Heart to Heart

1104 Kata
"Dis, Lo ngerasa beruntung nggak, disayangi sama Beno." Adis dan Santi berbaring di atas ranjang kamar kos Adis. Mereka berdua sama-sama menatap langit-langit. Saat itu mereka sedang memakai baju tidur couple yang berupa celana pendek dan kemeja tidur pendek Micky mouse warna pink hitam. Ya, di kamar kos mereka masing-masing harus ada sepasang baju tidur couple, buat jaga-jaga kalau mereka saling nginep. Ya, sedekat Itu dan senorak itu mereka. "Ya iyalah, resep beruntung banget banget banget. Mana ada makhluk kayak gitu zaman sekarang." "Lo pernah berpikir untuk pergi?" Suara Santi begitu pelan. Namun, berhasil membuat Adis kaget. "Hah?" Adis langsung menoleh. Pertanyaan Santi membuat hatinya tersentil. Pertanyaan tak biasa yang Adis yakin, pasti memiliki sebuah tujuan. "Kenapa? Kenapa lo kaget begitu? pertanyaan gue aneh?" "Kenapa pertanyaan lo begitu?" "Kenapa lu kaget? Memangnya Lo pernah berpikir untuk pergi?" "Em ... Iya. Lebih tepatnya bukan pergi, San. Tapi menghindar sejenak, karena gue nggak pengen menjalani hubungan yang serius sekarang." "Karena lo takut kehidupan Lo di masa depan bakalan suram karena Beno yang pelit?" Adis mengangguk. 'Adis, Lo nggak tahu aja kenapa Beno bisa pelit nggak ketulungan begitu. Andai saja Lo tahu, Lo nggak akan pernah punya niatan meskipun hanya untuk menghindar sejenak.' "Kudis, Lo tahu nggak, Apa yang sedang ingin kau lepaskan bisa jadi adalah apa yang diinginkan oleh orang lain. Gue udah sering ngomong gini sama lo, Kenapa lu nggak ngerti-ngerti juga sih. Gini ya, Jadi ketika Tuhan memberikan lo sosok yang istimewa, jaga dia! karena begitu dia lepas, banyak yang ingin menjaganya." "Maksud Lo?" Adis kembali menoleh. Mulai terusik dengan kata-kata Santi. "Ya … Kamu ngerasa nggak kalau Beno itu istimewa?" "Iya, dia kalau sudah sayang sama orang, maka rasa sayangnya itu full, nggak setengah-setengah. Kalaupun tengah malam Aku kelaparan, pasti dia mau datang bawain makanan. Ya Meskipun cuma terong penyet sih. Tapi itulah istimewanya Beno, dia nggak keberatan sama sekali kalau aku repotkan." "Menurut Lo, Apakah ada laki-laki yang seistimewa Beno?" "Belum Nemu sih." "So, Lo mau lepasin cowok istimewa kayak dia?" Adis terdiam. Kembali berfikir. Iya, cowok seperti Beno memang langka. Andai saja Beno tidak pelit, pasti adis tidak akan berpikir dua kali untuk menerima ajakan Beno untuk serius. Dari pembicaraan beberapa hari yang lalu, Adis takut kalau Beno tiba-tiba datang dan melamar. Memiliki suami pelit adalah momok yang paling menyeramkan bagi Adis. "Gue nggak lepasin, San. Cuma pengen berfikir aja dengan menghindar sejenak." "Dis, Lo pikirin ini mateng-mateng. Jangan begini. Gue tahu sekarang Lo ragu sama Beno. Kalau Lo ingin pergi, pergi sekalian. Supaya Beno segera move on dan mencari kebahagiaannya sendiri. Tapi kalau Lo ingin bertahan, ya Lo harus bisa menerima semua yang ada di Beno. Lo harus menerima emosiannya, Lo harus nerima kepelitannya. Jangan cuma baik-baiknya aja yang Lo terima dan Lo nggak mau Nerima keburukannya." Nada suara Santi terdengar kesal. Ya, dia memang kesal dan sekaligus benci dengan sikap adis yang seperti ini. Karena bisa-bisanya dia jalan sama orang lain saat masih bersama Beno. Adis tidak tahu, bahwa ada hati yang diam-diam mengharapkan Beno. Santi tidak mau, ketika dia menahan perasaannya demi persahabatan mereka, tetapi Adis malah bersikap seenaknya. Dari pembicaraan yang panjang lebar itu, Adis sedikit curiga kalau Santi suka sama pacarnya. Adis segera mengubah posisi. Dia meringkuk, dan menghadap Santi yang masih menatap langit-langit. "Kok Lo ngomongnya gitu, Lo suka sama Beno?" Adis yang tadinya mellow, sekarang nada suaranya terdengar ngegas. Santi menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia mencoba menetralkan perasaannya. Dia Berusaha setenang mungkin supaya tidak terlihat bahwa ucapan Adis itu benar. Santi pun ikut mengubah posisinya. Dia meringkuk menghadap Adis. "Ya kalau eloh udah nggak sukak lagi sama diyya, enggak apa-apa khan dia buat ghueh?" ucap Santi dengan suara yang dibuat-buat seperti anak-anak gaul zaman sekarang. Ya, memang sengaja begitu agar ada efek becanda meskipun sebenarnya Santi sangat serius. "Gue cakar-cakar Lo kalau sampai ambil Beno dari gue," ucap Adis. Lalu dia tertawa. Kecurigaannya terhadap sang sahabat seketika menghilang "Nah kan, Lo takut kehilangan dia kan. Makanya Lo jangan berfikir yang macem-macem. Inget ya Dis. Gue berani bertaruh, kalau sampai Lo hianatin dia, Lo pasti akan sangat menyesal. Karena lo nggak bakalan dapat laki-laki sebaik dia terhadap Lo." "Iya … Gue ngerti kok. Sahabat Lo itu orang baik. Yang mungkin nggak akan ada orang lain yang memperlakukan gue sebaik dia. Thanks ya, udah ngenalin dia sama gue." "Gue nggak butuh terimakasih Lo. Gue cuma pengen Lo setia sama Beno. Jangan pernah bikin dia sakit. Karena kalau dia sampai sakit hati, gue juga ikut sakit," ucap Santi. Dia mengalihkan pandangan dari Adis, dan menatap ke bawah. Tergambar jelas di wajahnya, ada kekhawatiran di sana. Dia khawatir sahabatnya sakit hati karena Adis. Rasanya tidak rela jika ada orang lain yang menyakitinya. Karena Santi, sudah menahan rasa sakit untuk kebahagiaan Beno, maka rasanya sangat menyakitkan jika dia rela tersakiti demi Beno, tetapi orang yang berhasil mendapatkan cinta Beno, malah menyia-nyiakan begitu saja. "Lebay banget sih Lo, Santo. Iya gue ngerti kalian sahabatan, tapi nggak usah lebay gitu juga kali." "Gue serius, Kudis. Kalau Lo sampai khianatin dia, persahabatan kita putus," ucap Santi dengan nada tegas. Adis menelan ludahnya. Ah, Santi benar-benar tidak tahu rasanya memiliki pacar koret. Jadi dia bisa bicara seperti itu. Mungkin, Adis tidak akan menghianati Beno. Mungkin. Namun, Adis terus berdoa supaya suatu saat nanti dia benar-benar mendapatkan jodoh yang terbaik untuk dirinya. Jodoh yang nggak pelit, baik, setia, dan care. Itu yang selalu dia doakan setelah solat, dan Beno tidak mempunyai apa yang Adis doakan di baris pertama. Nggak pelit. Ah, sepertinya Santi memang sengaja diutus oleh Beno untuk memberikan wejangan-wejangan itu untuk Adis. Ah, Entahlah. Adis sudah terlalu capek memikirkan ini tiada habisnya. "Lebay. Udah ah. Gue mau tidur. Please, besok bangun tidur Lo jangan bahas ini lagi ya. Gue pengen bangun dalam keadaan fresh dan tidak ada fikiran-fikiran yang membuat gue berfikir berat." "Gue bakal terus ngomong sama Lo, jangan hianatin Beno. Hari ini, besok pagi besok siang, besok sore, besok malam dan seterusnya." "Dasar gila." "Biarin." Mereka terus berdebat, hingga akhirnya Adis capek, lalu terlelap dalam tidurnya. Sementara Santi, dia tidak bisa tidur. Dia amati wajah sang sahabat yang sudah berhasil merebut hati pujaan hatinya. "Lo emang cantik, Dis. Lo juga selalu apa adanya nggak pernah jaim. Mungkin itu yang bikin Beno sampai tergila-gila sama Lo. Boleh nggak sih gue iri sama Lo? Gue iri, kenapa Lo yang mendapatkan hatinya, padahal gue yang lebih dulu dekat sama dia. Seluruh hatinya udah Lo dapetin, Dis. Sementara gue, gue harus selalu menyaksikan keuwuan kalian setiap hari di depan mata gue dengan hati teriris. Selalu seperti itu. Semoga Lo nggak menyia-nyiakan pengorbanan gue." Santi berbicara lirih pada Adis yang telah memejamkan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN