Pukul 6.30, setelah selesai melaksanakan salat magrib, mereka segera bertolak menuju ke Cafe Livia. Cafe yang sudah mereka sepakati sebagai tempat untuk mengadakan meeting. Karena tidak ada presentasi, Jadi mereka bisa melakukan meeting di luar.
Hari itu Beno menyetir mobil sendiri dan tidak diantar oleh sopir. Mereka berdua duduk berdampingan, tetapi tak saling bicara. Adis masih dongkol dengan perlakuan Beno.
15 menit kemudian mereka sudah sampai. Ternyata klien dari PT Adi wijaya sudah berada di sana.
"Selamat malam Pak Herman," ucap Beno pada kliennya yang saat itu sedang asyik menikmati minumannya.
Deg. Pak Herman?
'Ah, itu pasti Herman lain. Bukan Herman yang aku kenal.'
Adis berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri, meskipun dari belakang dia mulai yakin bahwa itu ada Herman yang dikenal.
Laki-laki yang disebut oleh Beno berdiri, lalu menoleh ke arah Beno.
Saat itu, rasanya Adis srperti mau pingsan saat dia tahu siapa klien dari Beno. Matanya membulat sempurna, dadanya sesak, dan nafasnya langsung tersengal. Laki-laki itu? Laki-laki yang dia tidak mau lagi teman seumur hidupnya, sekarang dia kembali bertemu di sini? Rasanya, dia ingin berlari sekencang-kencangnya dan kabur dari tempat itu. Namun, dia tidak bisa apa-apa sekarang. Dia harus profesional sebagai sekretaris dari Beno Wijaya.
"Ah … Pak Beno selamat malam," ucap laki-laki itu dengan muka cerah bersinar. Namun, wajahnya langsung berubah saat dia mengetahui bahwa Beno didampingi oleh Adis.
"Adis?"
"Perkenalkan, Pak. Nama saya Dena, saya sekretaris baru Pak Wijaya sekaligus calon istrinya."
Adis mengulurkan tangannya, sambil mengulas senyum yang dipaksakan.
"Waah … ini calon istrinya pak Wijaya. Cantik. Mari silahkan duduk!"
Doni, partner pak Herman ikut nimbrung. Sementara Beno, dia hanya menatap Adis Dengan tatapan kesal tetapi juga penuh tanda tanya. Ada apa dengan mantan pacarnya itu? Kenapa tiba-tiba raut mukanya berubah saat melihat Pak Herman? Atau ada sesuatu antara dia dan Pak Herman sehingga Adis harus mengakui dirinya sebagai calon suaminya?
Beno duduk berdampingan dengan Adis. Dia merasakan kalau saat itu adis merasa tidak nyaman. Dari tadi, gadis itu hanya menunduk dengan tangan mengepal serta tidak bisa fokus.
"Em … Pak Beno, sebelum kita mulai meeting kali ini, bolehkah saya berbicara berdua dengan sekretaris anda? Hanya sebentar saja," ucap Pak Herman sambil terus memandang Adis.
"Em … saya kira waktu mulai larut, jadi lebih baik kita mulai saja kita pada malam hari ini, Bapak." Adis langsung unjuk bicara dengan senyum samar.
"Em … benar apa kata sekretaris saya, Pak. Saya juga harus menghadiri acara setelah ini. Jadi, mari kita mulai saja."
"Oh, baiklah," ucap Pak Herman akhirnya.
Meeting segera dilaksanakan. Meskipun adis sama sekali tidak nyaman, dia tetap berusaha untuk bersikap profesional. Waktu terasa begitu lama bagi Adis. Dia berkali-kali menengok jam tangannya, berharap meeting segera berakhir.
"Saya kira untuk hari ini cukup pak, saya harap Bapak puas dengan desain dari kami," ucap Beno akhirnya. Sedangkan Adis, dia menghembuskan nafas lega.
"Pokoknya untuk masalah iklan, kami tahu Wijaya Royal Advertising adalah ahlinya," ucap pak Herman dengan nada suara penuh keyakinan..
"Terimakasih banyak, Pak."
"Em … Adis pulang sendiri?" tanya laki-laki berumur 50 tahunan itu.
"Oh, dia sama saya Pak. Saya yang akan antar dia pulang. Kalau begitu kami permisi, Pak Herman, Pak Doni."
"Mari, Pak," mereka menjawab hampir bersamaan.
Lalu, Adis dan Beno segera melangkahkan kaki pergi dari cafe itu. Sementara Pak Herman, dia masih terus memandangi Gadis itu sampai punggungnya Tak terlihat Lagi.
"Gue pulang sendiri aja, Ben."
"Saya antar pulang. Jangan GR. Jangan berpikir yang macam-macam. Besok kita ada meeting internal yang penting. Jadi sekarang kamu harus istirahat, jadi besok sudah fresh."
Begitulah alasan Beno, padahal Kalau boleh jujur, Sebenarnya dia khawatir dengan keadaan Adis. Sepertinya Gadis itu sedang benar-benar kalut sekarang, meskipun dia tidak tahu apa penyebabnya.
Gadis itu hanya diam, Tak banyak bicara, hanya menunduk dengan kedua tangan mengepal. Matanya tampak merah dan basah. Dia tahu, sedang ada sesuatu yang membuatnya marah tetapi dia tidak bisa mengeluarkan amarah itu.
"Gue bakalan datang pagi kok besok. Jangan Khawatir. Gue duluan."
Adis bersiap melangkahkan kakinya, tetapi lengannya dicengkram kuat oleh Beno.
"Jangan sok-sokan. Sekarang sudah hampir jam 10 malam. Saya antar kamu pulang."
Ah, andai saja saat ini adis tidak dalam keadaan kalut, pasti adis sudah menggoda laki-laki itu habis-habisan. Sayangnya, saat ini moodnya tidak mendukung.
"Lepasin! Gue pengen pulang sendiri."
"Jangan keras kepala! Ini kota besar. Banyak penjahat luaran sana. Ini sudah cukup malam bagi seorang perempuan Jika jalan sendirian. Gue anterin."
Adis terus mencoba melepaskan tangannya, tetapi cengkraman tangan Beno terlalu kuat.
"Lo Kenapa sih? Kenapa lo nggak ngebiarin gue pergi? Kenapa lo sok perhatian sama gue? Bukankah gue hanya seorang cewek murahan? Lepasin gue. Gue mau pulang sendiri. Meskipun sekarang gue adalah bawahan lo, bukan berarti lu bisa seenaknya sams gue."
Mendengar kata-kata Adis, Beno mengendurkan cengkraman tangannya. Ada terbersit rasa bersalah di dalam hatinya meskipun sedikit. Ternyata dia tidak tega melihat adis yang terluka karena ucapannya.
Adis bersiap untuk pergi setelah menatap Beno dengan tatapan yang tajam.
Namun, hati kecil Beno tidak bisa membiarkan Adis pergi sendirian. Ini sudah malam, Bagaimana kalau dia tidak langsung mendapatkan taxi. Bagaimana kalau dia menghubungi ojol dan ternyata ojol gadungan? Ah … segala kemungkinan-kemungkinan buruk memenuhi kepalanya. Ternyata, dia masih peduli sama adis. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan kekasihnya itu.
Akhirnya, dia segera meraih tubuh mungil Adis, lalu dia segera membopongnya ala bridal style.
"Beno, apa-apaan sih Lo. Lepasin gue. Gue mau pulang sendiri. Lepasin!" Adis meronta-ronta, tetapi Beno diam dan membawa Adis menuju ke mobilnya. Ah … saat itu, Entah kenapa jantungnya berdetak dengan begitu kencang. Tubuh mungil dengan aroma khas yang sweet itu, sudah lama dia tidak menyentuhnya. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa kembali menggendong gadis itu seperti dulu.
Sementara Adis, mulutnya memang teriak-teriak ingin dilepaskan. Namun sebenarnya, Dia merasakan kenyamanan yang luar biasa. Nyaman sekali berada dalam gendongan Beno. Ini adalah momen yang sangat dia rindukan selama bertahun-tahun dia berpisah dengan Beno.
Ah … tapi ini tidak akan lama. Karena sudah ada gadis lain yang mungkin sering dia bopong. Sekarang, dia tidak berarti lagi bagi Beno. Apalagi setelah kejadian tadi siang, dia benar-benar yakin kalau Beno sudah tidak ada rasa sedikitpun padanya. Padahal, cinta Adis pada Beno masih tetap utuh, seperti dulu.