Bimbang

1109 Kata
Keesokan harinya, Adis tetap harus bekerja meskipun rasanya sangat berat. Karena hari itu ada meeting dan dia harus presentasi. Mata Adis sembab. Meskipun sudah di dempul make up, tetap saja kelihatan. Dia menghela nafas dan menghembuskan berkali-kali. Berharap, tidak ada air mata yang tumpah di sana nanti. "Lo yakin mau ke kantor?" tanya Nana sambil menatap sahabatnya dengan tatapan penuh keprihatinan. Adis sudah menceritakan padanya semalam. Dada Nana ikut merasakan sesak. Dia tahu perjuangan Adis selama ini seperti apa. Dia mencari Beno ke mana-mana. Dia terus menyesal karena sudah pernah bermain di belakang Beno. Dia tahu sebesar apa rasa sayang Adis untuk laki-laki itu. Sekarang, harapannya runtuh setelah Beno melamar Rossi. "Gue harus ke kantor karena harus presentasi." Adis terus merapikan make up-nya, tetapi tetap saja kelihatan sembab. "Sini peluk dulu." Nana yang memang sudah rapi, merentangkan tangannya di depan Adis. Ah … andai saja dia adalah Adis. Pasti dia tidak akan mampu bertemu dengan Beno. Namun, dia tahu kalau adis adalah wanita kuat. Adis tersenyum, menghampiri Nana dan memeluk sahabat terbaiknya. Di kota ini Dia tidak punya siapa-siapa. Hanya punya Nana sebagai sahabat terbaik. Sahabat yang selalu ada untuk dirinya baik ketika senang maupun ketika sedih. "All is well. Lo harus percaya, ketika satu pintu tertutup, maka pasti akan ada pintu lain yang terbuka. Fokus sama pintu yang terbuka aja. I know, kamu wanita yang kuat." Nana menepuk-nepuk pundak sahabatnya, memberi penguatan. "Thank you, Nano. Ya Meskipun gue jijik dan geli ketika melihat lo sok bijak begini. Tapi gue seneng, ada lo disamping gue disaat seperti ini." Adis mengerjap-ngerjapkan matanya supaya air mata tidak kembali luruh. Semalaman dia sudah menangis. Berharap air mata itu sudah habis dalam satu malam. Namun nyatanya, mendapatkan kata-kata receh dari Nana saja rasanya mau mewek lagi. "Ish, suka gitu deh. Ya udah, sekarang lo harus semangat. Lo harus bersikap biasa saja di depan Pak Wijaya. Bersikaplah sebiasa mungkin. Meskipun Lo belum ikhlas, bersikaplah wajar seolah lo nggak tahu apa-apa." Tes tes tes … Tangis Adis kembali pecah. Air mata kembali membanjiri pipinya. Ah … susah payah dia make up untuk menghilangkan sembab di matanya, tapi nyatanya … kini air mata kembali luruh. "Lo jangan ngomong gitu, gue nangis lagi nih," ucap Adis di sela Isak tangisnya. Nana melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Adis dengan tissue. "Udah diem, nanti gue beliin lolipop coklat. Jangan nangis terus, nanti tambah jelek. Lo harus kelihatan cantik supaya Pak Wijaya menyesal telah melamar Rossi. Yuk bisa yuk!" Adis meniup-niupkan udara ke depan. Mengatur nafas supaya lebih tenang. Kemudian, dia memutuskan untuk berangkat meskipun rasanya air mata ingin kembali menetes. *** ~Hidup adalah pilihan. Yang ada di hatimu, belum tentu yang terbaik untukmu. Tetapi yang selalu ada untukmu dalam suka maupun duka, dialah yang harus kamu kejar.~ Beno duduk di meja kerjanya sambil menatap kosong ke arah layar monitor. Pikirannya menerawang entah kemana. Jauh di dalam lubuk hatinya, Sebenarnya dia berat melamar Rossi. Terus terang saja sampai saat ini dia belum bisa mencintai Rossi dengan sepenuhnya. Namun, dia tahu kalau dia lebih memilih Adis, endingnya akan seperti apa. Bukankah kembali sama mantan sama dengan membaca buku yang sama? Bagi Beno saat ini, Lebih baik dia memaksakan diri untuk hidup sama orang yang mencintai dirinya. Bukankah Lebih baik tinggal sama orang yang mencintai kita, daripada orang yang kita cintai tetapi tidak balik mencintai kita? Terdengar suara ketukan dari luar. Beno tersadar dari lamunannya. Ia segera membenahi letak duduknya. "Masuk!" Adis muncul dari balik pintu, dia mendekap map di tangannya. Matanya masih sembab. Raut mukanya datar. Tidak ada Adis yang senyum lebar dan menggoda Beno seperti biasa. "Ini berkas kerja sama dengan Enermous Cosmetic. Kamu cek dulu. Oh iya, Jangan lupa nanti 1 jam lagi kita ada kunjungan di acara klien. Mereka minta Kita ada di sana, Jadi kalau ada apa-apa bisa langsung tertangani. Nggak lupa kan?" "Oke." Beno menerima berkas itu dan mengeceknya. Meskipun sebenarnya pikirannya melayang pada wajah Adis yang terlihat sembab. Kenapa kamu menangis? Apakah menangisi keputusanku? Tidak mungkin rasa sayangmu masih sebesar dulu kan? "Oh iya. Nanti kita ketemu di sana aja. Aku naik mobil sama tim creative. Permisi!" Adis mengangguk pelan dengan senyum dipaksakan, lalu segera meninggalkan Beno yang masih menatap punggung Adis yang mulai menjauh. Beno menutup mapnya. Dia membuang nafas kasar, lalu dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan menghadap ke atap. Matanya terpejam. Entah kenapa, melihat perubahan sikap Adis membuat dia sakit. Dia merasa kehilangan adis yang ceria, adis yang terus berusaha meraih hatinya meskipun Beno sudah bersikap jutek. Beno mulai gelisah. Seharusnya dia bahagia setelah melamar Rosi dan dia diterima. Namun, Kenapa justru Beno semakin bimbang tentang masa depannya bersama Rossi. Bayang Adis masih terus menggodanya. Apalagi setelah dia tahu bahwa Adis terus menangis setelah melihat Beno melamar Rossi. Benar-benar ada yang bergejolak di dalam dadanya. Dia semakin bingung dibuatnya. Beno kembali membuang nafas kasar. Dia terlihat menelpon seseorang. "Andin, sampaikan pada tim kreatif agar mereka berangkat duluan, tidak usah menunggu Adis karena nanti adis akan bersama saya." "Adis?" Suara di seberang sana terdengar bingung. "Ah … maksud saya Dena." "Oh … Baik, Pak." "O.K. terimakasih." Beno kembali meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Mengatur nafasnya berkali-kali, kemudian segera mengecek berkas yang baru saja disodorkan oleh Adis. "Fokus fokus fokus fokus," ucapnya pada dirinya sendiri. *** Adis sedang berdiri di lobi. Dia melihat kearah jam tangannya berkali-kali, lalu celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Yang ditunggu belum juga tiba. Saat itu, mobil Beno berhenti di hadapannya. Laki-laki itu menurunkan kaca mobilnya. "Masuk!" perintah Beno dengan nada suara datar dan dingin. "Sudah kubilang, aku mau berangkat sama tim kreatif." Adis menatap ke langit-langit, enggan memandang sosok wajah yang sebenarnya dirindukan. Rindu? Ya, dia rindu. Rindu kekasihnya yang dulu. Ah … tapi dia sudah menjadi calon suami orang. Mata Adis kembali basah ketika ingat kejadian tadi malam. "Mereka sudah berangkat. Sekarang kamu masuk ke mobil. Cepetan! Kita tidak punya banyak waktu." "Nggak mungkin. Aku sudah janjian sama mereka dan enggak mungkin ditinggalin." "Masuk ke mobil sekarang atau kamu saya pecat!" Adis langsung memusatkan perhatiannya pada Beno. Kata-kata laki-laki itu benar-benar menggelitik hatinya. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Beno yang masih duduk manis di mobilnya. "Pecat, pecat, pecat terus! Itu terus yang kamu ucapkan kalau aku melakukan kesalahan sedikit aja. Aku tahu sekarang kamu berkuasa dan kamu punya segalanya. Tapi, apa harus kamu bersikap diktator seperti ini? Kalau memang kamu sudah tidak membutuhkan saya lagi, saya siap resign dari kantor kamu sekarang juga. Bawa berkasnya!" Adis melemparkan berkas ke dalam mobil. Kemudian dia berlari menjauh dari mobil Beno. Rasanya dia sudah tidak kuat lagi menghadapi Beno yang sekarang. Apalagi harapannya? Tak ada lagi harapan untuk bersama. Tak ada lagi harapan untuk meraih hatinya kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN