Rahasia Cinta

3888 Kata
Setelah menjelaskan kesalahan Dita, Fiko segera mempersilahkan anak-anak kelompok Kodok lainnya untuk bergegas menjalankan hukuman mereka. Semua Anak-anak anggota kelompok Kodok pun segera bergegas pergi menuju taman kampus yang kemudian diikuti oleh kedua senior perempuan pendamping Ospek mereka. Dan tinggalah Dita sendirian di sana. Selang beberapa saat dari teman-teman Dita pergi, Fiko kemudian menyuruh Dita untuk berjalan mengikutinya. Rangga yang saat itu khawatir pada Fiko yang akan terus-terusan menjahahili Dita, segera membuntuti Fiko dan Dita. Di dalam perjalanan Dita terus berguman dalam hatinya mencaci senior yang ada di depannya itu. “Sumpah! Ni cowok belagu banget, sok, galak, judes, angkuh, sombong, sok pinter lagi. Walaupun  cakep, tapi kalau kelakuannya kayak gini... mana ada cewek yang mau sama Dia. Kalaupun sampai ada cewek yang mau sama Dia, pasti tu cewek, cewek b**o, cewek centil yang kerjaanya cuma nguber-nguber cowok doing! Cewek itu pasti akan menjadi cewek termalang di dunia” guman Dita dalam hatinya. Selama berjalan mengikuti Fiko, Dita terus saja menggerutu karena sangat kesal atas perlakuan Fiko terhadap dirinya. Setelah cukup lama berjalan, Fiko pun menghentikan langkah kakinya tepat di depan salah satu meja kantin. “Hei kamu! Anak baru. Dita! Iyakan nama kamu Dita? Cepet ke sini!” ujar Fiko sedikit kencang yang seketika membuyarkan lamunan Dita. “Iya” jawab Dita. Dita yang masih berada sedikit jauh dari meja kantin itu mempercepat langkah kakinya dan segera berjalan menghampiri Fiko. Dita kemudian berdiri di samping Fiko yang telah duduk santai bersama Rangga. “Pesenin mi goreng sama es teh sana!” perintah Fiko kepada Dita. “Laper banget nih” ujar Fiko lagi sambil memegang perutnya. “Kamu laper juga kan Ngga?” tanya Fiko kepada Rangga yang duduk di hadapannya. Saat itu Rangga tidak menjawab pertanyaan dari Fiko, Rangga menjawabnya hanya dengan sebuah senyuman. Dita yang merasa perlakuan Fiko sudah keterlaluan, berusaha menentang perintah dari seniornya itu. “Maaf ya kak.. tapi Kakak kan punya tagan, punya kaki, punya mulut... kan sayang tu kalau nggak digunain” jawab Dita dengan nada yag lembut tapi dengan maksud menyindir. “Eh.. iya.. punya mata juga.. jadi bisa dong.. pesen sendiri” tambah Dita diakhiri dengan sebuah senyuman ledekan. Namun Fiko tidak memperdulikan ucapan Dita yang telah menolak perintahnya itu, Fiko pun kembali mengulangi perintahnya kepada Dita. “Sekarang cepet kamu pesenin yang aku minta tadi. Aku udak laper...! Oh ya, nanti sekalian kamu bawa ke sini” ujar Fiko sambil mengangkat satu kakinya ke atas kursi layaknya seperti seorang preman yang sedang duduk. Rangga terus memperhatikan kegaduhan yang terjadi di depan matanya, yaitu kegaduhan antara Dita dan Fiko. Rangga pun tampak sangat menikmati kegaduhan itu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Rangga, Rangga hanya tampak sesekali menahan senyumannya. Padahal saat itu Dita berharap bahwa Rangga akan menegur Fiko yang telah bersikap keterlaluan terhadap dirinya. Karena tak ada sinyal bahwa Rangga akan menolong dirinya, maka Dita kembali memberikan perlawanan pada Fiko. Dengan nada yang sangat lembut Dita berusaha kembali menyindir Fiko. “Yang mau makan kan… Kak Fiko... ya Kakak pesen sendiri dong…! Dita liat Kakak masih kuat… masih sehat... masih bisa jalan...” ujar Dita dengan sangat lembut dan kembali sambil tersenyum kecut. Rangga yang melihat perlawanan dari Dita, berusaha menahan tawanya. Sesekali Rangga berpura-pura batuk untuk menutupi tawanya. Setelah beberapa lama memperhatikan keributan antara Dita dan Fiko, Rangga kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu pergi menuju lemari pendingin minuman yang terletak di ujung kantin. Tak lama kemudian Rangga kembali dengan membawa 3 botol air mineral. Rangga meletakkan 1 botol air mineral di hadapan Fiko dan 1 botol lagi diletakknya di hadapan Dita. Rangga kemudian membuka botol minuman yang Dia pegang dan segera menenggak air mineral tersebut. Melihat tindakan yang dilakukan oleh Rangga itu, di benak Dita kembali muncul ide untuk memberikan sindiran terhadap Fiko. “Kak Rangga aja bisa ngambil minuman sendiri, masa Kakak yang hebat ini enggak bisa pesen makanan sendiri” ujar Dita lagi, setelah itu Dita kembali tersenyum. Setelah puas menyindir Fiko, Dita segera mengambil air mineral yang ada di hadapannya, dan Dita pun berusaha membuka tutup botol air mineral tersebut. Namun kali itu Dita merasa sangat susah untuk membuka tutup botol air mineral itu. Dita terus memaksa membuka tutup botol tersebut dan tiba-tiba tutup botol terbuka, air mineral itu pun muncrat keluar dari botol yang sedang Dia pegang. Air tersebut tumpah ke atas meja dan tentu saja percikan air minum itu mengenai pakaian Rangga dan Fiko. “Aduhh…! Maaf Kak, maaf… Dita enggak sengaja” ujar Dita spontan dengan wajah yang tampak sangat cemas. “Aduh..! Gimana ini..? Bajunya basah” ujar Dita salah tingkah karena cemas sambil memperhatikan baju Rangga dan Fiko yang sedikit basah. “Enggak apa-apa, cuma basah dikit kok” jawab Rangga sambil mengebas-ngebaskan tangannya pada bajunya yang basah. Fiko yang dari awal tampak tidak terima dengan perlawanan Dita, dan ditambah dengan kejadian itu, membuat Fiko semakin ada alasan untuk memarahi Dita. Fiko langsung berdiri lalu membentak Dita. “Kamu ini bener-bener keterlaluan ya! Dari tadi bisanya cuma ngelawan. Sekarang ngebasahin baju orang” cerocos Fiko yang ketika itu langsung berdiri dari duduknya.  Kamu liat ni..! Baju aku sampai basah kayak gini. Kamu ini suka bikin masalah y? Hahh..!!” bentak Fiko sambil memperlihatkan bajunya yang basah di hadapan Dita. Melihat Fiko yang kelihatan kesal dan sangat marah, Dita menarik nafasnya kembali untuk menahan emosi dan menenangkan dirinya. Dita kemudian memperhatikan baju yang dikenakan Rangga. Saat itu Dita melihat pakaian Rangga lebih basah dari pada pakaian Fiko. Dengan jantung yang berdebar-debar karena emosi bercampur dengan rasa bersalah, Dita kembali memberikan perlawanannya kepada Fiko. “Dita liat baju Kak Rangga lebih basah dari pada baju Kak Fiko, tapi Kak Rangga enggak marah. Dita kan enggak sengaja numpahinnya. Sekali lagi Dita minta maaf” ujar Dita kesal sambil berusaha menahan emosinya. Mendengar pembelaan diri dari Dita tersebut, Fiko tampak semakin kesal. “Perintah yang Aku kasih sama Kamu itu tadi.. itu adalah salah satu hukuman Kamu. Ngerti nggak? harusnya kamu patuh dong…! Dan itu harus kamu laksanakan. Mangkanya lain kali kalau dikasih tugas, dikerjain yang bener. Biar nggak kena hukum.” ujar Fiko dengan nada yang tinggi untuk mengingatkan Dita akan kesalahannya. “Oke..! Kalau Kamu tetep nolak perintah itu. Enggak apa-apa. Aku bisa kasih kamu hukuman yang lain, seperti… mmmm… membersihkan toilet atau…” ujar Fiko sambil memegang keningnya seolah sedang berpikir. Mendengar perkataan Fiko itu, jelas saja Dita lebih memilih hukuman untuk memesankan makanan untuk seniornya itu dari pada harus membersihkan toilet. Disamping itu Dita juga sudah capek harus berperang mulut dan meladeni kegilaan seniornya yang bernama Fiko itu. Dengan perasaan dongkol Dita pun akhirnya beranjak pergi memesan makanan dan minuman sesuai yang diperintahkan Fiko. Di saat Dita sedang menunggu pesanannya, Dita melihat Rangga pergi meninggalkan Fiko. Dita sangat mengharapkan Rangga akan datang kembali, karena dengan kehadiran Rangga Dita merasa memiliki kekuatan dan keberanian untuk melawan orang-orang yang akan menindasnya seperti Fiko. Dita akhirnya menyadari kenapa hatinya bergetar saat melihat Rangga. Senyuman ramah dan tatapan hangat yang dimiliki oleh Rangga yang menurut Dita tidak asing baginya, ternyata juga dimiliki oleh kakaknya. Sosok Rangga sangat mirip dengan Kakanya Reza yang selalu memberikan kekuatan dan perlindungan untuk dirinya. Tanpa terasa Dita telah melamun jauh tentang sosok Rangga. Lamunan Dita akhirnya terhenti saat seseorang menyerahkan pesanannya. Dita segera membawa dan meletakkan makanan itu di atas meja di hadapan Fiko. Kemudian Dita pun segera duduk di bangku yang berhadapan dengan Fiko. Setelah Fiko menghabiskan makanannya, Fiko kembali berulah yang membuat Dita semakin kesal. “Ha..h..! Pegel banget nih..!” ujar Fiko sambil memijat-mijat bahunya dan mengerak-gerakkan lehernya kekiri dan kekanan berberapa kali layaknya orang yang sedang kelelahan. “Tolong pijatin dong!” pinta Fiko kepada Dita. “Capek banget nih..!” tambah Fiko. Dita dengan spontan berdiri dan langsung menentang permintaan Fiko. “Apa?” ujar Dita terbelalak. “Pegel banget nih. Tolong dong.. pijatin!” ujar Rangga lagi sambil memukul-mukul bahunya, yang tak menghiraukan Dita yang tampak sangat kesal. “Kakak udah gila ya?” ujar Dita yang sangat kesal.  “Mmmm… Ini hukuman kamu yang terakhir deh.. Enggak lama kok, paling cuma sepuluh menitan. Sepuluh menit lagi kalian istirahat, kan…!” ujar Fiko dengan nada yang sedikit lembut sambil memamerkan senyumannya kepada Dita. Dita yang baru kali itu melihat Fiko tersenyum langsung tertegun. Dita melihat senyuman Fiko begitu manis. Karena senyuman itu emosi Dita sedikit berkurang. Dita merasa senyuman itu begitu lembut, tulus dan bersahabat. Untuk sejenak Dita terhanyut oleh senyuman itu, tapi tiba-tiba muncul sebuah bisikan di hatinya. “Enggak..! Aku enggak boleh terpesona oleh senyuman ini, ini hanya senyum palsu dari monster yang bernama Fiko” ujar Dita dalam hatinya. Akhirnya Dita pun terpaksa melaksanakan perintah dari Fiko. Sambil memijat bahu Fiko Dita terus membatin. Sebenarnya Dita sangatlah enggan melakukan hukuman itu. Di sekitar kantin banyak mata yang memandangi dirinya dan tak jarang orang-orang itu menggodanya. Perasaan Dita saat itu bercampur aduk antara malu, kesal, dan marah. Sementara itu Fiko tampak tersenyum lepas dan bahagia, layaknya orang yang baru saja memenangkan suatu pertandingan.                                    XXX                          XXX                          XXX Tanpa disadari oleh Dita, Reza terus mengawasinya dari kejauhan. Reza telah mengawasi Dita sejak dari awal kegiatan Ospek dimulai. Dari kejauhan Reza memperhatikan semua yang telah diperbuat oleh sahabatnya yang tak lain adalah Fiko terhadap adiknya Dita. Sebenarnya Reza tidak rela bila Dita dijahili secara berlebihan oleh Fiko. Saat itu Reza sangat inggin menghentikan kejahilan Fiko. Besar hasratnya saat itu untuk menghampiri Fiko dan segera melindungi Adiknya itu, sama seperti yang selalu dilakukan dulu. Reza kemudian teringat masa lalunya, masa di mana Dia dan Dita masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu Dita Sering diganggu dan dijahili oleh teman-temannya bahkan terkadang dari kakak tingkatnya. Di saat itu Dia selalu ada untuk melindungi Dita. Dia dan Dita selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Mereka selalu berbagi baik suka maupun duka. Sampai suatu ketika kebersamaan itu terpaksa dihentikan oleh Reza, karena pada saat itu Reza merasakan ada sesuatu yang tak lazim hinggap di hatinya. Reza merasakan ada getaran yang aneh jika Dita berada di sampingnya. Bahkan jantungnya akan derdetak dengan cepat di saat Dita menatap matanya. Lebih lanjut Reza juga teringat kejadian di mana Dia hampir tidak mampu mengontrol dirinya. Saat itu adalah untuk pertama kalinya Reza meminta agar diadakan pesta kecil-kecilan untuk acara peringatan ulang tahunnya. Reza sebenarnya berencana memanfaatkan pesta tersebut untuk ajang kumpul-kumpul dengan teman SMA-nya, karena saat itu ujian akhir sekolah akan segera berlangsung. Reza berpikir bahwa setelah mereka tamat SMA tentu akan sulit untuk mereka berkumpul kembali. Pesta ulang tahun Reza diadakan di taman kecil yang berada tepat di samping rumahnya. Para tamu undangan yang mayoritas adalah teman Reza satu persatu berdatangan. Reza berdiri di atas tangga yang berada disamping rumah yang merupakan jalan menuju tempat acara. Reza berdiri di sana untuk menyambut teman-temannya. Beberapa saat kemudian, Reza merasa gelisah karena dari pagi hari belum melihat Dita, adik yang paling disayanginya. Reza tahu bahwa hari itu Dita mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya. Tapi sudah larut malam Dita belum juga pulang ke rumah. Hal itu membuat Reza semakin risau, Reza khawatir terjadi sesuatu terhadap Dita. Reza berjalan mondar-mandir sambil terus menunggu kehadiran Dita. Lalu tiba-tiba Reza dikejutkan oleh kehadiran bu Retno. “Mas Reza lagi nungguin siapa? Dari tadi Ibu perhatikan Mas mondar-mandir terus. Ibu jadi pusing ngeliatnya. Keliatannya Mas gelisah banget” ujar Bu Retno. “Huhh… Bu Retno ngagetin aja” ujar Reza yang sedikit terkejut.  “Lagi nunggu…” tak sempat Reza menyelesaikan ucapannya, Bu Retno telah memotong perkataan Reza. “Nunggu Mama ya Mas? Baru aja Mamanya telpon. Mama bilang sekitar sepuluh menit lagi Dia sampai. Mobilnya sekarang udah di persimpangan depan. Terus Mbak Dita tadi juga telpon. Kata Mbak Dita mobil teman yang nganternya pulang tiba-tiba mogok, jadi Mbak Dita pulangnya mungkin agak telat” jelas Bu Retno. “Enggak usah terlalu khawatir Mas. Kita Doain aja Mbak Dita cepat pulang. Acaranya kan dimulai setengah jam lagi” tambah Bu Retno berusaha menenangkan Reza, karena Bu Retno tahu betul betapa sayangnya Reza pada Adiknya itu.  Setelah itu Bu Retno meninggalkan Reza yang masih terus menunggu. Mendengar pesan yang disampaikan oleh Bu Retno, Reza malah tambah khawatir pada adiknya Dita. Reza takut acara ulang tahunnya akan dimulai tanpa kehadiran Dita. Beberapa menit kemudian Mamanya pun pulang, Mamanya segera mengajak Reza untuk segera masuk, tapi saat itu Reza masih inggin menunggu kepulangan Dita. Reza berusaha menjelaskan kepada Mamanya kejadian yang sedang dialami oleh Dita, yang menyebabkan Dita tidak bisa pulang cepat. Reza menjelaskannya dengan sangat hati-hati, karena jika Dia sampai salah bicara, Dia takut Mamanya akan sangat marah kepada Dita. Reza pun tidak tahu dengan pasti alasan Mamanya yang selama ini bersikap acuh tak acuh terhadap Dita.  “Ayo cepet masuk..! Kasian tu sama temen-temen kamu yang udah ada di dalam, kok dicuekin kayak gitu” ujar Mamanya. “Ada temen Reza yang belum dateng Ma” jawab Reza berbohong. “Temen spesial ya…? Pakek ditungguin segala…” goda Mamanya. Reza hanya tersenyum menanggapi perkataan Mamanya itu.  “Ya udah, Mama masuk duluan ya” ujar mamanya lagi. Setelah puas menggoda Reza, mamanya segera masuk. Sedangkan Reza masih terus menentikan kedatangan Dita. Reza melihat jam di tangannya telah menunujukan pukul 19:50 WIB. Akhirnya Reza memutuskan untuk pergi ke luar pagar rumah untuk memastikan apakah Dita sudah berada di ujung g**g yang tampak dari luar pagar rumahnya. Tapi Reza tidak melihat keberadaan Dita di sana. Setelah beberapa saat menunggu di luar pagar, dengan gontai Reza membalikkan tubuhnya, dan Reza mulai berjalan perlahan untuk kembali ke dalam. Dan Perlahan Reza mulai melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga. Saat itu Reza berencana akan segera memulai pesta ulang tahunnya. Kemudian tiba-tiba samar-samar Reza mendengar ada suara yang seolah memanggil-manggil dirinya. Tapi Reza malah terus saja berjalan menaiki anak tangga, dikarenakan Reza tidak begitu yakin dengan suara yang memanggil dirinya itu. Dita yang baru saja tiba di depan pagar rumahnya, dan saat itu pula melihat keberadaan Reza, langsung berteriak memanggil Reza. Karena melihat tidak ada respon dari Reza, Dita segera mengejar Reza dengan berlari-lari kecil. Saat itu Dita kesulitan untuk berlari karena Dia mengenakan heels. Setelah beberapa saat berlari, Dita pun merasa kelelahan, Dita kemudian kembali memanggil-manggil Reza. “Kakak...! Kak Reza… tunggu...!” teriak Dita ngos-ngosan.  Tapi Reza tidak mendengarkan teriakan itu. Dita pun terus melanjutkan langkahnya dengan cepat dan sesekali berlari-lari kecil. Sambil terengah-engah Dita terus berusaha mengejar Reza.  Reza yang sedari tadi merasa mendengar ada suara memanggil-manggil dirinya, segera menghentikan langkahnya dan segera membalikkan tubuhnya. Setelah Reza berbalik, tampaklah olehnya Dita tengah berlari-lari kecil sedang menuju ke arah dirinya. Reza pun kemudian berjalan menuruni anak tangga untuk menjemput Adiknya itu. Semakin menuruni anak tangga, jarak antara Reza dengan Dita semakin dekat dan perlahan wajah Dita semakin jelas terlihat. Di saat itu pula Reza merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tampak oleh Reza di hadapannya ada sosok perempuan yang sangat jelita. Perempuan itu terus berjalan mendekati dirinya, perempuan itu tak lain adalah Dita, Adiknya. Malam itu adalah untuk pertama kalinya Reza melihat Dita berdandan. Dita terlihat begitu anggun, cantik dan mempesona. Selama yang Reza tahu, Dita selalu cuek dan tidak terlalu perduli dengan penampilannya, Dita selalu terkesan tomboy. Karena itulah Reza benar-benar terpukau saat melihat Dita yang begitu cantik mengenakan dress dan heels malam itu. Dengan balutan Dress hitam selutut, dengan motif bunga berwarna putih melingkar di sepanjang ujung dress dan dipadankan dengan heels, benar-benar membuat Dita terlihat anggun dan cantik. Semakin Reza berjalan mendekati Dita, jantungnya semakin berdetak kencang. Reza merasakan ada sesuatu yang merasuk ke dalam hatinya. Reza merasakan perasaan yang aneh, yang tak mampu dimengerti oleh nalarnya. Reza pun berusaha menolak perasaan yang merasuki hatinya itu, Reza pun berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang semakin kacau saat mendekati Dita. “Kenapa aku deg-degan kayak gini? Enggak mungkin aku jatuh cinta sama Dita, Dita adalah Adikku. Ini pasti karena aku capek nurunin tangga ini, mangkanya jantung ini berdetak cepat” ujar Reza dalam hatinya.  Reza terus menatapi Dita yang begitu cantik malam itu.  Melihat Reza yang terus memandangi dirinya Dita pun merasa risih. Dita pun kemudian berpikiran bahwa ada yang aneh pada dirinya atau ada yang salah pada dandanannya. Mungkin sebentar lagi Reza akan menertawakannya pikir Dita. Dita kemudian menundukkan kepalanya karena kehilangan rasa percaya diri. Namun tak lama dari itu Perlahan-lahan Dita  pun mengangkatkan kepalanya dan menatap ke arah Reza. “Dandanan Dita aneh ya...? Kok Kakak ngeliatin Dita kayak gitu?” tanya Dita ragu-ragu. Dita sangat takut bila nanti ternyata memang benar bahwa dandanannya lucu dan aneh. Dita tak begitu yakin dandanannya bagus, karena itu adalah pertama kalinya Dia belajar berdandan. Tapi sebelum Dita pulang dari rumah teman-temannya,  teman-temannya berkata bahwa dandanannya bagus. Dita takut kalau-kalau temannya menjahili dirinya. Dita terus menatap ke arah Reza untuk menunggu jawaban dari Reza. Tapi ternyata Reza tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dita. Reza tidak mendengarkan perkataan Dita dikarenakan saat itu Reza sibuk dengan pikiran dan perasaan yang dirasakannya. Kembali Dita terpaksa memanggil Kakaknya yang sedang mematung menatapi dirinya. “Kak Reza” ujar Dita. “Dandanan Dita aneh ya Kak?” tanya Dita lagi dengan wajah harap-harap cemas. “Apa? Oh… Enggak kok. Dandanan Dita bagus. Dita cantik banget malam ini” jawab Reza sedikit terbata-bata karena baru tersadar dari lamunannya. Mendengar pujian dari Kakaknya itu, rasa percaya diri Dita pun kembali. Dita kemudian tersenyum manis di hadapan Reza. Dita kemudian mengajak Reza yang masih tampak sedikit bengong untuk segera masuk untuk acara pesta ulang tahun. Dita kemudian meraih tangan Reza dan menggenggamnya dengan erat, lalu menarik tangan Reza untuk segera mengikutinya menaiki tangga. “Mama marah ya sama Dita? Mama pasti marah, karena Dita pulangnya telat. Aduh…! gimana ni Kak…?” ujar Dita sambil menaiki anak tangga. Dita sangat khawatir Mamanya akan memarahinya. Karena perasaannya yang sangat khawatir Dita pun melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. “Aaaaa…” teriak Dita. Kaki Dita terkilir sehingga membuat tubuhnya hilang keseimbangan. Tubuh Dita pun oleng, hampir saja tubuh Dita terguling kebelakang jika saja Reza tidak dengan segera menangkapnya. Di saat itulah mata Reza dan mata Dita pun beradu, keduanya saling bertatapan. Saat itu Reza merasa sekujur tubuhya terasa kaku, nafasnya menjadi tidak beraturan, jantungnya berdetak dengan kencang dan jauh di dalam hatinya Reza merasakan ada getaran yang begitu hebat sedang bergejolak. Di dalam rangkulan tangannya, Reza dapat dengan jelas memandangi wajah Dita. “Apa benar Dia adalah Dita? Adikku! Kenapa selama ini aku enggak bisa ngeliat Dita dengan jelas. Kenapa baru malam ini aku bisa ngeliat Dita dengan jelas” ujar Reza di dalam hatinya sambil terus memandangi wajah Dita. Reza tak mampu mengalihkan pandangannya dari wajah Dita yang jelita. Semakin lama Reza memandangi wajah Dita, tiba-tiba Reza merasakan seperti ada kekuatan yang meracuni pikirannya dan mendorongnya untuk mencium bibir Adiknya itu. Perlahan-lahan Reza menundukkan wajahnya ke arah wajah Dita. Dan perlahan jarak antara wajah Reza dan wajah Dita semakin dekat. Karena Reza terus menundukkan wajahnya, Dita pun merasa menjadi tidak nyaman. “Kak Reza” ujar Dita kepada Kakaknya, karena melihat Reza yang terus menundukkan kepalanya. Karena Reza tampak seperti sedang melamun, Dita kemudian mengguncang-guncangkan tubuh Kakaknya, agar Kakaknya segera tersadar dari lamunannya. “Kak Reza…! Kak…! Kakak kenapa…?” teriak Dita heran sambil terus mengguncang tubuh Reza.       “Oh... oh… maaf... maafin Kakak. Kakak banyak pikiran akhir-akhir ini. Jadi Kakak sering ngelamun” jawab Reza gugup. Reza berkata demikian agar Adiknya Dita tidak berpikir hal-hal yang aneh tentang dirinya. Reza segera membangunkan tubuh Dita dari rangkulannya. Setelah itu Reza segera beranjak pergi dari hadapan Dita yang sedang merapikan pakaiannya. Reza pun berjalan dengan terburu-buru menuju tempat acara ulang tahunnya. Saat itu juga Reza merasakan pikirannya sangat kacau sehingga saat berkumpul dengan teman-temannya, seringkali Reza tidak menyimak apa yang sedang dibicarakan oleh teman-temannya itu. Keesokan harinya untuk menenangkan pikiran, Reza memutuskan mengajak teman-temannya untuk latihan band di tempat langganan mereka. Saat memetik gitarnya Reza terlihat sering asal-asalan, Reza tidak dapat berkosentrasi pada permainan gitarnya, pikiran Reza malah tertuju pada kejadian yang dialaminya semalam. Karena telah berkali-kali mengulangi latihan dan Reza tetap tidak bisa berkosentrasi, maka teman-temannya memutuskan untuk menghentikan latihan itu. Setelah teman-temanya pergi, Reza hanya tinggal sendirian di ruang latihan. Reza terus memetik gitarnya tanpa aturan dan irama yang jelas. Setelah lama Reza merenung dan merasa hatinya sudah cukup tenang, Reza pun segera pulang. Saat membuka pintu kamarnya, jantung Reza kembali berdetak cepat. Di atas tempat tidurnya, Reza melihat ada Dita yang sedang tertidur pulas sambil memegang sebuah kotak. Karena tidak ingin membuat Dita terbangun, Reza menutup pintunya dengan pelan-pelan dan masuk ke dalam kamarnya dengan mengendap-endap. Untuk memastikan apakah jantungnya akan kembali berdetak lebih cepat lagi bila berada di dekat Dita, maka perlahan Reza mendekati tempat tidurnya dan mulai memandangi Dita yang sedang tertidur pulas di sana. Sesaat setelah memandangi wajah Dita, Reza mulai merasakan detak jantungnya semakin cepat, dan nafasnya menjadi tak beraturan. Di saat Reza masih asik memandangi Dita, Dita pun terbangun. Melihat Dita yang terbangun secara tiba-tiba, Reza pun terkejut, Reza kemudian segera berdiri menjauh dari tempat tidurnya. Dita yang telah bangun, perlahan mulai beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati Reza. Di hadapan Reza, Dita mengulurkan tangannya untuk menyerahkan kotak yang dipegangnya kepada Reza. Kotak itu adalah kado ulang tahun yang belum sempat diberikannya kepada Reza. “Selamat ulang tahun Kak Reza. Maaf kadonya telat” ujar Dita dengan ceria. Setelah menyerahkan kado itu, Dita kemudian mencium pipi kanan dan pipi kiri Reza, sama seperti yang biasa dilakukannya sejak kecil. Kemudian Dita melemparkan sebuah senyuman manis kepada Reza, lalu Dita segera pergi meninggalkan Reza yang sedang tertegun dan mematung. Sementara itu Reza masih terpaku memandangi kepergian Dita dari kamarnya. Tidak ada sepatah kata yang mampu keluar dari mulutnya. Baru kali itu Reza merasakan hal yang berbeda saat Dita mencium pipinya. Dulu setiap kali Dita mencium pipinya, Reza tidak pernah merasakan ada hal aneh yang melanda hatinya. Reza menampar-nampar pipinya berharap semua yang dirasakannya dan yang dialaminya itu hanyalah mimpi. Reza menentang hatinya yang telah jatuh cinta pada Dita, Adiknya sendiri. Reza berjuang untuk membuang jauh rasa itu dari dalam hatinya. Reza benar-benar frustasi memikirkan hal yang telah melandanya. Reza mengumpat dan mengutuk dirinya yang telah jatuh cinta pada Dita, Adiknya itu. Berhari-hari hingga larut malam Reza terus berusaha membunuh rasa cintanya terhadap Dita. Namun perasaan itu tak pernah bisa pergi dari hatinya. “Hanya orang gila yang akan jatuh cinta sama Adiknya. Hanya orang abnormal yang akan melakukan ini” ujar Reza terus mamaki-maki dirinya di depan cermin. Reza terus memaki dirinya hingga larut malam. Semenjak kejadian itu Reza memutuskan untuk menjauh dari Dita. Reza memilih untuk bersikap acuh dan dingin terhadap Dita. Hal itu  dilakukan Reza untuk membunuh rasa cintanya kepada Dita. Reza sebenarnya tahu bila Dia melakukan tindakan itu Dita pasti akan sedih dan menderita. Karena hanya pada dirinyalah Dita bengantung dan mengadu setelah Papanya pergi. Tapi untuk beberapa waktu kedepan, Reza tidak ingin berdekatan dengan Dita karena Reza takut tidak mampu mengontrol perasaannya terhadap Dita. “Sekarang Dita akan sendirian. Tapi biarlah, ini adalah cara terbaik untuk melupakan Dita” ujar Reza. Reza benar-benar kasihan pada Dita yang akan kehilangan tempat berbagi dan berlindung. Karena hanya pada dirinyalah Dita sering berbagi keluh kesah. Reza paham betul bahwa Mamanya tidak terlalu perduli dengan Adiknya itu. Reza sangat sedih memutuskan untuk melakukan tindakan itu. Berat sekali hatinya untuk menjauh dari Dita. Tapi Reza juga tidak ingin dirinya tumbuh dengan pribadi yang tidak normal karena mencintai Adiknya sendiri. Karena alasan itulah Reza melarang keras agar Dita tidak satu kampus dengan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN