"Emangnya kalau mau sakit harus aba-aba dulu. Makanya kalau ngasih kerjaan itu jangan numpuk numpuk, baru juga masuk udah disuruh lembur. Kerja di elo itu bukan hanya capek badan doang, tapi juga capek hati dan perasaan. Harusnya lo ngerti dong."
"Eh, jangan ngelunjak. Aku bersikap begini bukan berarti gue maafin kamu. Kamu jangan ke gr-an juga. Aku melakukan ini murni karena kamu adalah karyawan aku."
"Em … Jadi kalau sama karyawan harus ditungguin begini Iya karyawannya sakit. Jadi Sudah berapa karyawan yang kamu temennya begini saat mereka sakit? Hm … "
Adis melirik laki-laki yang saat ini memakai setelan jas warna abu-abu. Sungguh, Beno tampak lebih tampan saat seperti itu. Dia sangat jauh berbeda dengan Beno 3 tahun yang lalu.
Yah, Mungkin memang sudah rezeki Adis. Dia harus menjadi kekasih Beno saat laki-laki itu sedang menghemat sehemat-hematnya. Sedangkan sekarang, saat hubungan mereka sudah berakhir, Beno menjelma menjadi laki-laki sukses yang selalu memanjakan kekasihnya.
"Jangan banyak bicara. Kamu masih sakit? Kamu lapar? Aku cariin makanan dulu ya? Aku tahu tadi kamu cuma makan sedikit di sana."
"Nggak perlu, pasti kamu cuma mau beliin aku tempe penyet doang kan?"
Beno terdiam. Dia menunduk lalu tersenyum miris. Iya, dia menyadari kalau dulu mereka memang semengenaskan itu, makan tempe penyet dan terong penyet tiada henti.
'Andai kamu setia, Adis. Pasti sekarang kita sudah bahagia.'
"Kamu mau apa?" tanya Beno akhirnya. Dia masih menghadap ke bawah. Enggan memandang Adis yang pasti memasang wajah ngeselin.
"Kalau mau kamu, boleh?"
"Dis, aku serius. Mau apa?"
"Aku juga serius. Aku mau kamu."
"Ya udah aku beliin pizza."
"Cie … masih ingat sama kesukaanku?"
"Kau tampak lebih menyenangkan jika diam seperti tadi. Jadi diamlah!"
"Aku masih sayang sama kamu. Aku rindu sama kamu yang mencintai aku apa adanya, dan menerima semua kekuranganku. Aku rindu, Ben. Kebersamaan kita terlalu banyak dan terlalu sulit aku lupakan."
"Aku pernah menerima kamu apa adanya. Aku terima semua kekuranganmu. Tetapi ada satu hal yang aku tak bisa terima, mendua. Sampai kapanpun, aku tak bisa menerima itu."
"Ben, sampai saat ini aku nggak ada ikatan apa-apa sama Jordan."
"Tak ada ikatan apa-apa tapi jalan berdua, menghabiskan waktu bersama, sampai diberi hadiah tas mewah dan kalung mewah, sampai kau di kecup keningmu. Kau masih bilang tak ada apa-apa? Ah … sudahlah. Semua sudah berlalu. Sekarang aku sudah menemukan seseorang yang mencintai aku apa adanya. Yang mengerti aku lebih dari kamu mengerti aku."
Tik. Air mata menetes ke pipi Adis. Tak ada yang lebih menyakitkan dari mengetahui fakta bahwa kita tak lagi bermakna di mata orang yang kita sayang. Dulu adis pernah menjadi ratu. Dulu Adis pernah menjadi satu-satunya dan yang utama. Sekarang, dia hanya masa lalu yang sudah tidak ada maknanya apa-apa lagi di hidup Beno.
"Maafkan aku, maafkan aku yang waktu itu sempat khilaf. Maafkan aku yang sempat meragukan kamu."
"Aku keluar dulu."
Beno beranjak dari tempat duduknya, dan segera keluar meninggalkan kamar Adis.
Sepeninggal Beno, Adis terisak. Dia meremas selimutnya dengan kedua telapak tangan. Dadanya terguncang karena isakan tangis yang keras.
Kenapa sekarang terasa begitu menyakitkan. Di saat Dia sedang sakit seperti ini, dia selalu ingat Beno, yang tak pernah membiarkan dia sendiri. Kenangan masa lalu yang begitu indah, Ternyata begitu menyakitkan ketika dikenang.
Tak lama kemudian, Beno kembali datang dengan pizza premium 2 kotak, s**u cair instan, aneka roti, cemilan, dan beberapa bungkus lollipop coklat.
Beno meletakkan semua barang belanjaannya di atas meja. Sedangkan Adis, dadanya semakin terasa sesak melihat itu.
Adis segera menghapus air matanya. Lalu perlahan, dia duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidurnya.
"Untuk apa kamu membelikan makanan sebanyak itu?"
"Untuk kamu. Terserah mau kamu makan atau mau kamu buang, tapi yang jelas sekarang kamu harus makan dulu."
Beno mengambil satu kotak pizza, dibukanya, lalu meletakkan kotak pizza itu di atas pangkuan adis.
"Makan sendiri!"
Beno kembali berjalan menuju ke kursi yang kira-kira berjarak satu setengah meter dari tempat tidur Adis. Dia duduk di sana, menyandarkan bahunya yang sebenarnya sangat lelah, lalu Dia memejamkan matanya.
Adis menatap pizza yang ada di pangkuannya dengan mata nanar. Dia menelan salivanya dengan kasar. Air mata kembali menetes. Ah … Kenapa laki-laki itu bersikap seperti ini? Dia tak mau memaafkan, tetapi kenapa dia masih sebaik ini?
Adis mengambil sepotong pizza, lalu Dia memasukkannya ke dalam mulut dengan air mata yang menetes deras.
***
Malam itu, Beno benar-benar menemani Adis semalaman. Pintu kamarnya sengaja dibuka, biar tidak menimbulkan desas desus yang tak enak.
Pukul 04.00 pagi, Adis terbangun. Dia melihat Beno yang duduk di atas kursi. Tangannya bersedekap. Dia tidur dengan begitu lelap. Terdengar dengkuran halus.
Ah, laki-laki itu, Kenapa dia tidak pulang saja? Sikapnya yang seperti ini, semakin membuat Adis yakin bahwa dia harus memperjuangkan Beno, meskipun dia tahu, kadang mulut laki-laki itu minta dikunci. Karena suka berbicara yang menyakitkan.
Adis sudah merasa enakan. Dia segera bangun dari tidurnya, mengambil selimut, dan menyelimutkannya ke tubuh Beno.
'Terimakasih, selalu peduli padaku. Semoga kau bukan hanya masalaluku, tapi bisa jadi masa depanku.'
Adis tersenyum, lalu dia segera bangun, bersih-bersih diri dan shalat, ke kamar Nana sebentar, lalu menuju ke dapur kost. Dia buat 2 teh hangat untuk dirinya dan Beno.
Namun, ketika dia kembali ke kamar, Beno nggak ada di tempat. Ke mana perginya dia?
Mobilnya masih ada kok. Adis kembali keluar dan celingak-celinguk di sana. Terlihat Beno berlari ke arahnya dari pintu gerbang.
"Kamu kemana aja sih? Kalau masih sakit itu jangan kelayapan. Aku cari kemana-mana enggak ada. Di dapur nggak ada, di kamar mandi nggak ada, di telfon nggak bisa. Lo ke mana sih?"
Beno berteriak dengan muka memerah. Adis terdiam, tercengang dengan sikap Beno. Lalu dia tersenyum lebar.
"Kamu khawatir?" ujar Adis di depan pintu. Entah kenapa, rasanya seperti ada angin segar yang menyusup ke tubuhnya.
Beno memutar bola matanya, lalu menatap asal ke langit.
"Nggak. Biasa aja."
"Tadi aku cuma ke kamar Nana sebentar, ke kamar mandi, lalu bikin teh buat kamu. Nggak usah khawatir begitu dong?"
"Nana? Nana temen kamu itu? Dia di kamar?"
"Em … enggak, tapi aku udah biasa masuk kamarnya," ucap Adis sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kamu udah baikan?"
"Udah kok."
"Aku mau pulang."
Beno berbalik lalu melangkah menjauhi pintu kamar adis.
"Ben, kita ngeteh dulu."
"Nggak."
"Ya udah, makasih ya? Nggak usah khawatir, aku baik-baik aja," teriak Adis. Lalu, dia tersenyum lebar.
'Kalau memang khawatir bilang aja, nggak usah gengsi,' batin Adis, lalu dia segera masuk ke kamar dengan wajah sumringah.