Asap Karena Api

1148 Kata
"Wiiih … keren banget. Kamu jago banget yang ngedekornya," ucap Langit sambil menatap hasil dekor berupa balon balon Hitam putih hasil karya Adis. Memang belum selesai, tetapi sudah kelihatan bagus. Adis Masih berdiri di atas kursi, menata balon-balon tersebut. "Iya dong, Adiiis. Eh, Dena." "Kenapa sih nggak dipanggil adis aja. Kenapa harus Dena?" "Nggak tahu tuh si bos," ucap Adis yang saat itu masih sibuk menempelkan balon. "Eee … ee … ee … " Tiba-tiba kursi yang digunakan sebagai pijakan Adis oleng karena dia menginjak terlalu pinggir. Hampir saja dia terjatuh. Beruntung, Langit bergerak cepat menangkap Adis, sehingga posisi mereka seperti seorang groom yang sedang menggendong bride-nya ala bridal style. Mereka saling memandang satu sama lain. Jantung mereka sama-sama berpacu dengan begitu cepat. Meskipun alasannya berbeda. Adis deg-degan karena dia takut terjatuh, sementara langit deg-degan karena saat ini wajahnya begitu dekat dengan wajah Adis. Mata mereka saling beradu. Membuat d**a langit begitu berisik. Ah … Apakah dia perempuan yang selama ini dia cari? Apakah dia … perempuan yang dia tunggu. Perempuan yang mampu menggetarkan hatinya dan mampu mencuri perhatiannya saat pertama kali mereka bertemu. "Ah … syukurlah, kau menangkapku. Kalau tidak, pasti tubuhku sudah remuk redam seperti hatiku," ucap Adis sambil tersenyum lebar. Langit ikut tersenyum dan mengangguk. "Langit, kau nggak capek menggendong aku terus begini? Nanti aku keenakan gimana?" Ucapan Adis menyadarkan Langit, sehingga dia buru-buru menurunkan perempuan itu. "Sorry, habisnya kamu kerempeng banget sih, jadi nggak kerasa nggendong orang. Rasanya kayak gendong triplek." "Ish, enak aja." "Heran deh sama makhluk satu ini, banyak makannya tapi badannya tetap kerempeng aja." "Jangan jadi netizen julid wahai langit. Udah yuk, bantuin lagi." Indah kembali naik ke kursi dan menempel nempelkan balon. "Mau disuapin mangga?" tanya Langit. Dis tahu Adis pengen makan mangga tapi dia harus dikejar deadline. Jam 10 harus sudah siap. "Mau … " "Ya udah sini aku suapin." Langit mengambil 1 potongan mangga dan menyodorkannya ke arah Adis. Adis menoleh dan membungkuk, melahap potongan besar mangga yang diberikan kepadanya. "Uwow … manis kek aku." "Manis kayak yang nyuapin dong!" "Idiiih … PD boros." Langit terus menyuapi mangga itu sampai habis 1 buah. Tanpa mereka tahu, diam-diam Beno perhatikan mereka berdua. Ya, adis Memang mudah akrab sama orang lain. Ini yang tidak disukai Beno dari dulu. Adis itu lucu dan unik serta apa adanya. Dia itu lovable meskipun kadang ceroboh. Banyak yang sayang sama dia. Kalau dulu, mungkin wajar kalau dia sakit hati. Tetapi kalau sekarang, kenapa dia harus sakit hati melihat kedekatan mereka berdua? Entah kenapa Rasanya nyeri saat melihat Adis begitu akrab dan ketawa-ketiwi sama langit. Ikul 09.40. Adis sudah selesai mendekor semuanya. Dia meletakkan boneka buaya di depan kue, di antara hamparan balon di lantai. Sebenarnya Beno meminta dibelikan boneka beruang, tetapi adis lebih memilih untuk membelikan Gadis itu boneka buaya. Ya Sesuai dengan perempuan itulah. Seorang buaya betina. Karena dia tahu kalau perempuan itu punya laki-laki lain. "Yeeeeay … selesai." "Woooww … pinter juga ya kamu mendekor ruangan. Eh tapi … Kok tulisannya happy birthday kepiting rebus? Memangnya panggilan kesayangan Beno untuk Rossi kepiting rebus?" Adis hanya tersenyum penuh kemenangan dan mengendikkan bahunya. "Aku ngasal aja bikinnya. Biar tambah meriah." Lagi-lagi langit tertawa. Entah bagaimana laki-laki itu bisa sereceh itu saat bersama dengan adis. Dia terus-terusan tertawa. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu, setiap tindakan yang dilakukan oleh gadis itu, Entah kenapa Rasanya lucu aja. Selalu di luar dugaan. "Udah selesai?" Beno datang menghampiri mereka saat langit sedang asyik tertawa. Dia memasang wajah datar. "Udah selesai kok. Kue dan makanannya juga udah siap," ucap Adis. Dia tampak menjawabnya dengan senyum. Tidak ada rasa kesal sedikitpun. Justru itu membuat Beno curiga. Dia menghadap ke depan, dan matanya melihat saat tahu apa tulisannya di sana.. "Dena, kamu apa-apaan sih. Kenapa tulisannya begitu? Siapa yang menyuruh kamu menulis seperti itu? Lepas sekarang!" Beno membulatkan matanya sambil menunjuk tulisan 'Happy Birth Day kepiting rebusku'. "Kenapa? Kenapa harus dilepas? Aku yang dekor. Suka-suka aku dong? Iya kan?" "Kenapa sangat melenceng dari konsep. Aku mau serba pink. Kenapa hitam putih begini. Dan tulisannya … kau sengaja mau merusak acaraku?" "Kau sudah melibatkan aku dalam acara ini. Kau sendiri yang meminta aku. Lalu kenapa kamu marah-marah? Salah siapa?" "Dari dulu kamu memang egois. Kamu selalu memikirkan kebahagiaan kamu sendiri." "Memangnya kenapa kalau sekarang aku egois? Kamu pikir aku nggak sakit melihat ini semua? Kamu benar-benar keterlaluan, Ben. Kamu perlakukan Seperti apa aku dulu, dan kamu perlakukan pacar kamu seperti apa sekarang? Aku yang menemani kamu dari enol. Aku yang menemani kamu saat kemana-mana harus naik motor butut. Dan sekarang ketika kamu sudah sukses dan memiliki semuanya, kamu bersama dengan dia, perempuan yang hadir saat kamu sudah memiliki semuanya. Apalagi perempuan itu bukan perempuan baik-baik. Dia punya pacar selain kamu, Beno. Tolong kamu buka mata!" "Cukup! Cukup dan Jangan diterusin lagi! Aku tidak mau mengingat masa laluku sama kamu karena mengingat kamu sama dengan mengingat luka! Sekarang aku sudah mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari kamu, yang menerima aku apa adanya, dan jauh lebih peduli dari kamu. Sekarang kamu pergi dari sini! Pergi!" Langit masih berdiri di tempatnya. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Masa lalu? Menemani dari nol? Berarti bener apa yang dia pikirkan selama ini. Ternyata benar mereka pernah ada hubungan di masa lalu. "Menerima kamu apa adanya? Menerima seperti apa yang kamu maksud? Menerima semua uang kamu? Menerima semua kemewahan yang kamu berikan ke dia? Menerima semua fasilitas yang kamu berikan cuma cuma ke dia? Tentu saja dia menerimanya. Dia hadir saat kamu sudah berada, beda dengan keadaanku dulu Lagi pula, Kenapa kamu harus merasa menjadi satu-satunya orang yang tersakiti? Wajar nggak kalau dulu Aku ragu sama kamu? karena kamu tidak pernah menganggap aku spesial seperti ini. Pernah enggak sekali saja kamu menganggap aku spesial? Berikan aku barang mewah meskipun sekali, ngajak aku makan di tempat yang mewah meskipun hanya sekali? Ngajak aku jalan-jalan di mall meskipun hanya sekali? Pernah? Nggak pernah sekalipun. Kau tahu aku ingin seperti itu bukan karena aku matre. Tapi karena aku ingin dianggap sepesial sekali aja. Wajar nggak kalau aku bersikap seperti itu dulu? Tolong … jangan merasa jadi satu-satunya orang yang tersakiti, karena saat itupun Aku juga sakit. Kamu tahu, kamu bisa move on cepet dan mendapatkan ganti begitu saja. Tapi aku … sampai saat ini masih sayang sama kamu dan belum bisa menerima laki-laki lain di hidupku. Jadi stop! Jangan terus merasa kamu menjadi korban. Kamu boleh benci dan sakit hati sama aku, tapi kamu juga harus ingat, kenapa aku bisa melakukan itu waktu itu?" Adis berbicara panjang lebar dengan air mata yang mengurai dipipinya. Hari ini apa yang di dalam hatinya dia keluarkan semuanya. Dia tidak mau terus-terusan memendam. Dia harus membuat Beno berpikir, bahwa ini sepenuhnya salahnya. Ya, meskipun dia sudah menyesal telah melakukan itu. Tapi dia ingin, Beno tahu bahwa Beno juga ikut andil. Takkan ada asap kalau tak ada api.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN