"Em … enggak kok. Belum pernah kenal sebelumnya. Memangnya kenapa?"
"Nggak tahu kenapa ya? Aku rasa sikap kamu sama Wijaya itu, seperti sudah lama kenal. Kamu juga nggak ada sungkan-sungkannya sama beliau. Ya, Meskipun mungkin dia memang menyebalkan dan sering minta lembur mendadak, tetapi dia tetap atasan kamu. Aku merasa, kamu tidak menganggap dia sebagai atasan."
"Hah? Masa sih? Nggak, Kok. Cuman aku kesal saja kalau dia semena-mena gitu. Aku nggak suka sama sikapnya. Yah, Yang sudah lama kenal sama aku, pasti tahu kok karakter aku seperti apa. Eh, tapi kok nggak enak ya aku aku gini? Boleh kita pakai gue lu aja? Biar lebih akrab gitu? Boleh nggak akrab sama bapak manajer keuangan? Siap tahu benar-benar diberi hujan uang," seloroh Adis diikuti oleh tawa riang. Tawa yang sebenarnya untuk mengalihkan perhatian Langit, supaya dia tidak curiga lagi.
"Gue elo? Boleh. Siap. Oh … jadi nggak ada apa-apa di masa lalu?"
"Nggak ada lah."
"Kalau masa depan, udah punya?"
"Hah? Maksudnya?"
Adis mengerutkan keningnya. Apa maksud Langit?
"Iya maksudnya kamu punya masa depan apa nggak? Punya dong … setiap orang kan punya masa depan kan ya. Hahaha … garing ya pertanyaan gue. Udah ah, lupain. Ayo di makan mie nya."
Langit kelicutan. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Entah kenapa, dia suka ngelantur gitu kalau salah tingkah.
Sementara Adis, dia hanya diam sambil memutar bola matanya. 'Apaan sih langit, Gaje.' Kemudian, dia tersenyum kaku.
Adis melahap mie kuahnya tanpa jaim sampai blepotan dimana-mana seperti biasanya. Ya, umur adis memang bertambah, tetapi soal makan, dia tetap grusa-grusu dan berantakan seperti dulu.
"Dena, pelan-pelan makannya. Belepotan semua tuh." Langit masih memandang Adis. Dia heran, kok masih ada gadis cantik yang gak jaim sama sekali di depan cowok, apalagi di depan manajer keuangan yang lagi hits di kantor. Banyak yang ingin dekat dengan langit. Adis adalah salah satu cewek yang beruntung karena berhasil makan siang dengan laki-laki itu.
Entahlah, dari sejak kuliah dulu dia selalu beruntung bisa dekat dengan cowok-cowok populer. Semoga yang ini tidak menimbulkan masalah seperti saat bersama Jordan dulu.
"Kalau risih lihat aku belepotan, dilapin boleh kok ngit langit," ucap Adis, lalu dengan tak pedulinya dia masih kembali melahap mie di suapan-suapan terakhir.
"Ya udah sini."
Langit mengambil tisu, lalu mengelap sudut bibir adis dengan lembut.
"Adis … "
Terdengar suara Nana tiba-tiba. Makhluk cantik nan modis itu berdiri di samping mereka sambil menatap pemandangan yang sebenarnya tak ingin dia lihat.
"Hei, Nana."
Langit menoleh, kemudian dia melanjutkan mengelap sudut bibir Adis, membuat wanita yang sedang berdiri di samping mereka, merasa dongkol.
"Hei, Nano. Sini makan bareng." Adis menepuk kursi di sampingnya, meminta Nana untuk duduk di sana.
"Eh kalian saling kenal?"
Langit menurunkan tangannya dan membuang tisu ke tempat sampah.
"Dia teman satu kos saya, Pak langit."
Nana duduk di samping Adis, Lalu memesan nasi goreng. Siang-siang nasi goreng? Ah … udah kebiasaan begitu si Nano.
"Wah, kebetulan banget ya?"
Langit tersenyum sambil memandang mereka berdua.
"Kebetulan kenapa, Langit?"
"Ya … ya kebetulan aja. Kebetulan nana kan di divisi keuangan juga. Jadi udah kenal lama sama Nana."
Langit terlihat menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ah, dia tak berani ngomong Kalau kebetulan Nana dan Adis saling kenal, jadi mudah bagi langit untuk bertanya-tanya tentang Adis
"Terus?" Nana mengerutkan keningnya. Dia selalu kurang faham dengan ucapan langit yang berbelit-belit.
Saat itu, Entah kenapa nana rasanya panas. Dia merasa adis sudah begitu dekat dengan atasannya. Bahkan dia memanggil langit langsung dengan sebutan nama tanpa embel-embel apapun. Apakah mereka sudah sedekat Itu? Pertanyaan itu mutar-mutar di otak Nana.
"Ah, lupakan."
Tak lama kemudian, nasi goreng pesanan nana datang. Wanita itu memakannya dengan malu-malu. Menyendok satu sendok tidak penuh, Lalu setelah beberapa suap, dia meletakkan sendoknya.
"Kenapa Na?"
"Hah … udah kenyang, Dis."
"Apa? Sudah kenyang? Tumben banget? Biasanya aja rakus parah sampai punyaku diembat. Bisa-bisanya kau tak habis. Sini-sini Biar aku yang habisin."
Rasanya … Nana pengen memukul mulut lemes Adis dengan sendok dan garpu.
'Dasar, sudah mematahkan hatiku, bisa-bisanya kau berkata seperti itu di depan laki-laki pujaanku, Adis. Awas ya kau.'
Adis meraih piring itu, lalu melahapnya hingga Tandes. Nana dan langit melongo melihatnya. Meskipun alasan melongo mereka berbeda.
Kemudian langit tertawa. Baru kali ini dia melihat perempuan yang tak ada jaim jaimnya. Baru aja makan mi 1 mangkok, bisa-bisanya masih makan nasi goreng yang masih setengah piring lebih.
Sementara Nana, dia melongo karena sebenarnya dia masih lapar. Dia masih berniat menghabiskannya ketika langit pergi. Huft … emang dasar Adis.
"Kau memang istimewa, Dena. Di saat orang-orang di luar sana selalu jaim dan ingin selalu terlihat sempurna, tapi kamu tetap bersikap apa adanya sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Kau keren!"
Langit menatap Adis dengan penuh kekaguman. Tak banyak ditemukan perempuan seperti ini. Perempuan tanpa kepura-puraan. Dia akan melakukan apa yang dia mau Asalkan itu tidak merugikan orang lain. Mungkin, perempuan seperti inilah yang dibutuhkan oleh langit. Mungkin.
Ah … hati Nana semakin panas. Dia merasa langit terlalu meninggikan Adis dan seolah menyindir dirinya. Padahal sebenarnya langit tidak punya niat untuk menyindir Nana sama sekali.
Ya, Nana memang menyukai langit. Sudah lama dia menyukai atasannya itu. Dia memang tidak sesupel Adis. Dia memang rame, tapi soal bergaul, dia tidak mudah akrab. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa akrab sama dia.
Adis tersenyum, lalu menoleh ke arah nana, dan dia melihat perubahan raut muka nana. Ya, dia tahu ada yang tidak beres.
"Em … Langit, sudah waktunya masuk lagi kan? Kamu duluan aja. Aku masih mau ngobrol sebentar sama Nana."
"Wah … wah … wah … ngusir ini?"
"Hahaha … besok kita bisa ngobrol ngobrol lagi. Nggak apa-apa kan? Oh iya, jangan lupa ditraktir ya?"
"Ya udah, kalau gitu aku duluan ya? Silahkan kalian lanjut ngobrol. Jangan khawatir, kalian tambah lagi pun aku bayarin. Oh ya Adis, nanti pulang kantor aku anterin mau?"
"Mau … Mau … "
Adis mengangguk bahagia dengan antusias.
'Yes!' langit berteriak dalam hati, lalu dengan senyum lebar dia segera berjalan menuju ke kasir kantin dengan hati yang berbunga-bunga. Ah, entah ada apa dengan langit. Rasanya dia ingin terus melihat Adis, gadis yang apa adanya dan tak pernah jaim sama sekali.