Beno menunduk. Terlintas dipikirannya tentang masa-masa indah mereka dulu. Kehujanan berdua yang mereka anggap romantis. Makan tempe penyet kadang sepiring berdua yang mereka anggap sweet, dan jalan-jalannya ke taman yang mereka anggap mengesankan. Ah … bukan mereka, ternyata hanya Beno saja yang menganggap seperti itu. Tidak dengan adis.
"Kamu tahu keadaanku dulu seperti apa? Kamu tahu aku mati-matian menekan pengeluaran hanya untuk bisa membahagiakan kamu, membelikan kamu mobil agar kamu nggak kepanasan, dan membelikan rumah agar kamu nyaman saat kita menikah nanti. Andai saja kamu mau bersabar waktu itu, Adis. Semua takkan seperti ini sekarang."
"Lalu, Ini semua salahku? Hanya salahku? Kamu bayangin aja Ben, dulu aku sering jalan kaki karena kehabisan bensin, dan sekarang … kau beri semuanya untuk Rossi. Lalu, salahkah sekarang juga aku iri sama Rossi? Aku masih sayang sama kamu. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Jordan dan sejak saat itu, aku sudah putuskan hubungan sama dia. Aku kembalikan semua barang-barangnya dan aku kembali sendiri, mencarimu, berharap bisa kembali bertemu denganmu dan memperbaiki semuanya. Ternyata apa yang terjadi, kau sudah bersama dengan orang lain. Ini menyakitkan, Beno."
Adis berbicara panjang lebar sambil menepuk dadanya dengan emosional. Andai saja Rossi berada dalam posisi nya dulu, Adis yakin, Rossi pasti tak akan sanggup juga.
Beno kembali menunduk. Terbersit rasa bersalah di dalam dadanya. Apalagi melihat Adis yang menangis berurai air mata dihadapannya. Rasanya, hatinya ikut ngilu.
"Sorry," ucap Beno lirih.
Ini permintaan maafnya yang pertama kali setelah mereka kembali bertemu. Ini kata-kata lembut ya untuk pertama kali setelah mereka kembali dipertemukan setelah menghilang selama 3 tahun. Adis mengusap air matanya.
Entah apa apa yang mendorongnya, tiba-tiba gadis itu berhambur ke pelukan Beno. Dia memeluk mantan kekasihnya erat. Dia masih sesenggukan. Refleks, Beno menepuk-nepuk punggung Adis.
Akhirnya, mereka kembali berpelukan, dengan desir di hati mereka masing-masing seperti awal-awal mereka jadian dulu.
Sementara Langit, dadanya benar-benar terasa nyeri. Sakit, mengetahui fakta ternyata dia adalah mantan Wijaya, Beno Wijaya. Apalagi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa mereka masih saling mencintai. Ya, meskipun Beno tidak mengakuinya, tetapi Langit dapat melihat dengan jelas, bahwa Beno menikmati pelukan itu, bahwa Beno juga menggenggam Rindu yang sama besarnya Dengan Adis.
"I still love you, Ben," ungkap Adis lirih.
Beno hanya menepuk-nepuk punggung Adis. Lalu, dengan perlahan dia mengurai pelukannya.
"Sekarang semuanya sudah berbeda. Ada hati yang harus aku jaga. Ada perempuan yang harus aku bahagiakan. Lupakan masa lalu tentang kita. Karena bagiku kamu hanyalah masa lalu. Maafkan aku yang mungkin dulu tidak bisa membahagiakan kamu."
Ting tung …
Terdengar suara bel berbunyi. Mereka semua tahu, pasti itu adalah Rossi.
"Tak ada sedikitpun rasa yang tersisa untukku?" tanya Adis sambil menatap mata Beno.
"Maaf, aku harus membuka pintunya. Langit, tolong kamu sembunyi dulu sama Dena."
"Oke."
Langit mengangguk paham, lalu dia menggenggam tangan Adis yang saat itu masih menangis sesenggukan. Di bawanya gadis yang dia kagumi itu ke ruangan di balik tembok.
Mereka bersembunyi di sana. Langit menepuk-nepuk pundak Adis yang belum berhenti juga mengalirkan air mata.
'Apakah rasanya sesakit itu, Adis Adena?'
"Surprise … "
Bila berteriak dengan girang sambil menunjukkan hasil dekorasi Adis untuk Rossi.
Rossi tercengang. Bukan karena keindahan dekorasinya, tetapi dengan nama yang tertera dalam dekorasi itu. Kepiting rebus. Dia tahu betul, kepiting rebus adalah panggilan Beno untuk mantan kekasihnya yang bernama Adis.
"Sayang, ini serius surprise buat aku?"
Rossi memandang dekorasi itu dengan tatapan tak percaya. Warna itu sama sekali bukan warna yang diinginkan oleh Rossi. Hitam putih, sama sekali bukan Rossi.
"Kenapa Sayang? Ini spesial buat kamu."
"Masih belum bisa move on sama mantan kamu?" tanya Rossi akhirnya. Tak ada gurat kebahagiaan wajahnya sedikitpun. Yang ada hanyalah sebuah kekecewaan yang besar.
Beno tersenyum, meraih kedua tangan Rossi, lalu menggenggamnya erat. Matanya fokus menatap dua mata Indah sang kekasih.
"Sayang, tidak ada lagi alasan buat aku untuk tidak bisa move on dari mantan. Karena bagiku, Kamu adalah anugerah yang luar biasa di hidupku. Kamu adalah orang yang kembali membuat aku percaya, bahwa di dunia ini masih ada orang yang tulus mencintaiku dalam keadaan apapun. Happy birth day, Sayang. Semoga kamu selalu bahagia," ucap Beno, lalu dia mengecup lembut punggung tangan sang kekasih. Tentu saja wanita itu langsung tersenyum lebar. Tak ada sisa-sisa kecemburuan lagi.
Sementara di balik dinding, Adis mendengar semua kata-kata Beno dengan jelas. Hatinya serasa diiris saat dengan jelas, Benomengatakan bahwa dia benar-benar sudah move on dari dirinya. Hatinya telah patah berkeping-keping. Masih patutkah dia berharap jika keadaannya sudah seperti ini?
"Jadi Ini semua tidak ada hubungannya sama mantan kekasihmu?"
Rossi mencoba untuk mencari kebenaran dari sorot mata sang kekasih.
Beno menggeleng kuat, menegaskan bahwa sudah tidak ada lagi nama adis di dalam hatinya.
Rossi langsung menghamburkan diri ke pelukan Beno.
"Aku takut, Sayang. Aku takut kehilangan kamu."
"Hei, this is your birthday. Nggak ada alasan bagiku untuk merasakan takut seperti ini. Wait. Ada satu lagi kejutan buat kamu."
"Hmmm … ? Kejutan?"
"Iya."
Beno melepaskan pelukannya pelan-pelan. Dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak perhiasan bludru berbentuk love. Pintu tersenyum sambil memandang kotak itu. Kemudian, Beno menekuk lututnya dihadapan Rossi, kemudian dibuka kotak itu perlahan. Terlihat sebuah cincin berlian bertengger di sana.
Seketika, Rossi menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, takjub.
"Rossi Adriana? Maukah kamu menjadi istriku?" ucap Beno lirih. Ya, memang tidak keras, tetapi cukup terdengar di telinga Adis. Adis yang saat itu sedang duduk di lantai, segera berdiri dan mengintip mereka dari kotak tempat menyimpan bunga. Ya, dari itu dia bisa melihat dengan jelas bahwa Beno sedang melamar Rossi.
Dada Adis seketika Sasak. Air matanya tidak bisa lagi dia bendung. Perempuan itu memerosotkan tubuhnya, hingga akhirnya dia terduduk lemah. Air mata terus menetes tiada henti.
"Dia … dia sudah melamar Rossi," ucap Adis lirih disela Isak tangisnya.
Adis yang menangis, tetapi hati Langit yang terasa perih. Semua ini benar-benar mencengangkan untuknya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata artis adalah mantan pacar Beno Wijaya yang selalu diceritakan padanya.
"Dena, kau boleh menangis di bahuku sampai kau merasa tenang."
Adis mendongakkan kepalanya, lalu segera berhambur ke pelukan laki-laki yang belum genap satu bulan dia kenal. Adis memeluknya erat, masih dengan isak tangis Yang pilu.
"Langit, aku nggak rela Beno melamar cewek itu. Aku nggak rela! Aku masih sangat mencintainya. Aku baru saja menemukan dia, Langit, tetapi kenapa aku harus cepat kehilangan seperti ini? Tolong aku … aku masih sangat mencintainya."
Isak tangis artis bagaikan sebuah kidung pilu yang menyayat hati Langit. Rasanya, ingin dia gendong gadis itu menuju ke tempat yang jauh, supaya dia tidak bisa lagi mendengar ucapan Beno dan kekasihnya.
'Dena, mungkin saat ini kamu masih sangat mencintai Wijaya, dan itu membuat kamu terluka. Aku janji, Aku akan menyayangi kamu, sehingga kamu lupa akan mantan kamu yang sudah menemukan kebahagiaannya sendiri,' ucap Langit dalam hati sambil menepuk punggung Adis lembut.