Masih Tentang Air Mata

1468 Kata
Laki-laki itu hanya terdiam sambil mengerutkan keningnya. Dia tak paham, Kenapa Adis bisa semarah itu. Padahal dia sudah terbiasa bersikap seperti itu sebelumnya? Ah … tapi apakah dia sudah keterlaluan? Separuh hatinya menyuruh dia untuk tetap diam dan abai. Namun, separuh hatinya mengatakan bahwa dia harus mengejar Adis. Bagaimanapun juga, adis adalah seseorang yang pernah mengisi hatinya. "Shiiiittt … kenapa aku harus lemah begini?" Beno memukul setir mobilnya, kemudian bergegas keluar dari mobil dan mengejar Adis yang belum jauh. "Adis … tunggu!" Adis mendengar teriakan Beno. Namun, masih belum ada mood untuk menoleh. Air mata sudah menetes ke pipinya. Ah, ternyata tumpah semalaman tidak membuat air mata Adis habis. "Tunggu!" Beno berhasil mengejar Adis dan mencengkeram lengannya. Mau tak mau, adis harus menghentikan langkahnya. Dia mengibaskan tangan Beno, lalu berbalik dan menatap mantan pacar yang otoriter itu. "Kenapa? Kenapa kau masih mengejarku? Bukankah kamu mau memecat aku? Pecat aja! Aku tak peduli. Apakah belum puas menyakitiku semalam? Aku tahu kau sengaja menyuruhku menyiapkan semua kejutan untuk pacar alay Kamu itu. Kamu sengaja menyuruhku berada disana agar aku bisa melihat kamu melamar dia. Iya kan? Aku tahu kamu sudah move on dan sudah enggak sayang sama aku lagi, tapi setidaknya kamu harus menjaga perasaanku. Kamu tahu aku masih sangat sayang sama kamu. Seharusnya kamu bisa menjaga perasaanku, Beno. Hatiku hancur. Harapanku sia-sia." Adis menatap mata Beno dengan air mata yang terus membanjiri pipinya. Beno mematung. Hatinya semakin teriris mendengar jeritan hati Adis. Apakah sesakit itu, Adis? 'seharusnya aku bahagia melihat adis tersakiti seperti ini. Itu berarti dia sudah bisa merasakan apa yang aku rasakan dulu, tetapi kenapa Rasanya ikut sakit ketika tahu bahwa adis tersakiti? Ah … kenapa aku bisa selemah ini?' "Oke. Sorry. Maafkan saya. Mungkin saya sudah kelewatan. I am sorry. Sekarang kita balik ke mobil ya? Kita bicarakan semua ini baik-baik di sana." "Bicara sama kamu hanya membuat hatiku perih. Kamu berangkat aja! Aku tahu kamu udah nggak butuh aku lagi. Mulai hari ini aku resign. Surat pengunduran dirinya menyusul." Adis masih berderai air mata. Suaranya serak karena kelamaan menangis. Hatinya perih saat harus mengatakan perpisahan. Namun, Bukankah memang begitu seharusnya? Terlalu lama berada di samping Beno hanya akan mencabik-cabik hatinya. Adis berbalik, melangkahkan kakinya perlahan, dan bersiap untuk pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan pekerjaan yang diharapkan, dan meninggalkan seseorang yang masih disayang. "Kamu enggak kan pergi. Maafkan aku yang terbawa emosi. Tolong, ikut ke mobil. Kantor butuh kamu!" 'Kantor? Kantor butuh aku? Aku tak peduli sama kantormu, Beno.' Adis terus melangkahkan kakinya, mencoba mengabaikan semua ucapan Beno. "Ya udah, kamu akan diantar sama langit. Tunggu di sini. Biar Langit yang antar kamu. Kamu tidak diizinkan untuk resign. Tunggu sebentar!" Saat itu, Adis menghentikan langkahnya. Dia usap air mata dengan kedua ibu jarinya. Langit? Iya. Saat ini dia memang membutuhkan langit. Dia butuh teman bicara saat ini juga. Dia butuh teman ngobrol Untuk menghentikan air matanya. Beno menelepon Langit, dan beberapa menit kemudian Langit sudah muncul di hadapan mereka. "Siapa yang mau diantar? Si cengeng?" ucap Langit. Dia tersenyum lebar pada Adis. "Apaan sih. Ayo! Bisa jantungan aku disini terus." Adis melirik kesal ke arah Beno, kemudian menarik lengan Langit, dan membawanya ke parkiran. Beno kembali membuang nafas lega. Dia lega karena akhirnya adis tidak keukeh untuk resign. Dia pasti kelabakan Kalau adis sampai mengundurkan diri. Dia, dan juga hatinya. *** "Pak Wijaya, Mbak Dena, dan seluruh tim, terima kasih atas bantuannya. Promo kali ini benar-benar sukses parah! Snack kami terjual habis dalam event ini. Saya pasti akan menghubungi Wijaya Advertising lagi jika meluncurkan produk baru." Pak Hardian, CEO Yummy Food, tersenyum puas dengan hasil kerja Wijaya Advertising. Semua konsepnya benar-benar matang dan sempurna. "Waaah … terima kasih banyak Pak Hardian. Benar-benar suatu penghormatan bisa dipercaya oleh yummy food. Semoga selalu puas dengan pelayanan kami." "Puas sekali, Pak Wijaya. Apalagi kalian berdua. Benar-benar cekatan menangani masalah yang ada. Dan saya salut sama Pak Wijaya yang mau turun langsung ke lapangan seperti ini. Sukses terus untuk kalian dan tim. Ngomong-ngomong, kalian ini mirip loh … cocok juga. Atau jangan-jangan kalian ini pasangan kekasih. Soalnya chemistry kalian berdua ini dapat banget." "Ah … Bapak bisa aja. Seorang pemilik perusahaan seperti Wijaya ini mana mau sama percikan kuah bakso seperti saya, Pak. Oh iya Pak. Saya pamit duluan. Karena sudah ditunggu sama pacar saya di sana. Permisi pak Hardian." Langit yang berdiri tidak jauh dari mereka, hanya tersenyum canggung sambil melambaikan tangan tipis-tipis. "Oh, mbak Dena sudah punya pacar toh? Wah … semoga langgeng. Sekali lagi terimakasih ya?" "Sama-sama, Pak. Permisi!" Adis mengangguk hormat, kemudian segera pergi meninggalkan mereka berdua, menggandeng tangan langit yang dadanya telah berisik, dan menghilang dari hadapan mereka berdua. Tak lama setelah itu, Beno pun pamit. Dia menatap Adis dan langit Yang bergandengan tangan. Beno tahu bahwa tidak mungkin mereka berdua berpacaran. Lalu, Kenapa Adis berbicara seperti itu tadi? *** "Pintunya mau dibukain, Pacar?" Langit tersenyum, sengaja menggoda. Adis tertawa kecil. "Maaf ya? Habisnya kesel parah sama Bos kamu. Jadi terpaksa bilang seperti itu sama Pak Hardian. Pura-pura aja kalau aku punya pacar. Supaya nggak terlihat ngenes ngenes amat." Adis berkelakar meskipun sampai saat ini matanya masih terlihat sembab. "Memangnya enggak punya pacar itu ngenes ya? Aku udah jomblo setahun, fine-fine aja." "Cie … lagi berikrar kalau jomblo ya? Kenapa? Berharap ditembak sama cewek unyu kayak aku?" Adis membuka pintu mobilnya sambil tertawa cekikikan. Sementara langit masih mematung, masih dengan Dadanya yang berisik. Jedag Jedug tak karuan dari tadi. "Langit! Ayo masuk! Ngapain di luar? Mau menurunkan hujan dengan jodoh?" Lagi-lagi adis tertawa. Entahlah. Kadang dia banyak tertawa saat bersama dalam langit. Langit membuang nafas kasar, lalu segera kembali ke mobil. "Kita langsung balik ke kantor? Atau mau ke mana dulu?" "Sebenarnya mau kemana-mana dulu. Tapi tahu sendiri kan bos kamu. Kadang-kadang menjelma jadi singa. Aku lagi males berdebat sama dia. Oh iya, tadi aku hampir resign." "Oh ya? Kenapa?" "Biasa. Bos kamu itu otoriter. Kesel. Tapi untung aja ditahan sama dia. Kalau enggak, aku pasti juga akan kelabakan sih mau cari kerja di mana? Hahaha … sok-sokan banget Aku mau resign, padahal isi dompet kembang kempis." "Kamu ada-ada aja sih. Dena, kamu masih sayang banget sama Wijaya?" Mata langit fokus menatap kedepan, mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati. "Iya. Mungkin karena dulu aku pernah menyakiti dia kali ya. Jadi rasanya sampai saat ini aku masih sayang sama dia dan tidak bisa melupakannya. Semacam ada rasa yang belum tersampaikan. Ya, meskipun sekarang sepertinya aku harus menyerah. Dia sudah memilih wanita lain. Meskipun hatiku selalu berkata bahwa Rossi tidak benar-benar sayang sama Beno. Aku selalu stalking akun Dia di media sosial. Dia selalu pamer barang-barang mewah dan juga tempat-tempat mewah yang mereka kunjungi berdua. Entah kenapa hatiku bilang kalau Rossi hanya menginginkan harta Beno saja. Entah ini feeling atau hanya sekedar rasa cemburu. Namun, itu yang aku rasain sekarang. Separuh hatiku meminta untuk ikhlas, tetapi separuh hatiku masih belum rela." Adis berbicara panjang lebar tanpa jeda sambil menunduk dan memainkan tali tasnya. "Kamu percaya enggak, ketika kita mengiklaskan seseorang, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Itu memang terdengar klise dan pasti kamu juga sudah pernah mendengar ini berkali-kali. Namun, coba deh kamu praktekkan dan benar-benar kamu relakan dia. Nggak usah terburu-buru. Pelan-pelan aja. Insyaallah, hati kamu pasti akan lebih tenang dan lebih lepas. Nggak nggondok terus." Adis mendekatkan wajahnya ke arah langit, lalu menatapnya dengan tatapan menyelidik. "Eh, kamu ngapain?" Tentu saja langit gugup dipandang dengan tatapan seperti itu. Jantungnya semakin berdetak dengan begitu cepat. Ah … kalau diterusin bisa keringat dingin. "Aku curiga deh. Kamu nggak pernah patah hati ya? Hah? Bisa bisanya ngomong ikhlasin. Mengikhlaskan orang yang disayang itu tidak semudah membalikan telapak tangan, Langit. Susah setengah hidup. Apalagi kalau ingat kenangan terdahulu. Kamu nggak tahu aja kalau Beno itu adalah makhluk tersweet pada masanya. Ya, meskipun dulu pelitnya setengah hidup sih dia. Tapi dia sweet banget." "Kamu tahu cara terampuh untuk bisa mengikhlaskan dia?" "Apa?" "Buka hati untuk orang lain. Belajar mencintai orang lain. Belajar untuk peka sama perhatian orang lain. Jadi jangan fokus sama Beno seorang. Lihatlah di sekeliling. Lihat ke samping juga boleh. Siapa tahu kepincut kan?" "Ke samping? Samping sini? Kamu? Bisa mati berdiri kalau ngelirik kamu. Pasti aku akan dibantai sama anak-anak finance karena sudah merebut atasan kece mereka." "Kece? Aku kece ya? Asyeeek." "Hahaha … nggak juga sih. Kebetulan cuma ada kamu aja di sini. By the way, thank you karena udah bikin aku ketawa lagi. Kau cocok jadi badut." "Nyekek cewek ngeselin dosa nggak sih?" Adis hanya tertawa sambil menjulurkan lidahnya. Langit, orang yang berhasil membuat Adis tertawa saat saat penuh air mata. Mungkinkah dia memang orang yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menghapus air mata Adis? Atau dia hanya sekedar iklan yang muncul di saat jeda saja dan kemudian menghilang? Ah … entahlah. Yang jelas, kehadiran langit, benar-benar bisa menyejukkan hati Adis yang sering panas akhir-akhir ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN