Hukuman untuk Adis

1055 Kata
"Beno, Lo gila ya? Segini banyak?" Adis berteriak sambil menatap deretan perintah yang harus dikerjakan. Langit menatapnya, mengerutkan kening. Bingung, Kenapa Adis bisa bersikap terlalu biasa sama bosnya? "Eh, maksudku, Kenapa Lo ngasih kerjaan gue sebanyak ini sih, Ben?" tanya Adis, dia memperhalus pertanyaannya. Namun, langit semakin mengerutkan keningnya. "Maaf Pak Wijaya, apa ini tidak terlalu panjang?" Ya, Adis harus berusaha untuk bersikap sopan layaknya seorang bawahan kepada atasannya. Daripada dia harus membuat langit bingung. Bisa-bisa laki-laki itu semakin curiga kalau memang ada apa-apa antara Adis dan Beno di masa lalu. Langit tersenyum. Sementara Beno, masih menyilangkan tangan didepan d**a dengan memasang wajah dingin. "Mau ditambah lagi?" "Em … nggak. Nggak usah." Adis membaca satu persatu perintah itu, namun baru sampai nomor 6 saja dia sudah tahu untuk apa dia melakukan semua itu. "Meniup 200 balon dan harus selesai jam 10 malam? Ini untuk surprise acara ulang tahun Rossi? Ben, gue udah bilang kalo Rosi itu cewek yang nggak bener. Kenapa harus diperlakukan spesial begini sih?" Adis kumat lagi, yang membuat langit benar-benar yakin bahwa mereka ada hubungan di masa lalu. "Jangan banyak protes. Kamu kerja sama saya, jadi kamu harus ikut aturan saya. Termasuk aturan bahwa kau tidak boleh terlambat. Jadi ketika kamu terlambat, saya akan memberi hukuman secara personal. Silahkan lakukan semua yang saya minta dan kamu bisa datang ke tempat yang alamatnya sudah saya catatkan di situ. Untuk uangnya nanti aku transfer. Permisi!" Beno segera melenggang pergi kembali ke ruangannya. "Dasar atasan bucin. Enggak tahu apa kalau dia itu diperalat doang. Dia itu cuma diinginkan hartanya aja. Dasar nggak peka." Adis terus menggerutu sambil memandangi deretan tulisan yang ada di kertas panjangnya. Langit masih mengamati Adis. Dia tahu kalau perempuan yang ada di sampingnya itu sedang cemburu. Cemburu? Apakah Adis menyukai Beno Wijaya? "Dena, kok sikap kamu aneh ya? Seperti yang aku bilang, tidak seperti hubungan antara bos dan karyawan. Kan sudah pernah kenal sebelumnya kan? Kenapa kalian tidak mau mengaku?" "Hah? Enggak kok, Langit. Sudah aku bilang, aku orangnya mudah akrab sama siapapun termasuk atasan. Udah ya, aku harus membelanjakan apa-apa yang diminta sama Pak Wijaya." "Ya udah, aku temani kamu." "Kau mau menemaniku? Serius? Ini pasti akan sampai larut malam, Langit. Nggak apa-apa?" "Nggak apa-apa, lah. Aku senang bisa bantu kamu. Lagian segitu banyak nggak mungkin bisa kamu kerjakan sendiri dan selesai jam 10 malam. Kadang-kadang dia memang sekeras itu. Ya udah, Ayo aku antar belanja kebutuhannya." "Hah? Serius … kamu baik banget, Langit. Aku doakan kamu cepat mendapatkan cewek yang baik, cantik, solihah, Seperti apa yang kamu mau." "Terima kasih doanya. Tapi kalau aku maunya gadis yang suka makan banyak, yang nggak jaim, yang cerewet dan bawel gimana?" "Hmmm … kok kayak ciri-ciriku ya? Jangan-jangan kau berharap punya pacar seperti aku ya? Hayo ngaku … " Adis menyelidik wajah langit yang tiba-tiba saja salah tingkah. Ah Adis ini, tidak bisa digoda dan digombalin seperti cewek-cewek lain. "Hahaha … dasar. Kepedean banget sih. Udah ayo berangkat. Naik mobilki aja." Langit meraih tangan Adis, menggenggamnya, lalu mengajaknya sedikit berlari menuju ke mobilnya. Langit deg-degan tak karuan, tapi dia suka. Sementara Adis, dia biasa aja, karena memang tidak ada perasaan apa-apa untuk langit. Mereka segera menuju ke mall terdekat untuk membeli barang-barang yang diminta oleh Beno. Mulai dari balon, pernak-perniknya, kado, dan makanan-makanan ringan. Ah, sepertinya belum Emang sengaja ingin mengerjai adis. Kenapa juga dia mau dibelikan aneka makanan ringan. Padahal dia bisa pesan semua yang dia inginkan di catering. Kue juga, dia tinggal kring ajs kue di anter. Ah, dasar ribet. Akhirnya mereka berdua sampai di sebuah gerai perhiasan emas. Ya, vino meminta Adis untuk membelikan sebuah kalung untuk kekasihnya. Adis mematung sejenak. Ada yang tergores tajam di dalam hatinya. Sehingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Dulu, jangankan dibelikan perhiasan, dibelikan pizza sama Beno saja dia sudah kegirangan. Dan kini … dia membelikan perhiasan untuk pacar baru Beno? Di mana perasaan Beno? Apa dia sama sekali tidak memikirkan perasaan Adis? Ah, tiba-tiba Adis ingat akan cincin pemberian dari Beno yang sudah dijual. Dia berharap suatu saat bisa kembali membeli cincin itu. Paling tidak, ada pemberian dari Beno yang masih ada di dalam dirinya. "Dena, mbaknya tanya. Mau kalung yang mana?" Langit menepuk pundak Adis. Menyadarkan dia yang sejak tadi hanya melamun dengan mata basah. "Eh, kalung yang biasa aja. Yang jelek aja nggak usah yang bagus-bagus. Kalau bisa yang paling murah saja di sini," ucap Adis sambil mengedip-ngedipkan matanya berulang kali agar air mata yang menggenang tidak luruh. Jujur, Dia sangat tidak ikhlas jika beno membelikan sesuatu yang berharga untuk kekasihnya saat ini. Karena yang dia yakini, Rossi adalah perempuan yang hanya ingin harta Beno aja. Sontak, Langit tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Dia selalu Tak habis pikir dengan pemikiran gadis yang ada di sampingnya. Ada saja tingkah lakunya yang out-of-the-box. Bisa-bisanya dia pesan perhiasan yang paling jelek untuk pacar bosnya. Apa dia sama sekali tidak takut kalau sisi monster Beno akan keluar? "Ish, kamu kenapa sih, langit. Kenapa ngakak begitu?" "Habisnya kamu aneh. Masa iya belikan pacar bosnya perhiasan yang paling jelek? Bisa di damprat habis-habisan kamu sama Wijaya." "Biarin . Si Rosi itu cewek matre. Jadi dia tidak pantas diberi hadiah mewah terus-terusan." Si mbak karyawan hanya tersenyum saja melihat tingkah pelanggannya. Dia mengambil salah satu kalung emas polos. Bukan yang paling jelek, tetapi harganya paling murah di antara yang lainnya. "Kebetulan kami tidak menjual perhiasan yang jelek, Mbak. Tapi kalau mbaknya pengen cari yang paling murah, ini dia. Simpel, elegan, dan tidak terlihat murahan." "Mbak yang buluk, yang udah mau putus gitu nggak ada?" Lagi-lagi langit tertawa. Ada-ada saja makhluk satu itu. "Nggak ada mbak. Kami nggak jual yang begitu," ucap karyawan itu dengan senyum meskipun Sebenarnya dia dongkol. Aneh-aneh aja permintaan pelanggan satu itu. Baru kali ini dia mendapatkan pelanggan yang aneh dan mencari perhiasan yang jelek. "Ya udah. Berapa harganya, mbak?" "Yang ini 10 juta." "Gila ... Paling murah 10 juta. Ada nggak yang satu atau dua jutaan gitu?" "Nggak ada, mbak. Semua perhiasan di sini premium. Jadi tidak ada harga segitu." "Dena, udah ambil aja yang itu. Lagipula kamu masih punya banyak PR loh. Jam 10 harus sudah selesai kan tiup balonnya? Ya kan?" ucap Langit sambil menepuk pundak Adis. "Ya udah deh. Ya udah mbak, ambil yang itu. Kotaknya minta yang paling jelek ya? Bekas nggak apa-apa." Lagi-lagi, langit tertawa. Dasar gadis aneh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN