Bond Touch

1432 Kata
~Beno~ [Gue udah di depan.] Adis membaca pesan itu dengan air mata yang kembali menetes. Ya, Beno sudah menjemputnya. Itu artinya dia harus segera meninggalkan cafe Mandala dan harus meninggalkan Jordan. "Dan, gue harus pergi sekarang. Mulai saat ini, anggap kita tidak pernah saling kenal." Ada yang nylekit di ulu hatinya saat Adis mengatakan itu. Ditatapnya Jordan yang saat itu juga tengah menatapnya. "Baik. Mulai saat ini gue anggap kita nggak pernah kenal, tapi suatu saat boleh dong kenalan? Biar kenal lagi," ucap Jordan, lalu dia tertawa kecil. Tawa yang tertahan. Hanya dia yang tahu bahwa ucapannya itu bukan hanya sekedar candaan. "Tar aja kalau Lo nikah, kita kenalan lagi dan Lo undang gue." "Pasti." 'Ya, gue pasti akan undang lo di acara pernikahan gue nanti, karena sampai detik ini gue masih berharap bahwa elo lah yang akan duduk di pelaminan di samping gue. Lo Dis, bukan yang lain.' "Terimakasih atas semua kebaikan yang udah lo berikan ke gue selama ini. Gue nggak akan pernah melupakan persahabatan kita yang indah ini. Meskipun lo nyebelin, meskipun Lo ngeselin, Meskipun banyak tingkah lo yang bikin gue bete, tapi lo tetap sahabat terbaik gue. Jaga diri baik-baik ya. Oh iya, nanti kalau cari cewek jangan yang posesif. Mengerikan. Bye!" Adis tergelak, tetapi air matanya menetes. Lalu dia berdiri, melangkahkan kakinya dengan pelan menjauh dari Jordan yang saat itu sedang menunduk dan terdiam. Dengan derai air mata, Adis meninggalkan Cafe Mandala, Cafe yang sering mereka kunjungi berdua. Drrrrt … baru Adis melangkahkan kakinya beberapa langkah, gelang Adis bergetar. Gadis itu langsung menghentikan langkahnya. Mengangkat lengan sebelah kirinya, dan diamati pergelangan tangannya. Untuk bergetar dan berkedip-kedip. Adis menoleh ke arah Jordan yang saat itu juga sedang menatapnya dari belakang. Jordan tersenyum sambil melambaikan tangan. *** "Sudah selesai ngobrolnya?" Beno memakaikan helm ke kepala Adis. Dia tahu kalau kekasihnya sembab, tetapi Beno tidak mau membahas itu. Adis mau melakukan apa yang diminta saja, Beno sudah acungi jempol. Jadi dia tidak mau menuntut lebih jauh lagi. Menurutnya wajar kalau kekasihnya sedih saat harus berpisah dengan orang yang selama ini dianggap sebagai sahabat dekat. Adis mengangguk sambil menyunggingkan senyum. Ya, dia tersenyum meskipun saat ini hatinya sedang terasa perih. "Thank you. Lo benar-benar menghargai hubungan kita. I am proud of you, my girl. Gue beruntung, bisa dapatin hati Lo," ucap Beno sambil mengusap pipi Adis yang masih sedikit basah. Sungguh, dia tidak menyangka kalau adik mau melakukan ini. Saat itu, rasa sayangnya kepada Adis semakin besar. Karena Adis adalah gadis penurut yang sangat cocok untuk dijadikan istri. "Lo yang udah mengorbankan banyak hal buat gue, Ben. Jadi ini bukan apa-apa dibandingkan dengan pengorbanan yang udah lo lakuin," ucap Adis. Dia masih berdiri di sana, menatap Beno yang matanya terlihat berbinar karena dia merasa bahwa Adis benar-benar mencintainya. Menjauhnya Adis dari Jordan adalah bukti, bahwa dia masih istimewa di hadapan kekasihnya. "Lo tahu, gue ngelakuin ini semua karena gue yakin, Lo adalah masa depan gue, dan sekarang gue makin yakin, bahwa Lo adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping gue nantinya. Ya udah, gue antar Lo pulang sekarang ya? Gue harus balik kerja lagi." Adis mengangguk, lalu mereka berdua segera meluncur menuju ke rumah kost Adis yang tidak terlalu jauh dari Cafe tempat dimana Adis dan Jordan janjian. Sepanjang perjalanan, Adis terus memandangi gelang pemberian dari Jordan, lalu dia tersenyum. 'Terimakasih, Jordan. Dengan gelang ini, setidaknya kita masih bisa terhubung meskipun kita tidak bisa lagi berkomunikasi. Mungkin gelang ini bisa menjadi pengobat rindu, saat gue butuh sosok Lo di samping gue.' Ya, pikiran Adis masih terus tertuju pada Jordan. Meskipun sekarang raganya sedang mendekap tubuh Beno dari belakang, tetapi ternyata hati dan pikirannya tidak di tempat itu. *** "Dis, gila! Mata kuliah Bu Ratna Lo dapat B. Gue aja yang cari contekan sana sini dapat C." Santi memandangi handphone yang berisi chat pengumuman hasil quiz dengan mulut menganga. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Dia belajar lebih keras dari Adis, dia juga ikut kuis tepat waktu, tapi hasilnya, ah ... sudahlah. Adis tersenyum. Ini berkat Beno. Beno yang sudah susah payah meyakinkan Bu Ratna sehingga Adis diizinkan untuk mengikuti kuis. Beno yang sudah merangkumkan garis besar materi sehingga Adis jauh lebih mudah untuk mempelajarinya. Ya, semua ini berkat Beno. Sebesar itu cinta Beno padanya. Namun, Entah kenapa setelah kejadian itu Adis malah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memikirkan Jordan. Sungguh tidak masuk di akal Adis. "Oe kudis, kok Lo malah bengong sih. Lo nggak seneng dapat B? Biasa C aja ngoyo Lo." "Eh, sorry. Gue lagi nggak fokus. Eh, gue ke kantin dulu ya? Beno udah nungguin gue di sana." "Ish, kebiasaan banget sih kalau diajak ngomong suka bengong lalu pergi begitu saja. BTW, Lo mau jalan?" tanya Santi, berharap jawabannya adalah tidak. Entahlah, kadang dia tidak suka kalau adis sering jalan sama Beno. padahal mereka kan pacaran, wajar kan kalau sering jalan? "Ke perpus doang. Beno kan bentar lagi mau ngerjain skripsi, jadi dia harus cari banyak referensi. Gue duluan ya?" Adis membereskan buku yang ada diatas meja dan memasukkannya ke dalam tas pink kesayangannya. "Oh ... Jadi, Lo mau cabut sekarang? Tumben Lo nggak nyombong karena nilai Lo lebih bagus?" "Udah sering. Bosen. Gue mau pacaran dulu ya? Bye … " Adis melenggang pergi dengan menampakkan wajah ceria. Sedangkan Santi, hanya bisa membuang nafas kasar. *** "Eh itu Beno kan? Beno pacarnya Adis anak Administrasi Bisnis … gemesh banget deh gue lihat dia." Seorang gadis yang satu angkatan Dengan Adis sedang membicarakan Beno di mejanya. Dia sedang menghadap dua temannya yang saat itu mendengarkan ucapannya dengan saksama. Gadis Itu tampak cantik dan modis, tapi sayang mulutnya lemes. Adis yang akan berjalan melewati mereka, terpaksa menghentikan langkahnya. "Hooh. itu Beno, yang terkenal paling koret sekampus. By The Way, Lo Gemesh apaan? Gemesh pengen milikin?" Seloroh sahabatnya yang sedang asik mengaduk-ngaduk bakso yang baru saja Dia racik dengan saus kecap dan juga sambal. Kemudian dia tertawa. "Ih jijay to the max. Gue tuh gemesh pengen beliin dia baju baru. Lo ngeh nggak sih, laki-laki itu bajunya itu-itu aja. Kaos item, kaos putih, kemeja salur dan kotak-kotak. Itu doang. Gemesh banget pengen gue bawa ke mall. Gue heran, kok mau ya Adis sama laki-laki kayak gitu?" Cindy, itulah nama mahasiswi itu. Yang mulutnya lemesh banget kayak rantai yang baru dikasih pelumas. Dia tampak menatap Beno yang sedang duduk tidak jauh dari tempat duduk mereka. Sementara Adis yang sedang berdiri di belakang mereka, hanya bisa meremas ujung kemejanya. Antara rasa kesal, rasa ingin menabok mereka, dan rasa malu campur aduk jadi satu, tetapi dia masih menahan diri. Ingin mendengar mereka lebih jauh. "Hahaha … culik aja dia. Eh mana bisa. Dia sama Adis kan kayak lalat sama perekat lalat cap gajah. Nempel banget nggak bisa dipisahkan," Puput ikut menimpali diiringi dengan gelak tawa. "Nah, itu yang gue heran. Kok bisa ya Adis sama laki-laki yang kayak gitu? Apa coba yang dilihat dari dia? Ganteng ganteng banget juga nggak, kaya juga nggak, tapi pelitnya setengah hidup. Lihat tuh, dia bawa makanan sendiri di kantin. Itu nanti dia cuma membelikan makanan untuk Adis, dan dia hanya makan makanan yang dibawa dari rumah. Parah banget sih dia. CK ck CK …." Kali ini Siska yang ikut komentar. Sungguh, darah Adis mendidih mendengar itu. Dia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia lakukan berkali-kali supaya dirinya tenang. Huft … Ingin rasanya dia melabrak para mahasiswi yang bermulut lemes itu. Namun, dia harus menahan diri. Dia harus mengatasi mereka dengan cara yang elegan. Setelah merasa dirinya tenang, dia berdehem-dehem untuk menarik perhatian mereka. Sontak, mereka bertiga langsung menoleh kearah Adis. Lalu mereka terlihat salah tingkah saat melihat cewek dari orang yang dia ghibahin ada di belakang mereka. "Haaaii … ngomongin cowok gue ya? Hati-hati loh, kalian kan masih pada jomblo. Ya kan? Bisa Jadi kalian nanti dapat cowoknya kayak Beno. Bahkan bisa jadi lebih parah pelitnya. Ah, tapi emang ada yang mau ya sama cewek-cewek yang mulutnya lemes kayak kalian? Kalau aku jadi cowoknya sih ogah banget ya punya cewek cewek yang suka ghibah begini. Nggak mutu banget. Iyuuuh … ya udah, gue mau nyamperin cowok gue dulu. Kalian juga boleh lho nyamperin cowok kalian. UPS, iya ding, kalian kan nggak punya cowok, nggak laku ya? kasihan ... " ucap Adis dengan raut muka menggoda. Lalu, dia mengibaskan rambutnya dan segera bergegas meninggalkan trio ghibah dan menuju ke arah Beno yang sedang asyik memakan bekalnya dari rumah. "Ih ... Sok Cantik banget sih Dia." Cindy hanya bisa melotot kesal ke arah Adis. Karena dia tidak mau membalas kata-katanya, karena kata-kata adis memang benar, tidak ada satupun dari mereka yang sudah punya cowok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN