Bab 1: Hari Pertama yang Berantakan
Pagi itu, Jakarta seperti biasa: hiruk-pikuk kendaraan yang saling berebut jalan, klakson yang tak henti-hentinya, dan udara lembab yang sudah terasa panas meski matahari baru saja mengintip dari balik gedung-gedung pencakar langit. Aira Prameswari, gadis 24 tahun dengan rambut panjang ikal yang diikat rapi, melangkah keluar dari kereta commuter line dengan hati berdebar kencang. Ini hari pertamanya bekerja di PT Kreasi Prima, perusahaan advertising ternama di kawasan Sudirman. Setelah berbulan-bulan mengirim lamaran dan melewati wawancara yang melelahkan, akhirnya mimpi Aira terwujud: posisi junior marketing.
"Iya, Ma, aku sudah di depan gedung. Doain ya, semoga lancar," kata Aira lewat telepon ke ibunya di kampung, suaranya penuh semangat meski ada nada gugup yang tak bisa disembunyikan. Ia memandang gedung kaca menjulang itu, logo PT Kreasi Prima berkilau di puncaknya. "Aku masuk dulu, ya. Love you."
Aira menarik napas dalam-dalam, menyesuaikan blazer hitam yang baru dibelinya kemarin, dan memeriksa tas kerjanya: CV cadangan, notes dari kuliah, dan secangkir kopi panas dari kedai pinggir jalan untuk menambah energi. Ia grogi, tapi tekadnya kuat. "Ini awal baru, Aira. Kamu bisa," gumamnya pada diri sendiri sambil melangkah masuk ke lobi yang mewah.
Lobi gedung itu seperti dunia lain: lantai marmer mengkilap, resepsionis dengan senyum profesional, dan karyawan-karyawan berpakaian rapi yang berlalu-lalang dengan ponsel di tangan. Aira langsung menuju meja resepsionis untuk check-in sebagai karyawan baru. Setelah mendapat badge sementara, ia buru-buru menuju lift. Jam sudah menunjukkan pukul 08.45—hanya 15 menit lagi sebelum meeting orientasi dimulai.
Lift sudah ramai, tapi Aira berhasil menyelinap masuk di detik terakhir. Pintu lift hampir menutup saat ia merasa seseorang di depannya bergerak mundur. "Ups!" seru Aira dalam hati saat bahunya menyenggol seseorang. Ia berbalik cepat untuk meminta maaf, tapi terlambat—cangkir kopinya miring, dan cairan panas itu tumpah ke sepatu serta ujung celana pria di belakangnya.
"Oh tidak! Maafkan saya, Pak! Saya tidak sengaja!" Aira panik, wajahnya memerah. Ia langsung jongkok untuk membersihkan tumpahan itu dengan tisu dari tasnya, tapi pria itu hanya berdiri diam, tak bergerak. Aira mengangkat kepala, dan matanya bertemu dengan sepasang mata gelap yang tajam, seperti pisau yang siap menebas. Pria itu tinggi, berjas hitam rapi, rambut hitam pendek yang disisir ke belakang, dan aura yang membuat udara di lift terasa lebih dingin.
Tidak ada kata maaf diterima, tidak ada senyum pengertian. Hanya tatapan itu—dingin, tak berkedip—yang membuat Aira merasa seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. Lift berhenti di lantai 10, dan pria itu melangkah keluar tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Aira yang masih jongkok dengan tisu basah di tangan. Pintu lift menutup, dan Aira bangkit pelan, jantungnya berdegup kencang. "Siapa dia? Kok cuek banget?" gumamnya.
Sampai di lantai 15, departemen marketing, Aira mencoba melupakan insiden itu. Ia disambut oleh Mbak Rina, supervisornya, yang ramah dan langsung mengajaknya ke ruang orientasi. "Selamat datang, Aira! Kamu siap buat hari pertama yang seru?" tanya Mbak Rina sambil tersenyum lebar.
Aira mengangguk antusias. "Siap, Mbak! Saya excited banget."
Orientasi berjalan lancar: penjelasan tentang struktur perusahaan, etika kerja, dan proyek-proyek ongoing. PT Kreasi Prima memang besar—kliennya dari brand nasional hingga internasional. Aira mencatat semuanya dengan teliti, pikirannya sudah melayang ke ide-ide kampanye yang bisa ia kontribusikan.
Tapi saat Mbak Rina menyebut nama Direktur Utama, Aira tersentak. "Pak Reyhan Arvendra, bos kita yang legendaris. Dia perfeksionis, ya. Tapi berkat dia, perusahaan ini bangkit dari krisis. Jangan sampai bikin kesalahan di depannya, deh."
Aira menelan ludah. "Legendaris gimana, Mbak?"
"Oh, dia galak tapi pintar. Tak pernah tersenyum, katanya sih karena masa lalu yang berat. Orang tuanya meninggal saat dia masih kuliah, dan dia bangun perusahaan ini dari nol. Tapi hati-hati, ya—dia bisa pecat orang karena kesalahan kecil."
Aira mengangguk, tapi pikirannya kembali ke insiden lift. Tatapan dingin itu... Apakah itu Pak Reyhan? Ia mengintip ID card yang tergantung di jas pria tadi—ya, di sudut matanya, ia ingat nama itu: Reyhan Arvendra. Hati Aira langsung ciut. Hari pertama saja sudah bikin musuh dengan bos besar? "Semoga dia lupa," doanya dalam hati.
Setelah orientasi, Aira diajak keliling kantor. Ruangan open space dengan meja-meja modern, dinding kaca yang menghadap pemandangan kota, dan sudut kreatif dengan bean bag untuk brainstorming. Rekan-rekannya ramah, meski ada satu-dua yang memandangnya dengan tatapan "orang baru nih". Saat istirahat siang, Aira duduk di pantry, mencoba berbaur.
"Hei, kamu Aira ya? Dari kampus mana?" tanya seorang gadis berponi, namanya Lila, sesama junior.
"UI, jurusan komunikasi. Kamu?"
"Sama! Wah, senang ada teman baru. Hati-hati sama Pak Reyhan, loh. Kemarin aja, ada yang dipecat karena laporan telat lima menit."
Aira tertawa gugup. "Serius? Aku tadi pagi tak sengaja numpahin kopi ke sepatunya. Dia cuma diem aja, tapi tatapannya... brrr."
Lila melotot. "What? Itu Pak Reyhan? Kamu berani banget!" Dia jarang naik lift biasa, biasanya pakai lift eksekutif. Pasti lagi buru-buru. Wah, semoga dia nggak ingat wajahmu."
Aira menggelengkan kepala, mencoba tertawa. "Ya sudah, lah. Yang penting aku kerja bagus aja, kan?"
Sore harinya, Aira mendapat tugas pertama: menyusun data riset pasar untuk meeting besok. Ia duduk di meja kerjanya, laptop menyala, dan mulai bekerja dengan fokus. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 saat Mbak Rina lewat. "Pulang dulu, Aira. Jangan lembur di hari pertama."
"Tapi ini hampir selesai, Mbak. Biar besok nggak keteteran."
Mbak Rina tersenyum. "Oke, tapi jangan terlalu malam. Selamat malam!"
Kantor mulai sepi. Aira menyelesaikan tugasnya, bangga dengan hasilnya. Saat ia bersiap pulang, lift lagi-lagi jadi tempat nasib buruk. Pintu terbuka, dan di dalamnya berdiri Reyhan, sendirian, dengan map di tangan. Aira ragu, tapi sudah telat mundur. Ia masuk, berdiri di sudut, berharap tak dikenali.
Tapi Reyhan meliriknya. Tatapan dingin itu lagi. "Kopi tadi pagi?" katanya datar, tanpa ekspresi.
Aira membeku. "I-iya, Pak. Maaf sekali lagi. Saya benar-benar tidak sengaja."
Reyhan tak menjawab. Hanya mengangguk kecil, lalu keluar di lantai parkir. Aira menghela napas panjang saat lift melanjutkan ke bawah. Hari pertama ini berantakan total, tapi anehnya, ada sedikit rasa penasaran di hatinya. Siapa sebenarnya pria dingin itu? Dan kenapa tatapannya membuat jantungnya berdegup tak karuan?
Malam itu, di apartemen kecilnya di pinggiran Jakarta, Aira merebahkan diri di kasur. "Besok harus lebih baik," gumamnya sambil memejamkan mata. Tapi mimpi malamnya dipenuhi tatapan tajam Reyhan, dan secangkir kopi yang tak henti tumpah.