Ternyata Masih Sama

1011 Kata
Beno mendudukkan Adis di mobilnya, lalu dia menutup pintu dengan keras. Setelah itu Beno berlari menuju pintu sebelahnya, dan segera melajukan mobil menuju ke tempat kost Adis. "Kenapa lo menjadi pribadi yang otoriter begini? Pemaksa!" "Sekarang kamu karyawan saya. Jadi saya harus menjamin kamu selamat sampai di rumah, apalagi keadaan sudah larut malam. Jangan protes. Cukup arahkan saja ke mana mobil ini harus melaju." "Ben, gue benci sama lo yang sekarang." "Itu urusan lo." 'Beno, bahkan Lo nggak bertanya Apa yang terjadi sama gue sebenarnya? Bahkan Lo nggak bertanya sama gue siapa pak Herman? Apa lo sudah tidak sepeduli itu sama gue?' Adis menunduk. Dia meneteskan air matanya. Banyak masalah yang dihadapi hari ini. Banyak hal yang membuat hati dan perasaannya carut-marut hari ini. Kata-kata beno yang menyakitkan, perlakuan Beno yang menyebalkan, juga pertemuannya kembali dengan seorang laki-laki yang tidak ingin dilihat seumur hidupnya. Laki-laki yang dulu pernah sama dia sayang, laki-laki yang dulu pernah menjadi Cinta pertamanya. Adis terisak di dalam mobil. Isakan yang memilukan. Isakan itu, tentu saja menggetarkan hati Beno. Ternyata, rasanya masih sama seperti yang dulu. Hatinya masih ngilu saat dia melihat Adis menangis. Namun, dia harus terus berpura-pura untuk masa bodoh. Pura-pura dihadapan Adis, dan pura-pura membohongi dirinya sendiri. "Kamu kenapa?" Akhirnya Beno tidak bisa menahan dirinya. Hatinya semakin teriris seiring dengan mengerasnya suara tangisan Adis. Gadis itu tidak menjawab apapun. Masih terus mengalirkan air mata. Dia sudah tidak kuat lagi menahan sesak didadanya. Sepanjang perjalanan, Adis terus menangis dan tidak menjawab pertanyaan Beno. Hingga mereka sampai di kost an Adis pun, tangis Adis belum reda. Beno tidak bisa apa-apa. Terbersit rasa ingin memeluknya dan mengelus rambutnya saat dia menangis seperti dulu, ah … tapi tak mungkin. Luka di dalam hatinya masih menganga. "Sudah sampai. Turun!" Adis mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia lakukan berulang-ulang. Setelah dia tenang, dia menghapus air matanya dengan kedua ibu jari. "Terima kasih sudah mengantarkan," ucap Adis lirih. Lalu dia segera turun dari mobil Beno. Saat dia baru melangkah beberapa langkah, lutut Adis terasa lemas, matanya berkunang-kunang dan kepalanya terasa berat. Bruk! Adis terjatuh pingsan. Beno yang saat itu masih mengamati Adis, langsung panik. Dia segera turun dan berlari menghampiri gadis itu. "Adis, Adis, kamu nggak apa-apa?" Beno menepuk-nepuk pipi Adis dengan khawatir. Namun, Gadis itu tak kunjung bangun juga. Akhirnya Beno membopong Adis sedikit berlari, tetapi dia bingung, dia tidak tahu kamar adis di sebelah mana. Untungnya ada Nana yang keluar kamar memang untuk menunggu Adis pulang. "Adis … Adis kamu kenapa? Eh, Pak Wijaya, Ada apa dengan Adis?" tanya Nana panik. "Lebih baik sekarang kamu tunjukkan saja di mana kamarnya." "Baik, Pak. Mari saya antar," ucap Nana. Dia bergegas menuju ke kamar Adis, membuka pintunya. Beno segera membaringkan Adis di sana. Lalu dia mengambil selimut yang belum dilipat, dan menutupi kaki Adis. "Kamu, tolong ambilkan teh manis dan minyak kayu putih. Ada?" Terlihat sekali dari raut mukanya, bahwa dia benar-benar panik. "Baik, Pak. Saya buatkan dulu." Nana segera pergi meninggalkan kamar Adis, dan membuat teh untuknya. "Adis bangun. Lo kenapa sih? Pasti kecapean dan malam sering bergadang. Kebiasaan banget sih." Beno mengomel sambil meletakkan bantal 2 yang ditumpuk di bawah kaki Adis. "Pak, ini minyak kayu putihnya." "Terimakasih." Beno mengoleskan minyak kayu putih di bawah hidung Adis dengan sabar dan telaten. "Dis, Adis. Bangun. Bangun, Dis. Ayo bangun, tolong!" Ditepuk-tepuknya pipi mulus itu berulang kali. "Kamu, apa ada dokter terdekat sini? Adis belum bangun juga. Badannya juga panas." "Nama saya Nana, Pak. Kalau di dekat sini tidak ada, paling ke rumah sakit." "Oh … tetep jauh." Saat itu, Adis menggerak-gerakkan tangannya lalu membuka matanya perlahan. "Adis, kamu bangun? Hey … kau baik-baik aja?" Entah kenapa, Beno mendadak lembut. Dia tersenyum lega saat melihat adis membuka matanya. Ternyata rasanya masih seperti yg dulu. Dia adalah orang pertama yang panik ketika melihat adis kenapa kenapa. "Ya Allah Adis, kebanyakan begadang mikirin mantan sih. Jadi gitu kan kecapekan." Sontak, Beno dan Adis yang baru saja membuka matanya, langsung menoleh kearah Nana dengan tatapan kesal. Nana, memang benar-benar, mulutnya tidak bisa dikontrol. Sudah tahu dalam keadaan genting, masih saja cari penyakit. "Eh, sorry." Nana menutup mulutnya dengan tangan kanan. "Ayo minum teh dulu." Beno membantu Adis untuk duduk, lalu meminumkan teh hangat buatan Nana pada Adis. 'Beno, Kenapa lo masih care begini sama gue? Apa lo masih sayang sama gue? Apa perasaan lo masih sama dengan 3 tahun yang lalu?' Jujur, Adis deg-degan saat itu. Hatinya tersenyum meskipun kepalanya masih pusing. "Berbaring lagi ya? Jangan beranjak dari tempat tidur dulu." Adis mengangguk lemah. "Pak Wijaya, aduh gimana ya? Aku tidak tega meninggalkan adis sendirian. Tapi aku harus pulang, ibu menyuruhku pulang malam-malam begini. Sepertinya memang ada yang urgent." Nana tahu bagaimana untuk menyenangkan Adis. Kesempatan emas bagi Adis untuk kembali dekat dengan mantan kekasihnya yang masih sangat dia sayang. Adis melirik sahabatnya, lalu melotot. Sedangkan Nana, dia mengerlingkan mata kirinya. 'Ini kesempatan emas untukmu, Bestie.' "Ya udah, biar aku yang menemaninya. Kalau boleh minta tolong, tolong ambilkan air hangat ya? Biar aku kompres, supaya demamnya cepat turun." "Baik, Pak. Saya ambilkan dulu." Beberapa menit kemudian Nana menyiapkan kain kecil dan air hangat, lalu dia segera bergegas menuju kamarnya dan mendekam di sana. Ya, dia harus disana hingga pagi seolah-olah dia sedang pergi. 'Semoga ini menjadi awal kembali tumbuhnya cinta tak Wijaya buat Lo Dis. Karena gue tahu banget, Lo masih sangat sayang sama dia.' Sementara di kamar Adis, Beno dengan telaten mengkompres kening Adis dengan kain. "Badan kamu gimana?" "Nggak gimana-gimana." Adis sok cuek. Padahal saat itu hatinya bersorak. Tak apa-apa sekarang dia demam. Melihat Beno yang masih perhatian seperti dulu, rasanya, kekesalan dia beberapa jam yang lalu luruh begitu saja. Begitulah seorang wanita, rasa kesal apapun dia sama seseorang, kalau dia diperlakukan dengan istimewa dan sweet, pasti dia akan luluh. Ya, soal perasaan, kadang-kadang wanita memang selemah itu. "Kenapa sih kamu, Kenapa tiba-tiba pingsan dan demam begini? Bukankah tadi baik-baik saja? Makanya kamu itu makan yang teratur. Kebiasaan deh makan sesuka hatinya. Begini kan jadinya?" Beno menggerutu persis seperti emak-emak yang sedang memarahi anaknya yang banyak main.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN