Sabtu pagi di gedung perkantoran Sudirman terasa sangat berbeda. Tidak ada hiruk-pikuk ribuan karyawan, tidak ada antrean lift yang mengular. Keheningan itu justru membuat langkah kaki Aira di lantai 22 terdengar bergema, menciptakan suasana yang jauh lebih intim sekaligus menegangkan. Aira datang lebih awal, membawa dua gelas kopi dari kedai bawah—satu Americano tanpa gula untuk Reyhan (ia sudah menghafal seleranya), dan satu Caramel Macchiato untuk dirinya sendiri. Saat ia masuk, Reyhan sudah ada di sana. Pria itu tidak memakai kemeja formal seperti biasanya, melainkan hanya kaus polo hitam yang pas di badannya, membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda dan… jauh lebih manusiawi. "Kopi, Pak," ucap Aira pelan sambil meletakkan gelas di meja kerja Reyhan. Reyhan mendongak dari

