Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Reza dengan keras. Reza yang saat itu sedang berdiri di balik pohon palm yang cukup besar tampak sangat terkejut, dan tentu saja hal itu membuyarkan lamunan Reza akan masa lalunya.
“Hai Reza, ngapain kamu di sini?” tegur seseorang kepada Reza.
“Mau ke kantin ya? Ayo bareng!” ajak orang itu.
“Oh…iya. Aku juga mau kekantin” jawab Reza terbata-bata karena terkejut.
“Tapi Kamu duluan aja, Aku mau ke toilet dulu” ujar Reza.
Reza pun melangkahkan kakinya seolah akan munuju ke arah toilet kampus. Dan setelah melihat temanya pergi, Reza segera berbalik dan kembali menuju pohon palm tempat dimana Dia memantau Dita dan Fiko sebelumnya. Reza terus memperhatikan Fiko dan Dita dari balik pohon palmitu. Reza benar-benar merasa kesal karena Dia tidak bisa menolong Dita dari kejahilan Fiko. Sebenarnya sangat mudah bagi Reza untuk menghentikan kejahilan Fiko, selain karena Dia sangat disegani di kampus, orang yang menjahili Dita itu tak lain adalah sahabat karibnya.
Reza adalah salah satu Mahasiswa berprestasi di kampus, sehingga banyak Dosen yang memberikan perhatiannya kepada Reza. Oleh karena itu Reza disegani banyak orang di kampusnya. Selain berprestasi, Reza juga memiliki sikap yang ramah dan baik dan ditunjang dengan wajah yang rupawan, maka tak heran kalau hampir semua penghuni kampus kenal dengan Mahasiswa yang bernama Reza. Dengan kata lain Reza adalah salah satu Mahasiswa yang popular di kampusnya. Dengan kepopuleran itu tentu akan dengan sangat mudah baginya untuk melinungi Dita dari siapa pun yang menjahilinya, termasuk dari kejahilan sahabatnya yang bernama Fiko itu.Sejenak Reza berpikir Jika Fiko tahu bahwa Dita adalah Adiknya, tentu Fiko tidak akan berani terlalu kasar terhadap Dita. Selama ini teman-teman Reza di kampus tidak ada yang tahu bahwa Reza memiliki seorang Adik, hal itu dikarenakan semasa SMA-nya Reza dan Dita bersekolah di luar Kota.
Lama Reza memperhatikan tingkah laku sahabatnya itu terhadap Dita. Besar hasratnya untuk melindungi Adiknya itu, Tapi kemudian Reza berpikir lagi bahwa tidak mungkin dirinya menolong Dita. Karena bila saat itu sampai Fiko tahu bahwa Dita adalah Adiknya, maka tidak menunup kemungkinan beberapa jam kedepan berita itu akan terdengar oleh semua telinga penghuni kampus. Reza terus menolak dan melawan keinginan hatinya untuk menolong Dita. Karena ketidakberdayaannya itu, Reza akhirnya menanamkan cita-cita untuk pergi keluar Kota setelah dia menamatkan kuliahnya. Dengan demikian Dia akan benar-benar jauh dari Dita dan berharap bisa melupakan semua yang telah terjadi dalam hidupnya.
Reza terus mengawasi Dita dari kejauhan. Tampak olehnya sesekali Dita menghardik ke arah Fiko. Reza tahu betapa marah Adiknya itu atas perlakuan Fiko. Reza pun tahu betul bahwa sebenarnya perlakuan Fiko itu hanyalah sebuah cara Fiko untuk mendekati Dita. Reza dapat membaca dari gerak-gerik Fiko yang telah lama menjadi sahabatnya itu, bahwa sebenarnya Fiko menyukai Adiknya.
“Dasar Fiko. Dia emang enggak pernah berubah. Dari dulu selalu aja memperlakuakan cewek yang Dia suka kayak gitu. Dia kira semua cewek suka dijahilin terus-terusan kayak gitu” guman Reza.
Fiko adalah salah satu sahabat dekat Reza di kampus. Reza dan Fiko sudah mulai bersahat sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki mereka di Universitas Mandiri. Fiko merupakan satu-satunya teman Reza yang suka gonta-ganti pasangan, Terkadang hanya dalam waktu satu minggu saja Fiko telah menggandeng cewek baru di kampus. Sempat terlintas di benak Reza bahwa keberadaan Fiko itu kurang baik untuk Adiknya. Reza takut Fiko akan mempermainkan Adiknya. Tapi kekhawatiran Reza segera lenyap, seketika Reza tersadar bahwa Adiknya itu adalah perempuan yang tidak mudah untuk ditaklukan oleh seorang lelaki. Adiknya Dita bukan tipe cewek yang gampangan. Reza sudah sering melihat Dita yang didekati oleh beberapa teman semasa SMA-nya, tapi tak satupun dari orang-orang tersebut yang berhasil merebut hati Dita. Menurut Reza orang seperti Fiko sudah tentu tidak akan pernah mampu merebut hati Adiknya itu.
XXX XXX XXX
Waktu istirahat akhirnya tiba. Dita bisa menarik nafas lega karena telah terbebas dari hukumannya. Setelah jam istirahat selesai, semua Mahasiswa baru melanjutkan kegiatannya masing-masing sesuai dengan petunjuk dan perintah dari para senior pendamping Ospek mereka. Hari itu adalah hari yang sangat melelahkan bagi Dita, dari pagi hingga sore hari, ada-ada saja tugas yang diberikan oleh para seniornya. Dita berusaha melewati hari itu dengan sebaik-baiknya, Dita selalu berusaha menghindari semua hal yang bisa menjerumuskan dirinya ke dalam sebuah masalah. Karena Dita sadar bahwa saat itu Dia sudah sendirian, sudah tidak ada lagi sosok Kakak yang akan membelanya.
Hari-hari pun berlalu, hingga tiba saatnya hari terakhir dari kegiatan Ospek. Di akhir kegiatan Ospek hari itu, semua Mahasiswa baru dihimbau berkumpul di sebuah lapangan di depan gedung Dekanat untuk mendengarkan beberapa pengumuman dari panitia pelaksana kegiatan Ospek. Pengumuman itu disampaikan langsung oleh ketua panitia pelaksana kegiatan Ospek yang tak lain adalah Fiko. Setelah semua Mahasiswa berkumpul, Fiko pun memulai pembicaraanya.
“Hari ini adalah hari terakhir dari kegiatan Ospek. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan Ospek selalu di tutup dengan sebuah acara malam yang dikenal dengan sebutan Makrab yaitu Malam Keakraban. Untuk tahun ini kita juga akan menutup kegiatan Ospek dengan acara Makrab. Kenapa dikatakan Malam Keakraban, karena malam tersebut bertujuan untuk lebih mendekatkan atau mengakrabkan seluruh Mahasiswa, baik itu mahasiswa baru ataupun mahasiswa lama dan juga untuk mempererat rasa persaudaraan, sehingga diharapkan dapat membangun sebuah kekompakan” ujar Fiko menjelaskan mengenai Malam Keakraban dengan karismatik.
Tia-tiap Fakultas bahkan tiap-tiap Universitas memiliki cara tersendiri dalam hal penyelenggaraan acara Makrab. Ada Universitas ataupun Fakultas yang menyelenggarakan acara Makrab diluar lingkungan Universitas. Ada yang menyelenggarakan acara Makrab itu sampai 3 hari dengan kegiatan yang bervariasi. Ada yang mengisi acara Makrab dengan kegiatan manajemen organisasi, sharing pendapat, permainan kelompok, makan bersama dan lainnya sesuai dengan kesepakatan panitia dan pihak yang bersangkutan.
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mandiri saat itu menyelenggarakan acara Makrab tersebut hanya di lingkungan kampus saja. Dan kegiatan Makrab itu pun hanya berlangsung satu malam. Keputusan itu diambil oleh pihak penyelenggara dikarenakan mengingat kondisi para peserta Makrab yang tidak lain adalah Mahasiswa baru yang masih lelah karena kegiatan Ospek. Selain itu di Fakultas itu sendiri nantinya akan banyak kegiatan-kegiatan yang akan di laksanakan di luar lingkuangan kampus, termasuk itu kegiatan bakti sosial.
“Acara Makrab ini rencananya akan diadakan malam ini juga, tapi karena melihat kondisi kalian yang kurang memungkinkan, maka panitia memutuskan untuk melaksanakan acara Makrab ini besok malam. Acara tersebut akan kita mulai pada pukul 8 malam. Jadi saya harap kalian datang lebih awal” ujar Fiko.
“Acara Makrab ini akan diselenggarakan di Taman kampus tepatnya di belakang gedung perpustakaan” ujar Fiko lagi.
“Oh ya.. satu lagi, mmmm.. ada tugas satu lagi untuk kalian Mahasiswa baru” tambah Fiko yang diikuti dengan sebuah senyumam.
Mendengar perkataan Fiko tersebut, hampir semua Mahasiswa baru spontan berdiri dan segera meneriakkan protes mereka. Mereka tidak terima jika harus dibebani lagi oleh tugas dari para seniornya itu.
Melihat suasana yang menjadi sangat gaduh dan ramai, Fiko segera angkat bicara kembali untuk menenangkan aksi protes dari para Mahasisiwa baru.
“Tenang…! Tenang…! Harap semuanya tenang…!” ujar Fiko sambil mengangkat tangan kanannya seraya memenangkan protes dari para mahasiswa baru.
Setelah Mahasiswa baru tampak mulai tenang, Fiko kembali melanjutkan pembicaraannya.
“Tugas kalian kali ini adalah memberi kado atau sejenis tanda mata untuk para senior. Tanda mata itu bebas, bisa berupa lagu, puisi, pantun atau apapun yang bisa dipersembahkan pada Malam Keakraban. Jika kalian tidak mau mepersembahkanya secara terang-terangan, kalian juga bisa mempersembahkannya secara pribadi pada senior yang kalian pilih atau senior yang menjadi idola kalian” ujar Fiko menjelaskan mengenai tugas yang dimaksudnya itu.
“Dan jika di antara kalian ada yang mau, kalian boleh menulis surat untuk senior yang kalian kagumi atau yang kalian sukai” tambah Fiko dengan nada bercanda dan diakhiri dengan tersenyum ramah.
“Ada sebuah pepatah yang berbunyi tak kenal maka tak sayang. Maka manfaatkanlah Malam Keakraban nanti untuk saling mengenal” tambah Fiko lagi.
Setelah itu Fiko menutup pengumumannya dan sekaligus menutup kegiatan Ospek hari itu.
Dita yang beberapa hari sebelumya selalu ditindas oleh Fiko, saat itu tertegun melihat sosok Fiko yang sedang berdiri menyampaikan pengumuman. Sosok Fiko yang dilihat Dita saat itu sangat jauh berbeda dengan sosok Fiko yang beberapa hari ini dikenalnya. Sosok Fiko yang dilihatnya kini adalah sosok seorang senior yang ramah, baik, sopan, bersahat dan bijaksana.
“Ini beneran kak Fiko yang kemaren kan!” celetuk Dita pada teman sekelompoknya.
“Gila..!! Kok beda banget! Apa Akunya yang udah gila? Apa Aku yang salah liat?” celetuk Dita lagi.
“Iya itu kak Fiko senior pendamping kita, kok beda banget!” celetuk salah seorang teman Dita menambahi ucapan Dita.
Dita dan teman-temannya pun merasa heran kenapa selama ini seniornya itu bersikap arogan terhadap mereka. Tak terasa Dita dan teman-temannya telah asik membahas masalah sikap seniornya yang bernama Fiko. Suasana saat itu pun kembali ramai, para Mahasiswa baru telah sibuk berbincang dengan teman-teman mereka membahas mengenai kado yang akan mereka bawa pada acara Malam Keakraban.
Di perjalanan menuju halte bus yang berada di depan gerbang kampusnya, Dita terus mendengar pembicaraan para Mahasiswa mengenai kado yang akan mereka bawa dan kepada siapa kado tersebut akan mereka serahkan. Semua anak-anak itu tampak sudah menentukan kado mereka, sementara itu Dita masih termenung memikirkan kado apa yang akan dibawanya untuk acara Makrab dan kepada siapa kado tersebut akan diserahkannya. Di dalam bus, sepanjang perjalanan pulang, Dita terus berpikir mengenai kado tersebut hingga Dia tidak menyadari bahwa bus yang membawanya dari halte kampus telah berhenti tepat di halte komplek rumahnya.