Cemburu

1154 Kata
"Hai, duduk! Aku pesenin bakso ya?" ucap Beno begitu dia melihat Adis mendekat ke mejanya. "Em … nggak usah, Ben. Lo selesaiin aja makannya. Gue tunggu di sini." Adis duduk di kursi yang berhadapan dengan Beno. Dia sengaja menutupi kekasihnya itu supaya tidak terus-terusan jadi bahan ghibah trio tak punya kerjaan itu. Huft … omongan mereka bertiga semuanya memang benar, tetapi adis tetap merasa sakit mendengarkan ocehan mereka. Sakit sekaligus malu. Beno emang cuma punya 5 potong baju yang dia pakai bergantian. Sudah berkali-kali Adis memintanya untuk membeli baju baru, tetapi Beno tetap menolaknya. Karena baginya, 5 baju itu sudah cukup. Kalau menuruti gengsi dan menuruti apa kata orang, maka tidak akan ada habisnya. Akan selalu ada celah bagi mereka yang tidak suka sama kita, untuk selalu membicarakan kejelekan kita. Sebaik apapun orang pasti tetap ada kurangnya di mata orang lain. Jadi, omongan mereka tidak perlu di gubris. Itu yang selalu dikatakan sama Beno. "Beneran nggak mau makan?" Adis menggeleng. Selain sudah sangat bosan dengan bakso, dia juga sedikit Tidak selera makan hari ini. Dia masih terus keingat Jordan. Ah, biasanya saat-saat begini dia suka nyamperin Adis. Sekarang, tidak ada lagi Jordan yang seperti itu. "O.K. Gue udah selesai. Yok ke perpus?" Adis mengangguk. Mereka berdua segera meninggalkan kantin. Namun, Di tengah perjalanan menuju ke perpustakaan, mereka berdua melihat Jordan yang saat itu sedang berjalan ke arahnya. Entah kenapa, kali ini Jordan tampak lebih tampan dari biasanya. Celana jeans warna biru Dongker, kaos hitam dan jaket warna putih, serta sepatu kets branded warna putih itu benar-benar cocok untuk Jordan. Ditambah kaca mata hitamnya. Beeeeeh … benar-benar tidak kalah sama artis artis ibukota. Tidak heran jika beberapa mahasiswi menatap dia dengan tatapan penuh kekaguman. Bahkan ada yang teriak-teriak tak punya malu memanggil namanya. Adis terus berjalan, menggandeng tangan Beno. Jordan pun terus berjalan sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana, dan tangan kiri memegangi headshet yang ada di telinganya. Beberapa detik, mereka berpapasan. jarak mereka hanya beberapa sentimeter saja. Adis dan Jordan saling menatap sejenak. Yang menimbulkan gemuruh di d**a mereka masing-masing. Untung, Jordan memakai kacamata hitam sehingga adis tidak tahu kalau tatapan Jordan yang hanya beberapa detik itu mengisyaratkan kerinduan. Ya, kemudian mereka saling berlalu tanpa bertukar sapa. Persis seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Sakit, rasanya sangat sakit melihat orang yang biasanya selalu dekat dengan kita, sekarang seperti orang asing. "Lo nggak apa-apa?" tanya Beno yang sepertinya tahu perubahan muka Adis setelah berpapasan dengan Jordan. "Ah … Nggak apa-apa. I am O.K." Beno tersenyum, meskipun saat ini dia sedang gelisah. Dia tidak nyaman melihat perubahan muka Adis yang tampak menahan rasa rindu. Ya, selama Jordan masih bisa menatap Adis, sepertinya kecemburuan Beno tidak akan pernah padam. Tak lama kemudian, gelang Adis bergetar. Adis melirik gelangnya, sedikit cahaya berpendar di sana. Gadis itu tersenyum. Senyum yang hanya dia yang tahu arti senyuman itu. "Handphone Lo getar?" "Oh, kayaknya iya. Nggak apa-apa. Biar nanti aja." Adis tersenyum sambil memegang tasnya, supaya Beno tidak curiga kalau getaran itu berasal dari gelang yang dipakai oleh kekasihnya. "O.K." Beno masih menggandeng tangan Adis, membawa gadis itu menuju ke perpustakaan. Ya, lagi-lagi raga Gadis itu memang bersama dengan Beno, tetapi hatinya masih mengarah pada Jordan. Entah ini hanya sebuah perasaan sesaat atau hanya rasa rindu, yang jelas ketika mereka berjauhan dan tidak berkomunikasi seperti saat ini, ada rasa yang membuncah di dalam d**a Adis. Ada rasa rindu yang menggebu, ada keinginan yang kuat untuk kembali bertemu dan bercanda dengan orang yang dianggap sebagai sahabat dekat. Ya, dekat. Sangat dekat, sampai-sampai hatinya ikut bergetar saking dekatnya. *** Besok ada kuis bahasa Inggris bisnis. Semalaman dia berusaha untuk konsentrasi belajar tetapi tetap tidak bisa. Yang ada dipikirannya hanya Jordan, Jordan dan Jordan. Beberapa hari ini, dia sama sekali tidak berkomunikasi dengan Jordan. Saling bertemu di kampus pun mereka tidak saling menyapa, bahkan saling melempar senyum pun tidak. Mereka benar-benar seperti orang asing sekarang. Adis merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri. Kenapa dia sampai segitunya. Padahal dulunya dia tidak pernah merasakan rindu pada Jordan meskipun beberapa hari mereka tidak bertemu. Dulu tidak ada desir-desir aneh itu meskipun dulu mereka saling berdekatan. Namun, kenapa sekarang hanya berpapasan saja sudah membuat hati Adis seakan rontok. Adis mencoba sekali lagi untuk memahami materi. Namun, tak ada satu kalimat pun yang masuk ke otaknya. Ditutupnya modul yang dari tadi tidak bisa diresapi. Adis menyangga kepalanya dengan kedua tangan. Dia memejamkan matanya. Mencoba untuk menghilangkan bayangan Jordan yang datang Lagi Dan Lagi. "Ya Allah, Kenapa begini banget sih. Sebenarnya gue ini kenapa? Gue udah memilih Beno, seharusnya gue fokus sama Beno doang, Kenapa gue malah terus kepikiran Jordan? cowok gue itu Beno, bukan Jordan. Argh ... Ya Allah. aku nggak bisa kayak gini terus. Tapi harus gimana?" monolog Adis sambil memukul-mukul kan pulpen ke kepalanya. Itulah kebiasaan Adis kalau sedang bingung. Dia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Diangkatnya kepalanya pelan-pelan. Matanya memandang satu pack Lollipop cokelat yang diberikan oleh Jordan beberapa hari yang lalu. Adis tersenyum. Diambilnya Lollipop itu, dikupas plastiknya dan segera memasukkannya ke dalam mulut. "Sekarang nggak ada lagi yang suka beliin gue lollipop cokelat," ucap Adis sambil menikmati manisnya lollipop favoritnya. Dialihkan pandangannya ke gelang Bond touch yang ada di pergelangan tangannya. "Kenapa lo nggak berpendar lagi? Kenapa lo nggak bergetar lagi sih, Lang, gelang. Ayo dong getar. Huft … Dan, Jordan rese. Kenapa sih akhir-akhir ini bayangan Lo datang mulu. Ngintilin gue mulu. Huft … kalau begini terus, rindu gue jadi nggak bisa tertahan. Lo nggak rindu sama gue? Lo nggak rindu gue peres pas kita nongkrong di cafe Mandala? Ya Allah, gue yang meminta lo untuk nggak hubungin gue, Kenapa jadi gue yang terus kepikiran begini," ucap Adis masih sambil terus menikmati Lollipop coklatnya. "Huft … lama-lama gue kayak orang edan ngomong sendiri gini. Nggak, gue nggak boleh kayak gini. Mungkin gue memang nggak bisa komunikasi sama dia, tapi gue bisa mengirimkan tanda-tanda ke dia," ucap Adis yang masih menatap gelangnya. "Tapi, malu nggak sih kalau gue mengirim sinyal-sinyal kerinduan. Pasti dia tahu nih kalau aku pencet ini, berarti gue sedang rindu. Gengsi dong, kalau ketahuan gue sedang merindukannya saat ini. Ah ... bodo amat lah. Yang penting gue nggak kepikiran terus." hadis masih terus berbicara sendiri sambil memandang gelang bond touchnya. Adis menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. dia harus menenangkan diri dan meyakinkan dirinya sendiri sebelum menyentuh benda pipih itu. Setelah dia merasa yakin, gadis itu mengarahkan jari telunjuknya ke arah pergelangan tangan kirinya. Diketuknya bagian touch nya dua kali. Lalu dia menekannya dengan jantung yang berdetak dengan begitu kencang. Dia benar-benar deg-degan, padahal hanya memencet gelang doang, tapi rasanya seperti seorang gadis yang mau dilamar. Dasar Adis. "Semoga ini bisa bikin hati gue sedikit tenang. Dan bayangan lo segera pergi dari hadapan gue. Ayolah, pergi dulu dan. Pergi dari otak gue sejenak saja. Mikirin Lo tuh nyiksa gue," ucap Adis. Seolah dia sedang ngomong sama gelangnya. Diam-diam, Dia sedang menunggu dan berharap gelangnya bergetar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN