Selepas magrib, mereka berdua sampai di apartemen Beno. Adis manggut-manggut. Mewah. Ah syukurlah. Beno yang sekarang benar-benar sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Dia pantas mendapatkan ini karena memang dia pekerja keras.
Mereka memencet bel. Langit dan Adis membawa barang belanjaan yang sangat banyak. Tapi dengan adanya langit, Adis tetap bisa ketawa-ketiwi. Untung Ada langit. Kalau tidak, ah … dia tidak tahu akan seperti apa kewalahannya.
"Berat nggak? Diletakkan di bawah aja dulu nanti biar aku yang bawa," ucap langit kepada adis yang saat itu membawa banyak banget paperbag di tangannya.
"Ih … ngeremehin ya? Aku kan wanita super. Gini doang mah kecil."
"Iya sih, kamu emang super. Super gila."
Langit tertawa, begitu juga dengan Adis. Saat mereka sedang tertawa riang, Beno membuka pintunya. Dia berdiri di sana dan memasang wajah dingin.
"Masuk!"
Mereka berdua langsung menghentikan tawanya, dan segera masuk menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh Beno.
'Mereka kan baru kenal, Kok bisa akrab ketawa-ketiwi begitu?' batin Beno.
"Kamu dekor tempat ini. Bentuk dekornya seperti apa yang sudah aku kirimkan ke w******p kamu. Ingat! Jam 10 malam semuanya harus sudah beres." Beno menunjuk sebuah ruang dan Adis hanya manggut-manggut. Ah … sebegitu spesialnya kah si Rossi sampai Beno diperlakukan sespesial ini. Wajar nggak sih kalau Adis cemburu dan sakit hati. Dulu dia tidak pernah sama sekali diperlakukan dengan spesial seperti ini. Saat susah, dia yang menemani Beno. Namun, ketika Beno sudah sukses seperti ini, dia bersama dengan orang lain.
Ah … sudahlah. Sebenarnya ini tetap salahnya. Andai saja dulu dia percaya 100% sama Beno dan tidak berusaha untuk mencari sosok cowok yang lebih sempurna, pasti sampai saat ini mereka masih sama-sama. Atau bahkan mereka sudah menikah.
"Santai Wid! Sekretaris kamu yang satu ini super kok. Jangankan jam 10, satu jam lagi saja Dia sanggup."
"Oe, jangan ngisruh, langit yang tak bisa menurunkan hujan dengan uang. Makhluk kaku satu itu nggak bisa diajak bercanda. Ayo bantuin!"
"Ayo … "
Mereka berdua sibuk mempersiapkan dekor seperti apa yang diinginkan oleh Beno. Langit bertugas untuk memompa balon balon. Sementara Adis bikin printilan-printilan yang lain.
Beno mengamati mereka berdua dari jauh. Adis tidak tampak tersiksa, dia tidak tampak seperti sedang menjalani hukuman. Kalau dia melakukannya sambil ketawa-ketiwi dengan langit.
Ah … Entah kenapa Beno sangat tidak suka melihat kedekatan mereka berdua. Mereka seperti orang yang sudah lama kenal.
"Awww … "
Tiba-tiba terdengar suara Adis yang menjerit. Tangannya terkena pisau saat dia sedang mengupas buah mangga. Beno Langsung melompat dari tempatnya, berlari menuju Adis, meraih tangan mulusnya, dan segera menghisap darah yang keluar dari jari tengah Adis.
Sangat terlihat dengan jelas bahwa laki-laki itu sangat panik saat Adis berteriak.
Adis tercengang melihat itu. Yang lebih tercengang lagi langit. Bukannya Beno sangat tidak menyukai sekretarisnya itu, tapi kenapa dia tampak begitu perhatian?
Adis tersenyum. Ah … dibalik sikap dinginnya, ternyata laki-laki itu masih peduli terhadapnya. Seperti saat dia pingsan beberapa hari yang lalu. Mulutnya bisa saja berkata tidak, tetapi sikapnya benar-benar tidak bisa membohongi. Adis yakin, bahwa jauh di dalam lubuk hati Beno yang paling dalam, masih ada namanya.
Setelah dirasa cukup, Beno segera melepaskan tangan Adis dan dia segera berlari ke kamar mandi.
"Dena, kamu nggak apa-apa?" tanya langit setelah Beno pergi.
"Ah … nggak apa-apa. Daerahnya juga sudah mampet kok. Tenang aja, i am O.k."
"Makanya hati-hati dong, sini biar aku aja yang kupasin mangganya."
Langit segera mengambil mangga dan pisau itu, dan mengupasnya untuk Adis.
Beberapa menit kemudian Beno balik lagi. Dia membawa kotak obat, lalu tanpa banyak bicara dia kembali meraih tangan Adis. Mengobati luka adis dengan antiseptik.
"Kenapa kamu tetap ceroboh sih. Udah tua, harus lebih hati-hati."
Beno mengobati luka itu dengan sabar dan lembut. Adis seketika membeku. Sementara langit, Entah kenapa ada yang nyeri di dadanya saat dia melihat kedekatan Adis dan Beno kala itu.
Tanpa adis tahu, ada rasa rindu yang membuncah di hati Beno. Terkadang, ia ingin mempedulikan wanita yang dulu pernah sangat dia sayang. Terkadang dia masih kepo, apakah Adis sudah makan? Bagaimana dengan penyakit asam lambungnya? Apakah sudah sembuh? Bagaimana dengan jordan? Apakah mereka masih berhubungan sampai sekarang?
Namun pertanyaan-pertanyaan itu tertahan di pikirannya saja. Dia bersikap seolah tak peduli lagi segala hal tentang Adis, karena baginya adis adalah luka. Dia memilih untuk menutup mata, dan menjalani hidup yang baru dengan seorang wanita yang dianggap sangat mencintainya dan sangat peduli padanya jauh lebih besar daripada rasa sayang adis dulu.
"Aku sudah hati-hati. Pisau kamu aja yang terlalu tajam. Seharusnya jangan diasah terlalu tajam, karena bisa melukai orang yang ada di sekitarnya."
"Fungsi pisau untuk memotong atau menguliti, jadi harus tajam sempurna. Tajamnya totalitas, supaya fungsinya maximal. Kalau ada yang terlukai, itu karena kesalahan orang itu sendiri."
"Tapi setiap kesalahan berhak untuk dimaafkan, bukan?"
"Mungkin bisa, memaafkan itu masalah gampang. Tetapi memulihkan kembali luka, tidak semudah membalik telapak tangan."
Beno menutup jari Adis yang terluka dengan hansaplast, lalu dia segera melangkahkan kaki, pergi meninggalkan perempuan itu. Lanjut Hanya berdiam diri menjadi penonton diantara mereka berdua. Semakin lama dia semakin curiga. Mereka pasti sudah kenal sebelumnya. Gelagat mereka benar-benar aneh.
"Kalian ngomongin apa sih? Sumpah, ada kata-kata kalian yang aku nggak mengerti."
"Nggak usah kepo, Langit. Ayo lanjutin pompa balonnya. Abis itu kita bakal dekor ruangan ini. Part yang paling aku suka."
"Em … kamu suka dekor?"
"Kadang-kadang. Kalau ada acara aja dan dimintai bantuan tetangga."
"Oke. Jari kamu udah baik-baik aja?"
"Udah baikan kok."
"Detak jantung, aman?"
"Hah, maksudnya? Ya kan tadi dubantuin sama si bos. Gimana? Jantung aman?"
Sebuah pertanyaan yang mengisyaratkan rasa cemburu. Dia ingin mendapatkan jawaban yang ramah di telinganya.
"Hahaha … apaan sih Langit. Amaaan … jantungku masih normal. Ayo ah, kita selesaikan."
'I hope so. I hope nothing happened in your heart, Dena.'
"Ayo."
Akhirnya langit segera memompa balon balon yang tersisa, sementara Adis langsung beraksi mendekor balon balon yang berwarna hitam putih itu. Sebenarnya Beno ingin dekor yang serba pink, tetapi Adis disengaja bikin konsep Hitam putih sesuai dengan kesukaannya. Lagian, Siapa suruh dia minta Adis untuk menyiapkan semuanya? Masa mantan di suruh menyiapkan surprise untuk pacar yang sekarang? Jangan harap semua akan baik-baik saja.