Jalanan menuju apartemen Aira malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu jalan di daerah Jakarta Selatan berkelebat cepat di kaca jendela mobil. Aira mendekap amplop cokelat itu erat di dadanya, seolah dokumen di dalamnya bisa memberikan kehangatan di tengah hawa dingin AC mobil yang menusuk. "Kita diikuti, Mbak," suara datar dari pengemudi di depan, seorang pria tegap bernama Bara yang dikirim Reyhan, seketika memecah keheningan. Aira menoleh ke belakang melalui kaca spion tengah. Sebuah mobil SUV hitam tanpa plat nomor depan tampak menjaga jarak sekitar tiga mobil di belakang mereka. "Bapak yakin?" "Dia sudah mengikuti kita sejak keluar dari gang kafe tadi. Tetap tunduk, Mbak. Jangan menoleh ke belakang," perintah Bara dengan nada tenang namun otoriter. Jantung Air

