Seminggu berlalu sejak Aira resmi jadi asisten pribadi Reyhan. Ritme kerjanya sudah mulai terbiasa: bangun subuh, commuter line yang penuh sesak, sampai kantor paling pagi, siapkan kopi hitam tanpa gula, cek agenda hari itu, ikut meeting, revisi materi, pulang malam—kadang diantar Reyhan kalau hujan atau sopir sudah pulang duluan. Tapi ada satu hal yang belum berubah sama sekali: Reyhan Arvendra tak pernah tersenyum. Bahkan saat proyek Lumière mendapat approval awal dari klien Korea dan tim kreatif bertepuk tangan di meeting, wajahnya tetap datar. Bahkan saat revenue forecast naik 7% di atas target dan para direktur saling tos, ia hanya mengangguk kecil sambil bilang “Bagus. Lanjut.” Bibirnya tak pernah melengkung, matanya tak pernah berbinar. Hanya tatapan tajam yang selalu membuat oran

