Mantan

1014 Kata
Adis masih senyum-senyum sendiri sambil memegang selimut yang tadi di pakai sama Beno. Ah … Kenapa dikhawatirkan begitu saja dia sudah sangat bahagia. Ya, meskipun Beno tidak mengakui, tetapi dia yakin kalau Bino sangat mengkhawatirkannya pada waktu itu. Padahal dia hanya ke kamar Nana. Rasanya, seperti kembali jatuh cinta pada orang yang berbeda. Beno yang dulu hangat,lembut dan penuh kasih sayang, sementara Beno yang sekarang, dia lebih dingin, perhatian tapi gengsi. Semakin membuat Adis gemas. Dan semua itu, seakan membuat Adis lupa akan kekesalannya pada Beno dan pada klien Beno semalam. "Cie … Senyum-senyum sendiri," ledek Nana yang baru saja kamar Adis yang memang tidak ditutup. "Hei, Nano … thank you so much. Oh my God, Lo baik banget semalem yang pura-pura harus balik. Gue kan jadi ditemenin sama mantan semalaman. Yeeeay." Adis tertawa bahagia sambil merentangkan tangannya. "Idih, orang-orang pada mau buang mantannya ke tempat sampah, nah elu, malah girang nggak karuan ditemani sama mantan. Eh, Tapi lu kan emang masih sayang banget sama mantan, tapi mantanmu enggak. Hahaha." Bug. Sebuah bantal melayang ke muka Nana yang saat itu sedang duduk di atas ranjang. "Oe, barbar banget sih yang baru ditemenin sama mantannya." Nana masih tertawa. "Abis Lo ngeselin." Adis melotot, tapi malah disambut dengan gelak tawa oleh Nana. Nana menghentikan tawanya. Lalu dia mendekat pada adis yang masih memegang selimut. "Kamu masih sangat sayang sama Pak Wijaya?" Kali ini Nana memasang wajah serius. Ditatapnya mata Adis yang berbinar karena bahagia. "Iyalah. Lo pake nanya lagi. Meskipun sekarang dia menjelma menjadi laki-laki yang menyebalkan dan sok cool, gue tetap sayang sama dia. Lo tahu nggak sih, orang yang pernah melakukan kesalahan besar pada orang baik, bisa jadi penyesalannya seumur hidup. Ini yang membuat gue nggak bisa move on dari dia. Karena dia adalah orang baik yang dulu pernah gue sia-siakan." "So, Lo tahu kan, apa yang seharusnya lo lakuin?" "Tahu lah, dandan yang cantik, dan rebut kembali dia dari ceweknya yang ngeselin itu." "Ish, jangan jadi pelakor. Jijik gue. Sana cepetan mandi! Biar cepet sampe kantor, dan ketemu mantan lagi." "Siaaap. Gue mandi dulu ya? Thanks for being my best friend." Adis meraih tangan Nana, dan menggelayut manja di sana. "Iyuuuh, Lo apaan sih. Lepasin. Ngeri bet sama orang yang terobsesi sama mantan." Nana buru-buru menarik tangannya lalu dia segera pergi dari kamar Adis. Sementara adis, hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya. *** "Sayang, kamu ke mana aja semalam. Aku telepon ke rumah, kata Mbak kamu nggak pulang semalaman. Aku khawatir. Di telfon nggak kamu angkat, dikirim pesan nggak di balas. Kamu bikin aku khawatir." Rossi duduk di sofa, menggenggam tangan Beno dengan cemberut. Ya, semalam dia mencoba untuk menghubungi Beno, tetapi tak ada jawaban sama sekali. "Sayang, I am O.K. semalam ada yang harus aku kerjakan di luar. Jadi aku baru pulang tadi pagi." "Pulang tadi pagi? Kamu kemana aja sebenarnya?" "Ke rumah mantannya kali." Adis tiba-tiba muncul, membawa setumpuk berkas yang harus ditandatangani oleh Beno. Kebetulan pintu tidak dIkunci, jadi dia bisa nyelonong begitu saja. "Kamu tidak pernah belajar tentang sopan santun?" Beno langsung keringat dingin melihat Adis yang tiba-tiba datang. Dia terlihat membuang nafas kasar. Tidak, Beno tidak mau hubungannya dengan sang kekasih kacau, hanya gara-gara semalam dia menginap untuk menunggui Adis. "Pernah, dulu sering diajari sama mantan pacar saya." Adus menjawab santai sambil memeluk berkas yang dia bawa. Rossi terlihat mengerutkan keningnya, lalu dia berdiri dan menatap Adis dengan tatapan kecurigaan. "Bentar deh. Lo kan cuma sekretaris, CUMA SEKERTARIS. Masih baru lagi. Kok bisa-bisanya kamu bersikap tidak sopan seolah kamu sedang ngomong sama temen kamu sendiri?" Dia masih menatap Adis dengan tatapan tak percaya. Bisa-bisanya sekretaris baru bersikap seperti itu. Seketika, Beno berdehem-dehem nggak jelas. Dia membenahi letak duduknya yang sebenarnya tak ada masalah. Adis tersenyum, lalu meletakkan berkas-berkas itu di atas meja. "Oh … saya memang orangnya seperti ini, mbak. Saya memang mudah akrab sama orang lain. Oh iya, saya ke sini cuma mau mengantarkan berkas yang harus Pak Wijaya tandatangani. Tolong segera ditandatangani ya pak. Jangan pacaran terus. Karena ini jam kantor. Permisi!" Adis melempar senyum sarkas sebelum dia menghilang dari ruangan itu. Rossi tambah melongo melihat kelakuan adis. Dia tidak pernah melihat sekretaris yang kelakuannya se tidak sopan itu. "See? Dia kurang ajar, Sayang. Dan kamu cuma diam aja? Lebih baik kamu pecat aja deh. Masih banyak yang mau jadi sekretaris kamu. Tentunya yang jauh lebih sopan dari dia." Rossi berapi-api. Tentu saja dia tidak suka dengan sikap Adis yang tidak ada rasa sungkan nya terhadap bosnya maupun terhadap dirinya. Padahal semua orang di kantor selalu hormat kepadanya selaku pacar dari atasan mereka. "Sayang, dia kerjanya bagus. Dia bisa cepat adaptasi dan menangani semua yang tertunda kemarin. Jadi aku tidak bisa memecat dia begitu saja. Masalah sikapnya, nanti aku bicarakan sama dia ya? Kamu tenang saja. Dia nggak akan begitu lagi kok." Beno tersenyum, lalu menepuk-nepuk paha sang kekasih yang sudah kembali duduk di sampingnya. "Aku Gedeg banget lihat dia. Tapi, kok tadi dia ngomongin soal mantan? Kamu nggak ke rumah mantan kamu kan?" Rossi mulai curiga. Ditatapnya raut muka sang kekasih, dia mencari kebenaran di sana. Beno memutar bola matanya. Di menelan salivanya. Ah … mantan pacarnya itu memang harus dikasih pelajaran supaya tidak berbuat ulah seperti ini. "Kok diem? Kok salah tingkah? Jadi beneran kamu ke rumah mantan kamu semalam? Kamu ke rumah mantan kamu yang namanya Adis Adis itu? Iya?" Rossi berteriak dengan muka merah padam. "Sayang, Kamu kenapa sih? Kenapa kamu bisa percaya sama orang yang bahkan kamu tidak mengenalnya? Ke rumah mantan pacar? Aku saja tidak tahu di mana rumahnya? Tolong jangan mudah terhasut gitu dong. Kemarin aku tidur di rumah langit. Ada beberapa hal yang harus aku bicarakan sama dia. Terus kita keasyikan ngobrol sampai tertidur hingga pagi hari. Cuma begitu, Sayang. Jangan overthinking. Udah ya, sekarang aku harus kerja dulu. Kamu pulang aja ya? Nanti siang kita makan bareng. Love you." Beno mengelus lembut pipi sang kekasih, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke meja kerjanya. Sementara Rossi, dia hanya mengerutkan kening. Entah kenapa dia merasa bahwa Beno sedang tidak jujur padanya. 'Apakah ada yang kau sembunyikan?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN