"Langit, Bagaimana caranya agar aku bisa pulang sekarang? Aku tidak mau berada di sini lebih lama. Aku tidak mau semakin hancur dan terluka," ucap Adis yang masih berada dalam pelukan langit.
"Tenang dulu, Den. Jangan dengarkan dan Jangan melihat mereka berdua. Sini biar telinganya aku yang tutup."
Langit menutup kedua telinganya Adis dengan kedua tangannya. Supaya Gadis itu tidak lagi mendengar kata-kata indah dari dua orang yang sedang berbahagia di ruang sebelah.
"Aku tak sanggup ada disini. Aku mau pulang!"
"Oke. Kamu tenangin diri dulu. Nanti aku akan mencari cara supaya kita bisa keluar dari sini secepatnya," ucap Langit yang ngasih menempelkan kedua telapak tangan di kedua telinga Adis.
Langit tidak tahu, kapan awal mulanya. Tetapi yang dia tahu sekarang, dia telah menyukai dan menyayangi gadis itu. Gadis unik yang belum pernah dia temui sebelumnya. Rasanya, kesedihannya adalah kesedihannya juga. Perihnya adalah perih dia juga.
"Langit, rasanya aku pengen dihipnotis aja. Supaya aku tidak lagi ingat segala hal tentang beno. Ayo … bawa aku ke tukang dengan hipnotis. Supaya aku tidak lagi ingat dia, supaya rasa cintaku tidak terus tumbuh untuknya. Aku tidak akan pernah sanggup melihat Beno sampai bertunangan resmi dengan Rossi. Aku tidak akan pernah sanggup, Langit."
Langit membuat nafas kasar. Andai saja ada yang bisa dia lakukan saat ini untuk menghapus rasa sedih Adis, pasti akan dia lakukan sekarang juga. Apa pun itu.
"Terima, dan ikhlaskan! Maka kau akan bisa lebih tenang. Sebentar ya?"
Langit mengambil ponselnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri masih sibuk memeluk gadis yang dia sayang.
Langit dan Adis mendengar suara tawa kebahagiaan Rossi. Rossi sudah menerima lamaran Beno. Ya, itu artinya mereka sudah bertunangan sekarang. Meskipun belum resmi, tetapi paling tidak sudah ada ikatan antara mereka berdua. Hati Adis semakin sakit. Dia benar-benar tidak rela dan belum siap kehilangan Beno sekarang.
Langit tampak menelpon Beno. Terdengar suara Beno yang meminta izin pada Rossi untuk menjauh sebentar mengangkat telepon.
"Hallo, Wid. Aku mau keluar. Mungkin kau bisa ajak Rossi keluar sebentar. Dena mau pulang."
"Oke. Aku usahakan," ucap Beno lirih.
"Baiklah. Aku tunggu di sini," ucap Langit dengan back sound suara Isak tangis Adis.
Langit menutup teleponnya, kemudian segera memasukkannya kembali ke dalam saku celana. Dia harus membawa Adis keluar dari apartemen ini. Karena semakin dia melihat kedekatan Beno dan Rossi, maka dapat dipastikan dia akan semakin merasakan sakit.
Terkadang, lebih baik kita tidak tahu apapun, daripada kita tahu semuanya dan akhirnya harus merasakan perih. Namun, memang sudah dasarnya manusia, dia selalu kepo yang berakhir dengan rasa sakit hati. Seperti apa yang dirasakan oleh Adis saat ini.
***
Setelah Rossi diajak keluar oleh Beno, Adis dan Langit bisa segera keluar dari apartemen mewah itu. Air mata Adis masih berderai saat langit mengantarnya pulang ke kos lewat tengah malam. Entah dengan cara apa dia harus menghentikan tangis itu. Dia meratapi kebodohannya sendiri. Kenapa susah sekali move on dari laki-laki itu padahal 3 tahun sudah mereka tak saling bertemu.
Andai saja cinta yang tertancap untuk Beno tidak terlalu kuat, pasti dia bisa lebih mudah untuk berpindah hati kepada laki-laki lain. Banyak laki-laki yang baik padanya, banyak laki-laki yang menyukainya, tetapi tidak ada yang bisa menggeser kedudukan Beno di hati Adis.
"Dena, ini sudah sampai di depan tempat kos kamu. Mau aku antar ke dalam?" tanya Langit. Dia menatap Adis yang masih mengalirkan air mata dengan derasnya.
"Nggak _ Nggak _ Nggak usah," ucapnya terbata-bata disela isak tangisnya.
Perempuan itu menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Adis 2 dimelakukannya berulang-ulang, supaya bisa sedikit lebih tenang dan Isak tangisnya bisa berhenti.
"O.K. di sinilah dulu sampai kau lebih tenang. Aku akan menemani kamu di sini!"
"Huft … Aku sudah lebih tenang. Aku masih bisa lebih tenang lagi nanti. Iya kan?"
Adis berusaha untuk meyakinkan diri dengan bertanya pada langit. Padahal hanya dirinya sendiri yang tahu. Melihat dan mengetahui orang ini kita sayang telah bertunangan adalah hal yang paling menyakitkan bagi adis.
Dulu, Beno pernah menyematkan cincin ke jari Adis. Meskipun bukan sebuah cincin berlian mahal seperti milik rossi, tetapi Beno pernah melamarnya dulu. Andai saja saat itu Adis tidak meragukan Beno, pasti tak ada Rossi di kehidupan Beno.
"Asal kau ikhlas, kau pasti bisa lebih tenang."
Adis meniup-niupkan udara ke depan. Rasanya sangat sulit untuk ikhlas, dan rasanya sangat sulit untuk tenang.
"Aku nggak bisa ikhlas. Aku nggak bisa. Beno adalah orang yang sangat berarti untuk aku. Aku masih berharap untuk bisa kembali padanya, Langit!"
Langit hanya bisa diam dan membuang nafas kasar. Dia tahu, untuk masalah cinta, kadang kita tidak bisa bantu apa-apa selain menenangkan dan membuatnya nyaman. Karena orang yang sedang jatuh cinta itu kadang membatu. Tak bisa menerima nasihat apapun.
"Tenangkan diri dulu! Kamu masuk ke kamar, dan istirahatlah! Semoga besok pagi kau sudah baik-baik aja."
Adis mengangguk. Dia kembali menghapus air matanya dengan kedua ibu jari. Dia menyampaikan tas ke bahunya.
"Terima kasih sudah mengantar aku pulang. Terima kasih Sudah menemani aku hari ini. Tanpa kamu, aku tak tahu akan seperti apa aku tadi. Sekali lagi terima kasih ya?"
"Sama-sama."
Adis tersenyum dengan wajah yang masih sembab. Kemudian dia segera turun dari mobil dan menuju ke kamarnya.
Ternyata, di dalam kamarnya Sudah ada ada nana yang sengaja tidur di kamar Adis. Sahabatnya itu sengaja menunggu Adis pulang. Karena dia khawatir dengan sahabatnya yang ceroboh itu. Nana menelponnya berkali-kali, tetapi tidak diangkat. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menunggu Adis di kamarnya.
Nana langsung membuka matanya saat dia mendengar suara pintu dibuka. Dia menatap Adis yang matanya sembab. Gadis itu segera bangun dan menatap Adis dengan tatapan panik.
"Adis, Lo kenapa? Lo baik-baik aja kan? Lo nggak apa-apa kan?"
Adis tidak bisa menjawab apa-apa. Dia menjatuhkan tasnya begitu saja, lalu kembali terisak sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
Nana memang tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dia tahu kalau sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. Nana segera meraih punggung sang sahabat, lalu mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
"Are you O.K?"
Adis belum mampu berkata-kata. Dia masih pada posisinya semula dalam dekapan Nana. Dia tidak tahu, bisakah dia menghentikan tangisan itu malam ini? Entahlah, rasa perih itu datang bertubi-tubi seiring dengan munculnya ingatan tentang Beno yang melamar Rossi. Ya, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa laki-laki yang dia sayang sedang melamar gadis lain. Jika boleh meminta, hadis ingin air matanya habis, supaya tidak ada lagi air mata yang tertumpah hanya gara-gara Beno.