan dan tebar pesona. Lalu ada Rangga sosok senior laki-laki yang sangat ramah, baik dan karismatik. Di samping Rangga ada satu orang lagi yang benar-benar dikenalinya, Dia adalah Reza, Kakaknya. Lalu di samping Reza ada sosok laki-laki yang sangat menyebalkan baginya, Dia adalah Fiko. Dita terus memandangi Reza, yang menurutnya malam itu terlihat sangat mempesona. Di atas podium telah berdiri seorang panitia yang bertugas sebagai pemandu acara. Pemandu acara itu pun telah bersiap untuk membuka acara Makrab. Setelah acara Makrab dibuka, pemandu acara itu mempersilahkan ketua panitia Ospek yang tidak lain adalah Fiko untuk naik ke atas podium. Pemandu acara itu kemudian mempersilahkan Fiko untuk memberikan kata sambutan untuk acara Makrab yang sedang berlangsung itu. Tanpa membuang waktu Fiko segera memulai sambutannya. Dalam sambutannya Fiko banyak membahas mengenai tujuan diadakannya acara Malam Keakraban tersebut. Setelah Fiko selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh perwakilan Dosen. Setelah Dosen tersebut selesai dengan pidatonya, pemandu acara kembali menaiki podium. Pemandu acara itu kemudian meminta satu orang perwakilan dari Mahasiswa baru untuk maju ke podium dan menyampaikan sepatah duapatah kata atau pidato singkat mengenai kegiatan Ospek yang telah dilalui oleh para mahasiswa baru itu. Setelah ditunggu beberapa saat, tampak tak ada satupun dari Mahasiswa baru yang bersedia maju ke podium. Pemandu acara itu kemudian turun dari podium dan segera berbincang-bincang dengan beberapa orang panitia lainnya yang berdiri tepat di belakang podium tersebut. Tak lama kemudian pemandu acara itu kembali naik ke atas podium. “Maaf tadi acaranya terpaksa terhenti sejenak, dan sekarang kita akan lanjutkan acaranya kembali. Dikarenakan tidak ada satu pun perwakilan Mahasiswa baru yang bersedia maju, maka panitia memutuskan untuk menunjuk salah satu perwakilan dintara kalian” ujar pemandu acara itu. “Bagaimana..? Apa kalian setuju?” Tanya pemandu acara itu kepada para Mahasisiwa baru. Karena tak terdengar jawaban dari para Mahasiswa baru, maka pemandu acara itu pun mengulang kembali perkataannya. “Kok nggak ada yang jawab, apa ada yang bersedia maju..? Atau kami dari pihak panitia yang menunjuk orang tersebut” ujar pemandu acara itu lagi yang memberikan pilihan kepada Mahasiswa baru. “Kami dari pihak panitia akan menunjuk orang tersebut.. setuju…?” tanya pemandu acara itu lagi. “Setuju…!” terdengar jawaban dari beberapa Mahasiswa baru. “Kok kayaknya nggak kompak Gitu, masih banyak yang nggak setuju nih.. kayaknya” ujar pemandu acara dengan nada bercanda. “Setuju…!” tiba-tiba terdengar suara kompak dan lantang dari para Mahasiswa baru meneriakkan kata setuju. “Nah… gitu dong..! Yang kompak” ujar pemandu acara yang tampak senang dan bersemangat. “Oke kalau begitu saya akan panggil satu orang perwakilan Mahasiswa baru diantara kalian” ujar pemandu acara lagi sambil melemparkan padangannya mengintari seluruh Mahasiswa baru yang hadir malam itu. Terdengar riuh suara anak-anak Mahasiswa baru berharap orang yang dipanggil itu bukan mereka. Demikian pula dengan Dita dan ketiga sahabatnya, mereka berharap bukan mereka yang dipanggil sebagai perwakilan untuk berpidato di atas podium. “Kepada Mahasiswa baru yang bernama Dita kami persilahkan maju” ujar pemandu acara itu memecah riuhnya suara saat itu. Mendengar panggilan itu, Dita terkejut dan seketika menjadi gugup, tapi Dita tidak lantas segera maju karena Dia tahu ada beberapa Mahasiswa baru yang memiliki nama panggilan yang sama dengan dirinya. Sahabat-sahabat Dita pun sepakat dengan pemikiran Dita, bahwa ada banyak anak-anak lain yang nama panggilannya Dita. Tapi tampaknya semua Mahasiswa baru yang memiliki panggilan Dita memiliki satu pemikiran, yaitu bahwa yang bernama Dita bukan hanya diri mereka. Oleh karena itu tidak ada satupun terlihat Mahasiswa yang maju ke atas podium. Berkali-kali pemandu acara itu memanggil seseorang yang bernama Dita, tapi tetap saja tidak ada satu orang pun yang maju ke podium. Dita terus berpura-pura tidak tahu dengan panggilan dari pemandu acara itu, Dita meneruskan perbincanganya bersama Citra, Zian dan Beni. “Dita yang kami maksud adalah Meggi Anandita” ujar pemandu acara itu dengan lantang. Sebenarnya Reza telah berdebat di belakang podium untuk melindungi Dita. Saat itu Fiko mengusulkan agar Dita-lah yang menjadi perwakilan Mahasiswa baru untuk berpidato. “Dita aja” ujar Fiko. “Enggak-enggak! Jangan! Jangan Dita. Kamu enggak bosen apa ngerjain Dita terus” ujar Rangga. “Iya, jangan Dita” tambah Reza. “Kalian ini kenapa sih! Biarin aja… lagian Dita kan suka banget ngelawan” ujar Fiko yang heran mendengar kedua sahabatnya berikeras melarangnya untuk menunjuk Dita sebagai perwakilan. “Kamu! Ngapain Kamu ngebantuin Dita, Kamu enggak taukan Dita itu orangnya gimana, Kamu kan nggak pernah nongol di kelompok Kodok selama Ospek. Udah deh..! Kamu diem aja” ujar Fiko kepada Reza. Reza yakin Dita pasti akan sangat panik dengan semua itu. Reza sangat tidak ingin melihat Dita dipermalukan, tapi Reza tidak memiliki sebuah alasan yang tepat yang dapat disampaikanya kepada Fiko untuk melindungi Dita. Reza dan Rangga pun akhirnya membiarkan Fiko untuk memilih Dita sebagai perwakilan Mahasiswa baru untuk berpidato. Mendengar namanya yang disebutkan oleh pemandu acara itu, Dita yang sedang berbincang-bincang bersama ketiga sahabatnya itu langsung terdiam. Dita menjadi cemas, Dita kembali gugup, Dita tidak tahu apa yang akan disampaikannya untuk berpidato. Sahabat-sahabat Dita pun tidak tahu harus melakukan apa untuk membantu Dita. “Aduh…! Gimana dong…? Aku enggak tau harus ngomong apa?” ujar Dita panik. “Tolongin dong..!” pinta Dita kepada sahabat-sahabatnya itu “Aku juga enggak tau… materi soal Ospek apa ya...?” ujar Beni tampak berpikir keras. “Kalau mendadak kayak gini mana bisa mikir” tambah Citra, yang kemudian diteruskan dengan ocehannya yang panjang lebar. Sementara itu Zian tampak sedang berpikir, lalu Dita menayakan kepada Zian atas ide yang dipikirkannya. “Zian, apa kamu ada ide…?” tanya Dita yang semakin panik karena namanya terus dipanggil. “Ada” jawab Zian dengan wajah yang serius. “Serius..?” tanya Dita penuh harap. “Apa..?” tanya Dita dengan antusias. Beni dan Citra pun antusias mendengar perkataan Zian, mereka berdua segera mendekat untuk mendengarkan ide dari Zian. “Idenya… Mmm.. Kamu harus semangat! Kamu omongin aja apa yang nongol di kepala kamu. Hiiii…” ujar Zian sambil memaksakan sebuah senyuman kepada Dita. “Huffhhh…” Dita menghela napasnya melihat Zian yang masih sempat bercanda. Beni dan Citra segera memukul-mukul Zian karena candaanya itu. “Nggak lucu tau...!” ujar Citra geram sambil memukuli Zian. “Sorry Dit! Otak lagi enggak bisa mikir nih… semangat ya Dit!” ujar Zian sambil mengangkat kedua tangannya yang terkepal untuk menyemangati Dita. Dita semakin binggung mengenai materi yang akan disampaikannnya untuk berpidato. Setelah beberapa kali namanya dipanggil, dengan perasaan berat Dita pun terpaksa meju. Dita mulai melangkahkan kakinya perlaha-lahan menuju podium. Sambil berjalan Dita berusaha mengatur nafasnya. Dita menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan, Dita mengulanginya beberapa kali hingga rasa cemasnya berkurang. Dita pun sengaja berjalan pelan-pelan ke arah podium, dengan demikian Dia memiliki waktu yang lebih untuk berpikir. Dita terus saja berusaha mencari dan merangkai kata-kata untuk disampaikan di atas podium.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN