"Nano … lu kenapa sih?"
"Enggak kenapa-kenapa. Memangnya kenapa?"
Nana mengaduk-aduk es jeruknya dengan muka kesal.
"Woe. I know you. Lu nggak baik-baik aja sekarang. Katakan! Kenapa? Lu suka sama langit?"
Pertanyaan Adis yang langsung ke intinya membuat Nana terperanjat. Dia membenahi letak duduknya dan menunduk.
"Nggak. Nggak mungkinlah gue suka sama atasan sendiri. Gue sadar gue ini siapa. Nggak mungkin suka sama yang kedudukannya jauh lebih tinggi dari gue. Mana mungkin gue dilirik. Dia kan sukanya sama orang yang nggak jaim dan apa adanya. Gue bukan tipenya. Udah ah, gue mau masuk kantor dulu. Nanti pulangnya nggak usah nungguin gue. Lo sama pak Langit kan? Bye!"
Nana beranjak dari duduknya, dan langkahkan kaki pergi meninggalkan adis yang masih melongo di tempatnya.
"Hah? Kenapa sih dia? Katanya enggak suka sama Langit? Tapi kok gelagatnya menampakan kalau dia sedang Cemburu ya? Ah, sudah lah. Biar gue bahas lagi nanti."
Adis meraih gelas es jeruk Nana yang belum habis, lalu dia segera melesat ke ruangannya sebelum sang mantan kekasih ngamuk-ngamuk karena Adis tidak kembali ke ruangan tepat waktu.
Benar saja, saat Adis sampai, Beno sudah menunggu disana dengan memasang wajah garang. Matanya menatap Adis tajam seolah dia mau menerkam gadis cantik dan unik itu hidup-hidup.
Sebenarnya adis deg-degan, tetapi dia berusaha untuk bersikap senormal mungkin.
"Hai mantan? Nyari aku? Kangen ya?"
Adis melambaikan tangan seperti tanpa dosa.
"Ini kantor. Tolong bersikap sopan sedikit."
"Oh, sopan nya sedikit doang? Bisa kok. Ada apa Mantan?"
"Kau telat 10 menit. Jadi kau akan dapat hukuman. Sekarang aku minta berkas kontrak dengan PT ADI WIJAYA."
"ADIS WIJAYA?" Adis sengaja menggoda mantan kekasihnya yang sekarang sedingin es batu.
"Adi Wijaya. Tolong jangan bercanda."
"Adis wijaya adalah doa. Siapa tahu suatu saat nanti kita akan memiliki usaha dengan nama seperti itu. Aamiin."
"Dena. Bisa nggak kamu serius sedikit? Ini masalah penting. Jangan main-main. Saya menjadi sekretaris untuk membantu pekerjaan saya, bukan untuk main-main dengan saya. Kalau kamu nggak suka bekerja di Sini dan hanya ingin main-main di sini, lebih baik kamu keluar. Saya tidak butuh sekretaris seperti itu."
Beno pergi meninggalkan Adis, menuju ke ruangannya dan menutup pintu dengan keras.
Adis menunduk.
'Ah … kamu memang sudah benar-benar berubah. Dulu kamu tidak pernah membentak aku sedikitpun. Kamu selalu memperlakukan aku dengan manis. Apakah tidak ada sedikitpun rasa cinta yang tersisa di hatimu, Beno? Aku kangen saat kamu memanggilku kepiting rebus. Apakah itu akan terulang?' batin Adis sambil memandang pintu yang telah tertutup.
Akhirnya Adis kembali ke tempat duduknya. Mengambil berkas kontrak dengan PT ADI WIJAYA. Adis memandang kertas-kertas itu sejenak. Ah, akan ada meeting lagi dan PT Adi Wijaya. Itu artinya dia harus kembali bertemu dengan Pak Herman.
'Boleh nggak aku menghilang saat meeting aja? Aku tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu.'
Matanya kembali berembun, tetapi adis segera mengedip-ngedipkan matanya supaya air mata tidak kembali luruh.
Dengan segera, dia menuju ke ruangan Beno menyerahkan berkas yang dia minta.
"Ini berkas yang kamu minta."
"Hmmm … " jawab Beno pendek. Dia terus melanjutkan mengecek desain yang baru saja di setor oleh divisi kreatif.
"Beno, aku mau menunjukkan sesuatu."
"Bukankah ada yang harus kamu kerjakan? Pekerjaan kamu banyak. Banyak yang belum kamu selesaikan."
"Beno, tolong dong. Aku butuh waktu untuk ngomong pribadi sama kamu. Cuma 10 menit. Aku janji cuma 10 menit."
"10 menit sudah bisa kamu gunakan untuk menyusun laporan."
"Tadi aku melihat Rossi dijemput sama cowok. Dia kelihatan akrab dan mesra banget. Cowok itu memakai mobil mini Cooper warna merah. Aku yakin banget itu selingkuhannya. Atau mungkin yang jadi selingkuhan sebenarnya adalah kamu."
"Sudah infonya. Sudah puas? Pergi sekarang!"
"Beno, Aku serius dan enggak bohong. Kalau kamu nggak percaya, aku ada buktinya."
Adis memasukkan tangannya ke dalam saku untuk mengambil handphone.
"Pergi! Kerja! JANGAN BANYAK BACOT!"
Beno berteriak kencang sambil mengacungkan tangannya ke arah pintu. Matanya yang memerah melotot ke arah Adis. Membuat nyali Adis langsung ciut.
Dia menghentikan gerakan tangannya. terdiam, lalu menunduk. Hanya itu yang bisa dia lakukan ketika Beno sudah berubah menjadi monster.
"Padahal aku cuma pengen yang terbaik buat lo."
Adis pergi dengan mukamu memerah dan mata yang mulai panas. Ah … Dia kesel sama dirinya sendiri. Sudah sering kali dia dibentak dan dimarah-marahin sama Beno, tetapi kenapa dia masih tetap sayang dan mengharapkan laki-laki itu? Dia masih berharap Beno kembali dengan dirinya. Karena menurutnya, Rossi bukan orang yang tepat untuk masa depan Beno.
Huft … tetapi kenapa Beno bisa sesantai itu? Apakah dia sudah sebegitu yakinnya dengan Rossi sehingga dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Adis? Huft … lagi-lagi, sikap laki-laki itu membuat dia cemburu.
'Ben, kembalilah seperti Beno yang dulu. Beno yang selalu memberikan makanan buat gue meskipun cuma telor ceplok, meskipun cuma terong penyet dan tempe penyet. Aku nggak apa-apa. Ayolah … kembali. Nggak semua mantan harus dibuang ditempat sampah kok. Ada mantan yang masih mulus dan bisa dipungut lagi.'
***
"Dena, jadi pulang bareng kan? Ayo … "
Langit sengaja menjemput Adis ke ruangannya karena mereka sudah janjian untuk pulang bareng.
"Hai langit. Ayo! Kebetulan Aku juga sudah selesai kok."
Adis menyambar tasnya dan segera bersiap untuk pergi.
"Heh, kamu ke mana?"
Beno tiba-tiba muncul dari balik pintu. Tangannya bersedekap, mukanya datar menatap Adis yang sumringah mau pulang.
"Pulang lah. Jam kerja sudah habis. Waktunya pulang."
"Lupa ya kalau kamu masih punya hukuman? Kamu harus lembur hari ini karena tadi kamu telat 10 menit."
"Lembur lagi?" Adis langsung lemas. Andai saja Beno bersikap manis padanya, pasti meskipun lembur dia tetap menikmatinya. Tetapi dia harus melihat Beno yang terus marah-marah enggak jelas.
"Wid, jangan terlalu keras begitu dong sama Dena. Biarin dia pulang ya? Lagian dia cuma telat 10 menit doang."
"Nggak bisa. Lu pulang aja duluan. Dia harus menjalani hukuman."
"Oke. Mana yang harus aku kerjain sekarang juga yang urgent? Apa?"
"Aku temenin Dena."
Langit menoleh Dan tersenyum pada gadis di sampingnya.
"Hah?" Adis melongo sambil menatap langit, tak percaya.
"Ngit, jangan ikut campur. Biar ini menjadi hukumannya supaya dia bisa bertanggung jawab kedepannya nanti."
"Nggak apa-apa. Gue free kok."
"Emh … oke kalau begitu. Ini daftar yang harus kamu kerjakan."
Memberikan kertas yang berisi daftar pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Adis. Adis menerimanya, dan shock ketika ternyata daftarnya amat sangat panjang.