Ada Apa Sebenarnya?

1015 Kata
"Dena, Gue mau ngomong penting sama lo. Ikut gue ke kantin sekarang!" Ternyata kata-kata Adis tadi berhasil mengusik hati Rossi. Itulah kenapa dia memutuskan untuk ngobrol dengan Adis yang dia ketahui sebagai Dena. "Maaf mbak Ros, aku nggak bisa. Soalnya banyak yang harus saya kerjakan. Banyak yang harus aku persiapkan untuk meeting nanti. Maaf ya Mbak, kalau mau traktir saya, bisa besok lagi." Adis terus menarikan jarinya di atas keyboard laptop, matanya fokus pada monitor. Bukan dia tak sempat menoleh, tetapi rasanya amat sangat malas melihat wajah kekasihnya Sang mantan, yang faktanya jauh lebih cantik dari dia. Eh, bukan lebih cantik sih, tapi lebih kinclong karena perawatan. Andai saja Adis punya uang lebih untuk rutin perawatan, pasti dia juga akan sekinclong itu. "Dena, lo nggak sopan banget sih? Gue pacar dari bos lo. Nurut! Ayo tinggalin pekerjaannya dan ikut sama gue. Jangan songong!" "Mbak Ros mau aku laporin ke Pak Wijaya karena terus mengganggu saya? Saya harus segera menyelesaikan laporan ini, Mbak. Kalau Mbak Ros ganggu terus, saya nggak akan selesai." Rossi meremas ujung bawah kemejanya. Geram sekali dia dengan tingkah laku Adis. Sekertaris baru kekasihnya itu memang benar-benar songong, ada rasa sungkan nya dan tak ada rasa takutnya kepada atasannya maupun kepada dirinya. Dia memang benar-benar beda dari karyawan lain yang selalu mengangguk sopan terhadap dirinya dan bahkan banyak dari mereka yang sengaja cari muka. Tetapi Adis Adena, dia acuh. Ada apa sebenarnya? "Songong banget sih Lo. Gue berani jamin, suatu saat lo pasti akan butuh bantuan gue, dan gue nggak akan sudi bantuin Lo apapun. Pasti Lo_" Terdengar nada dering dari handphone Rossi. Wanita itu langsung menghentikan ucapannya. Dia mengambil handphone di tasnya. Adis mendongakkan kepala. Dilihatnya Rossi yang sedang tersenyum menatap layar handphonenya. "Halo, Sayang. Sudah sampai?" Terdengar sayup-sayup suara Rossi yang mulai melangkah menjauh. Namun, Adis dengar betul kalau perempuan itu memanggil sayang. Adis Segera beranjak dari duduknya dan segera membuntuti wanita itu. 'Tuh kan bener, perempuan itu nggak beres. Pasti dia punya maksud untuk mendekati Beno. Sepertinya sekarang dia dijemput sama selingkuhannya deh. Gue harus dapetin bukti.' Adis mempercepat langkahnya. Dia membuntuti Rossi sampai ke lobbi. Di sana, dia melihat Rossi melambaikan tangan pada sebuah mobil mini Cooper warna merah terbaru. "Tuh kan bener. Pasti itu mobil selingkuhannya," ucap Adis sambil buru-buru membuka kunci handphone dan menyalakan Vidio. Rossi begitu girang kelihatannya. Dia segera masuk ke mobil itu. Ah … sayangnya dia tidak bisa melihat wajah laki-laki itu. Cuma terlihat rambutnya doang. Dan mini cooper merah itu segera melesat. Adis terdiam sejenak, potongan rambut itu? Kayak familiar. Tapi siapa? Ah … potongan rambut orang kan sangat mungkin mirip. Ah sudahlah, pasti orang yang tak ia kenal. Adis tersenyum sambil memandang handphonenya yang merekam mobil mini Cooper merah itu. "Kena Lo Ross. Jangan berharap masa depan lo. Lo bakal jadi masa lalu kayak gue. Eh, gue bakal jadi masa depannya lagi ding," ucap Adis, lalu dia segera mematikan rekaman vidionya, dan dengan bersemangat dia berjalan cepat menuju ke ruangan Beno. Baru saja dia akan melangkah ke dalam, terlihat Beno sedang ngobrol sama langit. Ah, tapi dia tetep harus memberitahukan ini sama Beno. "Permisi!" Adis mengangguk sambil tersenyum kepada keduanya. "Hai, Dena. You look so gorgeous hari ini." "Thank you. Harus tampil gorgeous tiap hari, untuk meraih hati mantan," ucap Adis. Dia tersenyum polos bak gadis desa yang nggak tau apa-apa. Beno terdiam. Menghentikan aktivitasnya. 'Ah, wanita ini. Kenapa tidak bertindak layaknya sekertaris? Apa dia tidak tahu kelakuannya ini bisa membuat orang-orang di sekitarnya curiga kalau mereka pernah kenal sebelumnya. "Hmmm … kau mau mantan? Di sini mantannya?" "Iya di sini." Adis menunjuk dadanya. Langit tertawa. Entah apa yang lucu. Namun, entah mengapa, langit tertarik pada gadis absurd yang selalu apa adanya dan bertingkah semaunya itu. Iya, semaunya, tapi masih dalam batas wajar. "Ada apa? Ada berkas yang harus aku tandatangani?" tanya Beno dingin. Dia mengotak Atik laptopnya, padahal dia tidak sedang mengerjakan apa pun di sana. "Em … sebenarnya saya mau ngonong penting sama Pak Wijaya. Boleh? Berdua aja." "Ini waktunya makan siang. Saya harus makan siang dulu. Silahkan keluar!" "Eh tapi, ini penting." "Bukan urusan kantor kan?" "Ya bukan, tapi_" "Keluar!" teriak Beno. Langit mengerutkan keningnya. 'Kok sikap Wijaya aneh ya? Nggak biasa-biasanya dia bersikap terlampau dingin dan kasar begitu.' "Ben, gue_" "Keluar!" "Dena, kita makan siang yuk! Aku yang traktir. Kau mau makan apa aja bebas. Yuk! Kita makan siang aja, dari pada di sini makan Ati. Let's go!" Langit meraih tangan Adis, lalu mengajaknya keluar ruangan Beno. "Eh tapi_" "Udah, Ayo!" Langit segera membawa Adis menuju ke kantin kantor. 'Hish, gagal dong ngasih tahu Beno. Beno sih, sok-sokan marah-marah. Nggak tahu apa kalau aku punya berita penting yang sangat bermanfaat untuk masa depannya.' Adis terus menggerutu di dalam hati. Sedangkan langit, dia terus bertanya-tanya. Ada hubungan apa sebenarnya antara Wijaya dengan Adis. Beberapa kali dia mendengar Adis memanggil Wijaya dengan panggilan Beno, Dan Dia memanggil dengan santai dengan panggilan lo gue. Itu berarti mereka sudah kenal sebelumnya, bukan? Lalu kenapa Wijaya selalu marah-marah setiap ketemu Adis Adena? Pertanyaan itu terus memutar-mutar di kepalanya. 'Ah, biar nanti saja aku cari tahu.' Mereka sudah sampai di kantin. Saat jam makan siang, kantin Selalu ramai. Meskipun ada beberapa yang memilih makan di luar, tetapi masih banyak juga yang memilih makan di kantin meskipun menunya tidak se beragam yang ada di resto resto luar. "Mau makan apa?" "Mie kuah enak kali ya?" "Mie kuah?" "Iya." "Oke." Meskipun langit tidak begitu suka mie kuah, tetapi dia mencoba untuk memesan makanan yang sama dengan adis. Tak lama kemudian, 2 mangkok mie kuah dan 2 cup hot chocolate sampai di hadapan mereka. "Wiiih … paduan yang pas," ucap Adis sambil mengaduk-aduk mie nya. "Dena … Apa aku boleh tanya sesuatu?" "Boleh lah, Apalagi setelah ditraktir begini. Tanya apapun boleh. 1 pertanyaan 1 mangkok mie ya," ucap Adis, lalu dia tertawa kecil. "Hahaha … bebas mau berapa mangkok pun. Em … Apa kamu kenal sama Pak Wijaya sebelumnya? Apakah Mungkin kalian punya hubungan di masa lalu?" Adis terdiam. Menghentikan aktivitasnya. Ah benar. Ternyata sikapnya itu membuat orang-orang di sekitar Beno curiga kalau mereka memang pernah dekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN