Jujurlah Padaku!

1102 Kata
'Apa iya? Apa mungkin Jordan memang suka sama gue? Ah … laki-laki itu bahkan lari pontang-panting saat gue muntah. Mana ada cinta yang seperti itu.' "Jangan berpikir terlalu kejauhan, Ben. Gue sama dia nggak ada apa-apa dan nggak akan ada apa-apa. Dia nggak mungkin suka sama gue." Kali ini Beno menoleh, menatap mata sang kekasih yang saat ini juga sedang menatapnya. Kedua pasang mata itu saling beradu. Dari mata Beno, masih terpancar rasa cinta yang amat dalam. "Gue sayang sama lo, Dis. Teramat sayang. Bahkan Gue rela menghabiskan waktu berharga gue buat lo. Meskipun gue enggak sekaya Jordan dan meskipun gue nggak bisa royal kayak Jordan, tapi rasa sayang gue bisa di adu sama siapa pun. Dis, mungkin saat ini lo Emang belum sayang sama Jordan, tapi jika Lo terus seperti ini, terus menghabiskan banyak waktu sama dia, rasa cinta itu bisa jadi muncul, dan itu sangat mungkin terjadi. Namun, satu yang gue mau bilang sama lo, suatu saat nanti jika lo udah sayang sama Jordan dan sudah enggak sayang sama gue lagi, lo ngomong ya? Karena gue nggak mau, raga lo sama gue tapi hati lo sama orang lain. Gue selalu bilang sama lo, kalau lo harus jujur sama gue dari hal-hal kecil. Lo ingat kan? Ini alasannya. Karena gue nggak suka dibohongin. Sekecil apapun kebohongan itu. Dibohongin itu rasanya sakit, Adis." "Gue nggak bermaksud bohongin lo," ucap Adis dengan mata berkaca-kaca. Mata mereka masih saling bertatap. "Lalu bermaksud untuk apa? Berjalan berdua sama cowok lain dan berbohong sama pacar lo sendiri, lalu Lo bermaksud untuk apa?" "Gue … gue … " Adis terdiam, dan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Tidak mungkin kan dia akan mengaku kalau dia bersikap seperti ini karena dia ingin sedikit menghindar dari Beno karena dia tidak ingin hubungan yang lebih serius. Karena Adis tahu itu menyakitkan untuk Beno. "Katakan! Tidak apa-apa aku mendengar kejujuran meskipun itu pahit. Itu lebih baik daripada Mendengar hal yang manis tetapi itu adalah sebuah kebohongan." Melihat Beno seperti ini, sungguh, Adis benar-benar merasa bersalah. Laki-laki baik itu tidak pantas untuk dibeginikan. Laki-laki Koret juga punya hati. Entahlah, hati Adis yang sebelumnya kesal terhadap Beno kali ini kembali luluh. Rasa sayangnya terhadap laki-laki itu seakan baru saja dicharge dan kembali penuh. Dia seolah tak mau kehilangan laki-laki yang selalu care terhadapnya. "Ben, tadi gue cuma pengen refreshing doang. Sungguh gak ada maksud apa-apa. Gue memang salah udah bohong sama lo. Tapi nggak ada maksud lain. Selama ini waktu gue udah habis sama lo. Tadi gue cuma pengen menghabiskan waktu sama orang lain, dan pengen ada suasana baru, itu aja. Sekarang gue sadar, gue nggak seharusnya kayak gitu. Lo aja udah cukup bagi gue, dan gue nggak perlu mencari suasana lain dengan orang lain. Maafin gue, Maaf udah buat lo sedih dan udah buat Lo khawatir." "Nggak apa-apa kok, gue pasti izinin lo jalan sama sahabat lo asalkan bilang sama gue dan nggak bikin gue khawatir atas sesuatu yang sebenarnya nggak ada." "Gue janji lain kali gue bakalan bilang, Ben." "Ya udah, gue mau pulang dulu. gue bawain makanan buat Lo. Udah dingin sih pasti, tapi masih enak disantap." Beno tersenyum, lalu menyodorkan kresek yang berisi sesuatu yang entah apa Adis nggak tahu. Lalu, Beno pergi begitu saja tanpa memeluk adis seperti biasanya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk saling peluk saat mereka akan berpisah. Namun, kali ini Beno tidak melakukan itu. Meskipun mulutnya sudah berkata tidak apa-apa, tetapi Adis yakin bahwa Beno masih merasa terluka. "Maafin Gue, Ben," ucap Adis lirih sambil memandang punggung Beno yang sudah berjalan menjauh. Setelah Beno sudah tidak terlihat lagi, Adis menengok ke arah kresek yang berisi sesuatu. Seperti sebuah kotak, yang entah apa adis tidak tahu. Adis meraihnya, dan segera membukanya. Pizza? Kotak itu adalah kotak pizza. Benarkah isinya pizza? Kalau iya, Tumben-tumbenan laki-laki itu membelikan makanan yang agak mahalan. Adis segera membuka kotak itu dan ternyata benar. Pizza beneran yang nggak kaleng-kaleng, yang di atasnya diberi tulisan dari mayonaise bertuliskan 'Cepet sembuh, Kepitingku' Seketika, Adis menelan ludahnya. 1 tahun lebih berpacaran sama Beno, Baru kali ini Beno membelikan dia pizza. Apalagi pizza premium seperti ini. Adis tahu, pasti butuh pertimbangan yang sangat berat bagi Beno meskipun hanya untuk membeli sebuah pizza. Orang yang sangat perhitungan dan selalu menuliskan pengeluarannya di buku seperti Beno pasti butuh berpikir berkali-kali sebelum membelinya. Adis membawa pizza itu ke pangkuannya, dia meneteskan air matanya. Ini makanan termahal yang pernah diberikan oleh sang kekasih kepada dirinya. Hatinya saat ini benar-benar kacau. Antara rasa cinta, rasa kasihan, rasa bersalah, dan rasa ingin mendapatkan orang yang lebih baik dari Beno campur aduk menjadi satu. Sejenak, dia merasa menjadi orang yang tidak bersyukur. Allah sudah mengizinkan dia kenal dengan laki-laki baik, tetapi dia malah ngelunjak. Namun, tidak boleh kah Adis memiliki keinginan untuk diistimewakan oleh orang yang istimewa? "Gue bingung sama diri gue sendiri, Ben. Gue bingung harus bagaimana? Apakah salah kalau gue berusaha untuk sejenak menghindar karena gue belum siap untuk menjalani hubungan yang serius? Apakah salah jika gue menginginkan laki-laki yang setidaknya tidak pelit sama gue. Apakah gue matre? Apakah keinginan gue itu salah? Huft ... Salah atau benar, faktanya gue selalu merasa bersalah saat lu udah kayak gini." Adis masih menunduk. Menatap pizza itu dengan air mata yang kembali menetes. "Lo nggak salah, Dis. Yang salah itu ketika Lo nggak mau jujur sama Beno." Adis tersentak ketika tiba-tiba mendengar suara yang tidak asing baginya. Itu suara Santi, sahabat terbaiknya yang juga sahabat Beno. Adis Mendongakkan kepalanya. Ya, gadis yang selalu memakai pakaian casual itu berdiri dihadapan Adis sambil menyilangkan tangannya. Adis tidak tahu Sejak kapan makhluk itu berdiri di hadapannya. Menyadari kedatangan sang sahabat, dia segera mengusap air matanya dengan tangan kanan. "Santo? Lo ngapain di sini?" "Ngapain lagi Kalau nggak disuruh sama pacar lo. Kalau tidak ada perintah mah gue ogah. Dia minta gue nemenin lo, katanya takut kalau perut Lo kambuh." "Dia nyuruh Lo ke sini?" tanya Adis sambil mengerutkan kening licinnya. "Iya." Hati Adis makin perih. Saat Adis berusaha untuk menghindar, tetapi kebaikan-kebaikan Beno malah terpampang nyata. "Kenapa? Kenapa ekspresi Lo begitu? Merasa bersalah? Nggak ada gunanya. udah kebiasaan kan, sekarang merasa bersalah dan besoknya kambuh lagi. Ayo sekarang masuk aja! Lo udah makan sama Jordan kan, pizzanya buat gue aja." Santi mengambil pizza yang ada di pangkuan Adis begitu saja lalu dia segera nyelonong masuk menuju ke kamar kos Adis. Santi memang sudah terbiasa menginap di kosan Adis, jadi dia sudah tidak canggung lagi. "Oe, pizza gue … " Adis langsung bangkit dari duduknya dan segera mengejar Santi yang lebih dulu melesat menuju ke kamarnya. Dia tidak akan membiarkan pizza pertama dari kekasihnya itu jatuh ke tangan orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN