"Hai cewek jutek, apa kabar?"
Baru saja adis sampai di singgasananya, Mak Lampir versi Adis datang menghampiri. Dia sengaja menyangga dagunya di atas meja, menunjukkan jari manis yang sudah terisi cincin berlian.
Adis melirik sejenak, kemudian dia kembali menarikan jarinya di atas keyboard. Matanya fokus ke arah layar monitor yang ada di hadapannya.
"Hei, gue bicara sama Lo. Nggak sopan banget sih! Kenapa? Kamu Iri aku pakai cincin berlian mewah seperti ini? Makanya, punya pacar direktur dong, biar bisa dikasih barang-barang mewah. Oh iya, sebentar lagi gue mau nikah sama bos Lo. Jadi lo siap-siap repot ikut urusin pernikahan kita ya?"
Adis menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan perlahan. Dia berusaha untuk tidak menggubris ucapan Rossi meskipun sebenarnya adis sangat geram. Apa coba maksudnya pamer-pamer di hadapan Adis. Biar apa?
"Maaf Mbak. Saya masih sibuk. Banyak yang harus saya kerjakan. Jika memang tidak ada yang penting, silakan Mbak pergi dari hadapan saya. Terus terang saja saya pusing mendengar suara mbak, cempreng dan nggak ada merdu-merdunya sama sekali."
Adis berbicara tanpa mendongakkan kepalanya. Dia seolah sedang sibuk dengan laptopnya, padahal sebenarnya dia sedang menahan kedongkolan. Kok bisa Beno jatuh cinta dan tergila-gila sama wanita itu? Padahal dia norak, sengaja pamer di depan orang yang belum begitu dia kenal.
"Songong banget ya lo. Ingat, lo cuma sekertaris di sini. Cuma sekertaris. Oh iya, gue mau minta tolong sama Lo. Tolong_"
"Maaf nggak bisa mbak. Saya sedang sibuk. Saya hanya akan mengerjakan apa yang menjadi job desk saya."
"Kamu_"
Baru saja rossi ingin mengumpat dan mengata-ngatai Adis, tetapi wanita itu sudah terlebih dulu berdiri dan melangkahkan kaki menjauhi Rossi. Dia berjalan begitu saja tanpa pamit dan tanpa berucap sepatah kata pun.
"Hei, gue masih ngomong. Dasar sekertaris nggak tahu sopan santun," ucapnya dengan nada kesal. Rossi menghentakkan kakinya keras ke lantai, lalu segera masuk ke ruangan Beno tanpa mengetuk pintu.
"Hai tunangan aku," ucap Rossi dengan senyum yang mengembang. Seperti biasa, dia selalu membawakan makanan untuk makan siang kekasihnya. Inilah salah satu hal yang memberikan nilai plus di mata Beno. Rossi selalu perhatian dari hal-hal kecil.
"Halo Sayang. Katanya sibuk, florist lagi rame? Kok ke sini?" Beno berdiri, menghampiri kekasihnya, lalu mereka saling mencium pipi kanan dan kiri.
"Sesibuk apapun aku, aku akan berusaha untuk selalu memastikan kamu makan dengan baik. Ayo sini makan dulu."
Mereka duduk di sofa, dan membuka bekal yang dibawakan oleh Rossi.
"Waaah … Pizza. Kesukaan … "
Beno langsung terdiam dan tidak meneruskan kata-katanya. Pizza? Ini adalah makanan kesukaan Adis. Beno ingat betul, dia hanya mampu membelikan Adis pizza sekali selama mereka pacaran.
"Kesukaan siapa?" Rossi langsung memasang muka garang.
"Kesukaan Ibu. Ibu suka pizza." Beno segera menjawabnya senatural mungkin.
"Oh, kirain. Oh iya, Besok kita akan ketemu sama EO yang mengurus acara pertunangan kita. Kamu bisa jam berapa, Sayang?"
"Oh, kalau soal itu nanti kita tanya sama Dena ya? Besok ada jadwal meeting apa nggak. Soalnya aku nggak hafal."
"Sayang, aku nggak tahu kenapa ya? Tapi si Dena itu kurang ajar banget sayang. Attitudenya enol. Aku nggak suka banget sama dia. Masa dia sok cuek gitu saat aku ajak bicara. Nggak mau memandang aku sama sekali, Sayang. Nggak ada sopan santunnya dia. Aku nggak mau tanya sama dia. Nggak Sudi."
" Dia memang seperti itu. Biarin aja. Meskipun begitu, dia cekatan kok. Solutif juga kalau ada masalah. Kita butuh dia."
"Tapi sayang, dia_"
"Sudah, nggak usah ngomongin dia. Yang ada mood hancur."
"Iya sih. Ya udah sayang. Sini aku suapin."
"Hmm.... Terimakasih, Sayang."
Rossi mengambil mengambil sepotong pizza dan menyuapkannya ke mulut Beno.
"Oh iya, Bagaimana kalau nanti kita mengajak Dena saat kita ke EO? Biar dia makin panas. Karena aku tahu, dia iri sama aku yang punya cowok sekeren kamu."
Buuur … segigit pizza yang baru saja dikunyah oleh Beno, tersembur keluar hingga mengenai wajah Rossi. Dia tersedak, kaget dengan kata-kata Rossi. Mengajak Adis ke EO? Ah … itu benar-benar tidak mungkin. Dia tidak mau Adis semakin sedih.
"Sayang, kamu apa-apaan sih. Kok aku disembur begini. Jijik tahu … Ah … aku cuci muka dulu."
Rossi segera beranjak dari duduknya, dan berlari pergi meninggalkan beno sambil nengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. Terlihat sekali dia sedang jijik. Sementara Beno, dia langsung mengambil air mineral dan segera meneguknya. Ah, kadang-kadang tingkah laku Rossi juga bikin Beno support jantung.
***
"Besok kosongin waktu jam 10. Gue sama tunangan gue mau ke EO. Kalau ada jadwal, reschedule aja. Oh ya, Lo juga harus ikut. Sbagai personal secretary, lo harus ikut terjun dalam masalah pribadi jika diperlukan."
"Nggak mau. Aku sibuk. Urus aja urusan kamu sendiri. Aku cuma kerja, di luar itu. Bukan urusan saya."
Adis tampak menata berkas di rak. Seperti biasa, dia sangat malas memandang wajah perempuan yang telah dipilih oleh mantan kekasihnya.
"Iiiih … gemes banget gue sama makhluk satu ini. Woe hargai orang bicara. Pokoknya Lo harus atur bagaimana caranya agar jam 10 besok calon suami gue bisa keluar, dan lo harus ikut. Kamu harus bawain barang-barang gue. Kalau lo sampai menolak, gue pastikan Lo akan dipecat, di black list dari semua perusahaan, dan tidak digaji sepeser pun. Bye!"
Rossi tersenyum licik penuh kemenangan, kemudian dia segera kembali melenggang masuk ke ruangan Beno.
Adis mengambil salah satu map, lalu membantingnya keras di atas meja.
"Laki perempuan sama aja sukanya ngancem. Dia fikir aku babunya harus menemani ke EO dan bawain barang-barangnya. Nggak waras mereka!"
Adis benar-benar emosi. Matanya basah, bukan karena perlakuan Rossi, tapi karena rencana pertunangan mereka secara resmi? Haruskah ia ikut andil dalam acara pertunangan mantannya yang masih dia sayang?
Adis menunduk. Air matanya hampir luruh. Dia segera mengedipkan matanya beberapa kali supaya air matanya tak tumpah untuk yang ke sekian kalinya.
Ah … dia perlu secangkir coklat panas. Wanita itu membuang nafas kasar, lalu segera melarikan diri ke pantry. Pantry, tempat yang paling nyaman bagi Adis di kantor.
"Pacar, nyariin aku ke sini ya?"
Ternyata sudah ada langit di sana. Entah kebetulan atau bagaimana, dia sedang membuat 2 cangkir coklat panas.
"Badut, aku butuh kau untuk membuatku tertawa."
Adis, tersenyum. Kemudian tertawa kecil.
Ketika satu pintu telah tertutup, pasti ada pintu lain yang terbuka. Inikah pintu lain itu?